Thursday, May 16, 2013
Di balik EKSPRESI …
Posted by Bagus Herwindro
On 5/16/2013 04:03:00 PM
Tiba-tiba
saja teringat pengamatan tentang diri sendiri sekaligus sambil lalu pengamatan
tentang orang-orang sekitar saat terjebak dalam situasi yang dikatakan “tidak”
mengenakkan.
Berbagai
situasi yang tidak mengenakkan mungkin sering dialami oleh banyak orang, seperti
terjebak kemacetan yang panjang, berada dalam antrian yang mengular, menunggu
jadual keberangkatan yang molor,
menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, terkena imbas prilaku seseorang yang
kurang baik, menghadapi tekanan atasan di tempat kerja, merasakan kenakalan
anak-anaknya atau apa pun dalam situasi yang lain. Yang jelas, banyak orang
merasakan situasi yang sama, namun yang membedakan adalah respon dari
masing-masing orang terhadap situasi yang sedang
melingkupinya.
Manusia,
karena mempunyai unsur api, maka sebagaimana api dia juga reaktif, dalam arti
bahwa api itu sangat mudah bereaksi terhadap bahan-bahan yang semakin
memperbesar nyalanya atau pun yang justru memadamkannya. Manusia pun seperti
itu, saat dia tidak waspada mejaga nyala api dalam dirinya dengan kadar yang
cukup, maka dia akan selalu reaktif dalam merespon keadaan / situasi yang
melingkupinya, hanya saja reaksinya biasanya cenderung negatif dan yang paling
sering terlontar adalah keluhan, kekecewaan dan kemarahan karena tidak sesuai
dengan keinginannya.
Hujan,
katanya hujan. Panas, katanya panas. Begitu seterusnya, langsung terlontar
keluhan dari lisannya dan itu adalah saya, kalau Panjenengan saya yakin tidak….
tidak beda maksudnya, he… he.. he…
Dari
berbagai situasi, pengamatan paling mudah dengan waktu yang cukup lama dan
meliputi banyak orang adalah saat menunggu dalam suatu antrian, apa pun itu. Kalau tempatnya nyaman,
bersih dan harum seperti di Bank, mungkin orang-orang tidak begitu reaktif
apalagi karena di bank-bank tertentu banyak pemandangan indah (tellernya cantik-cantik he… he… he…).
Namun saat antrian itu berada di tempat yang berkebalikan dari itu, bisa dilihat
bahwa orang-orang begitu mudahnya untuk menjadi reaktif.
Alhamdulillah,
di antrian mana pun sedikit banyak saya jadikan ajang berlatih menjaga perasaan
dan mengendalikan pikiran (maaf ya… nyombong dikit) agar tidak reaktif dalam
arti ya… dinikmati saja.
Kemarin
juga begitu, antri beli tiket Kereta ekonomi jurusan Yogya-Surabaya untuk bulan
Agustus besok. Antrian belum terlalu panjang, orang-orangnya Alhamdulillah bisa
tertib meski udara dalam ruangan cukup memaksa keringat keluar dari tubuh,
maklumlah Surabaya panasnya memang urakan. Tiba giliran di depan loket,
menyerahkan slip pemesanan tiket, ternyata total tarifnya sesuai jumlah yang
saya pesan melebihi uang yang saya bawa yang menurut perhitungan saya sebelumnya
telah mencukupi. Di dompet untuk tiket cuma ada tiga ratus ribu dan itu kurang,
ya sudahlah keluar antrian, Alhamdulillah dengan gembira, bisa menertawakan diri
sendiri karena tidak antisipatif. Solusinya ya cari ATM, jauh juga rasanya
karena jalan kaki, hampir satu kilometer, sambil telpon mamanya anak-anak
menceritakan kejadian tersebut dengan saling menertawakan gembira. Singkatnya,
setelah mengambil kekurangannya, mengulang lagi antriannya yang sudah lebih
panjang dari sebelumnya. He… he… nasib :).
Mengawali
antrian sambil terus mewasapadai diri sendiri, setelah beres, baru belajar dan
bercermin pada mereka yang ada di sekitar. Ada yang asyik dengan HPnya, ada yang
ngobrol santai, ada juga yang tidak bisa diam, tengok kiri kanan belakang, entah
apa yang ditengok. Ada juga yang cemberut, wis… pokoknya macam-macamlah. Energi
yang memancar keluar dari diri mereka masing-masing pun berbeda, ada yang
biasa-biasa saja, ada yang sejuk (bagi yang tetap hening dalam dirinya) dan ada
pula yang kacau melelahkan (mereka yang gelisah, marah, terburu-buru dan yang
perasaannya galau karena terseret pikirannya sendiri).
Namun
ada satu orang yang membuat saya merasa mak JLEB hingga akhirnya menulis apa
yang Panjenengan terpaksa baca ini.
Satu
orang ini persis di belakang saya, seorang anak muda sebaya saya mungkin dengan
usia yang tak terpaut jauh, paling hanya sekitar lima belas tahunan saja
selisihnya dengan usia saya. Lebih tampan dia sedikit, saya yang banyak he… he…
he.. Auranya terasa tidak enak, bahasa tubuhnya mengekspresikan kegalauannya,
bolak balik bergeser ke kanan sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arah
loket. “ASTAGHFIRULLAH…. satu aja kok
gak selesai-selesai sih… !!!”, demikian yang terlontar dari
lisannya.
MAK
JLEB.
Tidak membahas dia yang saya kisahkan itu, tetapi lebih ke diri saya sendiri,
bercermin, ngilo gitoké
déwé.
Rasanya
saya sering mengucapkan astaghfirullah atau subhanallah atau masyaAllah saat merespon berbagai
situasi yang “tidak” mengenakkan diri saya, namun kali ini seperti disentil dan
diperolok oleh Gusti Allah, sudahkah saat saya mengucapkan secara lisan asma
Allah tersebut kesadaran hati saya hadir di hadapanNYA ? Sudahkah hati saya
menyadari makna di balik ucapan itu ? Bagaimanakah kondisi perasaan saya saat
mengucapkan itu ? Kenapa saya tidak pernah mengucapkan alhamdulillah pada situasi yang “tidak”
mengenakkan saya ?
Ternyata
dan memang nyatanya, saya mengucapkan kalimat-kalimat itu tanpa kesadaran diri.
Ternyata dan kenyataanya, saya jauh dari memaknai apa yang saya
ucapkan.
Ternyata
dan faktanya, saya sama sekali tidak hadir di hadapanNYA saat saya lisankan
asmaNYA.
Ternyata
dan demikianlah realitanya, seluruh kalimat baik itu hanya sekedar ekspresi
keluhan dan kekecewaan nafsu saya yang sama sekali tidak rela dengan situasi
yang sedang melingkupi diri saya.
Saya
dulu sering misuh alias mengumpat
cara Surabaya (jan**k,
tiiitttt~sensor), bukan dengan gembira melainkan dengan amarah dan kebencian.
Kelihatannya saat saya mengucap istighfar atau tasbih atau yang lainnya,
kelihatannya lebih baik dan lebih relijius dibandingkan dengan mengumpat, namun
di balik itu saya pikir tak ada bedanya dengan mengumpat itu tadi. Sebab di
balik kedua hal yang kelihatan bertentangan tersebut, saya merasakan ada vibrasi
perasaan yang sama, yaitu kekecewaan, kegelisahan, keluhan dan kemarahan karena
apa yang sedang terjadi tidak sesuai dengan keinginan saya, yaitu sesuatu yang
saya anggap “enak / nyaman / mudah / untung / yang
lainnya”.
[Semoga
saja saya dan Panjenengan, jangan sampai sekalipun mengacungkan tangan yang
terkepal sambil meneriakkan asma Allah namun dengan perasaan yang diselimuti
dendam, kemarahan dan kebencian. Sebab tak beda srtinya dengan mengumpat, tak
lebih dari itu.]
Lagi-lagi,
apa yang ada di dalam lebih utama dan menentukan dari apa yang tampak di luar.
Apa yang di balik ekspresi itulah yang menentukan nilainya. Maka tak bisa tidak,
harus terus berusaha, belajar dan melatih diri untuk memuliakan
akhlak.
Ah…
ternyata harus lebih banyak lagi beristighfar, bahkan istighfar saya itu sendiri
masih harus banyak-banyak pula diistighfari.
Semoga
DImampuKAN. Aamiin.
Wednesday, February 27, 2013
Asal usil, SAMBAT
Posted by Bagus Herwindro
On 2/27/2013 09:12:00 PM
Sebagaimana
biasanya, terkadang Cak ZhudhrunH didatangi oleh kenalan-kenalannya baik yang
sudah lama kenal maupun yang baru kenal lewat kenalannya yang lain, juga yang
sudah lama dekat atau yang baru mendekat. Bukan hal yang penting, sekedar
mengobrol ringan sambil ngopi dan nyamil seadanya, namun ada kalanya beberapa
kawan ingin mengetahui hal-hal yang membuat mereka penasaran karena
pancingan-pancingan yang sering dilontarkan Cak ZhudhrunH.
Demikian
juga dengan malam itu, sepulang kerja si Cacak yang satu itu ternyata sudah
ditunggu oleh beberapa kawannya di beranda depan rumahnya. Obrolan-obrolan
ringan dari satu topik ke topik lainnya yang tak lupa diselingi gurauan segar
penyegar jiwa.
Tak
terasa waktu pun merambat kian malam dan rasanya bagi kawan-kawan Cak ZhudhrunH
sudah waktunya untuk berpamitan pulang, namun ternyata di akhir obrolan itu,
Ning Anyel melontarkan suatu pertanyaan kalau tak boleh disebut sebagai keluhan,
sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang masih terkaitpaut dengan apa yang
mereka obrolkan sebelumnya.
Kebetulan
Ning Anyel ini memiliki kepekaan lebih, kebetulan juga dia memiliki seorang
sahabat sebut saja Ning Memel dan antara kepekaan serta persahabatan itu
ternyata berefek kurang baik bagi Ning Anyel sebab dia sangat-sangat bisa
merasakan apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu. Jadi saat sahabatnya
itu dalam kondisi down, dia pun bisa
dengan tiba-tiba merasakan hal yang sama dan itu
melelahkan.
“Aku
itu pengennya bisa mutus itu Cak… aku kan capek kalau seperti itu terus…”, kata
Ning Anyel.
“He…
he… he… siapa namanya ?”, jawab Cak ZhudhrunH yang bersiap langsung mengeksekusi kondisi itu.
“Memel
Cak…”, sahut Ning Anyel.
“Hiya…
tak usah kau sebutkan namanya, pejamkan matamu, hadirkan saja ia di pikiranmu
dan rasakan !”, jawab Cak ZhudhrunH dan melanjutkannya lagi, “Pakai baju warna
apa dia sekarang ?”.
“Pink
Cak… dia lagi senang ini… xixixixi”, jawab Ning Anyel sambil juga cekikikan
mungkin sama seperti yang sedang dilakukan sahabatnya itu.
Cak
ZhudhrunH pun menimpali, “Kira-kira, saat ini keterhubunganmu dengannya kalau
bisa disimbolkan begitu seperti apa atau kalau digambarkan seperti bagaimana
?”.
“Maksudnya
Cak ?”, ujar Ning Anyel dengan tetap memejamkan matanya.
“Ya
mungkin keterhubunganmu dengan sahabatmu sekarang ini bisa disimbolkan dengan
adanya tali atau kabel yang menghubungkanmu dengannya atau mungkin dalam
gambaran sebagaimana engkau dan dia berkomunikasi dengan HP ?”, jelas Cak
ZhudhrunH.
“Iya
Cak… HP.”, jawab Ning Anyel
“Nah
kalau begicu… sekarang matikan HPmu dengan menekan tombol merah
!”
“Sudah
Cak.”
“Kalau
sudah sekarang cari nama sahabatmu itu memori HPmu !”
“Ketemu
Cak.”
“Remove
!!!”
“Sudah
Cak.”
“Cari
lagi pastikan sudah tidak ada namanya di memori HPmu !”
“Masih
ada Cak satu…”
“Remove
!!!”
“Gak
bisa Cak !”, jawab Ning Anyel dengan ekspresi sedikit
menegang.
“HAPUS
!!!”, perintah Cak ZhudhrunH tegas.
“Gak
bisaaaaa Cak….. ah… ternyata aku yang gak tega Cak… aku terlalu sayang sama
dia”, jawab Ning Anyel sambil tertawa.
“He…
he… he… lha nek mbok gawe-gawe dewe yo gak usah sambat, kalau ternyata engkau
sendiri yang menghendaki ya gak usah mengeluh… !”, sahut Cak ZhudhrunH sambil
terkekeh mengakhiri sesi itu.
Dan
yang ada di situ pun tertawa semua seakan mengerti tentang semua yang dilakukan
Cak ZhudhrunH sedari tadi, mencoba membantu merekonstruksi pola pikir Ning Anyel sekaligus mengejar kesungguhan keinginannya dan juga sambil
mencari akar masalah dari apa yang dikeluhkannya.
“Makanya
berusahalah selalu waspada terhadap diri sendiri, terhadap semua keinginan dan
segala keluhan, kejar terus dengan pertanyaan-pertayaan pada diri sendiri hingga
pada akhirnya terkuak apa yang sebenarnya ada di pikiran dan perasaan kita,
sebab biasanya segala permasalahan selalu berawal dan bersebab dari diri kita
sendiri bukan dari faktor di luar diri kita. Terpenting, selalu ikuti kata hati
namun juga tetap wasapada bahwa jangan-jangan kata hati kita sudah termanipulasi
oleh pikiran atau hawa nafsu kita sendiri. Itu !!!”
::
DEMIKIANLAH ::
Monday, January 21, 2013
Olah RAGA
Posted by Bagus Herwindro
On 1/21/2013 05:52:00 PM
Jangan
mikir terus, olah raga biar gak cepat mati.
Mendengar
kalimat ini, yang terbetik pertama kali di kesadaran adalah bahwa ini adalah
kalimatnya manusia atau bahasa manusia yang mengingatkan urusannya manusia. Mati
adalah batas usia dan itu adalah urusan Tuhan, namun usaha untuk menjaga
kesehatan adalah urusannya manusia dan harus diusahakan sebaik mungkin, salah
duanya adalah dengan tidak banyak berpikir sesuatu yang seharusnya tidak usah
dipikir dan dengan berolah raga dalam rangka menjaga
kesehatan.
Weleh-weleh…
tak
terhiraukan selama ini masalah olah raga untuk mengimbangi akal yang terus
menerus berpikir dengan produksi pikiran yang tak selalu dan tak semua baik,
bahkan kecenderungannya adalah banyak yang kurang baik.
Yang
tak kunjung mau “eling dan waspadha” biasanya yang kalah
pertala kali adalah badannya alias fisiknya atau jazadnya sebagai lapisan
terluar dari manusia. Saat manusia sakit, sebenarnya tak bisa dikatakan
benar-benar sakit sampai benar-benar tak ada faktor di luar tubuh fisiknya yang
mempengaruhi dan itu sangat jarang terjadi. Kehidupan di jaman sekarang dengan
jumlah manusia yang semakin banyak, tingkat persaingan yang begitu tinggi yang
tentu saja dengan ragam persoalan yang semakin banyak, sering menyisakan
kelelahan jiwa yang sangat jika tak ada kesadaran untuk sumeleh alias kerelaan menerima apa pun
kondisi yang ada.
Namun
sumeleh atau kerelaan itu jangan
diartikan sebagai sikap diam terhadap apa pun atau siapa pun meski itu tak baik
misalnya, tetapi kerelaan itu berarti tidak ada muatan emosi negatif yang
menyertai suatu kondisi dalm arti perasaan tetap baik meskipun kondisi yang ada
direspon sebagai sesuatu yang tidak baik oleh pikiran. Andai ada orang yang
menyalahi/menyakiti diri kita, sumeleh atau rela berarti memaafkan
orang tersebut dan itu tidak berarti melupakan, sebab peristiwanya tentu saja
masih terekam di ingatan namun yang terpenting adalah bahwa muatan emosi
negatifnya telah ternetralkan. Kok
yang tidak mengenakkan, yang kelihatannya enak saja bisa jadi penyakit kok.
Contohnya, jatuh cinta. Jatuh cinta itu bisa jadi penyakit lho kalau tidak bisa sumeleh, setiap teringat bisa deg-degan,
lha kalau terus dibiarkan bisa kena penyakit jantung itu minimal bisa terkena syndrome malarindu… he… he… he…
Begicu.
Kalau
diurutkan kira-kira seperti ini :
Sumeleh
atau kerelaan itu adalah akhlaq dan itu adalah ekspresi dari hati yang éling /
ingat / sadar / taqwa. Saat sebuah situasi direspon oleh pikiran sebagai suatu
beban / hambatan / halangan yang tentu saja tidak mengenakkan, sedangkan pada
saat itu kondisi kesadaran hati sedang
terbenam, maka yang terekspresikan tidak mungkin kerelaan atau sumeleh melainkan adalah yang sebaliknya
yaitu keluhan dan itu pasti hanya akan membuat kondisi perasaan yang tidak
nyaman yang pada akhirnya akan memperkuat respon pikiran menjadi semakin tidak baik. Saat itulah titik awal
terjadinya rasa sakit, sebab saat itu biasanya terjadi kekacauan pola energi
tubuh [hayat] yang apabila tidak segera diselaraskan kembali akan sangat
berpengaruh buruk pada tubuh fisik [jazad]. Ogan-organ tubuh akan mengalami
degradasi dengan tidak berfungsi secara optimal sebagaimana default kodratnya. Tidak bisa sumeleh terhadap suatu kesalahan atau
perbuatan dosa yang pernah dilakukan, juga sangan berkemungkinan untuk mengalami
hal yang serupa.
Titik
awal itu tentunya akan terekam pula dalam ingatan, sehingga saat di waktu lain
ada pemicu yang serupa, rekaman itu akan muncul kembali dan akan terjadi pula
pengulangan kekacauan energi yang pada akhirnya mendegradasi fungsi organ tubuh
hingga sakit.
Yang
responnya spontan biasanya pusing, sesak napas, mual, shock, lemas dan bahkan
pingsan. Sedangkan yang responnya lambat biasanya muncul berupa diare, obesitas,
impotensi, alergi dan sering juga terdeteksi sebagai penyakit dalam seperti
hipertensi, hepatitis, diabetes, kanker dan sebagainya.
Penumpukan
dan pengurasan energi
Dalam
kondisi normal, energi tubuh terus menerus bersirkulasi ke seluruh bagian tubuh
secara merata. Namun karena adanya faktor pemicu yang merupakan titik awal
kekacauan energi sebagaimana yang tersebut di atas, energi tubuh tersebut bisa
jadi menumpuk atau mungkin juga terkuras dan pada waktu berikutnya akan
menimbulkan gangguan secara fisik. Menumpuk itu bisa divisualkan seperti bentuk
cembung, sedangkan terkuras seperti bentuk cekung.
Salah
satu contoh sederhana penumpukan energi adalah saat cemas menghadapi sesuatu,
kekacauan energi tubuh akan membuatnya mengalir hanya di satu area saja yaitu di
sekitar diafragma, sehingga di diafragma akan terjadi penumpukan energi yang
akan mengakibatkan gangguan fisik di sekitas diafragma seperti jantung berdetak
lebih kencang atau sesak nafas atau mual atau perut mulas. Bila hal tersebut
dibiarkan saja, dalam arti kecemasan itu dipelihara bisa jadi dalam jangka
panjang seseorang akan terkena gangguan jantung, astma atau mag kronis, bahkan
sampai paranoid.
Sedangkan
salah satu contoh sederhana pengurasan energi adalah saat terjadi keterkejutan
luar biasa dalam menggapi suatu peristiwa dalam arti sampai mengguncang jiwa.
Biasanya akan langsung terjadi pengurasan energi di seluruh tubuh yang akan
menyebabkan shock atau bahkan pingsan.
Sebenarnya
memang ada teknik-teknik praktis dalam kondisi kritis yang bermanfaat untuk
menangani penumpukan atau pun pengurasan energi, hingga sirkulasi energi kembali
lancar, namun tidak dalam bahasan ini, sebab secara preventif bisa diminimalisir
dengan rutin berolah raga.
Olah
Raga
Olah
raga di samping dari segi fisik memang bermanfaat untuk memadatkan massa tulang
dan otot, memperlancar peredaran darah dan pernafasan, dari segi energi pun olah
raga membantu menyelaraskan sirkulasi energi ke seluruh tubuh, mengurangi
penumpukan energi serta menutup pengurasan energi.
Hal
tersebut efektif terutama untuk olah raga dengan gerakan yang mengaktifkan
seluruh persendian tulang sesuai bentuk sendinya masing-masing dan contoh
gerakan tersebut adalah gerakan shalat. Maka shalat dengan minimal empat rakaat
biasanya sangat membantu terjaganya keseimbangan dan keselarasan energi tubuh.
Namun jangan sampai melakukan shalat dengan niat berolah raga, namun gerakan
shalat dapat diadopsi sebagai gerakan olah raga, insya Allah akan besar
manfaatnya.
Maka
olah raga memang efektif untuk mengimbangi belum mampunya seseorang untuk bisa
sumeleh, sehingga jazad atau tubuh
fisik secara preventif lebih terjaga kesehatan dan kebugarannya. Minimal,
fisiknya bisa lebih sehat dan bugar, walau pun jiwanya belum bisa seperti
itu.
Angka
9
Jangan
tanya kenapa dengan angka 9, ini hanya soal kebiasaan saya menghitung dengan
bilangan 9 ~ katanya efektif untuk mengeluarkan energi yang kurang baik dan
selanjutnya pada putaran 9 berikutnya berfungsi untuk menyerap energi yang lebih
baik. Mungkin kalau ada yang mau meniru ya monggo …
Pertama,
stretching
Saya
biasa mengawali dengan melakukan peregangan otot secara urut, mulai badan,
tangan dan kaki.
Kedua,
putaran sembilan
Memutar
/ menggerakkan bola mata melingkar ke arah kanan 9x dan kemudian ke arah kiri
9x.
Memutar
leher ke arah kanan 9x dan kemudian ke arah kiri 9x.
Memutar
pangkal lengan ke arah belakang 9x dan kemudian ke arah depan
9x.
Memutar
pinggul ke arah kanan 9x dan kemudian ke arah kiri 9x.
Memutar
lutut ke arah kanan 9x dan kemudian ke arah kiri 9x.
Memutar
tumit dengan bertumpu pada jari kaki, ke arah luar 9x dan kemudian ke arah dalam
9x.
Berdiri
tegak, angkat kedua tangan ke atas sejajar telinga, bungkukkan badan hingga
ujung jari menyentuh lantai [kalau bisa mencium lutut], kemudian jongkok [kedua
tangan lurs ke depan], membungkuk lagi dan kemudian menegakkan badan dengan
tangan terangkat ke atas seperti semula, 9x.
Ketiga,
gerakan pegas
Monggo
kalau berkenan bisa langsung ke TKP (Tempat Koleksi Posting) : http://denmasbagus.blogspot.com/2012/07/segar-bugar.html
Yang
khusus…
Ada
olah raga yang sederhana namun efektif dalam rangka menjaga kesehatan dan
kebugaran tubuh, namun tentu saja apabila dilakukan dengan benar. Olah raga itu
adalah push-up. Push-up 100X ? He… he…
he…
Saat
melakukan push-up, tumpuan berat badan tubuh adalah di kedua tangan, sedangkan
kontraksi otot `kan terjadi hamper di seluruh bagian tubuh, yaitu otot lengan,
otot punggung, otot perut dan otot kaki, yang tentu saja sangat bermanfaat untuk
mengencangkannya. Efektif dalam menjaga tulang punggung tetap tegak dan efektif
juga untuk meratakan perut yang buncit.
Sebuah studi dari University of Greifswald yang dilakukan selama tujuh
tahun, menunjukkan bahwa rajin melakukan push up dapat meningkatkan
kadar testosteron dalam tubuh. Testosteron ini berfungsi mencegah risiko
diabetes, hipertensi, dan obesitas.
Maka...
Saat saya merasa sakit, hal pertama adalah mewaspadai diri saya sendiri, adakah suatu hal yang belum bisa saya relakan ? Seandainya saya berani jujur menelusuri dan ternyata menemukan hal-hal yang belum bisa saya relakan, maka saya berusaha rela bahwa saya velum bisa merelakan. Hingga, paling tidak saya merasa rela menerima rasa sakit saya sebagai bentuk kasih sayangNya Gusti Allah untuk melebur dosa saya karena belum bisa rela menerima ketentuan takdirNya. Kira-kira begitu
Terakhir…
Semoga
DImampuKAN untuk selalu rutin berolah raga apa pun itu bentuknya dalam rangka
menjaga amanah raga yang memfasilitasi diri kita untuk berbuat kebaikan sebagai
abdinya Gusti Allah selama masih ada ruang dan waktu bagi diri
kita.
Semoga
pula DImampuKAN untuk bisa sumeleh
atau berserah diri di hadapanNYA dengan selalu merespon setiap detik kehidupan
yang telah digariskanNYA untuk kita dengan akhlaq sabar, syukur dan ridho.
Aamiin 1717X.
.::
Segala peristiwa, semua fenomena dan seluruh kisah nyata yang terhampar akan
tersia begitu saja saat tak ada kesadaran meremah hikmah yang pasti dan selalu
ada menyertainya, bahkan justru di sudut-sudut kecilnya yang sering tak
terhiraukan. ::.
Demikianlah.
Monday, January 7, 2013
Silaturahmi MASALAH
Posted by Bagus Herwindro
On 1/07/2013 05:37:00 PM
Mohon
maaf kalau penggunakan kata silaturahmi mungkin kurang tepat dalam banyak hal
pada tulisan ini, Panjenengan tidak usah protes, kan yang nulis saya, sak karepku to ? he… he…
he…
Adakah bayi yang baru lahir telapak tangannya lepas tanpa genggaman ? Lalu adakah pula manusia di akhir kehidupannya telapak tangannya menggenggam tanpa lepas ?
Yang
saya maksudkan dengan silaturahmi adalah mekanisme perhubungan atau interaksi
antara sesuatu dengan sesuatu yang lainnya sesuai dengan kerangka yang telah
ditetapkanNya. Kira-kira begitu.
Setiap
hal pasti mempunyai silaturahminya sendiri-sendiri, seperti misalnya silaturahmi
antara makanan dan mulut, silaturahmi antara minyak dan air tatkala bercampur
dan sebagainya. Maka memahami bagaimana silaturahmi itu terjadi merupakan salah
satu cara untuk menyederhanakan kehidupan kita. Silaturahmi itu
mempersaudarakan, maka sangat memerlukan kerelaan untuk menerima bukan
penolakan, tanpa itu takkan terjadi silaturahmi.
Contoh
sederhana, pemain jathilan / kuda lumping / jaran kepang itu sanagt paham betul
bagaimana silaturahmi antara mulutnya dengan beling / kaca atau apa pun yang
dikunyahnya sehingga dia bisa selamat tanpa luka, tetapi bagi saya yang tidak
menguasai silaturahminya jangan sampai menirunya biasa gazwat akibatnya, ibarat penerbit bisa
dikatakan : isi di luar tanggung jawab percetakan, resiko saya sendiri
bila berani menirunya tanpa keahlian.
Namun
kalimat penerbit itu sering diselewengkan mereka yang kebablasan dalam
mengartikan silaturahmi. Anak-anak muda dan orang-orang tua yang masih anak-anak
yang mengalami cinta remaja biasanya akan kehilangan logikanya. Si cowok tanya
sama ceweknya, “Wajah imoet ini punya siapa sih Beib .. ?”. “Ya punyamulah…”,
jawab si cewek. Maka si cowok pun keterusan dengan menanyakan, kalau yang ini –
kalau yang ini dan seterusnya, maka kejadian deh… si cewek karena ketabrak si
cowok jadinya penyok ke depan. Maka
saat dituntut tanggung jawabnya, si cowok dengan entengnya menjawab, “Lho… isi kan di luar tanggung jawab
percetakan… !”.
Kembali
ke laptop…
Satu
hal yang diinginkan banyak orang termasuk juga di antaranya SAYA adalah hidup
tanpa masalah, seakan masalah itu sebaiknya jangan pernah ada, keluarga tenteram
damai tanpa masalah, kerjaan lancar jaya tanpa masalah, kehidupan sosial
kemasyarakatan harmonis tanpa masalah dan seterusnya. Tapi kenyataannya kan
tidak demikian. Semakin menjejak level kehidupan berikutnya, beban masalah itu
semakain bertambah. Daftar sekolah itu masalah, menikah itu masalah baru, punya
anak juga masalah baru lagi dan pasti selalu dan akan seperti
itu.
Masalah
itu pasti akan dan selalu menghampiri hidup kita, namun keSADARan kitalah yang
membuat masalah itu menjadi masalah bagi diri kita atau tidak. SERING kita
tergagap saat menyambut datangnya masalah, sebab gairah dalam diri kita untuk
menyelesaikannya tak sebanding dengan kemampuan dan pengalaman kita untuk bisa
antisipatif, sumeleh dan tenteram atas berbagai hal yang tidak mengenakkan
diri.
Jadi
kira-kira, sesuai judul tulisan ini, menurut pengalaman saya yang masih sedikit
ini, mungkin bisa saya katakana bahwa cara terbaik untuk menghindari masalah itu
adalah dengan bersilaturahim dengannya, masalah maksudnya, yaitu dengan kerelaan
diri kita menerima kedatangannya. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perasaan
dan pikiran kita terhadap masalah.
Perasaan,
pikiran dan waktu
Ada
seorang kawan yang merasa masalahnya sangat banyak, selesai satu datang lagi
satunya. Selesai lagi, datang lagi, demikian seterusnya. Kembali lagi ke ilmu titén, mencoba niténi hal tersebut termasuk niténi diri saya sendiri dengan
memetakan proses yang terjadi.
Mungkin
sebelumnya bisa dibaca di posting #6
Tadi, sekarang dan nanti.
Sekarang.
Saat sedang menghadapi suatu permasalahan, karena tidak bisa rela menerima maka
perasaan pun menjadi tak nyaman dan ini terekam di pikiran. Karena keliaran
pikiran pula, walau berada di saat sekarang tetapi pikiran sudah
mengkhawatirkan tentang nanti yang belum ada gambaran bagaimana solusinya
akan membuat perasan semakin tidak nyaman dan ini pun terekam di
pikiran.
Waktu
terlalui, yang tadinya sekarang sudah menjadi tadi dan yang
tadinya nanti sudah menjadi sekarang, saat ini. Karena keliaran pikiran
pula perasaan yang tidak nyaman yang terjadi tadi masih terkam kuat
karena belum bisa merelakan dan sekali lagi karena keliaran pikiran menjadi
kekhawatiran di saat nanti. Takut ada masalah lagi. Inilah yang akan
menarik terjadinya masalah lagi. Sebab tak baiknya pikiran, perasaan pun
terserat menjadi tak baik, padahal perasaan itulah persangkaan kita pada Tuhan,
maka yang kita sangkakan itulah yang akan dibuktikan olehNya untuk terjadi dalam
kehidupan kita.
Kira-kira
seperti itu.
Sedikit
contoh nyata
Saya
mempunyai seorang kawan yang kebetulan karena paparan yang disampaikan oleh
salah satu agen asuransi, dia mengikuti programnya yaitu asuransi kebakaran
rumah. Maka sebagaimana biasa, dia cerita ke sana ke mari tentang asuransi yang
diikutinya dengan segala bumbu penyedapnya. Tanpa disadari olehnya, pikirannya
takut mengalami kebakaran, menolak hal itu terjadi dalam hidupnya dan itulah
terprogram dalam dirinya.
Apa
yang terjadi ? Tak sampai 2 bulan mengikuti program tersebut, rumahnya terbakar
sungguhan.
Semestinya
tak perlu bersilaturahmi dengan kebakaran, namun karena gambaran atau bayangan
tentang kebakaran diciptakannya dalam pikiran berarti dia bersilaturahmi dengan
kebakaran walau pun dia menolaknya. Maka
yang ditolak akan datang, begitulah rumusnya.
Nah
kalau saya, ndak punya uang itu sudah
biasa, jadi ndak sampai mikir tentang
asuransi dan sejenisnya itu, maka bahasa pengalaman saya ya seperti ini
:
Sebab
"pas-pasan"
dan tak ada yang dicadangkan untuk keperluan tertentu, maka tak punya prasangka
apa-apa dan harapannya selalu baik. Biasanya pas butuh, pas
ada.
Yang
mencadangkan untuk suatu keperluan yang dikhawatirkan terjadi, biasanya
cadangannya pasti terpakai untuk sesuatu yang dikhawatirkan
itu.
Menolak
dan menerima
Adakah bayi yang baru lahir telapak tangannya lepas tanpa genggaman ? Lalu adakah pula manusia di akhir kehidupannya telapak tangannya menggenggam tanpa lepas ?
Bayi
terlahir selalu dalam kondisi telapak tangan yang menggenggam dan manusia mati
selalu dengan telapak tangan yang lepas. Sebuah pelajaran bahwa dalam kehidupan
segala sesuatunya harus kita kondisikan untuk lepas dari diri kita bahkan ego
kita sendiri, bahkan amal kita, sehingga nantinya benar-benar bisa menghadap
Tuhan dengan tanpa embel-embel atau predikat apa pun, menghadapNya sebagai
hambaNya. Uabott yo …
?
Perasaan
maupun pikiran yang tidak baik atau negative memang harus segera dilepaskan
agar
tak merusak jalan kehidupan kita sendiri. Nah, langkah pertama melepaskan hal
itu adalah dengan menerimanya terlebih dahulu. Setelah itu barulah memaknainya
kembali hingga negativitas itu benar-benar terlepas dari diri kita.
Menerima
itu berarti tak beralibi, jujur mengakui dan menyadari masih ada negativitas itu
dalam diri kita, misalnya :
Takut.
Melepas takut adalah dengan menerima takut itu sendiri, mengakui dan menyadari
bahwa takut itu masih ada dalam diri kita. Tidak usah
diberani-beranikan.
Marah.
Melepas marah adalah dengan menerima kemarahan itu sendiri, mengakui dan
menyadari bahwa diri kita masih marah dan belum bisa memaafkan. Tidak usah
disabar-sabarkan.
Tidak
khusyuk dalam beribadah.
Terima, akui dan sadari bahwa memang belum bisa khusyuk. Tidak usah
dikhusyuk-khusyukkan.
Maka,
dalam
hal perasaan, menerima berarti
melepaskan yang akan membaikkan perasaan, sebaliknya, menolak berarti menggenggam yang akan
memburukkan perasaan.
Jadi
mungkin kunci memperingan masalah adalah dengan bersilaturahmi dengan masalah
itu, bukan berarti menantang, namun lebih kepada menyadari bahwa hidup takkan
pernah lepas dari masalah, maka menerima berarti menyiapkan hati berserah diri
padaNya dan selalau memaknai dengan berbaik sangka kepadaNya dengan menggunakan
rumus DI bukan ME, bahwa dengan masalah yang ada di hadapan kita berarti diri
kita sedang DI-latih, DI-dewasakan, DI-tempa, DI-perhatikan, DI-sertai,
DI-kuatkan dan DI-muliakan olehNya. Semoga DI-mampu-KAN.
Bismillah.
Tuesday, January 1, 2013
#6 Tadi, sekarang dan nanti
Posted by Bagus Herwindro
On 1/01/2013 11:49:00 PM
Satu hal yang pasti,
saya tidak pernah bisa merencanakan kapan saya akan tersenyum, kapan akan
menangis, kapan akan bergembira, kapan akan bersedih, kapan akan selamat, kapan
akan celaka, kapan akan terwujudnya rencana, kapan akan gagal dan kapan
akan-akan yang lain. Dalam jangka waktu satu jam pun, perubahan perasaan
demikian cepatnya berganti, apalagi perubahan-perubahan pikiran yang tentunya
lebih liar lagi.
Saya masih merasakan
perbedaan yang sangat pada perasaan dan pikiran saya dalam menanggapi berbagai
peristiwa yang saya alami dari detik ke detik berikutnya. Yang jelas itu tidak
membahagiakan. Bahagia itu perasaan dan kalau sampai tidak bahagia berarti ada
akhlaq yang keliru, itu artinya tidak ada keselarasan qalbu
dengan Gusti Allah, qalbu dalam kondisi yang tidak éling / ingat / sadar /
taqwa.
Selalu kembali lagi
pada ilmu ilmu titén untuk selalu mulat sariro hangarasa wani / berkaca diri
mengenai ke-éling
lan waspädhä-an diri saya
sendiri, mempertanyakan tentang apa dan bagaimananya.
Maka ketidakbahagiaan
itu apa pun bentuknya entah berupa keluhan, ketidaknyamanan, penyesalan,
kekecewaan atau yang lainnya adalah berawal dari tidak adanya akhlak syukur.
Kalau syukur tidak ada, maka tidak ada pula sabar. Kalau syukur dan sabar tidak
ada, maka pastinya rela juga tidak akan ada. Qalbu dalam kondisi yang tidak éling / ingat / sadar / taqwa.
Dititéni lagi, ternyata
mungkin bersumber dari tidak waspädhä
terhadap terhadap pikiran.
Tadi ~ masa
lalu
Sesungguhnya setiap
manusia tidak mempunyai masa lalu, yang ada hanya ingatan tentang masa lalu yang
terekam di pikirannya. Ini yang harus diwaspadai.
Mengingat perasaan
syukur di masa lalu adalah baik saat ingatan itu menyebabkan bertambahnya
kesyukuran saya, namun harus diwasapadai saat ingatan tentang sesuatu yang
menyebabkan rasa syukur itu kemudian menjadi pembanding dengan sesuatu di saat
sekarang yang mungkin intensitasnya lebih rendah, maka terhadap sesuatu itu bisa
jadi saya tidak bisa mensyukurinya.
Begitu juga misalnya
ingatan tentang sesuatu di masa lalu yang menimbulkan “luka”. Mengingatnya tanpa
kewaspadaan, bisa jadi malah menimbulkan penyesalan berkepanjangan apalagi jika
kemudian nafsu saya menikmatinya, akhirnya jadi lebay.
Demikian pun dengan
dosa. Dosa itu biasanya enak meski tidak menentramkan qalbu. Maka mengingat dosa
di masa yang lalu tanpa kewasapadaan, bisa jadi malah menyebabkan keinginan
untuk mengulang dosa yang sama, kecuali kalau bisa menyebabkan kehati-hatian
untuk tidak mengulang hal yang sama.
Jadi semua yang tadi
atau masa lalu adalah sebuah kepastian takdir yang memang harus saya jalani baik
yang “enak” maupun yang “tidak enak” maka tidak bisa tidak kecuali
mengakhlakinya dengan merelakannya.
Nanti ~ masa
depan
Sebagaimana dengan
masa lalu, sesungguhnya setiap orang juga tidak memiliki masa depannya sekarang,
yang ada cuma gambaran-gambaran tentang masa depan di pikirannya. Masa depan
selalu menjadi misteri dalam kehidupan, bahkan dalam jarak satu detik ke depan
pun saya tidak mempunyai kepastian tentangnya.
Memikirkan masa depan
tanpa kewaspadaan hanya akan memburukkan perasaan saat yang tercipta di pikiran
saya adalah hal-hal buruk yang penuh ketidakpastian. Tak ada akhlak yakin kepada
Gusti Allah, maka persangkaan diri saya yang tergambar pada perasaan saya pun
menjadi buruk, galau.
Jadi semua yang nanti
atau masa depan adalah sebuah kemungkinan yang semestinya harus saya akhlaki
dengan yakin akan jaminan Gusti Allah, meski saat ini belum tahu tentang apa dan
bagaimananya. Semestinya tidak usah menjadi fokus pikiran.
Sekarang ~ masa
kini
Rupanya memang saya
harus selalu éling
lan waspädhä bahwa hidup saya
adalah sekarang atau masa kini. Inilah yang harus saya pilih, mau saya apakan
atau bagaimanakan, agar kekurangan di masa lalu dapat saya perbaiki sekarang
sebagai landasan untuk masa depan yang lebih baik lagi.
Kesadaran waktu
menentukan kadar kenikmatan saat menikmati sesuatu. Rasa
nikmat itu jika dan hanya jika menikmati sesuatu sekarang. Kala
menikmati sesuatu sekarang namun pada kesadaran waktu tadi tentang sesuatu itu,
bisa jadi kadar kenikmatannya akan sangat jauh berkurang, karena kenikmatan
sekarang diperbandingkan dengan kenikmatan tadi. Begitu pula saat menikmati
sesuatu sekarang namun pada kesadaran waktu nanti tentang sesuatu itu, bisa jadi
kadar kenikmatannya akan sangat jauh berkurang juga karena kenikmatan sekarang
diperbandingkan dengan kenikmatan yang diharapkan nanti.
Tadi adalah
kepastian. Nanti adalah kemungkinan. Sekarang adalah
pilihan.
Maka untuk mencapai
BAHAGIA saya kira haruslah memadukan
antara élingnya qalbu dengan membaikkan
akhlak dan waspädhänya pikiran untuk tetap
berada di sekarang atau saat ini. Dalam kata lain haruslah sadar untuk mensyukuri saat ini, di sini dan dalam
kondisi ini, bersabar dalam
menjalani proses yang terjadi saat ini, di sini dan dalam kondisi ini serta rela menerima saat ini, di sini dan
dalam kondisi ini.
Salah satu
pengejawantahan keSADARan adalah mengijinkan DIRI untuk selalu meRASAkan,
meNIKMATi dan berSUNGGUH-SUNGGUH di setiap detil dari segala aktivitas
keseharian dan itu biasanya akan melahirkan keRELAan, keberSERAHan, keBAHAGIAan
dan tentu saja rasa SYUKUR yang dalam. Semoga
DIsadarkaKAN.
BAHAGIA. Sederhana
semestinya. MAKNAI setiap detik yang kita lalui, temukan serta rasakan
pengaturan-NYA yang indah. Sederhana dan teramat sederhana, memang, hingga
banyak yang tak percaya, hingga bahagia dicari di luar sana, hingga nestapalah
yang tiba dan bahagia hanya seonggok fatamorgana.
Kira-kira masih
berlanjut.
Saturday, December 29, 2012
Momong – NGEMONG
Posted by Bagus Herwindro
On 12/29/2012 03:12:00 PM
Momong itu kalau dalam
bahasa Indonesia mungkin berarti mengasuh, seperti momong anak yang berarti
mengasuh anak. Kalau ngêmong saya kira itu berupa kata
sifat, mungkin yang paling dekat bisa diartikan sebagai kepengasuhan, namun
menurut saya lebih luas dari itu, tidak hanya kepengasuhan tetapi juga bersifat
menampung. Kalau sudah menampung berarti memberi ruang yang luas untuk segala
macam isi yang termungkinkan akan berada di dalamnya.
Ngêmong, itulah sifat dasar
seorang ibu dalam konteks keluarga, yang kemudian bisa diperluas dalam semua
skala interaksi sosial yang mana pun.
-----------------
Ini tentang
laki-laki. Menurut saya berat rasanya menjadi seorang laki-laki sebab dia harus
mempunyai sifat ngêmong.
Seorang laki-laki, nantinya akan menjadi
seorang kepala keluarga ~ suami & ayah, demikianlah memang porsi
dan posisinya. Dia bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya dan itu bukanlah
hal ringan, sebab selain tanggung jawabnya atas rumah tangganya sendiri, seorang
laki-laki tetap mempunyai tanggung jawab juga terhadap orang tuanya dan juga
saudara perempuannya kalau punya, manakala saudara perempuannya itu belum
berkeluarga. Meskipun kasuistik, tetapi hal seperti itulah yang kadang
menimbulkan konflik tersendiri. Maka tidak bisa tidak, seorang laki-laki harus
mempunyai karakter ngêmong.
Yang pertama dan
utama, dia harus bisa ngêmong dirinya sendiri. Ini penting, sebab bagaimana dia
bisa ngêmong orang lain kalau ngêmong dirinya sendiri saja tidak
becus. Kalau itu sudah beres, barulah dia bisa ngêmong istrinya sekaligus ngêmong
ibunya, ayahnya, saudaranya, mertuanya dan nantinya anak-anaknya, agar ada
ketenangan dalam keluarga, sebab diakui atau pun tidak dalam sebuah pernikahan
yang menyatukan dua keluarga besar sedikit atau banyak terkadang timbul konflik
bila tidak ada sifat ngêmong. Konflik
itu sebenarnya suatu kewajaran, sebab memang pasti selalu ada perbedaan watak
dasar, kebiasaan, pemikiran, pola pendidikan keluarga dan sebagainya di antara
dua keluarga besar itu.
Berat memang, tetapi
sebenarnya tidak ada hal yang berat saat diri kita dimampukan rela
menerimanya.
Sifat ngêmong laki-laki dalam keluarga
bermakna bahwa ia haruslah menjadi seorang Super Dad : sabar, peka, siaga,
cekatan, hangat dan tegas.
Sabar dalam menghadapi
karakter dari masing-masing anggota keluarganya dan memiliki pola pendekatan
yang pas untuk masing-masing karakter tersebut. Sabar juga berarti menahan diri
untuk tidak reaktif dalam merespon segala keadaan yang mungkin sangat tidak
nyaman di dalam keluarga. Sabar juga bermakna kerendahan hati untuk menampung
segala keluhan, mendengar segala cerita dan mendampingi di banyak peristiwa. [Yang ini rahasia, para suami yang punya
istri “galak” bersyukurlah, sebab jika engkau bisa sabar dan rela menerima,
biasanya keluar keramatnya. Sabar bukanlah sabar jika tak ada lawannya. Ini
katanya, bukan pengalaman pribadi he… he... he…]
Peka itu kemampuan
merasakan sesuatu dan menindaklanjutinya sebelum sesuatu itu mewujud, mungkin
bisa dikatakan responsif. Sama seperti sabar, peka itu memerlukan kerelaan dan
kerendahhatian, bukan pengedepanan ego. Sebelum istri meminta yang dibutuhkan,
suami yang peka telah lebih dahulu memberinya jadinya aman, begitu contoh
sederhananya. Meski anaknya tidak mengadu, sang ayah menemani kegundahan
hatinya, hingga cair dengan sendirinya. Tanggap ing
sasmito.
Siaga itu selalu siap
setiap saat mengambil keputusan dan tindakan yang diperlukan pada saat-saat yang
mengharuskannya demikian, sebab hidup itu penuh kejutan, jalan yang dilalui tak
hanya lurus tapi juga penuh kelokan, terjal dan juga landai, mulus namun
terkadang juga penuh lubang.
Cekatan itu terampil dalam
melakukan pekerjaan rumah tangga. Betapa pun lelahnya, tetap luangkan waktu
membantu pekerjaan rumah tangga yang tak kelihatan mata namun sebenarnya 24 jam
sehari. Istri bukanlah pembantu, kalau tujuannya hanya disuruh-suruh, hanya
beres-beres ini itu, cari saja pembantu rumah tangga yang professional, jangan
cari istri. Sesungguhnya yang paling lelah dalam sebuah keluarga adalah istri,
bukan suami, maka pahamilah kalau mungkin istri lebih reaktif dalam menanggapai
sesuatu.
Hangat dalam menyemai,
merawat dan membuahkan kasih sayang dalam keluarga agar seluruh anggota keluarga
merasakan kedamaian dan kebahagiaan di rumah sehingga tidak mencari kompensasi
di luar rumah. Agar keluarga menjadi harta yang paling berharga, istana yang
paling megah, mutiara yang paling indah dan puisi yang paling bermakna. Menjadi
tempat terindah untuk pulang dan ruang terluas untuk bercengkerama dalam
kesetaraan, penghormatan dan penerimaan.
Tegas dalam mengarahkan
biduk rumah tangga menuju keridhoannya Gusti Allah. Tegas dalam hal-hal yang
prinsip. Tegas dalam menyemaikan nilai-nilai kebaikan, sebab keluarga harus
menjadi media penyemaian nilai-nilai mulia kehidupan di tengah arus jaman yang
cenderung saling berinteraksi tanpa nilai. Kepemilikan materi dan kemajuan
teknologi tanpa diimbangi kematangan ruhani maupun kedalaman spiritual, hanya
akan melahirkan generasi yang cengeng, apatis serta hedonis. Keluarga merupakan
aset sekaligus investasi masa depan. Masa depan dalam kehidupan ini, maupun masa
depan dalam kehidupan setelah kematian dan tentunya masa depan yang hakiki
bersama Tuhan yang menciptakan kehidupan.
Ngêmong juga berarti
bersedia memahami, menerima dan mengapresiasi perbedaan.
:: Jangan paksa lelaki tuk ceritakan
masalahnya, sebab dia lebih suka mencari solusinya sendiri. Jangan juga
menawarkan solusi pada perempuan, sebab kebanyakan mereka lebih ingin didengar
walau tanpa solusi. ::
Fakta memang
menunjukkan [katanya sih hasil
penelitian] seorang wanita dalam sehari bisa mengucapkan sampai empat belas
ribu kata, kira-kira sepertiga lebih banyak dari laki-laki yang hanya sekitar
sebelas ribu kata. Jadi para suami, kalau sudah malam dan sudah lelah seharian
berkegiatan, bersabarlah… istrimu masih punya cadangan kira-kira tiga ribu kata
untuk disampaikan kepadamu, tetap tanggapilah dengan baik walau hanya dengan
kata : “Ouw… begitu ya ?” atau “Terus … “ atau “Iya…” atau yang lain, he… he..
he… Atau ajak saja istrimu melakukan kegiatan yang sedikit bicara banyak
bekerja… he… he… he… pasti langsung terdiam seribu bahasa.
Maka apa pun yang
disampaikan istri, terima saja tidak usah ditanggapi secara emosional, misalnya
saja istri tiba-tiba saja cerita kalau harga cabai meningkat tajam, ya sudah dia
hanya cerita saja melampiaskan mungkin kepusingannya “ngubetke susur”, tidak usah marah-marah
dengan mengartikan ceritanya itu sebagai unjuk rasa minta kenaikan uang belanja,
begitu contoh sederhananya.
Jadi kesimpulannya,
ngêmong itu merupakan karakter
keDEWASAan atau keMATANGan dan itu BUKAN hanya soal USIA. Sebab dewasa itu
keSANGGUPan untuk ngêmong yaitu menampung dan menerima
apa pun yang dituang, sekaligus mengelolanya untuk berproses menjadi lebih,
tambah dan semakin baik.
Kira-kira
begitu.



















