Tepa Slira

Written By BAGUS herwindro on Mar 2, 2014 | March 02, 2014

Têpä Slirä, sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi tenggang rasa atau mungkin lebih tepatnya menurut saya adalah empati Suatu kemampuan untuk merasakan rasanya orang lain dalam diri sendiri atau memposisikan diri sendiri pada posisi orang lain dan tentu saja ini memerlukan kepekaan rasa serta kerendahhatian.

Tepa slira ini, menurut saya pribadi, merupakan hal yang pada masa sekarang ini sudah sangat-sangat jarang ditemui.

Kerasnya kehidupan, tingkat persaingan yang tinggi dan makin asingnya manusia pada dirinya sendiri, menyebabkan kebanyakan manusia berkecenderungan untuk memikirkan dirinya sendiri dan  memenangkan egonya sendiri tanpa mau tahu apa yang dialami serta apa yang dirasakan orang lain meskipun sedikit atau banyak orang lain biasanya dirugikan atas sikap dan prilakunya.

Manusia tanpa tepa slira, bisa jadi adalah manusia yang lupa bahwa hidup itu ada pasang surutnya, bahwa hidup itu selalu menuju titik kesetimbangan dan bahwa hidup itu pasti serta selalu akan ngunduh wohing pakarti [menuai buahnya prilaku] setara dan bahkan mungkin berlipat dari kadar winihing pakarti [bijinya prilaku] yang ditanam olehnya.

Sederhana saja sebenarnya untuk memulai tepa slira dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu dengan selalu menilai kepatutan segala sikap dan tindakan kita dalam interaksi keseharian kita dengan orang lain, baik secara langsung atau pun tidak langsung.

Kalau tidak mau dicubit, maka jangan dicubit. Kalau saat ini terantuk batu, bisa jadi saat yang lalu pernah meletakkan sesuatu yang juga menjadi sandungan orang lain. Begitu seterusnya.

Satu hal yang saya lihat, termasuk dalam diri saya sendiri, bahwa tepa slira sulit terbit dari dalam diri yang merasa lebih dari yang lain. Lebih mulia, lebih kaya, lebih terhormat, lebih kuasa, lebih pandai, lebih taqwa, lebih sholeh dan lebih-lebih yang lain [termasuk lebih berat badan he... he... he...]

---------

Kalau melihat istri sibuk dengan urusan rumah tangga, patutkah suami duduk manis, perintah sana sini apalagi marah-marah dengan alasan itu memang tugasnya istri ? [Memangnya istri itu pembantu ? Andai pun dengan pembantu yang sebenarnya, bukankan lebih mulia bertepa slira kepadanya ? Bukan manusia mulia jika tak bisa memuliakan sesamanya]

Yang ini sering saya lihat di suatu acara yang melibatkan banyak orang. Tak usah jauh-jauh, di masjid saja atau di rumah seseorang kalau ada undangan pengajian dan ada konsumsinya, minimal air dalam kemasan, selesai acara biasanya bekas kemasan tersebut tetap saja di tempatnya. Apa sih beratnya nyangking bekas kemasan makanan atau minuman dengan memasukkannya di tempat sampah atau paling tidak membantu mengumpulkan di satu tempat ? Hal yang mungkin tak akan terjadi kalau kita memiliki kepekaan rasa dan bertepa slira seakan tempat itu adalah ruang pribadi kita sendiri.

Hujan-hujan begini, mbok yao bertepa slira pada pemakai jalan lain. Yang bermobil [pastinya tak merasakan basahnya air hujan dan kotornya genangan air di jalan] alangkah baiknya bila mengurangi kecepatan mobilnya agar genangan air tak meloncat ke mana-mana.

Yang satu ini juga sering saya temui. Mereka yang sangat sulit untuk bertepa slira, salah satunya yang sering lupa pada dirinya sendiri sebab mereka sangat sering bertanya ke orang lain, "Kamu enggak tahu siapa saya ini ?!"

Menyingkirkan paku di jalanan, meluruskan pigura yang miring di tembok, ikut menjaga kebersihan di toilet umum, tidak potong kiri kanan saat di jalanan, meletakkan pada tempatnya barang yang terjatuh di toko swalayan dan sebagainya merupakan wujud tepa slira yang menandakan kerendahhatian serta kepekaan rasa pelakunya.

Ya begitulah. Semoga Panjenengan dan saya selalu dianugerahi kepekaan rasa serta kerendahhatian agar di sepanjang perjalan yang singkat ini kita tidak sempat untuk "dumeh" serta "adigang, adigung dan adiguna".

Untuk kata di antara tanda petik di atas, monggo ditanyakan ke Eyang Google bagi yang belum tahu he... he... he...


Semoga ada manfaatnya.
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger