Home » , » gak PENTING banget !!!

gak PENTING banget !!!

Written By BAGUS herwindro on Dec 27, 2010 | December 27, 2010

::: ABDI :::


Tak ada yang tak berujung pada TUHAN.

Hanya GUSTI yang tak berpamrih.

Laku ibadah merupakan tantangan bagi nafsu, agar manusia selalu ingat dan tetap menjadi hamba saat berada di dalam ruang dan bergulir bersama waktu.

Kalau TAHU tak perlu YAKIN.

Belajar, kenal dan paham tentang sebenar-benarnya Getaran RASA "ya" dan "tidak" di dalam diri sendiri, merupakan proses untuk menjadi dan tetap menjadi MANUSIA.

TAUBAT, jalan terCEPAT untuk menDEKAT.

Pada tataran sesama makhluk, ME itu LEBIH bila dibandingkan dengan DI. MEmuliakan itu lebih MULIA dari pada DImuliakan, MEnghormati itu lebih terHORMAT dari pada DIhormati, begitu seterusnya dan begitu juga lainnya. Maka, berPUASA itu seharusnya menjadikan manusia LEBIH mampu untuk MEnghormati manusia lain, BUKAN malah minta DIhormati karena sedang berPUASA. Muliakan bulan RAMADHAN dengan memuliakan kehidupan, bukan dengan menistakan kehidupan. Hormati bulan RAMADHAN dengan menghormati perbedaan, bukan dengan melecehkan ketaksamaan. Serap cahaya RAMADHAN dengan mengetuk kesadaran, bukan dengan mengutuk kelalaian.

NILAI JUAL. Karena memiliki nilai jual, seseorang sangat mungkin dimanipulasi jati dirinya menjadi sebuah identitas baru yang semu, dengan cara mengulang-ulang sanjungan, mengapresisai berlebihan dan mencarikan pengikut untuk identitas bernilai jualnya.  Semoga DImampuKAN untuk selalu kembali ke 'jabang bayi' kita sendiri.

"BAIK", apa pun itu, dari mana pun itu, berupa apa pun itu, sesungguhnya merupakan NUR / Cahaya TUHAN. LAKU kita menyerapnyalah yang akan menjadikan NUR itu tetaplah NUR atau malah berubah menjadi NAR. Menyerap keBAIKan dengan LAKU meLEBURkan "aku" dalam AKUNYA akan menjaga NUR tetaplah NUR. Sebaliknya, menyerap keBAIKan dengan LAKU memperKUAT "aku" tanpa menautkan pada AKUNYA akan mengubah NUR menjadi NAR.

Meny(S)ERAH, titik awal DImenangKAN. Semoga.

BerTANYA itu seHARUSnya TULUS dengan tidak menentukan jawabannya sendiri. Bila tak demikian, bukan jawaban yang diperoleh, tetapi malah pertanyaan baru yang lebih rumit.

Memegang sehelai daun yang "ringan" dengan tangan terangkat setinggi bahu secara terus menerus akan menjadikannya "berat". BERATnya bukan pada daun, namun karena mem(P)EGANGnya terlalu LAMA tanpa ada JEDA untuk sejenak meLEPASnya. Begitulah segala hal dalam keHIDUPan ini, harus ada JEDA untuk sejenak meLEPASkan agar tidak terasa BERAT, yaitu dengan sikap HATI yang PASRAH, berSERAH dan RELA pada pengATURanNYA.

PengAKUan seorang "GURU" bahwa seseorang itu MURIDnya merupakan tombol ON koneksitas tanpa jeda jarak dan waktu untuk pengaliran CAHAYA Ilmu yang menDEWASAkan RUHANI sang Murid agar LEBUR meny(S)ATU dengan TUHANnya, selama sang Murid sendiri tidak mengOFFkan koneksinya.  Cahaya Ilmu itu merupakan BIBIT, POHON sekaligus BUAH kehidupan sang Murid dalam keSEMENTARAAN waktu keMAKHLUKannya, maupun keKEKALan waktu dalam keKEKALan TUHANnya.

Sekali pun, takkan pernah "sesuatu" itu menjadi tuhan yang menandingi TUHAN dalam hati kita. Namun, PANDANGAN atau GAGASAN atau POLA PIKIR kita tentang "sesuatu" itulah yang menjadikannya tuhan menandingi TUHAN dalam hati kita. Seberapa besar keTERGANTUNGan hati kita terhadap "sesuatu" itu, sebesar itu pulalah "sesuatu" itu menjadi tuhan dalam kehidupan kita. Mungkin besarnya malah melebihi yang sesungguhnya TUHAN. SEMOGA DImampuKAN untuk tak memiliki ketergantungan hati terhadap "sesuatu" apa pun SELAIN DIA.

BIASAnya, TAKkan terKABUL doa dengan me-PAKSA dan TAKkan terWUJUD asa dengan me-PAKSA. HIDAYAH pun tak bisa di-PAKSA me-SADAR-kan seseorang. Manusia tak sekali pun punya hak untuk memaksa TUHAN. Ini yang sering terlupa. Me-RELA-kan dan me-SERAH-kan pilihan yang terbaik pada TUHAN, memPERLUAS SABAR dan memPERDALAM SYUKUR dalam ke-SUNGGUH-an UPAYA, BIASAnya pertanda kabulnya doa dan wujudnya asa dalam bentuk terBAIK menurutNYA meski tak sama persis dengan keinginan kita.

ILMU kita sangat-sangat terBATAS dan pengeTAHUan kita TIDAK akan mungkin menJANGKAU semua variabel keHIDUPan, hingga yang kita anggap terbaik bagi diri kita belum tentu yang paling baik menurut ketentuan Gusti Allah, jadi JANGAN memBATASI KARUNIANYA. Maka mohonlah kepada Gusti Allah apa yang kita anggap paling baik bagi kita atau yang lebih baik dari itu menurut Gusti Allah.

Perintah TUHAN pasti dan akan selalu BAIK meski tak kita SUKAi sebab kita anggap BEBAN. Namun karena itulah ada keMULIAan di baliknya, sebab ada perjuangan untuk tetap meLAKUKANnya walau tak suka hingga nantinya SEMOGA bisa suka dan tak lagi menjadi beban. Sarana menDEWASAkan diri, meMATANGkan jiwa dan menTEGUHkan keYAKINan : memilih yang tak disuka dan menghindari yang disuka.

| kenyataan keseharian hidup ini sejatinya hanya ilusi | menyadarkan diri untuk menerimanya itulah solusi | sebab penerimaan terhadapnya merupakan pembebas dari belenggu ilusi, pengindah bagi penampakan buruk ilusi, penguat bagi ketakberdayaan ilusi, penyembuh bagi kesakitan ilusi dan pembahagia dalam keterpurukan ilusi | ILUSI, seakan-akan berjalan dan menjalani, padahal diperjalankan | MENERIMA, sebab menolak pun tak ada daya dan tiada guna |

Gusti ALLAH itu PASTI. Kita saja yang sering tak pasti.

Menuhankan TUHAN, benarkah sudah ??? Atau baru seakan-akan ???

aku... akU... aKU... Aku... AKu... akuku - akumu - akunya aku siapa ? AKU siapa ? Berlapis-lapis tirai mengANTARAi [walau semu], siap disibak bagi yang berSUNGGUH-SUNGGUH.

SHALAWAT. Tak pernah tertolak, pasti diterima, langsung, tanpa jeda. Suatu perintah, yang DIA mendahului 'melakukannya', tidak demikian di perintah yang lain.

Senyummu... kelembutanmu... permaafanmu... cinta kasihmu...
Tlada tanding, tiada banding... YAA RASUL SALAM ALAIKA

DHUHA. Bukan semata karena engkau menghadapNya lalu engkau diberi rizqi olehNya, melainkan lebih merupakan karena engkau ingat dan menghadapNya di saat manusia lain mulai sibuk dan menyibukkan diri dengan urusan dunianya maka engkau diingatNya pula dengan diberi kemudahan rizqi. NAMUN, juga bukan itu sebenarnya, akan tetapi sebab DIA mengingatmulah hingga engkau digerakkan untuk ingat dan menghadapNya dan yang demikian itu adalah tanda-tanda DIA memberikan bertambah-tambahnya keberkahan rizqimu.

TAKKAN PERNAH LENGKAP, walau doa terangkai panjang, walau doa terungkap rinci, walau doa melegakan hati, sebab, tak pernah kutahu hakikinya yang kuperlu, sebab, tak pernah kutahu pula skenario hidupku, sebab doaku adalah rencanaku, maka SEMOGA DIA SELALU MELENGKAPKAN DOAKU YANG TAK PERNAH LENGKAP.

Allah maha penyebab dari segalanya, Allah maha tidak tergantung pada apapun. Bukan doa yang mengubah takdir, tetapi doa yang diiringi ikhtiar kita, biasanya merupakan pertanda bahwa Allah berkehendak menggerakkan posisi kita dari satu titik takdirNya ke titik takdirNya yang berikutnya.

SELALU ada perKECUALIan dari setiap SUNATULLAH, walau sedikit, meski sesaat. Sangat sulit bagi kita, namun teramat mudah bagiNYA. :: selalu ada kemungkinan pada setiap ketidakmungkinan, tinggal kita siap atau tidak dijadikan alatNYA hingga kemukinan itu wujud ::

Tiada hari tanpa ada harapan baru di dalamnya. Tak ada kekuatan tanpa daya dariNya. Tak ada masa lalu bagi hari ini, tak ada masa depan tanpa melalui hari ini, jadi tak usah sesali masa lalu, optimalkan potensi diri di hari ini untuk membangun jejak-jejak kebaikan untuk masa depan. DariNYA, bersamaNYA, menujuNYA dan untukNYA.

Sebab ketakSABARannyalah, seseorang sering TERGODA - seandainya bisa - ingin melihat gerak pena takdir untuknya. ::: Äjä nggégé mängsä :::  Allahumma rodhdhini biqodhoika wa barikli fima quddiro hatta laa uhibba ta'jila maa akhorta wa laa ta'khira maa ajjalta.

Tak ada yang tiba-tiba, sebagaimana angka yang harus dimulai dari satu, di segala sesuatu pasti ada PROSES. Maka PROSES merupakan pengejawantahan keSABARan, keTEGUHan, keISTIQOMAHan, keYAKINan sekaligus keBERSERAHan dalam meNIKMATi irama kehidupan yang tak pernah sama dalam setiap masa yang terlalui, kini dan hingga nanti.

Begitu cepat amarah tersulut dalam dada saat merasa ada hakku yang belum dipenuhi, namun begitu cepat juga amarah itu luruh, saat sadar bahwa mungkin banyak hak lain yang belum kutunaikan. Terutama haknya Gusti ALLAH.

Tak ada keLEGAan selain anugerah kelegaan setelah BERSERAH.

Tertutupnya hati merupakan adzabnya adzab, paling mengerikan bila dibanding dengan hanya sebuah peristiwa adzab yang kasat mata.

Selalu berusaha di TITIK ini, berSYUKUR di semua sebelum TITIK dan berSERAH di semua setelah TITIK.

Kaitkan dan pasti TERKAIT, maknai dan pasti BERMAKA, terima dan pasti BAHAGIA. INGATlah dan pasti akan diINGAT.

Siapa atau apa pun yang DIA gerakkan menemui kita dengan segala hal yang menyertainya, TENTUnya telah DIA persiapkan pula diri kita untuk mengkholifahinya. JADI berserahlah pada DIA dan sambutlah kedaatangannya.

MemBELAKANGi [dalam berbagai bentuknya] Tuhan yang memberi keHIDUPan berarti memastikan diri mengHADAPi keRUMITan HIDUP. Cepat atau lambat, PASTI. TUHAN tak pernah zhalim.



::: MULAT SARIRO HANGRASA WANI :::


Bagai PINTU | bukan pada lebarnya, namun pada seberapa lebar kita bukakan hati kita untuk menerima dan menyukai kebaikan yang membaikkan jiwa.

Saat LELAH menyapa di kala menyampaikan apapun yang BAIK, biasanya di sana terselip syahwat yang tersamarkan pembenaran pikiran.

Yang belum [semoga tidak] memBATU, selalu ada kesedihsesalan meski diam-diam dibenamkan jauh ke sudut-sudut tersembunyi kekelaman jiwanya sendiri, SAAT hati nuraninya sendiri diINGKARi.
 


Selalu saja gagal sembahyang, saat di tiapnya tak berangsur terlepas wajah kepalsuan.

Manusia selalu menyimpan seribu RAHASIA dalam dirinya dan itu tentang keBURUKannya.

Saat yang dianggap LAKU tak jua meNENANGkan HATI, memWELASASIHkan jiwa, memBAIKkan BUDI, mengMATANGkan PEKERTI dan mengHALUSkan KATA, maka nafsulah itu meski dalam kemasan laku.

Tak juga kunjung MERDEKA, saat terrenggutnya WAJAHWAJAH PALSU selalu menyisakan sesal sebab tak lagi bisa menikmati keLEKATannya yang SEsaat mengGEMBIRAkan.

Kukira PASRAH, nyatanya sebatas PUTUS ASA, sebab tak ada RELA di dalamnya.

Meski tahu TAK ada yang ABADI, diam-diam banyak yang mengINGINkannya.

Diam-diam MEnikmatI reribêd/halangan yang bisa menjadi alasan tidak tertunaikannya suatu keWAJIBan, biasanya hanya akan mengundang berulangnya reribêd/halangan itu, bahkan mungkin dalam intensitas yang lebih.

Belum menyatunya rasa, sering menyebabkan perbedaan sudut pandang, hingga suatu hal termungkinkan untuk disikapi dengan sebuah prasangka yang dibangun dari apa yang dimengerti, bukan yang dipahami. Memahami selalu dengan rasa, tak demikian dengan mengerti, ia dengan logika.

SENYUM itu sederhana namun banyak makna. Letak maknanya pada peRASAan di balik SENYUM itu. Jangan biarkan bersia makna.

Seribu GURU, segudang BUKU, selangit ILMU, selaut TAHU dan sepadang HIKMAH, akan terSIA saat TAK menjadikan BENINGnya KALBU dan MULIAnya priLAKU.

SEDANG dan AKAN menuju titik keseIMBANG. Yang mengambil akan diambil, yang memberi akan diberi, yang melayani akan dilayani, yang curang akan dicurangi, yang merendahkan akan direndahkan, begitu seterusnya dan begitu pula yang lainnya. Saat INI tak lain adalah rekapitulasi saat yang LALU, TUNAI atau KREDIT, CEPAT atau LAMBAT, KERAS atau LEMBUT, itu hanya masalah teknis. Yang jelas PASTI. Tak usah heran, berkacalah diri.

Karena dibelenggunya SETAN pada saat Ramadhan itulah, WAJAH SETAN yang sesungguhnya lebih tampak NYATA dalam REALITAS fisik yang kasat mata. Wajahnya seperti wajahku, NYATA.

AKAL memang terBATAS dan sering memBATASi ketakberhinggaanNYA, hingga sering takluk saat dihantam 'masalah'. Batasnya seperti jarak jauhnya mata memandang, membatasinya seperti 'hanya sekedar' membeli sebungkus permen di sebuah super mall.

SEDIH itu jeda dari merasa meMILIKi, KANGEN itu jeda dari merasa JAUH, RAGU itu jeda dari merasa YAKIN. Karena sesungguhnya tak pernah memiliki, tak pernah jauh dan tak pernah benar-benar yakin itulah JEDA ditampakkan agar segera SADAR diri.

MeLIHAT "peluang rejeki" tanpa keSADARan, biasanya yang muncul adalah keTAMAKan : takut tidak kebagian, merasa berhak memiliki dan sesal berkepanjangan saat tidak memperolehnya. Semoga selalu DIsadarKAN untuk meLURUSkan NIAT dan meSEMPURNAkan IKHTIAR tanpa disertai keTAMAKan. Semoga pula selalu diBERKAHi.

SERING seseorang begitu GIAT, SEMANGAT dan PERHATIAN terhadap sesuatu SEBAB ada NAMAnya di sesuatu itu. NAMA yang perlu pengAKUan dan yang sangat perlu untuk diAKUi.

Kalau ada SATU saja di antara SUATU hal atau SUATU keadaan yang menyebabkan keluhan, ketidaknyamanan, kepahitan dan sebagainya, PASTI bersama yang SATU itu masih banyak SUATU lain yang enak, nayaman, manis dan sebagainya. Jangan sampai yang SATU itu menutup nikmat lain yang lebih besar yang semestinya kita terima, sebab kita melupakan banyak SUATU lain yang harusnya disyukuri.

PEMIMPIN, yang membedakan dengan yang bukan adalah keBERANIannya. BERANI memutuskan & menagmbil resiko, BERANI untuk PALING AWAL merasakan penDERITAan dan BERANI untuk PALING AKHIR merasakan keMAKMURSEJAHTERAan. [Kalau aku NAHKODA kapal KELUARGA yang sudah, sedang dan akan selalu menempuh dahsyatnya BAHTERA keHIDUPan, tak kuijinkan keCEMASANku keluar dari diriku hingga terLIHAT dan mengGELISAHkan keluargaku.] 

Kala HATI dilanda RESAH dan GELISAH tak tentu arah, BIASAnya perTANDA terlalu menuruti DIRI sendiri [bergeser meski sejngkal, memejamkan mata walau terlihat nyata dan beralibi meski nurani tak mengingkari] SAAT keyakinan pada Tuhan, kejujuran pada nilai kebaikan dan kesetiaan pada jalan keselamatan TAK LAGI menjadi PEGANGan.  |  SEMOGA DIsegeraKAN kembali.  |

|  MUDA usia belum tentu JAUH dari bijaksana, pun demikian sebaliknya, TUA usia belum menjamin DEKAT dengan bijaksana.  |  BerDAMAI dengan diri sendiri, mengubah segala negativitas menjadi energi keBAIKan [sebab tak ada yang sia-sia di semua ciptaan Tuhan], keluar dari DIRI sendiri agar lebih jernih memandang setiap persoalan, keSADARan menuai hikmah di segala kejadian dan meRENDAHkan DIRI dalam menyerap ILMU di semua ciptaan adalah AWAL dari BIJAKSANA.  |  Bila TAK demikian, biasanya hanya akan selalu memicu KONFLIK yang sebenarnya tak prinsip, di banyak situasi dan di beragam tempat, yang akhirnya akan menghabiskan energi sia-sia.  |

BENARlah bahwa UJIAN terbesar kita hanyalah DIRI kita sendiri, sedangkan orang lain siapa pun itu dan segala permasalahan yang menyertainya, HANYAlah sekedar penggembira bagi keTEGUHan, keTULUSan, keSETIAan dan DAYA JUANG kita untuk menjadi BAIK, tetap BAIK dan makin BAIK.

TIDAKlah UTAMA tentang MENJADI APA, namun yang UTAMA adalah keSADARan, keSUNGGUHan, keTULUSan dan pengABDIan dalam MENJADI APA tersebut.

Benar tetaplah benar, pun demikian dengan baik. Baik tetaplah baik. NASEHAT kalaulah itu memang BENAR dan BAIK pasti akan meMANISkan di akhirnya, meski terasa sangat PAHIT di awal. SESAL biasanya tak pernah di AWAL.

PerINGATan, COBAan dan UJIan. Kadang karena BEBAL seseorang tak menyadari sedang di-INGAT-kan/di-COBA/di-UJI bahkan mungkin dialah yang sedang menjadi PER-ingat-AN/coba-AN/uji-AN bagi orang lain. ::: merasa bisa itu hal yang mudah, NAMUN bisa merasa itu sungguh luar biasa sulitnya, kecuali bagi mereka yang berkeSADARan, semoga DImampuKAN :::

Pada titik kesadaran terendah di hadapan keAKBARan Gusti ALLAH, semoga dirontokkan gumpalan-gumpalan keMARAHAan, keKECEWAan, keGALAUan, keSOMBONGan, agar bisa TULUS meMAAFkan, termasuk memaafkan DIRI sendiri, berdamai dengan MASA LALU kita, menerrima semua yang telah HADIR di masa lalu, walau INGATan masih ADA, namun telah TIADA LUKA.

Peringatan, cobaan dan ujian. Kadang karena bebal seseorang tak menyadari sedang di-INGAT-kan/di-COBA/di-UJI bahkan mungkin dia sedang menjadi per-INGAT-an/COBA-an/UJI-an bagi orang lain.

PENYANGKALAN adalah ekpresi tercepat EGO dalam merespon kebenaran / kenyataan tentang dirinya.

ILMU tak hanya diAJARkan atau dipelAJARi. ILMU seHARUSnya menJADI LAKU hingga me-SATU. Maka SUARA atau Rupa AKSARA peLAKU Ilmu biasanya memBEKAS, mengGORES, menCERAHkan waLau sering teRASA PAHIT juga, PAHIT yang meMANISkan pada akhirnya.

Bukan SEBAB bahwa diri ini membawa manfaat, TIDAK. Namun jika dalam interaksi apa pun sudah kehilangan orientasi keMANFAATan, tak ada kebersamaan menyemaikan NILAI, hanya hura-hura sesaat, hanya ekspresi dari tak tergenggamnya kendali diri, maka DIAM menahan diri adalah LEBIH BAIK agar selamat sekaligus menyelamatkan.

Tiada niat tanpa medan untuk melaksanakannya, maka bersiaplah menyambutnya.

Kau yang hanya ingin membahagiakan dirimu sendiri, bersiaplah bersua slalu dengan masalah, sebab tak ada kedamaian dalam dirimu. Awal kebahagiaan diri adalah kerelaan membahagiakan orang lain meski baru di ujung niat dan orang lain terdekat adalah keluargamu : orang tuamu, suamimu / istrimu, anakmu dan saudaramu.

Belajar selalu mempersiapkan hati untuk kehilangan siapa pun dan apa pun dalam hidup kita, bahkan kehilangan diri kita sendiri. SEMOGA diberi kesiapan.

Jaga hati dari masuknya suara yang tak perlu melalui telinga, jaga hati dari menyusupnya aksara yang tak bermutu dari mata, jaga hati dari merembesnya kata yang tak bermakna dari mulut kita, jaga hati dari cengkeraman pesona sihir konsumerisme, jaga hati dari keterikatan dunia maya, jaga hati dari segala rasa semu yang mengharu biru.

MemBEKUkan [BUKAN memBATUkan] peRASAan itu terkadang sangat PERLU, bahkan terkadang HARUS.

Salah satu kebahagiaanku adalah ketika aku bisa menertawakan diriku sendiri.

Sebuah NIKMAT menjadi orang BIASA meski hanya untuk mencukupkan kebutuhan hari ini saja harus pontang-panting. SEBAB dengan sedikit saja diLEBIHkan dari BIASA, bisa jadi malah JAUH dari SELAMAT karena berkemungkinan untuk CURANG, CULAS, SOMBONG, ANIAYA, SEMENA-MENA, LICIK dan BENGIS [dst, dsb, dll].

SETARA. Seperti itulah biasanya. Bagaimana kita, seperti itulah yang akan ada dalam kehidupan kita. Maka saat mengINGINkan sesuatu yang LEBIH BAIK dari yang pernah ada di masa yang lalu, berTANYAlah pada diri sendiri, seBERAPA jauh kita sudah mengubah diri untuk jadi LEBIH BAIK agar LAYAK pula menerima yang LEBIH BAIK itu.

Kadangkala, saat terpejam, segalanya malah terlihat jelas. Seperti juga saat menutup telinga, suara lebih nyaring bunyinya.

Sing uwis yo uwis ora usah diéling-éling yen malah marakké larané ati... [hidup selalu baru].

Berkali DIcoba, berkali DIkuatkan dan berkali pula DIlampaukan. Kenapa masih RAGU ? SEMOGA tak sedang DIacuhkan. SEMOGA DIyakinkuatKAN.

Secara sadar, meminta maaf mestinya langsung padarang yang pernah kita salahi, yang kita curi haknya atau yang tak kita tunaikan haknya; dengan menyebutkan secara rinci dosa kita padanya untuk dimintakan kerelaanya. Hhmmm, berat... sungguh berat, blom mampu kulakukan itu.

::: dêdalané gunä klawan sêkti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur wêkasané, tumungkulä yen dipun dukani, bapang dén simpangi, änä catur mungkur :::

Ojo naté kêpingin dadi wong liyo, ojo naté isin dadi awak'é dhéwé.

Kutemui kehidupan orang lain yang kelihatan begitu enak, namun akhirnya selalu kutemukan bahwa hidupkulah yang paling enak, karena inilah anugerah terindah yang kuterima dari tuhanku. Duh Gusti, matur nuwun sangêt sedäyä ingkang Panjênêngan Dalêm paringakên dumatêng kulä.

Biasanya, me-PANDANG prestasi DIRI hanya akan memper-SEMPIT cakrawala PANDANG.



::: SAMADI :::


CINTA itu salah satu keSADARan SPIRITual. CINTA itu bukan materi, tidak pula energi, melainkan frekuensi yang selalu menyapa JIWA yang CERAH, hingga terSADARkan untuk meMULIAkan dengan penerimaan, pemaafan, penyaudaraan dan pelayanan serta penghormatan.

Di setiap RASA dan di segala argumen LOGIKA, saat INGIN, saat AKAN, saat HENDAK, tanyakan dan beranilah untuk jujur menjawab : untuk apa, kalau sudah mau apa atau akan bagaimana atau hendak dikemanakan ? Kalau jawabannya jelas, semoga itu pertanda BERKAH dan MANFAAT.

Di setiap AWAL hari, bersama keSEGARan pagi, GEMBIRAkan hati, agar DImampuKAN merasakan BERKAH ILAHI sepanjang waktu nanti, hingga di PENGHUJUNG hari DImampuKAN pula untuk menSYUKURi semua yang telah terjadi.

Sering-sering menengok keSADARan hati, merasakan berDETAKnya jantung dan menikmati IRAMA nafas, biasanya akan menJAUHkan kita dari sikap terBURU-BURU, meTEPATkan dalam memutuskan / memilih, mengOPTIMALkan proses dan mengHINDARi penyesalan.

Saat bimbang untuk memutuskan, diamlah, redamlah keinginan, istirahatkan pikiran, baru bertanyalah pada Tuhan.

Teramat SERING, lalu lintas pikiran kita menjadi padat hingga kita penat, pun demikian dengan hati kita.Me-TEPI-lah. Menepi bukan tuk berhenti apalagi melarikan diri, namun tuk keluar dari diri dan hanya sekedar menyaksikan lalu lintas pikiran dan keluar masuknya segala hal di ruang hati. Menyaksikan berarti tidak terlibat. Maka me-TEPI berarti me-SADAR-kan diri. Tak pernah menepi hanya akan melelahkan diri.

Di tengah keramaian, kesibukan, kerepotan, keruwetan, kesedihan dan kegembiraan, duka dan bahagia, sehat dan sakit, lapang dan sempit, serta berbagai kondisi yang lain, SEMOGA diMAMPUkan [walau sejenak, meski sekejap] untuk memasuki RUANG SUNYI hati kita masing-masing, agar senatiasa TERpanggil, TERrpanggil dan TERpanggil.

BerDIAM untuk me-TENANG-kan diri, seHARUSnya. SAAT perasaan kita TIBA-TIBA LEBIH gembira atau takut atau sedih atau marah atau yang lain. Sebab saat rasa kita tiba-tiba lebih, biasanya hanya sesaat dan yang keluar dari diri kita BISA JADI hanya SIA-SIA, baik itu ucapan, tulisan, pemikiran, keputusan dan  yang lainnya.

BerSYUKURlah bila dimampukan untuk bisa tetap TENANG dan TAK MUDAH diGEMBIRAkan oleh sesuatu yang meLENAkan, sebab bila tidak demikian, maka tak lebih dari ANAK-ANAK yang MUDAH diGEMBIRAkan hanya oleh sebuah KEMBANG GULA.

Apa pun - siapa pun tak ada yang abadi dalam kehidupan kita. Datang dan pergi, hilang dan kembali, lahir dan mati, beli dan jual, baik dan rusak, silih berganti tak pernah henti, akan dan selalu seperti itu. Berbesar hati itu kata kuncinya, MEMILIKI TANPA MEMILIKI.

Sejenak menarik nafas dalam-dalam tuk luruhkan gumpalan rasa dalam dada. Sejenak senyumi hati ini tuk mengugah energi cinta, agar lebih jernih memandang semesta.



::: URIP URUP :::


MOCO KAHANAN | Membaca keadaan semestinya diawali dari membaca hatinya sendiri, agar BENAR tak sebatas hanya katanya.

TUMUS | Tembus ~ nitis, saat luhurnya budi pekerti sebagai buah laku pribadi ikut pula memicu luhurnya budi pekerti - minimal - mereka yang terdekat dalam keseharian pelaku.

Tiap kesempatan berbuat BAIK ~ "tetulung", merupakan anugerah AGUNG dariNYA sebagai LAKU pengejawantah WELAS~ASIH~NYA, menebar RAHMAT agar semoga menjadi BERKAT.

BAIK selalu ada di segala sesuatu, seBURUK apa pun itu, tak ada yang sia-sia di kehendakNYA, berHIKMAH.

Tiada NIAT tanpa medan pemBUKTIan dan perJUANGan yang terhampar dihadapannya.

Harapan yang tak kunjung terwujud, biasanya malah WUJUD saat DImampuKAN merRELAkan keTAKterWUJUDannya.

PASRAH, satu solusi untuk semua masalah.

JADI ORANG BAIK untuk diri sendiri, BAIK JADI ORANG untuk diri orang lain dan semoga ORANG JADI BAIK karena "ketularan".

DEWASA itu MATANG dan itu BUKAN hanya soal USIA. Dewasa itu keSANGGUPan untuk "ngêmong", menampung dan menerima apa pun yang dituang, sekaligus mengelolanya untuk berproses menjadi lebih, tambah dan semakin baik. KeDEWASAan ILMU sanggup menampung ketaktahuan maupun kesoktahuan menjadi tahu atau mengerti atau bahkan paham. Demikian juga berlaku untuk yang lain sesuai ASPEK keDEWASAannya.

MemBENCI itu seSUNGGUHnya berARTI memBERI perHATIan. Pancaran peRASAn benci yang terus menerus akan mengalirkan energi yang terus menerus pula kepada sesuatu yang dibenci itu, yang akhirnya justru akan mematerialisasikan sesuatu yang dibenci itu menjadi wujud nyata dalam kehidupan dia yang membenci. ~ Ojo gêting, mundak nyanding. [jangan membenci/anti pati, nanti malah bersanding/berdampingan] ~

INTENSITAS perHATIan dengan disertai TIDAK BAIKnya peRASAan terhadap negatifitas tertentu, biasanya akan memperPARAH negatifitas tersebut atau membuatnya terULANG kembali dan bahkan meWUJUD menjadi negatifitas BARU pada diri pemerhatinya. ~ Ojo moyok, mundak nemplok. [jangan mencela/memperolok/membenci/mencaci/menggunjing/memaki, nanti malah terjadi pada diri sendiri] ~

MeMENANGkan perTARUNGan itu BIASA, yang LUAR BIASA adalah meMENANGkan LAWAN [bukan meMENANGKAN DIRI] TANPA berTARUNG yaitu saat LAWAN tidak lagi menjadi LAWAN, melainkan menjadi TEMAN, SAHABAT atau bahkan SAUDARA.

KeberADAan bukan faktor utama dalam berBAGI, namun yang utama adalah keSADARan. KeberADAan TANPA disertai keberLIMPAHan BIASAnya sulit berBAGI. Namun sebaliknya, keterBATASan yang disertai keberLIMPAHan BIASAnya selalu berusaha berBAGI. SEBAB, keberLIMPAHan bukanlah wujud materi namun lebih merupakan keSADARan hati. BUKAN nikmat kalau TAK membuat dekat, BUKAN pula berkah kalau TAK membuat cinta merekah.

BENAR adalah BENAR. Hakikinya BENAR adalah ia sebagaimana adanya. Namun kala BENAR dilabeli oleh KU, maka biasanya merupakan awal dari KONFLIK dengan saling memperSALAHkan. BenarKU tanpa mau mengapresiasi benarKU-nya yang lain, apalagi tanpa keJUJURan dan keSUNGGUHan untuk BENAR itu sendiri, pasti jadinya perTENGKARan, perMUSUHan, pePERANGan, peNISTAan, perPISAHan dan seterusnya. NAMUN, kala SALAH dengan jujur dilabeli oleh KU, hingga salahKU bertemu dengan salahKU-nya yang lain, biasanya BENAR akan muncul dengan sendirinya, karena jadinya adalah perMAAFan, perDAMAIan, perSAHABATan, perSATUan, keMESRAan, keSETARAan dan seterusnya.

SAWANG SINAWANG kata orang Jawa. Di setiap koordinat tempat, ruang dan waktu SESEORANG yang terlihat nikmat/enak/lebih oleh orang yang lain, sejatinya ada banyak cobaan dan ujian yang menyertai di dalamnya bagi SESEORANG itu yang belum tentu kuat untuk diLAKONi bagai orang lain yang melihatnya.

Salah satu pengejawantahan keSADARan adalah mengijinkan DIRI untuk selalu meRASAkan, meNIKMATi dan berSUNGGUH-SUNGGUH di setiap detil dari segala aktivitas keseharian dan itu biasanya akan melahirkan keRELAan, keberSERAHan, keBAHAGIAan dan tentu saja rasa SYUKUR yang dalam. Semoga DIsadarkaKAN.

|  SYUKURi dan RASAkan keBAHAGIAan bersama orang-orang terdekat kita [suami, isteri, anak-anak, orang tua dan saudara], sebab WAKTU begitu cepat berLAU, pun demikian dengan KISAH kehidupan yang demikian cepat berUBAH.  |  Bisa jadi seiring waktu yang melalui kisah kehidupan, ada SESUATU yang HILANG [kesempatan, kemesraan, kemanjaan, kedekatan, juga prilaku atau tabiat dan tentunya yang PASTI adalah usia].  |  Selagi SEMPAT, semoga tidak terLEWAT.  |

Setiap kita adalah PEMERAN UTAMA dalam episode kehidupan kita masing-masing, maka tak bisa tidak selain menerima dan menjalaninya sepenuh hati. Tak usah merasa rendah, tak usah juga merendahkan. Pun demikian sebaliknya. Kalapun orang terdekat kita berperan antagonis, penuhi saja tangki cinta kita untuknya. Hanya kelembutan yang mampu melunakkan kekerasan.

PengABDIan meLAHIRkan keBAHAGIAan yang WUJUD dalam BERBAGAI bentuknya dan MENJELMA dengan berbagai caranya. Mereka yang tak mengenal pengABDIan biasanya barus MErasa bahagia saat apa yang dilakukannya mengUNTUNGkan dan itu perDAGANGan. SEMOGA DIjauhKAN dari berDAGANG dengan guru yang membimbing ruhani kita, SEMOGA DIjauhKAN juga dari berDAGANG dengan anak-anak yang dimanahkan kepada kita dan SEMOGA DIjauhKAN pula dari berDAGANG dengan suami/isteri yang dulu kita minta cintanya.

- yang terucap tak pernah lenyap, yang tertulis tak pernah musnah, yang dilakukan tak pernah hilang, tak pernah terhapus, selalu tercatat dan mencari keseimbangan, menjadi abadi, dalam keabadian tuhan - ::: ngunduh wohing pakarti - menuai buahnya pekerti :::

- hati yang sederhana itu lembut, menampung, membopong, bukan merendahkan, hingga dimampukan merasakan rasanya hati yang lain, hingga dimampukan mewujud dalam aksara atau pun suara, hingga mudah diterima hati lain yang sederhana pula, bukan hati yang tinggi - ::: resonansi : baikkan hati sendiri berarti membaikkan hati yang lain juga :::

MANUSIA memang TEMPATnya SALAH dan LUPA, berarti manusia JUGA tempatnya BENAR dan INGAT, maka mengapa kalau ada yang salah dan lupa tak kau ijinkan dia menjadi benar dan ingat ? JADI bersahabatlah dengan mereka yang selalu mengajak benarmu dan ingatmu, bukan yang membiarkanmu tetap dalam salah dan lupamu.

JAGA, UTAMAkan dan MULIAkan keluarga agar anak tak terluka. Luka yang memBEBANi masa depannya, memBERATkan LANGKAHnya & memBENARkan PRILAKUnya walau salah. LAYANi istri, suami dan anak dengan keSADARan, sbg INVESTASI NILAI yg akan diTUAI oleh anak-anak kita di masa depan mereka. ::: SEMOGA penJAGAan, pengUTAMAan dan peMULIAan terhadap KELUARGA kita masing-masing, mejadi sebab duniawi penJAGAan, pengUTAMAan dan peMULIAan Gusti ALLAH kepada diri kita, keluarga kita dan penduduk negeri ini. :::

Bertambah bilangan usia, itu pasti. Namun, kematangan jiwa dalam bilangan usia adalah sebuah kesadaran. Maka, perluaslah kesadaran untuk menempa jiwa agar kematangan tidak tertinggal dari bilangan usia.

SUNGGUH-SUNGGUHlah menCINTAi mereka yang hadir dalam hidup kita, sebelum mereka meninggalkan kita atau kita yang meninggalkan mereka. Sebab HIDUP ini sangat SINGKAT terasa bila BATAS waktunya telah tiba, setiap detiknya begitu berharga. SEMOGA jauh dari sia-sia.

Hadiahkan dirimu pada kebaikan. Maka jadilah baik dengan membaikkan jiwamu.

Tak akan ada kebahagiaan di luar sana, sebelum ada kebahagiaan di dalam dada. Berbahagialah dengan selalu berbaik sangka pada Tuhan dan sesama, agar tak ada yang keluar dari diri kita kecuali kebaikan. Maka awalilah kebahagiaan diri dengan kerelaan membahagiakan orang lain meski baru di ujung niat dan orang lain terdekat adalah keluargamu : orang tuamu, suamimu / istrimu, anakmu, saudaramu dan seterusnya. Sebab mereka yang hanya ingin membahagiakan diri sendiri, biasanya akan bersua slalu dengan masalah, sebab tak ada kedamaian dalam diri mereka.

Banyak yang menginginkan kebahagiaan, tetapi banyak yang tidak berani memutuskan untuk bahagia.

BAHAGIA. Sederhana semestinya. MAKNAI setiap detik yang kita lalui, temukan serta rasakan pengaturan-NYA yang indah. Sederhana dan teramat sederhana, memang, hingga banyak yang tak percaya, hingga bahagia dicari di luar sana, hingga nestapalah yang tiba dan bahagia hanya seonggok fatamorgana.

Ingin bisa SABAR ? Berlatih, berlatih dan berlatih terus untuk BERBAIK SANGKA pada Gusti ALLAH. Selalu berusaha tanamkan keyakikan bahwa apa pun permasalahan yang menghadang kita, apa pun kesulitan yang sedang membelenggu kita, apa dan bagaimana pun 'sini'asi dan kondisi yang melingkupi kita, insya Allah PASTI akan terlewati dan berakhir dengan BAIK, BAHAGIA dan PENUH HIKMAH.

Jalan terang itu sering datang dengan cara sederhana, sesederhana kalimat yang mengantarkannya, sesederhana kata yang mengawalinya dan tiba-tiba saja berubah dengan sendirinya dengan begitu sederhananya.

Allah senantiasa memberikan sesuatu sesuai ukuran-Nya, tak ada sangkut pautnya dengan kelayakan seseorang menurut ukuran dirinya sendiri. Betapa banyak dari kita yg mendapat pencerahan spiritual walau tak belajar formal.

Yang berambut panjang itu mungkin ibumu, yang berambut panjang itu mungkin anak perempuanmu dan mungkin juga itu saudara perempuanmu. Relakah engkau jika mereka diperlakukan seenaknya oleh suaminya ? Para suami, berlemahlembutlah kepada istri kalian.

Rejeki dari Tuhan takkan pernah tertukar. Kalau sudah rejeki, takkan ke mana, pasti sampai di tangan kita. Kalau pun ada rejeki yang terlepas tidak sampai di tangan menurut anggapan kita, sebenarnya situasi itu pun merupakan rejeki juga buat kita dari Tuhan. :: Piyé-piyéo, têtêp alHAmdulIllAh ::

Maksud BAIK sekali pun tetap HARUS dengan ADAB yang BAIK pula.

SeTINGGI dan seHEBAT apap pun ilmu PEDANG, tak mempunyai keMUNGKINan untuk meMEMENANGkan diri melawan UDARA. Sebab udara mempunyai keMUNGKINan yang MUTLAK untuk tak tertebas oleh sabetan pedang dan tak tertikam oleh hunjamannya.

BINTANG tak selamanya jadi bintang, saat ia tak setia pantulkan cahya mentari. BINTANG tak selamanya juga bersinggana di atas sana, saat ia ingin jadi mentari.

Jangan paksa lelaki tuk ceritakan masalahnya, sebab dia lebih suka mencari solusinya sendiri. Jangan juga menawarkan solusi pada perempuan, sebab kebanyakan mereka lebih ingin didengar walau tanpa solusi.

Kita tidak bisa hidup tanpa Tukang Sampah yang tiap hari menghampiri rumah kita. Hormatilah kehadiran mereka, rasanya sebungkus nasi kompit dan segelas air mineral untuknya bisa melembutkan hati kita.



::: PASINAON :::


Yang benar-benar menghadap, biasanya pasti tak banyak cakap, suara pun senyap, pikiran tiarap bahkan tak lagi berharap, hanya rasa yang terkesiap menerima limpahan anugerah walau hanya sekejap.

Pada AKHIRnya tak ada yang tak melepaskan, RELA atau TERpaksa PASTI akan diLEPASkan, seberapa pun kuat menggenggamnya.

MemperTANYAkan ~ Nek uwis arep opo ? [Kalau sudah mau apa ?] ~ di setiap keINGINan, biasanya lebih menyelamatkan.

Tak semua ILMU menjadi LAKU, namun biasanya semua LAKU menjadi ILMU.

RAHMAT Tuhan, semuanya pasti menerima, tetapi tak semuanya yang menjadikannya BERKAT. Namun sebaliknya, semua BERKAT adalah RAHMAT.

Segala HAL akan hadir bila ada SIAPnya keSADARan untuk menerimanya, hingga BAHAGIA akan terasa memBAHAGIAkan, hingga INDAH akan terlihat keINDAHannya dan hingga MISTERI pun akan terkuak RAHASIAnya.

KeSIBUKan menCARI BAHAGIA biasanya malah meLALAIkan DIRI dari BAHAGIA itu sendiri.

TENANG itu diam tak bereaksi saat direaksi, tak juga mereaksi. Tenang itu perasaan yang timbul dari yakinnya akhlak. Tenang itu menjernihkan akal, menyederhanakan pikiran dan mengendalikan perbuatan.

Apalah arti sebuah TEGURan betapa pun PAHITnya, kalau keRELAan menerimanya menjadi sebab LUHURnya DERAJAD. Sebaliknya, apalah arti sebuah pemBENARan kalau hanya memBUAT terLENA dan AROGAN yang menjadi sebab terSUNGKURnya DEARAJAD.
 
SiGARane nyoWO, GARWO. Sebuah makna untuk ikatan fungsional yang tak terbatas dan lebih luas dari persuami-istrian. Satu nyawa, sejiwa tak ada beda, meski wujud rupa tak sama. Suami-isteri, orang tua - anak, pemerintah-rakyat, ulama-ummat, guru-murid, pengusaha-buruh dan sebagainya dalam kesetaraan penghormatan, pengabdian dan pelayanan sekaligus juga pemuliaan.

Untuk TAHU perlu belAJAR, untuk BISA perlu LATIHan dan untuk PAHAM perlu meRASAkan.

LARAS, seLARAS dan menyeLARASkan merupakan KUNCI keterHUBUNGan untuk SATU-menyatu.

Bagi penggemarnya, SAMBAL meski PEDAS selalu terasa NIKMAT. Letak NIKMATnya adalah di keRELAan menerima PEDAS itu.

Sebagaimana NIAT yang sejatinya bukan dari diri kita sendiri, demikian juga keSADARan. Maka, sungguh keSADARan tak pernah bisa dipaksakan, apalagi atas nama keBENARan. Sebab BENAR itu pun sesuatu yang RELATIF. Maka, yang PERTAMA dan UTAMA adalah menggugah keSADARan diri sendiri dulu untuk benar-benar BENAR, tanpa mencela keTIDAKSADARan orang lain. Sungguh, keSADARan itu memang harus digugah dengan MENGETUK dan bukan MENGUTUK.

NIAT atau "krênteging ati" selalu mengawali keBAIKan apa pun, baik vertikal [ritual peribadahan] atau pun horisontal [muamalah / kesalehan sosial]. Namun pernahkah sejenak saja mencari, kenapa / dari mana / dari siapa NIAT atau "krênteging ati" itu sampai bisa muncul di hati kita Sungguh, manusia tak layak mengAKUi keBAIKan itu adalah milik dan upayanya, apalagi bila disertai celaan bagi mereka yang diANGGAPnya belum BAIK seperti dirinya.Sungguh, keBAIKan itu semata ANUGERAH dariNYA

Dikatakan AJAIB karena tak masuk AKAL, sebab akal dengan pikirannya selalu bersikap kritis. Maka mereka yang selalu "NGEYEL" dengan argumen akalnya, biasanya sangat JARANG mengALAMI keAJAIBan. Seperti AJAIBnya perTOLONGanNYA yang tiba-tiba saja DATANG saat PASRAH dan berSERAH, sebab saat PASRAH dan berSERAH, akal tidak lagi "ngeyel", memaksa dan ikut mengatur kehendakNYA.

Suara "perut" dan suara PERUT sering mengalahkan SUARA HATI, hingga manusia sering terlempat dari ORBITnya sendiri, seMAKIN ASING dengan dirinya sendiri dan akhirnya berTEMAN GALAU tiada henti.

ADAKAH yang perlu disesali atau dibenci atau dicaci atau didendami atau di-negatif-i lainnya, KALAU : setiap manusia memiliki keBEBASan untuk memilih jalan hidupnya masing-masing, NAMUN nyatanya, yang DIPILIH adalah SELALU dan PASTI apa yang telah diTAKDIRkan untuknya ???

TOPENG selalu diPERLUkan saat NURANI sendiri mulai diINGKARi, hingga bukan APA ADAnya melainkan ADA APAnya ? SEMOGA dimudahkan selalu apa adanya agar jiwa tak semakin terbelenggu bayangan semu.

KEJAR namun jangan mendahului, semua ada SAATnya. Tak bisa diperCEPAT, tak pula bisa bisa diperLAMBAT. Hanya apakah kita memperSIAPkannya atau tidak. TANPA perSIAPan, mustahil SAAT itu tiba.

MengUCAP nama TUHAN di perMULAan situasi, kondisi, aktivitas, ruang dan waktu, merupakan AWAL keBAIKan, AWAL keTAKberDAYAan, AWAL keberSERAHan dan sekaligus AWAL pemberDAYAan DIRI, sebab memperTAUTkan DIRI pada sumber yang sejati. BISMILLAH, besarkan hati lintasi segala situasi, kuatkan tekad menggapai rahmat, luaskan ilmu kaliskan semua halangan semu dan sulutlah bahagia untuk wujudnya asa.

Makhluq tak pernah TETAP pada suatu keadaan, pasti terBATAS dan diBATASi. BESARkan hati masing-masing, tetap OPTIMIS, IKUTi kata hati, terus berGULIR ke arah yang lebih BAIK beriring dengan keTEGASan menerima diri sendiri seutuhnya DAN TEMUkan keINDAHan pengATURAN-NYA.

Harus selalu, BAIK dan BENAR diletakkan di tempat, pada waktu dan dengan metode yang BAIK dan BENAR pula. Jika tidak, belumlah BAIK dan BENAR. | Ora mung bênêr, nanging kudu pênêr. Bênêr lan pênêr. |

Sebuah TEKO tak akan mengeluarkan apa yang bukan menjadi isinya, MANUSIA tidak. Bahasa lisan, bahasa tulisan dan bahasa tubuh sangat BISA diSAMARkan untuk mengaburkan jiwa yang meLAHIRkannya. Hanya GELAS BENING hati yang mampu mewantahkan JERNIH yang disamarkan dari keKERUHan, KERUH yang disamarkan dari keJERNIHan, JERNIHnya jernih atau pun KERUHnya keruh.

KeSETARAan dalam perBEDAan itulah JODOH, dan JODOH itu di segala hal : perkawinan, pekerjaan, tempat tinggal, pertemanan dan sebagainya. BEDA secara kasat mata - inderawi. SETARA dalam jiwa, spirit, energi dan penerimaan.

Tak usah berharap pada siapa pun dan apa pun jika kita memang berniat untuk menjadi bijaksana, bahagia dan mulia hidup kita. ILMU, mintalah kepada DIA Sang Pemilik Ilmu sembari memetik bunga hikmah dari setiap detik kehidupan yang terlalui dengan menata kembali pula cara pandang kita terhadap segala hal yang kita temui dalam keseharian. ::: Ilmu THAWAF : mengelilingi, BUKAN berhenti di satu titik :::

KASUNYATAN - keNYATAan sering tak bisa dilogika walau dengan segudang teori, sebab teori lahir dari pengamatan yang serba terbatas. KeNYATAan hanya bisa dipahami oleh mereka yang merasa dan melebur dalam keNYATAan itu sendiri. Maka tak usah andalkan teori, masuklah ke dalam setiap keNYATAan yang ada, agar tak tak sering heran karenanya, tak sering terkejut melihatnya dan tak sering pula menginginkannya.  Datar dan biasa saja. ::: Ilmu THAWAF : äjä nggumunan, äjä kagétan, äjä kêpinginan :::

Setiap ada AKSI maka akan ada REAKSI, begITUlah MANUSIA selalu bereaksi sesuai aksi yang diterimanya, sebab ada unsur api yang reaktif dalam dirinya, terang tapi panas dan membakar. Di balik itu, unsur cahaya juga ada, terang namun lembut dan sama sekali tidak reaktif.

SERING kita tergagap saat menyambut datangnya masalah, sebab gairah dalam diri kita untuk menyelesaikannya tak sebanding dengan kemampuan dan pengalaman kita untuk bisa antisipatif, sumeleh dan tenteram atas berbagai hal yang tidak mengenakkan diri.

MASALAH, SEkecil apa pun, meski hanya sekedar "terantuk kerikil", pasti ada andil dari ZHALIMnya diri kita di rentang masa yang telah terlampaui. Maka segera berISTIGHFAR itu seHARUSnya, selain sebagai anugerah agung mendekat padaNYA dengan meNOLkan diri kita, istighfar biasanya juga akan menghapus memori negatif dari ingatan kita agar tak memBEBANi dan tak mengajak mengULANG kembali perMASALAHAN yang sama di masa berikutnya. 

Seteguk air, sejumput makanan, setitik ilmu, secuil materi, sejengkal kelapangan, sesimpul senyum atau apalah juga dari siapa pun tak seharusnya melupakan kita dari TERIMA KASIH. Terima kasih yang berkeSADARan merupakan wujud SYUKUR kita kepada DIA yang menjadi sebab sampainya semua itu. TERIMA KASIH yang menjadikan mereka RELA biasanya menjadi sebab berTAMBAHnya BERKAH kita. ::: BERbuat baiklah lalu LUPAkan, namun TERIMAlah keBAIKan lalu INGATlah. :::

Yang melupakan akan dilupakan. Saatnya menggali yang terpendam, mengumpulkan yang berserakan dan memunculkan yang tersembunyi.

SELALU berusaha dan belajar mengURAI apa pun agar menemukan keINDAHan saat meSIMPULkan.

Kadang kita harus mengambil jarak dari diri kita sendiri, agar bisa memandang dengan lebih jernih.

Adalah suatu kebahagian saat kesulitan menghadang tiba-tiba tak disangka datang kemudahanNya melalui seseorang. Pernah terpikirkah, bahwa boleh jadi hal itu merupakan buah yang kita nikmati dari biji pohon kebaikan, kasih sayang dan cinta, permudahan serta pelayanan untuk kebahagiaan sesama yang ditanam oleh leluhur kita ? MENANAM itu kata kuncinya. Tanam sajalah dan biarkan anak cucu kita yang memetik buahnya.

Tidak ada yang pasti dari makhluq. Semula benci bisa jadi rindu, pun sebaliknya. Semula kawan bisa jadi lawan, pun sebaliknya. Semula punakawan bisa jadi juragan, pun sebaliknya. Sakmadya atau SEKEDARNYA itu kata kuncinya. Jangan bersandar pada makhluq, bersandarlah pada yang empunya makhluq.

Begitu banyak keinginan dalam kehidupan kita walau sebenarnya tidak kita butuhkan. Itu meresahkan. SEDERHANA kata kuncinya. Sederhanakan keinginan sesuai kebutuhan dan temukan kebermaknaan serta keberkahan dalam kesederhanaan.

Sederhana itu indah, membuat hidup lebih hidup.

BELAJAR memelihara keSADARan untuk tidak memperMASALAHkan segala hal yang tak mengenakkan, menyakitkan, bahkan yang meyulitkan sekalipun. SEBAB semua itu berfungsi menumbuk energi kita agar bisa lepas keluar dan melampaui semua itu. TANPA demikian, tak pernah tahu kita akan cadangan energi yang tersimpan dalam diri. MAKA, gitu aja repot ?!

Siksaan rasa sangat bersalah hakikinya melebihi sakitnya hukuman secara fisik [kalau ada] dari kesalahan itu sendiri.

Makin tinggi derajad, makin luas ilmu, makin dalam pemahaman, makin banyak harta, makin beragam yang dilayani, dan seterusnya, maka... makin berat pula pertanggungjawabannya, makin banyak cobaannya, makin sulit ujiannya, dan yang pasti, makin beragam pula godaannya, jadi... jangan terobsesi, jadi diri sendiri sepenuh hati, optimalkan potensi diri, dan selalu syukuri anugerah Ilahi.

Kalau engkau keras, maka akan mudah dipecahkan. Kalau engkau rapuh, maka akan mudah dimusnahkan. Maka lenturlah, sebab dengan lentur engkau hanya akan menerima saja semua yang membenturmu tanpa merusakmu. Maka temukan sendiri koordinat lenturmu dalam dirimu.

MUTIARA tetaplah berHARGA walau terbenam dalam lumpur yang kelam. Maka selamilah ilmunya MUTIARA. Sedang BUNGA di TEPI JALAN, walau INDAH namun biasanya hanya akan diJUMPUT dan aKhirnya diCAMPAKkan. :: Dalam segala hal / aspek apapun, pilihan selalu tersedia : hendak mengarah menjadi MUTIARA atau BUNGA di TEPI JALAN ??? ::

TAK harus meniru Sang Kalijaga yang melintasi sekat keragaman, TAK harus seperti Baginda Khidir yang mengembara jaman, TAK harus menjadi Panglima Cheng Ho yang menjelajah benua dan TAK harus menjadi siapa pun. SUNGGUH-SUNGGUH saja jadi diri sendiri.

Selalu ada keputusan dari pilihan-pilihan di setiap ucapan, tulisan, perbuatan atau apa pun itu yang keluar dari diri kita. SEMOGA semua itu dengan kesadaran.

KETERIKATAN. Nuansa KESENANGAN SESAAT saat melakukan / mengkonsumsi sesuatu / berinteraksi dengan sesuatu / seseorang dan KEGELISAHAN saat tidak. TINGGALKAN kata kuncinya, hingga kita bisa merasa tidak beda saat melakukan/mengkonsumsi atau saat tidak, saat berinteraksi atau saat tidak. Sebab KETERIKATAN hanya untuk TUHAN. Kalau belum bisa, terikatlah pada orang-orang yang hanya terikat pada Tuhan, dengan niat agar bisa seperti mereka, bukan untuk niat yang lain.

Kadang kita harus menarik napas dalam-dalam tuk meluruhkan gumpalan yang menyesakkan dada, kadang terpaksa menitikkan air mata karena kesedihan yang menggores rasa, terkadang juga kelelahan begitu mendera jiwa. Namun, yakinlah segala yang berAWAL pasti berAKHIR, maka berSERAH dan berUSAHA itu jawabnya. SONGSONG segala yang ada dan PASTIkan bahwa BAHAGIAlah akhirnya.

Sekali pun, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di hadapan kita walau hanya berjarak satu detik ke depan. Sekali pun, tidak akan pernah bisa kita merencanakan kapan akan tersenyum, kapan akan tertawa, kapan akan menangis, kapan akan gembira, kapan akan celaka, akan akan bahagia dan seterusnya. Maka bersiaplah, karena HIDUP INI PENUH KEJUTAN.

Saat berada dalam ketidakpastian masalah rezeki, pastikanlah diri kita tidak menghiraukannya karena Allah yang maha memberi rezeki itu pasti. Jangan hiraukan ketidakpastian itu dengan memastikan diri terus berbuat kebaikan sebagaimana mestinya sesuai tanggung jawab yang kita emban, melebihi malah lebih baik, tanpa mengharapkan penilaian. Temuilah, ketidakpastian itu pasti berujung pada kepastian, karena kita memastikan diri melakukan yang dituntut-Nya yaitu berbuat kebaikan tanpa meragukan jaminan-Nya.

PEHITUNGKAN, namun jangan BERHITUNG.

Bagaimana pun kondisi kita, jangan lupakan untuk berbagi, walau hanya dengan sebungkus nasi. Namun berbagilah dengan niat memuliakan, sebab dengan niat memuliakan kita akan berusaha memberikan yang terbaik walau pun ala kadarnya, bukan sekedarnya. Sebab ada juga, mereka yang diberi kemudahan rezeki malah semakin sulit untuk berbagi, sedekah sekedarnya, jauh dari kadar yang semestinya. Padahal semakin banyak berbagi, semakin banyak pula kita akan diberi dan itu pasti.

Saat menginginkan suatu hal yang memang sangat kita butuhkan, sering terjadi adanya keterbatasan kita untuk mewujudkannya. Maka, RELA adalah kata kuncinya. Relakan keterbatasan kita dan relakan juga ketakterwujudan keinginan kita dan liihatlah yang terjadi. Keinginan itu akan wujud dengan mudahnya sebagai anugerahNya atas kerelaan kita.

Saat fasilitas begitu mudahnya didapat, saat berbagai kemudahan tinggal memanfaatkan, maka kala keberhasilan diraih, bukan sukses namanya karena hal itu biasa. Namun saat sendiri, penuh keterbatasan dan apa adanya kemudian bisa mendobrak keterbatasan dan meraih keberhasilan, sukseslah namanya dan itu luar biasa.

Seberapa besar kesanggupan kita menerima ujian, sebesar itu pulalah kebahagiaan dan kebarakahan yang akan bertambah pada diri kita, sebab tidak akan bertambah nikmat jika wadah penampung nikmat itu belum siap. Tidak akan bertambah nikmat, jika nikmat yang telah diberi tidak kita rawat dengan rasa syukur kita padaNya.

Kebahagiaan adalah milikku dan bukan milik orang lain, karena jika kebahagiaan adalah milik orang lain, maka selamanya aku tidak akan pernah bahagia. Maka kebahagiaan harus kuciptakan. Dengan tatap mata ke depan, dengan dada tengadah, dengan tangan terkepal dan tetap dengan kelembutan hati, aku putuskan untuk bahagia dan pasti bisa bahagia, apa pun resikonya.

Begitu alami, biasa dan sederhana. Itulah desa. Namun dia begitu luar biasa dalam menyangga kehidupan kota yang sering pongah dan penuh sumpah serapah.


::: JAZIRAH :::


BerLALUnya waktu sering meninggalkan SESAL di akhirnya karena keSIAannya.

Saat INI selalu merupakan pantulan saat LALU, entah itu LALU yang tadi, kemarin atau dulu yang bahkan teringat pun tidak.

Saat bahagia tak lagi berada dalam diri dan harus dicari di luar sana, saat singkatnya waktu tak juga disadari adanya, saat itulah seorang manusia sering mencari cara mempercepat waktu agar waktu tak terasa lama baginya dan agar bisa sesaat bergembira, namun biasanya dekat dengan sia-sia.

Untuk sebuah SENYUM, tidak usah berPIKIR. SENYUM sajalah di hadapan-NYA, maka DIA pun akan terSENYUM di HATI kita dan LIAHTlah, akan banyak orang tersenyum pada kita, akan banyak situasi menyambut dengan senyum pula dan semesta pun ikut tersenyum bahagia.

TAK bisa diperLAMBAT, TAK bisa pula diperCEPAT. PemBERIan TUHAN pasti PAS dalam segala dimensinya. Yang membuatnya terasa lambat adalah ketergesaan diri kita sendiri. Yang membuatnya terasa cepat adalah juga kemalasan diri kita sendiri. Seperti senangnya menemukan isi bingkisan setelah menikmati proses membuka lapisan-lapisan pembungkusnya, begitu pula pemBERIanNYA yang selalu dibungkus oleh lapisan-lapisan lakon yang harus dijalani agar ada upaya membuka bungkusnya dan menemukan keindahan saat sampai di isinya.

Jalan menuju TUHAN selalu terBENTANG LEBAR di seTIAP WAKTU. Tak ada waktu terbaik kecuali SAAT INI untuk berbuat BAIK, sebab mengANGANkan keBAIKan di masa lalu tak lebih dari sebuah SESAL dan mengANGANkan keBAIKan di masa depan masihlah sebatas KHAYAL.

Meniti waktu, ibarat merangkai keping puzzle episode kehidupan kita. Serumit apapun masalahnya, seberat apapun cobaannya dan sesulit apapun ujiannya, SEMOGA DIyakinKAN akan berakhir BAIK dan memBAHAGIAkan WALAU saat ini belum ada gambaran apapun tentangnya. Maka menjaga keYAKINan akan akhir yang baik dan membahagiakan itu, biasanya, tanpa disadari, sangat mempermudah dalam merangkai tiap puzzle episode kehidupan kita hingga tersusun lengkap dan terlihat INDAH pada AKHIRnya.

Ruang dan waktu itu relatif, tak ada masa lalu, kini dan akan datang, selesai sudah, begitu berawal, saat itu juga berjalan sekaligus juga berakhir, bagai film dalam keping VCD - track mana yang sedang ditampilkan. Kesadaran yang meluas menjangkau itu semua, tak ada jarak yang jauh, tak ada waktu yang lama, bahkan para orang suci - tak ada waktu dunia tak ada waktu akhirat, sekejap saja sampai di hadapan Tuhan yang sejatinya TUHAN. ::: ILUSI : fatamorgana kehidupan yang banyak menipu diriku :::

TITI WANCI. Kalau SAATnya tiba, apa pun itu, takkan bergeser sedikit pun. PASTI.

Semua ada saatnya. Hanya, apakah engkau mempersiapkannya atau tidak ? Sebab tanpa persiapan, mustahil saat itu tiba.

Ojo nggégé mongso. [Allahumma rodhdhini biqodhoika wa barikli fima quddiro hatta laa uhibba ta’jila maa akhorta wa laa ta’khira maa ajjalta (Yaa Allah berilah aku kerelaan atas takdirMU & tambahkanlah kebarokahan atas takdir itu, sehingga aku tidak menyegerakan yang Engkau akhirkan dan tidak pula mengakhirkan yang Engkau segerakan)]

Waktu adalah milik Tuhan, hinga kita takkan pernah tahu rahasia di balik perjalanan waktu. Maka saat memutuskan sesuatu yang menyangkut masa yang panjang di depan sana, PERTIMBANGKAN adakah kemungkinan Tuhan berkenan dengan apa yang kita putuskan dan apakah niat kita berselaras dengan kehendak Tuhan untuk memuliakan kita di hadapan-Nya ?

Lintasi ruang, lalui waktu, jelajahi batas. Tak hendak dan tak tahu saat-tempat lahir, berkarya serta kepulangan sejati yang pasti terjadi.

Bersua dengan para sesepuh, membekas kesan nan dalam. Kepasrahan menunggu saat panggilan datang atau malah kegamangan yang bercampur kengerian ? Bagaimana denganku ?

Makin banyak melintas usia, makin sedikit nikmat raga yang tersisa.

Tamu itu selalu datang tiba-tiba, kecuali bagi mereka yang selalu awas hatinya. KEMATIAN !!!

Jangan meninggalkan seseorang dengan kebencian, sebab itulah tanda-tanda di saat mendatang engkau akan mendapatkan yang kurang lebih sama.

TINGGALkan dengan SENYUMan, maka itu berarti menabung energi untuk meWUJUDkan yang LEBIH BAIK lagi. JANGAN TINGGALkan dengan keBENCIan, sebab itu berarti menabung energi untuk meWUJUDkannya KEMBALI.

SERIUS dalam BERMAIN, namun TIDAK pada MEDAN PERMAINANnya. Setiap orang unik, punya misi hidupnya masing-masing yang diemban dari Tuhan. Apa yang bagi satu orang mudah, mungkin bagi yang lain sulit, pun demikian sebaliknya. Itulah peran yang harus kita mainkan yang dituntut oleh Tuhan. Maka seriusilah, agar hidup kita hidup dan kalau bisa bahkan menghidupkan hidup orang lain. Sisi lain, semua orang  samaSama peran yang harus dimainkan yaitu sebagai hamba Tuhan, maka seriusilah. Medan permainan kita di dunia, tak lebih sekedar sendau gurau, maka jangan diseriusi, dalam arti jangan sampai dimasukkan hati.

Dunia ini sendau gurau belaka, demikian Tuhan memaklumkan. Namun Tuhan juga menuntut kesungguhan menjalani kehidupan. Temukan titik tengahnya.

Jauhnya jarak, berlikunya jalan bahkan gelapnya penerangan pun jangan gentarkan hati untuk memulai langkah dan segera melangkagkah, tetapi tetap berhati-hati jangan sampai salah langkah. Gusti Allah ora saré.

SEIMBANG. Demikianlah berlakunya hukum Tuhan. Tinggal menunggu waktu, diperCEPAT atau diperLAMBAT. KeBAIKan kita pasti berbuah LEBIH BAIK. KeBURUKan kita pasti berbuah LEBIH BURUK juga. Semoga keBURUKAN kita diperCEPAT buahnya, agar tak menumpuk terlalu banyak hutang saat menghadap-NYA.

Wolak-waliking jaman semua pasti akan bergerak, silih berganti, pasti ada akhirnya sebelum dimulai yang baru.

Jangan pernah meRENDAHkan yang terlihat 'HANYA' di saat ini, jangan pula meTINGGIkan yang terlihat 'WAH' saat ini, sebab tak ada yang tahu rahasia di balik waktu, sebab makhluk selalu TERBATASi RUANG & WAKTUnya. PerGILIRan, perPINDAHan dan perPUTARan itu PASTI. Maka tak usah PANDANGi yang lain, tetapi LIHAT sajalah diri sendiri dan PASTIKAN untuk selalu berusaha menjadi LEBIH baik, TAMBAH baik dan MAKIN baik di SEGALA ruang dan di SETIAP waktu.

Sebab masa lalu takkan pernah terulang dan percuma untuk disesali, maka berbuat baiklah untuk hari ini dan berbuatlah lebih baik lagi, membangun ingatan yang baik tentang hari ini agar menjadi kenangan masa lalu yang baik saat telah berada di masa depan.

Tak usah risau saat kau dibenci, sebab dibenci atau dicinta sejatinya sama walau tetap beda. Sama-sama selalu ada dirasa. Dibenci, sangat berpotensi untuk dicinta. Pun demikian sebaliknya. Maka tak usah membenci kalau tak ingin berbalik mencinta, tak usah pula terlalu mencinta agar tak berpeluang membenci.


::: NYELEKIT :::


MUNGKIN lebih bijak rasanya untuk MENAHAN DIRI agar TIDAK LARUT, saat menghadapi suasana baru, yang membuat kita TIBA-TIBA gembira, TIBA-TIBA takut, TIBA-TIBA marah, TIBA-TIBA bahagia, TIBA-TIBA sedih dan TIBA-TIBA yang lain, sebab TIBA-TIBA biasanya SESAAT dan SESAAT biasanya HANYA seolah-olah.

Ada sesuatu yang mengGEMBIRAkan SAAT hadir, ada yang memBANGGAkan SAAT diceritakan, ada yang meNYENANGkan SAAT dimiliki, BIASANYA saat fokus pada gembira, bangga dan senang itulah SAAT AWAL sesuatu itu menjelma COBAAN.

Berdamailah dengan dirimu sendiri agar kau tahu apa maumu, asal jangan paksa tuhanmu memenuhi seleramu, agar kau tak tertipu oleh selubung 'aku'mu.

Yang kau lihat, belum tentu seperti yang terlihat. Yang kau rasa, belum tentu seperti aslinya. Apa yang kau baca, belum tentu demikian maknanya.

Sedang yang terungkap pun berjarak dari yang tak kasat mata, bagaimana bisa tenang ? Bahkan dalam kesendirian pun, tak juga temukan arti, bagaimana bisa berserah. Nama tuhan pun diobral tanpa makna, kilauan cahya pun diumbar tanpa rasa. Takkan menapak, takkan melangkah, tak lebih dari berputar di tempat yang samaNESTAPA.

Bahkan memahami diri sendiri pun tak juga hendak, bagaimana bisa menapak jauh ? Bahkan menyampaikan yang tak diterapkan pun tlah jadi biasa, bagaimana takkan memelas ? Sedang waktu takkan beringsut ke belakang, sedang jiwa tak kunjung matang, sedang kesiaan slalu dihamburkan, bagaimana takkan terulang ?

Bergerak maju ke arah belakang, berputar-putar mengitari perhentian yang tetap, berulang-ulang mengulang kekeliruan yang samaSEBAB, kekeliruan diyakini sebagai sesuatu yang benar, kesalahan selalu dicarikan alasan pembenar, MAKA keTAKSADARan merupakan CARA GEMBIRA untuk NESTAPA.

Orang BINGUNG biasanya NGAWUR. SELALU : ucapannya asal, sikapnya minta perhatian, pikirannya penuh sesal, tindakannya berlebihan dan mencari alasan pembenar. BerDAMAI dengan diri sendirilah obatnya. BERANI berdialog JUJUR dengan diri sendiri, untuk menguak RAHASIA hati tanpa teralingi.

DEWASA seHARUSnya MATANG. Matang bisa berarti siap dalam menentukan pilihan-pilihan dan bertanggung jawab penuh atas pilihan yang telah diambilnya. Semakin matang semakin berkualitas pilihannya, memilih yang tidak menyalahi kehendak Tuhan dan memilih yang benar-benar ada manfaatnya.

Ada MASA yang lebih PANJANG. Maka bila saat ini ada masalah, HADAPI, jangan meLARIkan diri dengan mencari SENANG sesaat, GEMBIRA sesaat dan SESAAT lainnya yang hanya SEOLAH dan tak ada MANFAAT, agar hatimu tak makin terSAYAT.

MUNGKIN lebih bijak rasanya untuk MENAHAN DIRI agar TIDAK LARUT, saat menghadapi suasana baru, yang membuat kita TIBA-TIBA gembira, TIBA-TIBA takut, TIBA-TIBA marah, TIBA-TIBA bahagia, TIBA-TIBA sedih dan TIBA-TIBA yang lain, sebab TIBA-TIBA biasanya SESAAT dan SESAAT biasanya HANYA seolah-olah.

BerBINCANGlah selalu dgn kePOLOSanmu, agar semakin kau PAHAMi DIRImu & temukan ARTI LANGKAHmu, hingga KATA menjadi berMAKNA & TAK SIA-SIA saat kata kau WUJUDkan dalam RUPA AKSARA atau pun SUARA, karena KATA tlah kau pendam, semaikan, tumbuh kembangkan hingga berbuah, di dalam BUMI dirimu.

BerWELAS-ASIHlah, jangan MEMELAS.

Ora tinêmu nalar, ora kabéh sing bisä dinalar, mulané äjä sok ngêndêlké akal.

Noto awaké déwé, noto atiné déwé waé angél éram, kok arêp noto ndonya, kok arêp ngubah ndonya... pikir dulu !!!

Yang tak kita sukai pada diri org lain tak berarti sesuatu yang salah, sebab kita memandang diri orang lain dari diri kita sendiri, dari ego kita sendiri dan dari nafsu kita sendiri.  Maka tak usahlah resah, saat orang lain juga tak suka pada diri kita, asal kita sudah dan berani untuk jujur pada diri sendiri : sudahkah berniat dan terus berupaya untuk slalu serta terus menerus berbuat baik serta berbuat lebih baik lagi tanpa sia-sia, agar selaras dgn kehendak-Nya tuk memuliakan kita di hadapan-Nya, meski di hadapan keagungan-Nya tetaplah kita ini hamba yg hina.


::: PANYUWUN :::


BerBUAT BAIK itu BERAT tetapi dapat kita LAKUkan. Yang LEBIH BERAT lagi adalah memBIASAkan berBUAT BAIK. Di situlah letak keMULIAannya, namun jangan lupakan NIAT di AWALnya. Yang juga BERAT adalah menJAGA NIAT di seTERUSnya setelah di AWALnya. BISMILLAH. Semoga DImampuKAN agar bisa melampaui, hingga yang BERAT terasa RINGAN.

SeBERAT apa pun beban kehidupan kita, seSEMPIT apa pun dada kita, seRUMIT apa pun masalah kita dan seSULIT apa pun langkah kita, semoga DIkuatyakinKAN kembali berSANDAR pada JAMINAN-NYA, hingga tak sampai merendahkan diri di hadapan manusia. Tidak untuk diRINGANkan, namun SEMOGA DItambahKAN-NYA kemampuan kita meLEBIHi beban yang ada hingga tiba-tiba saja RINGAN, LAPANG, SEDERHANA dan MUDAH. Aamiin.

SEMOGA malam ini dan malam-malam nanti, DIA selalu menidurkan TIDUR kita, MEmampuKAN tubuh kita menyembuhkan diri kita sendiri, MElepasKAN semua ingatan yang negatif, MENGgantiKAN seluruh rasa marah, kecewa, sedih, takut, cemas, bimbang dan buruk sangka di hari ini MENJADI cinta yang mengINDAHkan hidup kita. BANGUN segar, sehat, bahagia, penuh cinta serta SYUKUR dalam keberlimpahan kemakmuran dan kesejahteraan yang berkah dalam skala waktu dunia-akhirat. Aamiin. ::: Tidurlah dan biarkan DIA yang mejaga langit tidak runtuh, sebab TUHAN TIDAK TIDUR :::

Di hadapan HUKUM, keBENARan bisa jadi RELATIF. Sebab HUKUM kadang sering diTERAPkan dari SISI KEPENTINGAN yang melandasinya, sering juga diKENAkan dari SUDUT yang diKEHENDAKi oleh mereka yang sedang berKUASA dan yang sangat berKEPENTINGAN dengan keKUASAannya. ::: SEMOGA kita DImampuKAN menjaga keSADARan diri : Begjo begjane wong kang lali, isih luwih begjo wong kang eling lan waspodo :::

Kalau rakyat jelata miskin, itu untuk dirinya sendiri, tak ada yang perduli padanya dan miskinnya takkan memiskinkan orang lain. NAMUN, kalau yang miskin itu sang penguasa, sang penegak hukum, sang wakil rakyat, sang pamong praja, sang pemegang senjata dan sang-sang lainnya.... maka PASTI efek kemiskinannya terasa di seluruh negeri. ::: SEMOGA yang maha kaya dan maha memberi kekayaan, mengKAYAkan hati kita dulu atau mungkin bersamaan dengan mengKAYAkan kehidupan lahiriah kita. KAYA dalam keKAYAan, bukan MISKIN dalam keKAYAan :::

SEMOGA hati kita dipenuhiNYA dengan WELAS ASIH dari sifat RAHMAN DAN RAHIMNYA, hingga kita DImampuKAN untuk CINTA, makin YAKIN dan IKHLAS dalam pengabdian tanpa batas kepada KASIH SAYANGNYA.

Menapak jalan kesunyian, mengendalikan kapal kesadaran di dahsyatnya gelombang kehidupan. ROBBI YASSIR WALAA TU'ASSIR, ROBBI TAMMIM BIL KHOIR (Ya Tuhanku, mudahkanlah urusan dan jangan Kau persulit, Ya Tuhanku sempurnakanlah kebaikan).

KALAU pun ada kebaikan pada diri ini, SEMOGA buahnya ranum melimpah diunduh 'seribu' anak cucu. WALAU ada sengsara dalam jazirah waktu hidup diri ini, SEMOGA menjadi tabungan jalan keselamatan dan kemuliaan 'seribu' anak cucu.

Semoga LASKAR CINTA segera mewujud dari fananya, segera menampak dari ketersembunyiannya, segera bangun dari kesengajaan tidurnya dan segera menyatu dari ketersebarannya.

Andai saat berdoa.. blank... tak ada lain kecuali sang pendoa dan Sang Muara doa, maka itulah tanda-tanda doa diijabah dengan segera dalam realitas wujud. Karena itulah doanya orang yang terzhalimi pasti dikabulkan Allah, sebab dalam posisi kalah segala-galanya terhadap kesewenangan, siapa lagi tempat akhir bergantung jika bukan DIA, saat itulah semua tak ada keculai sang pendoa dan SANG PENGIJABAH DOA.

Seribu anak cucu menanti WARISAN doa. Seribu leluhur menanti HADIAH doa. Ingat selalu, jangan lepas doa.



den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus den Bagus
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger