• RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • SELALU : dalam DIA dan Kekasih-NYA, ALLAHUMMA SHALLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN 'ABDIKA WA NABIYYIKA WA RASUULIKA-NNABIYYIL UMMIYYI WA 'ALA-AALIHI WASHAHBIHI WASALLIM TASLIIMAN-BIQODRI ADZOOMATI DZAATIKA FI KULLI WAQTIN WAHIIN
  • a k u : Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Justablêdugnotalintang.
  • BUKAN : ahli Qur'an, bukan pula ahli Hadits, bukan Ustadz, Gus apalagi Kiai.
  • Lebih BAIK : senyum saja, kalau BLOG ini isinya ngawur, mohon maaf, tidak melayani debat karena saya memang tidak punya ilmu apa pun.
  • Catatan : ini hanya sekedar menandai perjalanan yang tak pernah usai. Mencoba mengetahui, mengerti, memahami dan menjadi dengan cara yang sederhana, tentu saja sesuai kapasitas pemahaman saya.
  • sinau : dadi wong apik saktênané wong apik.
  • SEMOGA: semua selalu dianugerahi TETAPNYA IMAN, TERANGNYA HATI, KESELAMATAN DUNIA AKHIRAT, AMPUNAN-NYA serta KERIDHOAN-NYA. Allahumma aamiin 999x.
  • Wong BIASA

    Sebagaimana yang lainnya. Bukan apa-apa, juga bukan siapa-siapa..

  • KUPU-KUPU

    Sekedar catatan ringan yang tak bermakna, dari diri yang masih terus mencari kesejatian yang hakiki. Bagai ulat yang ingin menjadi kupu-kupu, melalui kepompong pertapaan jiwa.

  • CAH ANGON

    Noto awaké déwé, noto atiné déwé waé angél éram, kok arêp noto ndonya, kok arêp ngubah ndonya... pikir dulu !!! Cah aNgON.... Angon nêpsuku déwé, angon atiku déwé.... angél tênan !!! Opo manéh, nalikané nandhang wuyung, lagi gandrung, gandrung marang äpä wae sak liyané Gusti Kang Akaryä Jagad. Duh Gusti nyuwun pangapurä ....

  • Sadêrmä Abdi

    Mung ngêlakoni kêrsané Gusti. Mung ngênténi ditimbali Gusti.

  • BE YOURSELF

    Jadilah manusia yang berani untuk melepaskan semua predikat yang disandang dan menjadi "hanya sekedar" manusia yang sejatinya memang hanyalah "sekedar hamba" di hadapan Tuhannya.

  • HIJRAH

    Tak usah macam-macam, ayo memBAIKkan diri kita masing-masing, selalu berbuat keBAIKan di semua hal, di segala tempat dan di setiap waktu.

  • TENTANGKU, jika ENGKAU merasa, ACUHKAN !!!

    PENYANGKALAN adalah ekpresi tercepat EGO dalam merespon kebenaran / kenyataan tentang dirinya yang kurang.

Thursday, May 16, 2013

Di balik EKSPRESI …

Posted by Bagus Herwindro On 5/16/2013 04:03:00 PM

Tiba-tiba saja teringat pengamatan tentang diri sendiri sekaligus sambil lalu pengamatan tentang orang-orang sekitar saat terjebak dalam situasi yang dikatakan “tidak” mengenakkan.

Berbagai situasi yang tidak mengenakkan mungkin sering dialami oleh banyak orang, seperti terjebak kemacetan yang panjang, berada dalam antrian yang mengular, menunggu jadual keberangkatan yang molor, menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, terkena imbas prilaku seseorang yang kurang baik, menghadapi tekanan atasan di tempat kerja, merasakan kenakalan anak-anaknya atau apa pun dalam situasi yang lain. Yang jelas, banyak orang merasakan situasi yang sama, namun yang membedakan adalah respon dari masing-masing orang terhadap situasi yang sedang melingkupinya.

Manusia, karena mempunyai unsur api, maka sebagaimana api dia juga reaktif, dalam arti bahwa api itu sangat mudah bereaksi terhadap bahan-bahan yang semakin memperbesar nyalanya atau pun yang justru memadamkannya. Manusia pun seperti itu, saat dia tidak waspada mejaga nyala api dalam dirinya dengan kadar yang cukup, maka dia akan selalu reaktif dalam merespon keadaan / situasi yang melingkupinya, hanya saja reaksinya biasanya cenderung negatif dan yang paling sering terlontar adalah keluhan, kekecewaan dan kemarahan karena tidak sesuai dengan keinginannya.

Hujan, katanya hujan. Panas, katanya panas. Begitu seterusnya, langsung terlontar keluhan dari lisannya dan itu adalah saya, kalau Panjenengan saya yakin tidak…. tidak beda maksudnya, he… he.. he…

Dari berbagai situasi, pengamatan paling mudah dengan waktu yang cukup lama dan meliputi banyak orang adalah saat menunggu dalam suatu  antrian, apa pun itu. Kalau tempatnya nyaman, bersih dan harum seperti di Bank, mungkin orang-orang tidak begitu reaktif apalagi karena di bank-bank tertentu banyak pemandangan indah (tellernya cantik-cantik he… he… he…). Namun saat antrian itu berada di tempat yang berkebalikan dari itu, bisa dilihat bahwa orang-orang begitu mudahnya untuk menjadi reaktif.

Alhamdulillah, di antrian mana pun sedikit banyak saya jadikan ajang berlatih menjaga perasaan dan mengendalikan pikiran (maaf ya… nyombong dikit) agar tidak reaktif dalam arti ya… dinikmati saja.

Kemarin juga begitu, antri beli tiket Kereta ekonomi jurusan Yogya-Surabaya untuk bulan Agustus besok. Antrian belum terlalu panjang, orang-orangnya Alhamdulillah bisa tertib meski udara dalam ruangan cukup memaksa keringat keluar dari tubuh, maklumlah Surabaya panasnya memang urakan. Tiba giliran di depan loket, menyerahkan slip pemesanan tiket, ternyata total tarifnya sesuai jumlah yang saya pesan melebihi uang yang saya bawa yang menurut perhitungan saya sebelumnya telah mencukupi. Di dompet untuk tiket cuma ada tiga ratus ribu dan itu kurang, ya sudahlah keluar antrian, Alhamdulillah dengan gembira, bisa menertawakan diri sendiri karena tidak antisipatif. Solusinya ya cari ATM, jauh juga rasanya karena jalan kaki, hampir satu kilometer, sambil telpon mamanya anak-anak menceritakan kejadian tersebut dengan saling menertawakan gembira. Singkatnya, setelah mengambil kekurangannya, mengulang lagi antriannya yang sudah lebih panjang dari sebelumnya. He… he… nasib :).

Mengawali antrian sambil terus mewasapadai diri sendiri, setelah beres, baru belajar dan bercermin pada mereka yang ada di sekitar. Ada yang asyik dengan HPnya, ada yang ngobrol santai, ada juga yang tidak bisa diam, tengok kiri kanan belakang, entah apa yang ditengok. Ada juga yang cemberut, wis… pokoknya macam-macamlah. Energi yang memancar keluar dari diri mereka masing-masing pun berbeda, ada yang biasa-biasa saja, ada yang sejuk (bagi yang tetap hening dalam dirinya) dan ada pula yang kacau melelahkan (mereka yang gelisah, marah, terburu-buru dan yang perasaannya galau karena terseret pikirannya sendiri).

Namun ada satu orang yang membuat saya merasa mak JLEB hingga akhirnya menulis apa yang Panjenengan terpaksa baca ini.

Satu orang ini persis di belakang saya, seorang anak muda sebaya saya mungkin dengan usia yang tak terpaut jauh, paling hanya sekitar lima belas tahunan saja selisihnya dengan usia saya. Lebih tampan dia sedikit, saya yang banyak he… he… he.. Auranya terasa tidak enak, bahasa tubuhnya mengekspresikan kegalauannya, bolak balik bergeser ke kanan sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arah loket. “ASTAGHFIRULLAH…. satu aja kok gak selesai-selesai sih… !!!”, demikian yang terlontar dari lisannya.

MAK JLEB. Tidak membahas dia yang saya kisahkan itu, tetapi lebih ke diri saya sendiri, bercermin, ngilo gitoké déwé.

Rasanya saya sering mengucapkan astaghfirullah atau subhanallah atau masyaAllah saat merespon berbagai situasi yang “tidak” mengenakkan diri saya, namun kali ini seperti disentil dan diperolok oleh Gusti Allah, sudahkah saat saya mengucapkan secara lisan asma Allah tersebut kesadaran hati saya hadir di hadapanNYA ? Sudahkah hati saya menyadari makna di balik ucapan itu ? Bagaimanakah kondisi perasaan saya saat mengucapkan itu ? Kenapa saya tidak pernah mengucapkan alhamdulillah pada situasi yang “tidak” mengenakkan saya ?

Ternyata dan memang nyatanya, saya mengucapkan kalimat-kalimat itu tanpa kesadaran diri. Ternyata dan kenyataanya, saya jauh dari memaknai apa yang saya ucapkan.
Ternyata dan faktanya, saya sama sekali tidak hadir di hadapanNYA saat saya lisankan asmaNYA.
Ternyata dan demikianlah realitanya, seluruh kalimat baik itu hanya sekedar ekspresi keluhan dan kekecewaan nafsu saya yang sama sekali tidak rela dengan situasi yang sedang melingkupi diri saya.

Saya dulu sering misuh alias mengumpat cara Surabaya (jan**k, tiiitttt~sensor), bukan dengan gembira melainkan dengan amarah dan kebencian. Kelihatannya saat saya mengucap istighfar atau tasbih atau yang lainnya, kelihatannya lebih baik dan lebih relijius dibandingkan dengan mengumpat, namun di balik itu saya pikir tak ada bedanya dengan mengumpat itu tadi. Sebab di balik kedua hal yang kelihatan bertentangan tersebut, saya merasakan ada vibrasi perasaan yang sama, yaitu kekecewaan, kegelisahan, keluhan dan kemarahan karena apa yang sedang terjadi tidak sesuai dengan keinginan saya, yaitu sesuatu yang saya anggap “enak / nyaman / mudah / untung / yang lainnya”.

[Semoga saja saya dan Panjenengan, jangan sampai sekalipun mengacungkan tangan yang terkepal sambil meneriakkan asma Allah namun dengan perasaan yang diselimuti dendam, kemarahan dan kebencian. Sebab tak beda srtinya dengan mengumpat, tak lebih dari itu.]

Lagi-lagi, apa yang ada di dalam lebih utama dan menentukan dari apa yang tampak di luar. Apa yang di balik ekspresi itulah yang menentukan nilainya. Maka tak bisa tidak, harus terus berusaha, belajar dan melatih diri untuk memuliakan akhlak.

Ah… ternyata harus lebih banyak lagi beristighfar, bahkan istighfar saya itu sendiri masih harus banyak-banyak pula diistighfari.

Semoga DImampuKAN. Aamiin.

Wednesday, February 27, 2013

Asal usil, SAMBAT

Posted by Bagus Herwindro On 2/27/2013 09:12:00 PM

Sebagaimana biasanya, terkadang Cak ZhudhrunH didatangi oleh kenalan-kenalannya baik yang sudah lama kenal maupun yang baru kenal lewat kenalannya yang lain, juga yang sudah lama dekat atau yang baru mendekat. Bukan hal yang penting, sekedar mengobrol ringan sambil ngopi dan nyamil seadanya, namun ada kalanya beberapa kawan ingin mengetahui hal-hal yang membuat mereka penasaran karena pancingan-pancingan yang sering dilontarkan Cak ZhudhrunH.

Demikian juga dengan malam itu, sepulang kerja si Cacak yang satu itu ternyata sudah ditunggu oleh beberapa kawannya di beranda depan rumahnya. Obrolan-obrolan ringan dari satu topik ke topik lainnya yang tak lupa diselingi gurauan segar penyegar jiwa.

Tak terasa waktu pun merambat kian malam dan rasanya bagi kawan-kawan Cak ZhudhrunH sudah waktunya untuk berpamitan pulang, namun ternyata di akhir obrolan itu, Ning Anyel melontarkan suatu pertanyaan kalau tak boleh disebut sebagai keluhan, sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang masih terkaitpaut dengan apa yang mereka obrolkan sebelumnya.

Kebetulan Ning Anyel ini memiliki kepekaan lebih, kebetulan juga dia memiliki seorang sahabat sebut saja Ning Memel dan antara kepekaan serta persahabatan itu ternyata berefek kurang baik bagi Ning Anyel sebab dia sangat-sangat bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu. Jadi saat sahabatnya itu dalam kondisi down, dia pun bisa dengan tiba-tiba merasakan hal yang sama dan itu melelahkan.

“Aku itu pengennya bisa mutus itu Cak… aku kan capek kalau seperti itu terus…”, kata Ning Anyel.

“He… he… he… siapa namanya ?”, jawab Cak ZhudhrunH yang bersiap langsung mengeksekusi kondisi itu.

“Memel Cak…”, sahut Ning Anyel.

“Hiya… tak usah kau sebutkan namanya, pejamkan matamu, hadirkan saja ia di pikiranmu dan rasakan !”, jawab Cak ZhudhrunH dan melanjutkannya lagi, “Pakai baju warna apa dia sekarang ?”.

“Pink Cak… dia lagi senang ini… xixixixi”, jawab Ning Anyel sambil juga cekikikan mungkin sama seperti yang sedang dilakukan sahabatnya itu.

Cak ZhudhrunH pun menimpali, “Kira-kira, saat ini keterhubunganmu dengannya kalau bisa disimbolkan begitu seperti apa atau kalau digambarkan seperti bagaimana ?”.

“Maksudnya Cak ?”, ujar Ning Anyel dengan tetap memejamkan matanya.

“Ya mungkin keterhubunganmu dengan sahabatmu sekarang ini bisa disimbolkan dengan adanya tali atau kabel yang menghubungkanmu dengannya atau mungkin dalam gambaran sebagaimana engkau dan dia berkomunikasi dengan HP ?”, jelas Cak ZhudhrunH.

“Iya Cak… HP.”, jawab Ning Anyel

“Nah kalau begicu… sekarang matikan HPmu dengan menekan tombol merah !”

“Sudah Cak.”

“Kalau sudah sekarang cari nama sahabatmu itu memori HPmu !”

“Ketemu Cak.”

“Remove !!!”

“Sudah Cak.”

“Cari lagi pastikan sudah tidak ada namanya di memori HPmu !”

“Masih ada Cak satu…”

“Remove !!!”

“Gak bisa Cak !”, jawab Ning Anyel dengan ekspresi sedikit menegang.

“HAPUS !!!”, perintah Cak ZhudhrunH tegas.

“Gak bisaaaaa Cak….. ah… ternyata aku yang gak tega Cak… aku terlalu sayang sama dia”, jawab Ning Anyel sambil tertawa.

“He… he… he… lha nek mbok gawe-gawe dewe yo gak usah sambat, kalau ternyata engkau sendiri yang menghendaki ya gak usah mengeluh… !”, sahut Cak ZhudhrunH sambil terkekeh mengakhiri sesi itu.

Dan yang ada di situ pun tertawa semua seakan mengerti tentang semua yang dilakukan Cak ZhudhrunH sedari tadi, mencoba membantu merekonstruksi pola pikir Ning Anyel sekaligus mengejar kesungguhan keinginannya dan juga sambil mencari akar masalah dari apa yang dikeluhkannya.

“Makanya berusahalah selalu waspada terhadap diri sendiri, terhadap semua keinginan dan segala keluhan, kejar terus dengan pertanyaan-pertayaan pada diri sendiri hingga pada akhirnya terkuak apa yang sebenarnya ada di pikiran dan perasaan kita, sebab biasanya segala permasalahan selalu berawal dan bersebab dari diri kita sendiri bukan dari faktor di luar diri kita. Terpenting, selalu ikuti kata hati namun juga tetap wasapada bahwa jangan-jangan kata hati kita sudah termanipulasi oleh pikiran atau hawa nafsu kita sendiri. Itu !!!”


:: DEMIKIANLAH ::

Monday, January 21, 2013

Olah RAGA

Posted by Bagus Herwindro On 1/21/2013 05:52:00 PM

Jangan mikir terus, olah raga biar gak cepat mati.

Mendengar kalimat ini, yang terbetik pertama kali di kesadaran adalah bahwa ini adalah kalimatnya manusia atau bahasa manusia yang mengingatkan urusannya manusia. Mati adalah batas usia dan itu adalah urusan Tuhan, namun usaha untuk menjaga kesehatan adalah urusannya manusia dan harus diusahakan sebaik mungkin, salah duanya adalah dengan tidak banyak berpikir sesuatu yang seharusnya tidak usah dipikir dan dengan berolah raga dalam rangka menjaga kesehatan.

Weleh-weleh… tak terhiraukan selama ini masalah olah raga untuk mengimbangi akal yang terus menerus berpikir dengan produksi pikiran yang tak selalu dan tak semua baik, bahkan kecenderungannya adalah banyak yang kurang baik.

Yang tak kunjung mau “eling dan waspadha” biasanya yang kalah pertala kali adalah badannya alias fisiknya atau jazadnya sebagai lapisan terluar dari manusia. Saat manusia sakit, sebenarnya tak bisa dikatakan benar-benar sakit sampai benar-benar tak ada faktor di luar tubuh fisiknya yang mempengaruhi dan itu sangat jarang terjadi. Kehidupan di jaman sekarang dengan jumlah manusia yang semakin banyak, tingkat persaingan yang begitu tinggi yang tentu saja dengan ragam persoalan yang semakin banyak, sering menyisakan kelelahan jiwa yang sangat jika tak ada kesadaran untuk sumeleh alias kerelaan menerima apa pun kondisi yang ada.

Namun sumeleh atau kerelaan itu jangan diartikan sebagai sikap diam terhadap apa pun atau siapa pun meski itu tak baik misalnya, tetapi kerelaan itu berarti tidak ada muatan emosi negatif yang menyertai suatu kondisi dalm arti perasaan tetap baik meskipun kondisi yang ada direspon sebagai sesuatu yang tidak baik oleh pikiran. Andai ada orang yang menyalahi/menyakiti diri kita, sumeleh atau rela berarti memaafkan orang tersebut dan itu tidak berarti melupakan, sebab peristiwanya tentu saja masih terekam di ingatan namun yang terpenting adalah bahwa muatan emosi negatifnya telah ternetralkan. Kok yang tidak mengenakkan, yang kelihatannya enak saja bisa jadi penyakit kok. Contohnya, jatuh cinta. Jatuh cinta itu bisa jadi penyakit lho kalau tidak bisa sumeleh, setiap teringat bisa deg-degan, lha kalau terus dibiarkan bisa kena penyakit jantung itu minimal bisa terkena syndrome malarindu… he… he… he… Begicu.


Kalau diurutkan kira-kira seperti ini :

Sumeleh atau kerelaan itu adalah akhlaq dan itu adalah ekspresi dari hati yang éling / ingat / sadar / taqwa. Saat sebuah situasi direspon oleh pikiran sebagai suatu beban / hambatan / halangan yang tentu saja tidak mengenakkan, sedangkan pada saat itu kondisi  kesadaran hati sedang terbenam, maka yang terekspresikan tidak mungkin kerelaan atau sumeleh melainkan adalah yang sebaliknya yaitu keluhan dan itu pasti hanya akan membuat kondisi perasaan yang tidak nyaman yang pada akhirnya akan memperkuat respon pikiran menjadi  semakin tidak baik. Saat itulah titik awal terjadinya rasa sakit, sebab saat itu biasanya terjadi kekacauan pola energi tubuh [hayat] yang apabila tidak segera diselaraskan kembali akan sangat berpengaruh buruk pada tubuh fisik [jazad]. Ogan-organ tubuh akan mengalami degradasi dengan tidak berfungsi secara optimal sebagaimana default kodratnya. Tidak bisa sumeleh terhadap suatu kesalahan atau perbuatan dosa yang pernah dilakukan, juga sangan berkemungkinan untuk mengalami hal yang serupa.

Titik awal itu tentunya akan terekam pula dalam ingatan, sehingga saat di waktu lain ada pemicu yang serupa, rekaman itu akan muncul kembali dan akan terjadi pula pengulangan kekacauan energi yang pada akhirnya mendegradasi fungsi organ tubuh hingga sakit.

Yang responnya spontan biasanya pusing, sesak napas, mual, shock, lemas dan bahkan pingsan. Sedangkan yang responnya lambat biasanya muncul berupa diare, obesitas, impotensi, alergi dan sering juga terdeteksi sebagai penyakit dalam seperti hipertensi, hepatitis, diabetes, kanker dan sebagainya.


Penumpukan dan pengurasan energi

Dalam kondisi normal, energi tubuh terus menerus bersirkulasi ke seluruh bagian tubuh secara merata. Namun karena adanya faktor pemicu yang merupakan titik awal kekacauan energi sebagaimana yang tersebut di atas, energi tubuh tersebut bisa jadi menumpuk atau mungkin juga terkuras dan pada waktu berikutnya akan menimbulkan gangguan secara fisik. Menumpuk itu bisa divisualkan seperti bentuk cembung, sedangkan terkuras seperti bentuk cekung.

Salah satu contoh sederhana penumpukan energi adalah saat cemas menghadapi sesuatu, kekacauan energi tubuh akan membuatnya mengalir hanya di satu area saja yaitu di sekitar diafragma, sehingga di diafragma akan terjadi penumpukan energi yang akan mengakibatkan gangguan fisik di sekitas diafragma seperti jantung berdetak lebih kencang atau sesak nafas atau mual atau perut mulas. Bila hal tersebut dibiarkan saja, dalam arti kecemasan itu dipelihara bisa jadi dalam jangka panjang seseorang akan terkena gangguan jantung, astma atau mag kronis, bahkan sampai paranoid.

Sedangkan salah satu contoh sederhana pengurasan energi adalah saat terjadi keterkejutan luar biasa dalam menggapi suatu peristiwa dalam arti sampai mengguncang jiwa. Biasanya akan langsung terjadi pengurasan energi di seluruh tubuh yang akan menyebabkan shock atau bahkan pingsan.

Sebenarnya memang ada teknik-teknik praktis dalam kondisi kritis yang bermanfaat untuk menangani penumpukan atau pun pengurasan energi, hingga sirkulasi energi kembali lancar, namun tidak dalam bahasan ini, sebab secara preventif bisa diminimalisir dengan rutin berolah raga.


Olah Raga

Olah raga di samping dari segi fisik memang bermanfaat untuk memadatkan massa tulang dan otot, memperlancar peredaran darah dan pernafasan, dari segi energi pun olah raga membantu menyelaraskan sirkulasi energi ke seluruh tubuh, mengurangi penumpukan energi serta menutup pengurasan energi.

Hal tersebut efektif terutama untuk olah raga dengan gerakan yang mengaktifkan seluruh persendian tulang sesuai bentuk sendinya masing-masing dan contoh gerakan tersebut adalah gerakan shalat. Maka shalat dengan minimal empat rakaat biasanya sangat membantu terjaganya keseimbangan dan keselarasan energi tubuh. Namun jangan sampai melakukan shalat dengan niat berolah raga, namun gerakan shalat dapat diadopsi sebagai gerakan olah raga, insya Allah akan besar manfaatnya.

Maka olah raga memang efektif untuk mengimbangi belum mampunya seseorang untuk bisa sumeleh, sehingga jazad atau tubuh fisik secara preventif lebih terjaga kesehatan dan kebugarannya. Minimal, fisiknya bisa lebih sehat dan bugar, walau pun jiwanya belum bisa seperti itu.


Angka 9

Jangan tanya kenapa dengan angka 9, ini hanya soal kebiasaan saya menghitung dengan bilangan 9 ~ katanya efektif untuk mengeluarkan energi yang kurang baik dan selanjutnya pada putaran 9 berikutnya berfungsi untuk menyerap energi yang lebih baik. Mungkin kalau ada yang mau meniru ya monggo

Pertama, stretching

Saya biasa mengawali dengan melakukan peregangan otot secara urut, mulai badan, tangan dan kaki.

Kedua, putaran sembilan

Memutar / menggerakkan bola mata melingkar ke arah kanan 9x dan kemudian ke arah kiri 9x.
Memutar leher ke arah kanan 9x dan kemudian ke arah kiri 9x.
Memutar pangkal lengan ke arah belakang 9x dan kemudian ke arah depan 9x.
Memutar pinggul ke arah kanan 9x dan kemudian ke arah kiri 9x.
Memutar lutut ke arah kanan 9x dan kemudian ke arah kiri 9x.
Memutar tumit dengan bertumpu pada jari kaki, ke arah luar 9x dan kemudian ke arah dalam 9x.
Berdiri tegak, angkat kedua tangan ke atas sejajar telinga, bungkukkan badan hingga ujung jari menyentuh lantai [kalau bisa mencium lutut], kemudian jongkok [kedua tangan lurs ke depan], membungkuk lagi dan kemudian menegakkan badan dengan tangan terangkat ke atas seperti semula, 9x.

Ketiga, gerakan pegas

Monggo kalau berkenan bisa langsung ke TKP (Tempat Koleksi Posting) : http://denmasbagus.blogspot.com/2012/07/segar-bugar.html


Yang khusus…

Ada olah raga yang sederhana namun efektif dalam rangka menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, namun tentu saja apabila dilakukan dengan benar. Olah raga itu adalah push-up. Push-up 100X ? He… he… he…

Saat melakukan push-up, tumpuan berat badan tubuh adalah di kedua tangan, sedangkan kontraksi otot `kan terjadi hamper di seluruh bagian tubuh, yaitu otot lengan, otot punggung, otot perut dan otot kaki, yang tentu saja sangat bermanfaat untuk mengencangkannya. Efektif dalam menjaga tulang punggung tetap tegak dan efektif juga untuk meratakan perut yang buncit.

Sebuah studi dari University of Greifswald yang dilakukan selama tujuh tahun, menunjukkan bahwa rajin melakukan push up dapat meningkatkan kadar testosteron dalam tubuh. Testosteron ini berfungsi mencegah risiko diabetes, hipertensi, dan obesitas.


Maka...


Saat saya merasa sakit, hal pertama adalah mewaspadai diri saya sendiri, adakah suatu hal yang belum bisa saya relakan ? Seandainya saya berani jujur menelusuri dan ternyata menemukan hal-hal yang belum bisa saya relakan, maka saya berusaha rela bahwa saya velum bisa merelakan. Hingga, paling tidak saya merasa rela menerima rasa sakit saya sebagai bentuk kasih sayangNya Gusti Allah untuk melebur dosa saya karena belum bisa rela menerima ketentuan takdirNya. Kira-kira begitu



Terakhir…

Semoga DImampuKAN untuk selalu rutin berolah raga apa pun itu bentuknya dalam rangka menjaga amanah raga yang memfasilitasi diri kita untuk berbuat kebaikan sebagai abdinya Gusti Allah selama masih ada ruang dan waktu bagi diri kita.

Semoga pula DImampuKAN untuk bisa sumeleh atau berserah diri di hadapanNYA dengan selalu merespon setiap detik kehidupan yang telah digariskanNYA untuk kita dengan akhlaq sabar, syukur dan ridho. Aamiin 1717X.

.:: Segala peristiwa, semua fenomena dan seluruh kisah nyata yang terhampar akan tersia begitu saja saat tak ada kesadaran meremah hikmah yang pasti dan selalu ada menyertainya, bahkan justru di sudut-sudut kecilnya yang sering tak terhiraukan. ::.

Demikianlah.

Monday, January 7, 2013

Silaturahmi MASALAH

Posted by Bagus Herwindro On 1/07/2013 05:37:00 PM

Mohon maaf kalau penggunakan kata silaturahmi mungkin kurang tepat dalam banyak hal pada tulisan ini, Panjenengan tidak usah protes, kan yang nulis saya, sak karepku to ? he… he… he…

Yang saya maksudkan dengan silaturahmi adalah mekanisme perhubungan atau interaksi antara sesuatu dengan sesuatu yang lainnya sesuai dengan kerangka yang telah ditetapkanNya. Kira-kira begitu.

Setiap hal pasti mempunyai silaturahminya sendiri-sendiri, seperti misalnya silaturahmi antara makanan dan mulut, silaturahmi antara minyak dan air tatkala bercampur dan sebagainya. Maka memahami bagaimana silaturahmi itu terjadi merupakan salah satu cara untuk menyederhanakan kehidupan kita. Silaturahmi itu mempersaudarakan, maka sangat memerlukan kerelaan untuk menerima bukan penolakan, tanpa itu takkan terjadi silaturahmi.

Contoh sederhana, pemain jathilan / kuda lumping / jaran kepang itu sanagt paham betul bagaimana silaturahmi antara mulutnya dengan beling / kaca atau apa pun yang dikunyahnya sehingga dia bisa selamat tanpa luka, tetapi bagi saya yang tidak menguasai silaturahminya jangan sampai menirunya biasa gazwat akibatnya, ibarat penerbit bisa dikatakan : isi di luar tanggung jawab percetakan, resiko saya sendiri bila berani menirunya tanpa keahlian.

Namun kalimat penerbit itu sering diselewengkan mereka yang kebablasan dalam mengartikan silaturahmi. Anak-anak muda dan orang-orang tua yang masih anak-anak yang mengalami cinta remaja biasanya akan kehilangan logikanya. Si cowok tanya sama ceweknya, “Wajah imoet ini punya siapa sih Beib .. ?”. “Ya punyamulah…”, jawab si cewek. Maka si cowok pun keterusan dengan menanyakan, kalau yang ini – kalau yang ini dan seterusnya, maka kejadian deh… si cewek karena ketabrak si cowok jadinya penyok ke depan. Maka saat dituntut tanggung jawabnya, si cowok dengan entengnya menjawab, “Lho… isi kan di luar tanggung jawab percetakan… !”.


Kembali ke laptop…

Satu hal yang diinginkan banyak orang termasuk juga di antaranya SAYA adalah hidup tanpa masalah, seakan masalah itu sebaiknya jangan pernah ada, keluarga tenteram damai tanpa masalah, kerjaan lancar jaya tanpa masalah, kehidupan sosial kemasyarakatan harmonis tanpa masalah dan seterusnya. Tapi kenyataannya kan tidak demikian. Semakin menjejak level kehidupan berikutnya, beban masalah itu semakain bertambah. Daftar sekolah itu masalah, menikah itu masalah baru, punya anak juga masalah baru lagi dan pasti selalu dan akan seperti itu.

Masalah itu pasti akan dan selalu menghampiri hidup kita, namun keSADARan kitalah yang membuat masalah itu menjadi masalah bagi diri kita atau tidak. SERING kita tergagap saat menyambut datangnya masalah, sebab gairah dalam diri kita untuk menyelesaikannya tak sebanding dengan kemampuan dan pengalaman kita untuk bisa antisipatif, sumeleh dan tenteram atas berbagai hal yang tidak mengenakkan diri.
Jadi kira-kira, sesuai judul tulisan ini, menurut pengalaman saya yang masih sedikit ini, mungkin bisa saya katakana bahwa cara terbaik untuk menghindari masalah itu adalah dengan bersilaturahim dengannya, masalah maksudnya, yaitu dengan kerelaan diri kita menerima kedatangannya. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perasaan dan pikiran kita terhadap masalah.


Perasaan, pikiran dan waktu

Ada seorang kawan yang merasa masalahnya sangat banyak, selesai satu datang lagi satunya. Selesai lagi, datang lagi, demikian seterusnya. Kembali lagi ke ilmu titén, mencoba niténi hal tersebut termasuk niténi diri saya sendiri dengan memetakan proses yang terjadi.

Mungkin sebelumnya bisa dibaca di posting #6 Tadi, sekarang dan nanti.

Sekarang. Saat sedang menghadapi suatu permasalahan, karena tidak bisa rela menerima maka perasaan pun menjadi tak nyaman dan ini terekam di pikiran. Karena keliaran pikiran pula, walau berada di saat sekarang tetapi pikiran sudah mengkhawatirkan tentang nanti yang belum ada gambaran bagaimana solusinya akan membuat perasan semakin tidak nyaman dan ini pun terekam di pikiran.

Waktu terlalui, yang tadinya sekarang sudah menjadi tadi dan yang tadinya nanti sudah menjadi sekarang, saat ini. Karena keliaran pikiran pula perasaan yang tidak nyaman yang terjadi tadi masih terkam kuat karena belum bisa merelakan dan sekali lagi karena keliaran pikiran menjadi kekhawatiran di saat nanti. Takut ada masalah lagi. Inilah yang akan menarik terjadinya masalah lagi. Sebab tak baiknya pikiran, perasaan pun terserat menjadi tak baik, padahal perasaan itulah persangkaan kita pada Tuhan, maka yang kita sangkakan itulah yang akan dibuktikan olehNya untuk terjadi dalam kehidupan kita.

Kira-kira seperti itu.


Sedikit contoh nyata

Saya mempunyai seorang kawan yang kebetulan karena paparan yang disampaikan oleh salah satu agen asuransi, dia mengikuti programnya yaitu asuransi kebakaran rumah. Maka sebagaimana biasa, dia cerita ke sana ke mari tentang asuransi yang diikutinya dengan segala bumbu penyedapnya. Tanpa disadari olehnya, pikirannya takut mengalami kebakaran, menolak hal itu terjadi dalam hidupnya dan itulah terprogram dalam dirinya.

Apa yang terjadi ? Tak sampai 2 bulan mengikuti program tersebut, rumahnya terbakar sungguhan.

Semestinya tak perlu bersilaturahmi dengan kebakaran, namun karena gambaran atau bayangan tentang kebakaran diciptakannya dalam pikiran berarti dia bersilaturahmi dengan kebakaran  walau pun dia menolaknya. Maka yang ditolak akan datang, begitulah rumusnya.

Nah kalau saya, ndak punya uang itu sudah biasa, jadi ndak sampai mikir tentang asuransi dan sejenisnya itu, maka bahasa pengalaman saya ya seperti ini :

Sebab "pas-pasan" dan tak ada yang dicadangkan untuk keperluan tertentu, maka tak punya prasangka apa-apa dan harapannya selalu baik. Biasanya pas butuh, pas ada.

Yang mencadangkan untuk suatu keperluan yang dikhawatirkan terjadi, biasanya cadangannya pasti terpakai untuk sesuatu yang dikhawatirkan itu.


Menolak dan menerima

Adakah bayi yang baru lahir telapak tangannya lepas tanpa genggaman ? Lalu adakah pula manusia di akhir kehidupannya telapak tangannya menggenggam tanpa lepas ?

Bayi terlahir selalu dalam kondisi telapak tangan yang menggenggam dan manusia mati selalu dengan telapak tangan yang lepas. Sebuah pelajaran bahwa dalam kehidupan segala sesuatunya harus kita kondisikan untuk lepas dari diri kita bahkan ego kita sendiri, bahkan amal kita, sehingga nantinya benar-benar bisa menghadap Tuhan dengan tanpa embel-embel atau predikat apa pun, menghadapNya sebagai hambaNya. Uabott yo … ?

Perasaan maupun pikiran yang tidak baik atau negative memang harus segera dilepaskan agar tak merusak jalan kehidupan kita sendiri. Nah, langkah pertama melepaskan hal itu adalah dengan menerimanya terlebih dahulu. Setelah itu barulah memaknainya kembali hingga negativitas itu benar-benar terlepas dari diri kita.

Menerima itu berarti tak beralibi, jujur mengakui dan menyadari masih ada negativitas itu dalam diri kita, misalnya :

Takut. Melepas takut adalah dengan menerima takut itu sendiri, mengakui dan menyadari bahwa takut itu masih ada dalam diri kita. Tidak usah diberani-beranikan.

Marah. Melepas marah adalah dengan menerima kemarahan itu sendiri, mengakui dan menyadari bahwa diri kita masih marah dan belum bisa memaafkan. Tidak usah disabar-sabarkan.

Tidak khusyuk dalam beribadah. Terima, akui dan sadari bahwa memang belum bisa khusyuk. Tidak usah dikhusyuk-khusyukkan.


Maka, dalam hal perasaan, menerima berarti melepaskan yang akan membaikkan perasaan, sebaliknya, menolak berarti menggenggam yang akan memburukkan perasaan.

Jadi mungkin kunci memperingan masalah adalah dengan bersilaturahmi dengan masalah itu, bukan berarti menantang, namun lebih kepada menyadari bahwa hidup takkan pernah lepas dari masalah, maka menerima berarti menyiapkan hati berserah diri padaNya dan selalau memaknai dengan berbaik sangka kepadaNya dengan menggunakan rumus DI bukan ME, bahwa dengan masalah yang ada di hadapan kita berarti diri kita sedang DI-latih, DI-dewasakan, DI-tempa, DI-perhatikan, DI-sertai, DI-kuatkan dan DI-muliakan olehNya. Semoga DI-mampu-KAN.

Bismillah.

Tuesday, January 1, 2013

#6 Tadi, sekarang dan nanti

Posted by Bagus Herwindro On 1/01/2013 11:49:00 PM

Satu hal yang pasti, saya tidak pernah bisa merencanakan kapan saya akan tersenyum, kapan akan menangis, kapan akan bergembira, kapan akan bersedih, kapan akan selamat, kapan akan celaka, kapan akan terwujudnya rencana, kapan akan gagal dan kapan akan-akan yang lain. Dalam jangka waktu satu jam pun, perubahan perasaan demikian cepatnya berganti, apalagi perubahan-perubahan pikiran yang tentunya lebih liar lagi.

Saya masih merasakan perbedaan yang sangat pada perasaan dan pikiran saya dalam menanggapi berbagai peristiwa yang saya alami dari detik ke detik berikutnya. Yang jelas itu tidak membahagiakan. Bahagia itu perasaan dan kalau sampai tidak bahagia berarti ada akhlaq yang keliru, itu artinya tidak ada keselarasan qalbu dengan Gusti Allah, qalbu dalam kondisi yang tidak éling / ingat / sadar / taqwa.

Selalu kembali lagi pada ilmu ilmu titén untuk selalu mulat sariro hangarasa wani / berkaca diri mengenai ke-éling lan waspädhä-an diri saya sendiri, mempertanyakan tentang apa dan bagaimananya.

Maka ketidakbahagiaan itu apa pun bentuknya entah berupa keluhan, ketidaknyamanan, penyesalan, kekecewaan atau yang lainnya adalah berawal dari tidak adanya akhlak syukur. Kalau syukur tidak ada, maka tidak ada pula sabar. Kalau syukur dan sabar tidak ada, maka pastinya rela juga tidak akan ada. Qalbu dalam kondisi yang tidak éling / ingat / sadar / taqwa. Dititéni lagi, ternyata mungkin bersumber dari tidak waspädhä terhadap terhadap pikiran.


Tadi ~ masa lalu

Sesungguhnya setiap manusia tidak mempunyai masa lalu, yang ada hanya ingatan tentang masa lalu yang terekam di pikirannya. Ini yang harus diwaspadai.

Mengingat perasaan syukur di masa lalu adalah baik saat ingatan itu menyebabkan bertambahnya kesyukuran saya, namun harus diwasapadai saat ingatan tentang sesuatu yang menyebabkan rasa syukur itu kemudian menjadi pembanding dengan sesuatu di saat sekarang yang mungkin intensitasnya lebih rendah, maka terhadap sesuatu itu bisa jadi saya tidak bisa mensyukurinya.

Begitu juga misalnya ingatan tentang sesuatu di masa lalu yang menimbulkan “luka”. Mengingatnya tanpa kewaspadaan, bisa jadi malah menimbulkan penyesalan berkepanjangan apalagi jika kemudian nafsu saya menikmatinya, akhirnya jadi lebay.

Demikian pun dengan dosa. Dosa itu biasanya enak meski tidak menentramkan qalbu. Maka mengingat dosa di masa yang lalu tanpa kewasapadaan, bisa jadi malah menyebabkan keinginan untuk mengulang dosa yang sama, kecuali kalau bisa menyebabkan kehati-hatian untuk tidak mengulang hal yang sama.

Jadi semua yang tadi atau masa lalu adalah sebuah kepastian takdir yang memang harus saya jalani baik yang “enak” maupun yang “tidak enak” maka tidak bisa tidak kecuali mengakhlakinya dengan merelakannya.

Nanti ~ masa depan

Sebagaimana dengan masa lalu, sesungguhnya setiap orang juga tidak memiliki masa depannya sekarang, yang ada cuma gambaran-gambaran tentang masa depan di pikirannya. Masa depan selalu menjadi misteri dalam kehidupan, bahkan dalam jarak satu detik ke depan pun saya tidak mempunyai kepastian tentangnya.

Memikirkan masa depan tanpa kewaspadaan hanya akan memburukkan perasaan saat yang tercipta di pikiran saya adalah hal-hal buruk yang penuh ketidakpastian. Tak ada akhlak yakin kepada Gusti Allah, maka persangkaan diri saya yang tergambar pada perasaan saya pun menjadi buruk, galau.

Jadi semua yang nanti atau masa depan adalah sebuah kemungkinan yang semestinya harus saya akhlaki dengan yakin akan jaminan Gusti Allah, meski saat ini belum tahu tentang apa dan bagaimananya. Semestinya tidak usah menjadi fokus pikiran.

Sekarang ~ masa kini

Rupanya memang saya harus selalu éling lan waspädhä bahwa hidup saya adalah sekarang atau masa kini. Inilah yang harus saya pilih, mau saya apakan atau bagaimanakan, agar kekurangan di masa lalu dapat saya perbaiki sekarang sebagai landasan untuk masa depan yang lebih baik lagi.


Kesadaran waktu menentukan kadar kenikmatan saat menikmati sesuatu. Rasa nikmat itu jika dan hanya jika menikmati sesuatu sekarang. Kala menikmati sesuatu sekarang namun pada kesadaran waktu tadi tentang sesuatu itu, bisa jadi kadar kenikmatannya akan sangat jauh berkurang, karena kenikmatan sekarang diperbandingkan dengan kenikmatan tadi. Begitu pula saat menikmati sesuatu sekarang namun pada kesadaran waktu nanti tentang sesuatu itu, bisa jadi kadar kenikmatannya akan sangat jauh berkurang juga karena kenikmatan sekarang diperbandingkan dengan kenikmatan yang diharapkan nanti.


Tadi adalah kepastian. Nanti adalah kemungkinan. Sekarang adalah pilihan.

Maka untuk mencapai BAHAGIA saya kira haruslah memadukan antara élingnya qalbu dengan membaikkan akhlak dan waspädhänya pikiran untuk tetap berada di sekarang atau saat ini. Dalam kata lain haruslah sadar untuk mensyukuri saat ini, di sini dan dalam kondisi ini, bersabar dalam menjalani proses yang terjadi saat ini, di sini dan dalam kondisi ini serta rela menerima saat ini, di sini dan dalam kondisi ini.

Salah satu pengejawantahan keSADARan adalah mengijinkan DIRI untuk selalu meRASAkan, meNIKMATi dan berSUNGGUH-SUNGGUH di setiap detil dari segala aktivitas keseharian dan itu biasanya akan melahirkan keRELAan, keberSERAHan, keBAHAGIAan dan tentu saja rasa SYUKUR yang dalam. Semoga DIsadarkaKAN.
                                              
BAHAGIA. Sederhana semestinya. MAKNAI setiap detik yang kita lalui, temukan serta rasakan pengaturan-NYA yang indah. Sederhana dan teramat sederhana, memang, hingga banyak yang tak percaya, hingga bahagia dicari di luar sana, hingga nestapalah yang tiba dan bahagia hanya seonggok fatamorgana.


Kira-kira masih berlanjut.

Saturday, December 29, 2012

Momong – NGEMONG

Posted by Bagus Herwindro On 12/29/2012 03:12:00 PM

Momong itu kalau dalam bahasa Indonesia mungkin berarti mengasuh, seperti momong anak yang berarti mengasuh anak. Kalau ngêmong saya kira itu berupa kata sifat, mungkin yang paling dekat bisa diartikan sebagai kepengasuhan, namun menurut saya lebih luas dari itu, tidak hanya kepengasuhan tetapi juga bersifat menampung. Kalau sudah menampung berarti memberi ruang yang luas untuk segala macam isi yang termungkinkan akan berada di dalamnya.

Ngêmong, itulah sifat dasar seorang ibu dalam konteks keluarga, yang kemudian bisa diperluas dalam semua skala interaksi sosial yang mana pun.

-----------------

Ini tentang laki-laki. Menurut saya berat rasanya menjadi seorang laki-laki sebab dia harus mempunyai sifat ngêmong.

Seorang laki-laki, nantinya akan menjadi seorang kepala keluarga ~ suami  & ayah, demikianlah memang porsi dan posisinya. Dia bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya dan itu bukanlah hal ringan, sebab selain tanggung jawabnya atas rumah tangganya sendiri, seorang laki-laki tetap mempunyai tanggung jawab juga terhadap orang tuanya dan juga saudara perempuannya kalau punya, manakala saudara perempuannya itu belum berkeluarga. Meskipun kasuistik, tetapi hal seperti itulah yang kadang menimbulkan konflik tersendiri. Maka tidak bisa tidak, seorang laki-laki harus mempunyai karakter ngêmong.

Yang pertama dan utama, dia harus bisa ngêmong dirinya sendiri. Ini penting, sebab bagaimana dia bisa ngêmong orang lain kalau ngêmong dirinya sendiri saja tidak becus. Kalau itu sudah beres, barulah dia bisa ngêmong istrinya sekaligus ngêmong ibunya, ayahnya, saudaranya, mertuanya dan nantinya anak-anaknya, agar ada ketenangan dalam keluarga, sebab diakui atau pun tidak dalam sebuah pernikahan yang menyatukan dua keluarga besar sedikit atau banyak terkadang timbul konflik bila tidak ada sifat ngêmong. Konflik itu sebenarnya suatu kewajaran, sebab memang pasti selalu ada perbedaan watak dasar, kebiasaan, pemikiran, pola pendidikan keluarga dan sebagainya di antara dua keluarga besar itu.

Berat memang, tetapi sebenarnya tidak ada hal yang berat saat diri kita dimampukan rela menerimanya.


Sifat ngêmong laki-laki dalam keluarga bermakna bahwa ia haruslah menjadi seorang Super Dad : sabar, peka, siaga, cekatan, hangat dan tegas.

Sabar dalam menghadapi karakter dari masing-masing anggota keluarganya dan memiliki pola pendekatan yang pas untuk masing-masing karakter tersebut. Sabar juga berarti menahan diri untuk tidak reaktif dalam merespon segala keadaan yang mungkin sangat tidak nyaman di dalam keluarga. Sabar juga bermakna kerendahan hati untuk menampung segala keluhan, mendengar segala cerita dan mendampingi di banyak peristiwa. [Yang ini rahasia, para suami yang punya istri “galak” bersyukurlah, sebab jika engkau bisa sabar dan rela menerima, biasanya keluar keramatnya. Sabar bukanlah sabar jika tak ada lawannya. Ini katanya, bukan pengalaman pribadi he… he... he…]

Peka itu kemampuan merasakan sesuatu dan menindaklanjutinya sebelum sesuatu itu mewujud, mungkin bisa dikatakan responsif. Sama seperti sabar, peka itu memerlukan kerelaan dan kerendahhatian, bukan pengedepanan ego. Sebelum istri meminta yang dibutuhkan, suami yang peka telah lebih dahulu memberinya jadinya aman, begitu contoh sederhananya. Meski anaknya tidak mengadu, sang ayah menemani kegundahan hatinya, hingga cair dengan sendirinya. Tanggap ing sasmito.

Siaga itu selalu siap setiap saat mengambil keputusan dan tindakan yang diperlukan pada saat-saat yang mengharuskannya demikian, sebab hidup itu penuh kejutan, jalan yang dilalui tak hanya lurus tapi juga penuh kelokan, terjal dan juga landai, mulus namun terkadang juga penuh lubang.

Cekatan itu terampil dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Betapa pun lelahnya, tetap luangkan waktu membantu pekerjaan rumah tangga yang tak kelihatan mata namun sebenarnya 24 jam sehari. Istri bukanlah pembantu, kalau tujuannya hanya disuruh-suruh, hanya beres-beres ini itu, cari saja pembantu rumah tangga yang professional, jangan cari istri. Sesungguhnya yang paling lelah dalam sebuah keluarga adalah istri, bukan suami, maka pahamilah kalau mungkin istri lebih reaktif dalam menanggapai sesuatu.

Hangat dalam menyemai, merawat dan membuahkan kasih sayang dalam keluarga agar seluruh anggota keluarga merasakan kedamaian dan kebahagiaan di rumah sehingga tidak mencari kompensasi di luar rumah. Agar keluarga menjadi harta yang paling berharga, istana yang paling megah, mutiara yang paling indah dan puisi yang paling bermakna. Menjadi tempat terindah untuk pulang dan ruang terluas untuk bercengkerama dalam kesetaraan, penghormatan dan penerimaan.

Tegas dalam mengarahkan biduk rumah tangga menuju keridhoannya Gusti Allah. Tegas dalam hal-hal yang prinsip. Tegas dalam menyemaikan nilai-nilai kebaikan, sebab keluarga harus menjadi media penyemaian nilai-nilai mulia kehidupan di tengah arus jaman yang cenderung saling berinteraksi tanpa nilai. Kepemilikan materi dan kemajuan teknologi tanpa diimbangi kematangan ruhani maupun kedalaman spiritual, hanya akan melahirkan generasi yang cengeng, apatis serta hedonis. Keluarga merupakan aset sekaligus investasi masa depan. Masa depan dalam kehidupan ini, maupun masa depan dalam kehidupan setelah kematian dan tentunya masa depan yang hakiki bersama Tuhan yang menciptakan kehidupan.


Ngêmong juga berarti bersedia memahami, menerima dan mengapresiasi perbedaan.

:: Jangan paksa lelaki tuk ceritakan masalahnya, sebab dia lebih suka mencari solusinya sendiri. Jangan juga menawarkan solusi pada perempuan, sebab kebanyakan mereka lebih ingin didengar walau tanpa solusi. ::

Fakta memang menunjukkan [katanya sih hasil penelitian] seorang wanita dalam sehari bisa mengucapkan sampai empat belas ribu kata, kira-kira sepertiga lebih banyak dari laki-laki yang hanya sekitar sebelas ribu kata. Jadi para suami, kalau sudah malam dan sudah lelah seharian berkegiatan, bersabarlah… istrimu masih punya cadangan kira-kira tiga ribu kata untuk disampaikan kepadamu, tetap tanggapilah dengan baik walau hanya dengan kata : “Ouw… begitu ya ?” atau “Terus … “ atau “Iya…” atau yang lain, he… he.. he… Atau ajak saja istrimu melakukan kegiatan yang sedikit bicara banyak bekerja… he… he… he… pasti langsung terdiam seribu bahasa.

Maka apa pun yang disampaikan istri, terima saja tidak usah ditanggapi secara emosional, misalnya saja istri tiba-tiba saja cerita kalau harga cabai meningkat tajam, ya sudah dia hanya cerita saja melampiaskan mungkin kepusingannya “ngubetke susur”, tidak usah marah-marah dengan mengartikan ceritanya itu sebagai unjuk rasa minta kenaikan uang belanja, begitu contoh sederhananya.


Jadi kesimpulannya, ngêmong itu merupakan karakter keDEWASAan atau keMATANGan dan itu BUKAN hanya soal USIA. Sebab dewasa itu keSANGGUPan untuk ngêmong yaitu menampung dan menerima apa pun yang dituang, sekaligus mengelolanya untuk berproses menjadi lebih, tambah dan semakin baik.


Kira-kira begitu.