• RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • SELALU : dalam DIA dan Kekasih-NYA, ALLAHUMMA SHALLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN 'ABDIKA WA NABIYYIKA WA RASUULIKA-NNABIYYIL UMMIYYI WA 'ALA-AALIHI WASHAHBIHI WASALLIM TASLIIMAN-BIQODRI ADZOOMATI DZAATIKA FI KULLI WAQTIN WAHIIN
  • a k u : Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Justablêdugnotalintang.
  • BUKAN : ahli Qur'an, bukan pula ahli Hadits, bukan Ustadz, Gus apalagi Kiai.
  • Lebih BAIK : senyum saja, kalau BLOG ini isinya ngawur, mohon maaf, tidak melayani debat karena saya memang tidak punya ilmu apa pun.
  • Catatan : ini hanya sekedar menandai perjalanan yang tak pernah usai. Mencoba mengetahui, mengerti, memahami dan menjadi dengan cara yang sederhana, tentu saja sesuai kapasitas pemahaman saya.
  • sinau : dadi wong apik saktênané wong apik.
  • SEMOGA: semua selalu dianugerahi TETAPNYA IMAN, TERANGNYA HATI, KESELAMATAN DUNIA AKHIRAT, AMPUNAN-NYA serta KERIDHOAN-NYA. Allahumma aamiin 999x.
  • KUPU-KUPU

    Sekedar catatan ringan yang tak bermakna, dari diri yang masih terus mencari kesejatian yang hakiki. Bagai ulat yang ingin menjadi kupu-kupu, melalui kepompong pertapaan jiwa.

  • CAH ANGON

    Noto awaké déwé, noto atiné déwé waé angél éram, kok arêp noto ndonya, kok arêp ngubah ndonya... pikir dulu !!! Cah aNgON.... Angon nêpsuku déwé, angon atiku déwé.... angél tênan !!! Opo manéh, nalikané nandhang wuyung, lagi gandrung, gandrung marang äpä wae sak liyané Gusti Kang Akaryä Jagad. Duh Gusti nyuwun pangapurä ....

  • Sadêrmä Abdi

    Mung ngêlakoni kêrsané Gusti. Mung ngênténi ditimbali Gusti.

  • BE YOURSELF

    Jadilah manusia yang berani untuk melepaskan semua predikat yang disandang dan menjadi "hanya sekedar" manusia yang sejatinya memang hanyalah "sekedar hamba" di hadapan Tuhannya.

  • HIJRAH

    Tak usah macam-macam, ayo memBAIKkan diri kita masing-masing, selalu berbuat keBAIKan di semua hal, di segala tempat dan di setiap waktu.

  • TENTANGKU, jika ENGKAU merasa, ACUHKAN !!!

    PENYANGKALAN adalah ekpresi tercepat EGO dalam merespon kebenaran / kenyataan tentang dirinya yang kurang.

Sunday, February 26, 2012

SELAWE

Posted by Bagus Herwindro On 11:15 PM


Jadi ingat pesan salah satu sesepuh saya bahwa kalau punya hajat harus dibandhani / dimodali dengan “satus selawe” [kalau di-Indonesia-kan : seratus dua puluh lima]. Bila secara harfiah pesan itu biasanya harus ditunaikan dengan mencari pecahan uang seratus rupiah sama dua puluh lima rupiah sebagai syarat dengan dihanyutkan ke aliran sungai yang deras. Kalau dijabarkan akan cukup panjang, luas dan dalam. Namun inti dari “satus selawe” itu adalah “wetenge ditus nganti luwe” dalam arti perutnya harus dikosongkan hingga lapar. Itu merupakan sebuah idiom bahasa yang arti luasnya adalah menganjurkan untuk banyak tirakat atau riyadhoh atau menjalankan suatu disiplin dengan nilai spiritual.

Tetapi bukan itu yang saya maksud dengan judul tulisan ini, yaitu SELAWE.

SELAWE pada judul tulisan ini bermakna jumlah minimal yaitu dua puluh lima orang untuk jamaah khususiyah.

Ya… itulah yang disampaikan oleh Kang Wasi’ seusai khususiyah kemarin pada tanggal 5 Februari 2012. Sebagaimana yang pernah dikatakan Kang Wasi’ sesuai dawuhnya Mursyid, bahwa orang thoriqoh [khususnya murid PETA] itu punya tiga hal yang diwajibkan oleh Mursyid, yaitu : bekerja, bermasyarakat dan berkhususiyah. Nah, beberapa waktu yang lalu, Kang Wasi’ menceritakan bahwa Beliau dipanggil Mursyid dan didawuhi bahwa khususiyah itu jumlah jamaahnya minimal dua puluh lima orang. Artinya kalau kurang dari dua puluh lima orang berarti tidak sah. Semua ada aturannya dan harus mulai ditata, tidak semaunya sendiri seperti mungkin selama ini.

Sebab itu pada khususiyah berikutnya, jika jamaah belum mencapai dua puluh lima orang, khususiyah tidak akan dimulai.

Pada kesempatan itu, Kang Wasi’ juga mengingatkan tentang keseharusannya bahwa amaliyah thoriqoh itu mengubah akhlaq kea rah yang makin baik, jika tidak demikian maka perlu dipertanyakan.

Alhamdulillah pada khususiyah berikutnya tanggal 19 Februari 2012, batas minimal jamaah khususiyah terpenuhi, 24 orang jamaah lelaki dan 4 orang jamaah perempuan.

Kang Wasi’ ini salah satu orang yang istimewa bagi saya, sebab Beliau adalah salah satu orang yang paling banyak mendengar atau pun mendapat dawuh-dawuh langsung dari Syaikh Abdul Jalil Mustaqim maupun dari Syaikhina wa Mursyiduna wa Murobbi Ruuhina Syaikh Charir Muhammad Sholahuddin Al Ayyubi. Bahkan kyainya Kang Wasi’ dulu, almarhum KH. Wahid Zuhdi pernah mengatakan bahwa akan meminta pendapat dari Kang Wasi’, diapakai atau pun tidak pendapat itu.

Semua ditata. Kewajiban masing-masing murid tidak akan bias diwakilkan kepada yang lain atau pun kepada kelompok. Adanya pengurus, adanya kelompok sebenarnya hanya sebatas memfasilitasi saja, memudahkan.

-----------------
Untuk itu, khususnya menghimbau pada diri saya sendiri juga kepada sedulur-sedulur yang berkesempatan membaca tulisan ini, ayo kita tata diri kita sendiri memenuhi kewajiban yang telah digariskan oleh Mursyid. Ayo kita ikut berkhususiyah. Ayo kita tertibkan dharma kita pada SA78 sesuai ketentuan yang ada, agar tidak membebani sedulur-sedulur kita yang lain. Kalau Panjenengan punya kesibukan, saya kira semua yang lain juga punya kesibukannya masing-masing. Bismillah.

Generasi KEMPONG

Posted by Bagus Herwindro On 10:13 AM


by: mBah NUN [Muhammad Ainun Nadjib]

Kebudayaan kita serba instan. Mie-nya instan. Lagunya instan. Maunya masuk surga juga instan. Kalau bisa, langsung dapat uang banyak, ndak usah kerja ndak apa-apa. Kalu perlu ndak usah ada Indonesia ndak apa-apa, ndak usah ada Nabi dan Tuhan juga ndak apa-apa, asal punya duit banyak.

Sedangkan kitab suci kita baca terus menerus sepanjang hidup, itupun belum tentu memperoleh ilmu dan hikmah. Wong tiap hari shalat lima waktu rajin khusyuk sampai bathuk benthet saja belum tentu menemukan kebenaran. Wong naik haji sampai sepuluh kali saja belum dijamin akan memperoleh ridhollah. Lha kok sekali baca ingin mendapat kedalaman nilai, lha kok lagu-lagu pop diharapkan menawarkan kualitas hidup, lha kok menyanyikan shalawat dianggap sama dengan bershalawat atau melakukan shalawat.

Generasi kempong tidak punya waktu dan tidak memiliki tradisi untuk tahu beda antara kalimat sindiran dengan bukan sindiran. Tak tahu apa itu ironi, sarkasme, sanepan, istidraj.

Generasi kempong sangat rentan terhadap apa saja. Tidak ada etos kerja . Tidak ada ideologi dharma atau falya’mal ‘amalan shalihan. Yang mereka punyai hanya obsesi hasil, khayal kepemilikan dan kenikmatan. Apapun caranya. Boleh rejeki langsung dari langit, boleh hasil copetan atau korupsi.

Engkau tinggal memilih akan menjadi bagian dari generasi yang semakin kempong giginya ataukah diam-diam engkau menumbuhkan lingkaran-lingkaran Indonesia baru yang menumbuhkan gigi-gigi masa depannya.

Friday, February 24, 2012

Benang MERAH

Posted by Bagus Herwindro On 10:08 PM


Sungguh dan sesungguhnya, benar dan sebenarnya bahwa seutas benang apa pun warnanya tak akan bisa kita menegakkannya apalagi jika benang itu dalam keadaan basah. Lalu apa kaitannya benang yang tak bisa kita tegakkan dengan Benang MERAH yang saya jadikan judul tulisan ini ? Sungguh dan sesungguhnya, benar dan sebenarnya bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali, seperti biasa, ini hanyalah sekedar prolog yang nantinya bisa berhubungan atau bahkan tidak berhubungan sama sekali, tinggal dari sudut pandang yang mana Panjênêngan memandangnya atau bisa juga dari bingkai apa yang Panjênêngan nanti akan sematkan. Yang jelas, menurut berita terakhir yang saya terima, hubungannya baik-baik saja.

-----------------

Benar dan sebenarnyalah manusia tidak memiliki saham apa pun dalam hidupnya, sebab sejak masa awal sebelum kelahirannya pun, semua potensi yang berguna untuk mendukung kehidupannya sudah disediakan oleh Gusti ALLAH. Maka, sungguh dan sesungguhnyalah bahwa manusia tidak memiliki daya apa pun kecuali kalau dia diberi daya oleh Gusti ALLAH.

Hidup yang sesungguhnya itu tidaklah semudah dan segampang sebagaimana yang dikatakan oleh para motivator, kecuali bagi mereka yang bersedia membuka pikirannya dan meluaskan hatinya serta terus menerus memproduksi kebaikan dalam setiap detail dan detik kehidupannya. Hidup memang tidak mudah, penuh hambatan, rintangan, ujian dan cobaan. Itulah seninya, sebuah perjuangan. Untuk itu diperlukan kekuatan sebagai sarana untuk mengatasinya agar bisa terlampaui dengan baik yang kebaikannya tidak hanya untuk diri sendiri melainkan kalau bisa juga dirasakan oleh sesama makhluq.

Para nabi dan rasul yang dipamungkasi oleh Kanjeng Nabi Muhammad selalu memperkenalkan Gusti Allah. Ummatnya selalu diajak untuk éling / sadar / taqwa kepada Gusti Allah. Setiap kali merasakan detak jantung, setiap kali pula merasakan kehidupan yang mengaliri dan setiap kali itu pula diajak untuk éling / sadar / taqwa kepada sumber kehidupan kita yaitu Gusti Allah. Setiap kali merasakan tarikan dan hembusan nafas, setiap kali pula merasakan kehidupan yang mengaliri dan setiap kali itu pula diajak untuk éling / sadar / taqwa kepada sumber kehidupan kita yaitu Gusti Allah. Maka, tiada jantung berdetak kecuali teriring dzikir kepadaNYA. Tiada tarikan dan hembusan nafas yang terlewat dari iringan dzikir kepadaNYA. Dengan dzikir yang éling / sadar / taqwa, hati menjadi tenang walau itu bukan tujuan. Dengan hati yang tenang, pikiranpun menjadi terang. Buah dari semua itu biasanya terjadi perubahan akhlaq menjadi lebih mulia. Bukankah salah satu tugas Kanjeng Nabi Muhammad adalah memperbaiki akhlaq ?

Manusia tanpa daya, tanpa kekuatan, kecuali Gusti Allah yang memberinya dan ternyata Gusti Allah memberi kekuatan itu  melalui kemuliaan akhlaq. Dengan akhlaq mulia tanpa cela, Kanjeng Nabi Muhammad membuat dunia terang benderang dari yang sebelumnya gelap gulita. Dengan kemulian akhlaq, para pewaris nabi dan rasul melintasi jamannya masing-masing menanamkan iman, menebar kebaikan dan mengukir teladan yang keberkahannya masih tetap dapat kita unduh dan rasakan hingga detik ini.

Dengan akhlaq mulia, potensi yang sudah dikaruniakan Gusti Allah bisa terungkap secara optimal sebagai bekal melintasi jalan yang harus dilalui dalam kehidupan, sehingga andai ada beban yang berat atau persoalan yang rumit atau permasalahan yang sulit maka seakan-akan mempunyai kemampuan lebih untuk mengatasinya hingga terasa lebih ringan, sederhana dan mudah. Kira-kira begitu.

Yang sering tidak diyakini oleh mereka yang mengandalkan logika biasanya adalah apakah memang ada korelasi antara akhlaq yang berdimensi spiritual dengan kondisi kehidupan manusia yang bersifat material ?

Ternyata di antara kedua hal tersebut ada Benang MERAHnya.

Ada seorang yang lebih dari 30 tahun melakukan pengamatan tentang spiritualitas, David R.Hawkins M.D., Ph.D., mengklasifikasikan tingkat kesadaran manusia dan mengkalibrasinya dalam suatu skala ukuran energi secara phsikis, emosi apa yang muncul dan proses apa yang terjadi dalam kesadarannya [sebagaimana pada tabel terlampir].


Kira-kira penjelasannya sebagai berikut :

RASA MALU
:: Level energi 20 ::

Rasa malu merupakan emosi yang sangat berbahaya karena beroperasi dekat dengan kematian. Sering kali, rasa malu ini menjadi pendorong orang, baik secara sadar maupun tidak sadar, untuk melakukan bunuh diri. Rasa malu sangat merusak emosi dan kesehatan psikologis. Rasa malu tampak dalam perilaku takut kehilangan muka atau takut tidak "jadi" orang. Dalam masyarakat efek dari rasa malu ini tampak dalam bentuk pengucilan yang dilakukan terhadap orang yang dianggap sebagai penyebab timbulnya rasa malu.

Dampak dari rasa malu yang tampak dalam perilaku seseorang di antaranya adalah : harga diri rendah, mudah sakit, pemalu, menarik diri dari pergaulan, dan introvert kejam pada diri sendiri dan orang lain, paranoid, delusi, dan psikosis, kriminalitas yang sangat kejam, tidak toleran, kaku dan perfeksionis.

Dengan kata lain rasa malu akan mengakibatkan seseorang memiliki kepribadian yang rapuh sehingga mudah mengalami berbagai emosi negatif lainnya.

RASA BERSALAH
:: Level energi 30 ::

Rasa bersalah sangat sering digunakan dalam masyarakat kita untuk melakukan manipulasi dan menghukum orang lain. Rasa bersalah bisa muncul dalam bentuk-bentuk lain seperti penyesalan, masoschism (kenikmatan seksual yang didapat melalui penyiksaan baik secara fisik maupun emosi), dan perasaan diri sebagai korban.

Perasaan bersalah yang tidak disadari karena terpendam jauh dalam pikiran bawah sadar akan mengakibatkan berbagai penyakit psikosomatis, kecenderungan untuk mengalami kecelakaan dan perilaku bunuh diri.

Banyak orang yang dihantui oleh perasaan bersalah sepanjang hidup mereka, yang membuat mereka hidup dalam penyangkalan dan mentransfer perilaku, perasaan, dan impuls negatif mereka ke orang di sekitar mereka.

Dampak dari rasa bersalah yang tampak dalam perilaku seseorang di antaranya adalah : perasaan diri kotor, perasaan diri tidak berharga, merasa berdosa, bersifat memaksa dan mengendalikan, mudah marah dan dapat mengarah pada pembunuhan, mendukung pelaksanaan hukuman mati.

APATIS/PUTUS ASA
:: Level energi 50 ::

Orang yang berada pada level ini hidupnya miskin, putus asa, dan tidak berpengharapan. Mereka memandang dunia dan masa depan sebagai sesuatu yang suram, kelabu, dan tidak nyaman. Dalam masyarakat, level ini adalah level para pengemis, gelandangan, dan orang yang tidak punya tempat tinggal tetap. Orang yang berada pada level ini dipandang sebagai orang yang hanya menghabiskan sumber daya.

KESEDIHAN MENDALAM
:: Level energi 75 ::

Ini adalah level kesedihan, penyesalan, dan perasaan tidak bahagia. Pada level ini orang selalu merasa kehilangan dan depresi. Ini juga level berduka, bersalah dan kehilangan orang yang dicintai. Level ini juga adalah level para pecundang dan penjudi. Perasaan sedih yang mendalam dapat dengan mudah terpicu bila seseorang mengalami "kehilangan" yang besar (misalnya, anggota keluarga meninggal) saat ia masih kecil.

TAKUT
:: Level energi 100 ::

Takut adalah hal yang positif. Bila dilihat dari sudut level energi, takut mempunyai lebih banyak energi kehidupan daripada level-level di bawahnya. Banyak orang yang hidupnya berjalan karena didorong oleh perasaan takut. Pada level ini dunia tampak sebagai tempat yang penuh ancaman dan bahaya. Pikiran yang didasari oleh perasaan takut, bila tidak dikendalikan, akan berubah meniadi paranoid atau ketakutan yang berlebihan.

Takut kehilangan akan berubah menjadi kecemburuan. Takut bersifat menular dan dapat menjadi tren yang dominan dalam masyarakat. Takut juga digunakan dengan efektif oleh berbagai lembaga untuk bisa mengendalikan massa. Takut bersifat menghambat pertumbuhan dan perkembangan diri dan akan mengakibatkan keterbatasan pengembangan potensi.

Orang-orang yang takut akan mencari pemimpin yang kuat, yang mereka pandang telah berhasil menaklukkan ketakutan, untuk memimpin mereka keluar dari "perbudakan" perasaan takut mereka.

KEINGINAN
:: Level energi 125 ::

Pada level ini terdapat jauh lebih banyak energi kehidupan dibandingkan dengan level-level di bawahnya. Keinginan merupakan pendorong manusia untuk bergerak, menjadi sumber motivasi, termasuk dalam bidang ekonomi. Televisi, radio, surat kabar dan media massa apa pun dijadikan alat untuk menjual apa saja terutama menjual gaya hidup sehingga kita merasa butuh dan menginginkan sesuatu.

Keinginan yang kuat akan eksistensi diri, uang, prestise dan kekuasaan bila tak terkendali akan menguasai dan menjadi pendorong keserakahan. Sumber utama masalah yang berhubungan dengan keinginan bahkan samapi pada tingkat ketagihan adalah bahwa keinginan itu mengalir sangat deras seperti air sungai dan tidak dapat terpuaskan.

Di balik sebuah keinginan, apalagi keinginan yang menggebu-gebu (burning desire), biasanya terdapat emosi takut. Bisa berupa rasa takut tidak bisa mencapai apa yang diharapkan, takut tidak bisa mengendalikan sesuatu, takut tidak diterima, takut tidak diakui, ataupun takut kehilangan rasa aman.

MARAH
:: Level energi 150 ::

Marah dapat mengarah pada dua kemungkinan tindakan yaitu konstruktif atau destruktif. Penggunaan emosi marah secara konstruktif dapat membawa perubahan positif dalam masyarakat. Sebaliknya, emosi marah yang tidak terkendali dapat mengakibatkan pembunuhan, perang, perusakan, dan berbagai tindakan anarkis lainnya. Keinginan yang tidak terpenuhi, bila tidak dikendalikan, akan mengakibatkan timbulnya rasa frustrasi yang selanjutnya akan menimbulkan kemarahan. Kemarahan ini berawal dari kemelekatan, pemaksaan kehendak dan merasa apa yang diinginkan adalah hal yang penting dan harus didapat.

Marah muncul dalam bentuk iri, dengki, benci, sakit hati, tersinggung, dan dendam. Orang pemarah sering kali bersikap tidak adil, suka membuat keributan/onar, agresif dan suka bertengkar. Marah mempunyai efek yang sangat negatif terhadap semua area kehidupan.

BANGGA
:: Level energi 175 ::

Rasa bangga adalah kondisi emosi yang sangat dicari oleh kebanyakan orang. Pada level ini orang akan merasa nyaman, dibandingkan dengan energi pada level yang bawah. Rasa bangga dapat menjadi batu lompatan untuk beranjak dari rasa malu, rasa bersalah dan takut. Rasa bangga walaupun dibenarkan secara sosial ternyata mempunyai level energi yang negatif. Rasa bangga sebenarnya rapuh karena dapat berubah menjadi rasa malu.

Rasa bangga adalah dasar dari perang agama, terorisme, dan fanatisme. Sisi negatif dari rasa bangga adalah arogansi dan penyangkalan. Rasa bangga menghambat pertumbuhan emosi dan spiritual. Rasa bangga juga menghambat penyembuhan diri dari ketergantungan pada sesuatu (misalnya obat-obatan).

BERANI
:: Level energi 20 ::

Power atau kekuatan positif muncul pertama kali pada level energi 200. Level ini adalah level kritis yang membedakan antara energi positif dan negatif yang memengaruhi hidup kita. Level 200 juga disebut dengan level pemberdayaan. Ini adalah level eksplorasi, prestasi, ketabahan, dan keteguhan hati. Pada level ini hidup tampak menyenangkan, menantang, dan menggairahkan. Pada level BERANI ini terdapat kemauan untuk belajar hal-hal baru. Ini adalah energi yang dibutuhkan untuk mempelajari kecakapan baru. Level ini mendukung pertumbuhan dalam bidang pendidikan dan kekuatan dalam menghadapi rasa takut. Pada level ini hambatan berubah menjadi tantangan.

NETRALITAS
:: Level energi 250 ::

Pada level ini energi menjadi sangat positif karena level ini tidak lagi ada keberpihakan, seperti yang terjadi pada level-level di bawahnya. Pada level di bawah 250 kesadaran cenderung melihat dikotomi atau perbedaan dan bersikap kaku terhadap hidup. Menjadi netral berarti secara relatif tidak melekat pada hasil yang ingin dicapai. Posisi netral membuat seseorang dapat mengatasi pengalaman kekalahan, rasa takut dan frustrasi.

Level ini adalah awal kepercayaan diri. Orang tidak mudah terintimidasi pada level ini dan tidak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun. Ini adalah level di mana hidup, secara umum, mengalir dengan baik. Orang yang bersikap netral mempunyai perasaan bahagia, tenang, damai, serta merasa aman. Orang pada level netralitas nyaman untuk dijadikan sahabat atau rekan kerja, tak tertarik pada konflik, kompetisi atau perasaan bersalah.

Orang pada level netralitas secara emosi stabil dan nyaman. Mereka bersikap netral, tidak menghakimi dan tidak ingin mengendalikan perilaku orang lain. Orang pada level ini bersifat mandiri dan menghargai kebebasan. Oleh sebab itu, mereka jauh lebih sulit untuk dikendalikan, dipengaruhi, ataupun diprovokasi dibandingkan dengan orang pada level yang lebih rendah.

KEMAUAN
:: Level energi 310 ::

Level ini adalah pintu gerbang untuk menuju keberhasilan. Pada level ini pertumbuhan berlangsung dengan cepat. Orang pada level ini memilih untuk maju dan meningkatkan diri. Kemauan mengandung makna bahwa seseorang telah berhasil mengatasi resistensi internal terhadap hidup dan kehidupan.

Level 310 mengindikasikan awal dari keterbukaan pikiran yang sesungguhnya. Level ini adalah level keramahan yang tulus dan keberhasilan di bidang ekonomi dan sosial. Orang pada level ini jarang ada yang menganggur atau tidak bekerja. Mereka tidak risih bekerja di bidang jasa. Mereka sangat membantu dan memberikan kontribusi positif pada masyarakat.

Orang pada level ini bersedia dan berani menghadapi masalah yang berasal dari dalam diri mereka dan tidak mempunyai masalah di bidang pembelajaran. Mereka mempunyai harga diri yang tinggi dan hal ini diperkuat dengan respons positif yang mereka terima dari masyarakat.

Kemauan berarti responsif terhadap kebutuhan orang lain. Orang pada level ini dapat melakukan koreksi terhadap diri sendiri, merupakan murid yang hebat, dan mempunyai pengaruh yang besar di masyarakat.

PENERIMAAN
:: Level energi 350 ::

Ketidakberdayaan yang terjadi pada level-level bawah berasal dari keyakinan diri bahwa sumber dari apa yang terjadi pada hidup seseorang atau penyebab dari masalah seseorang itu berada di luar dirinya.

Pada level ini orang berhenti memandang diri mereka sebagai korban. Mereka memandang diri mereka sebagai sumber dan pencipta kebahagiaan mereka sendiri. Dengan demikian terjadilah transformasi diri yang luar biasa. Orang pada level ini emosinya tenang, pikiran dan persepsinya terbuka. Mereka tidak tertarik pada benar atau salah. Mereka lebih tertarik pada penyelesaian masalah. Pada level ini orang tidak mengeluh karena mendapat pekerjaan yang berat. Mereka fokus pada tujuan jangka panjang, disiplin, dan cakap. Mereka juga tidak terpengaruh oleh konflik atau pertentangan. Pada level ini setiap individu dipandang mempunyai hak yang sama.

BERPIKIR
:: Level energi 400 ::

Ciri utama level ini adalah intelegensi dan rasionalitas. Inteligensi adalah kemampuan menangani jumlah data yang besar dan kompleks serta membuat keputusan yang cepat dan benar. Rasionalitas adalah kemampuan memahami kerumitan hubungan, gradasi, dan perbedaan yang halus.

Pada level ini orang mampu melakukan manipulasi simbol sebagai konsep yang bersifat abstrak. lnilah level ilmu pengetahuan dan pengobatan. lnilah level peningkatan kapasitas dalam pemahaman dan konsep. Memahami informasi merupakan kunci sukses pada level ini. lnilah level dari para pemenang hadiah nobel, para jenius, dan para negarawan besar. lnilah level Einstein, Freud, dan para tokoh penting lainnya yang telah memberikan pengaruh besar pada masyarakat kita.

Kekurangan atau kelemahan orang yang berada pada level ini adalah kebingungan antara dunia objektif dan subjektif yang membatasi pemahaman mengenai hokum sebab akibat. Orang pada level ini dapat tenggelam dalam ide, konsep atau teori dan tidak memahami hal yang esensial.

Kemampuan berpikir merupakan peranti yang sangat efektif dalam dunia teknik. Kemampuan berpikir, sebaliknya, merupakan suatu penghambat besar untuk mencapai level kesadaran yang lebih tinggi.

CINTA
:: Level energi 500 ::

Cinta, yang dimaksudkan dengan level 500, bukan seperti yang digambarkan oleh kebanyakan orang. Apa yang orang nyatakan sebagai perasaan cinta sebenarnya adalah tidak lebih dari kondisi emosi yang intens, berupa ketertarikan, kemelekatan, kepemilikan, atau pengendalian.

Apa yang orang nyatakan sebagai cinta biasanya bersifat bergantung / dependen, erotis, hal-hal baru, kesenangan, temporer dan fluktuatif. Suatu hubungan, yang katanya diawali dengan perasaan cinta namun ternyata berakhir dengan kebencian pasti bukan diawali dengan cinta pada level ini.

Cinta pada level 500 ini adalah cinta yang tidak bersyarat, tidak berubah, tulus dan permanen. Cinta pada level ini tidak berfluktuasi karena sumber cinta berasal dari dalam diri orang yang mencintai, dengan demikian tidak bergantung pada faktor eksternal. Cinta, pada level ini, adalah suatu kondisi kesadaran dan merupakan kebahagiaan sejati. Hanya 0,4% dari populasi yang pernah mencapai level ini dalam evolusi kesadaran manusia.

SUKA CITA
:: Level energi 540 ::

Saat cinta menjadi semakin tidak bersyarat, kita mulai merasakan kebahagiaan yang berasal dari dalarn diri. Perasaan bahagia ini bukan muncul karena suatu kondisi atau peristiwa namun perasaan bahagia ini terus ada dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Level 540 dan yang lebih tinggi lagi merupakan wilayah kesadaran para orang suci, spiritual healer, dan para rnurid spiritual tingkat tinggi.

Salah satu ciri level ini adalah kesabaran yang luar biasa, persistensi dalam sikap positif walaupun mengalami hambatan hidup yang luar biasa. Ciri lainnya adalah rasa belas kasih yang mendalam. Orang yang telah mencapai level ini akan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap orang di sekitarnya. Pada level 500-an, orang memandang dunia sebagai sesuatu yang indah dan sempurna. Pada level ini, dunia dan segala isinya dipandang sebagai ekspresi cinta dan keagungan llahi. Pada level ini ada keinginan untuk menggunakan kondisi kesadaran seseorang untuk kebaikan kehidupan dan juga terdapat kapasitas untuk mencintai banyak orang secara bersamaan.

Orang yang mengalami "hampir mati" (near death experience) sering kali mengalami level energi antara 540 dan 600.

KEDAMAIAN
:: Level Energi 600 ::

Level energi ini dihubungkan dengan kondisi kesadaran yang kita sebut dengan iluminasi, pencerahan, dan realisasi diri. Kondisi ini sangat langka dan hanya dicapai oleh satu dari sepuluh juta orang.

Saat level ini berhasil dicapai, perbedaan antara subjek dan objek menjadi tidak ada dan oleh sebab itu tidak lagi terdapat satu fokus persepsi tertentu.

Beberapa orang pada level ini meninggalkan keramaian dan hidup menyendiri. Ada pula yang menjadi guru spiritual, ada pula yang bekerja secara diam-diam demi kemajuan umat manusia.

Beberapa orang pada level ini menjadi orang jenius dalam bidangnya masing-masing dan memberikan kontribusi besar pada masyarakat. Persepsi pada level ini, misalnya persepsi visual, tampak dalam bentuk gerak lambat. Pada level ini pikiran menjadi : hening dan berhenti berpikir. Pada level ini, pengamat dan yang diamati menyatu dalam satu kesatuan identitas yang sama.Pada level ini segala sesuatu tampak saling terhubung satu sama lainnya oleh suatu daya yang abadi, sangat lembut, namun sangat kuat.
PENCERAHAN
:: Level energi 700-1.000 ::

Ini adalah level orang-orang besar, dalam sejarah umat manusia, yang menetapkan pola-pola spiritual yang pengaruhnya berlangsung hingga saat ini.

Pada level ini, semuanya terhubung dengan Tuhan. Ini adalah level inspirasi yang luar biasa. Orang yang mencapai level ini tidak lagi mengalami "diri pribadi'. Ini adalah level di mana ego telah terlampaui. Level ini adalah pencapaian tertinggi dari evolusi kesadaran manusia. Pada level ini, tubuh dimengerti hanya sebagai alat dari kesadaran dan fungsi utama tubuh adalah sebagai alat komunikasi. Apa yang terjadi pada tubuh bukan hal penting lagi. Ini adalah level nondualitas atau kesatuan sempurna.

.:: FAKTA MENARIK ::.

1 individu pada level energi 300 setara dengan 90.000 individu di bawah level energi 200
1 individu pada level energi 400 setara 400.000 individu di bawah level energi 200
1 individu pada level energi 500 setara 750.000 individu di bawah level energi 200
1 individu pada level energi 600 setara 10 juta individu di bawah level energi 200
1 individu pada level energi 700 setara 70 juta individu di bawah level energi 200
12 orang di level energi 700 setara dengan 1 orang Avatar di level energi 1.000

-----------------

Silahkan dibaca dan dipahami menurut persepsi Panjênêngan masing-masing, silahkan juga menarik Benang MERAHnya / korelasinya / gandéng rénténgnya dengan ajaran akhlaq yang kita pahami.

Saya kira dari hasil riset tersebut dapat kita ambil pelajaran untuk lebih bisa menjelaskan hal-hal yang bersifat spiritual, salah satunya adalah tentang doa, bagaimana akhlaq batin kita kepada Gusti Allah saat berdoa dalam hubungannya dengan realisasi fisik sebagai wujud ijabah doa kita. Tentunya juga harus diiringi dengan hakikatnya, bahwa sebab Gusti Allah berkehendak memberi, maka manusia mempunyai keinginan untuk memohon. Direnungkan sendiri sajalah pokoknya.

Satu hal lagi sebelum Panjênêngan mengakhiri membaca tulisan ini, saya ajak bereksperimen sederhana. Coba Panjênêngan cari satu obyek benda yang beratnya kira-kira mendekati batas puncak kemampuan Panjênêngan untuk bisa mengangkatnya dalam arti bahwa obyek itu masih bias angkat tetapi harus mengerahkan tenaga yang sangat besar. Cobalah angkat, berat dan harus memaksa bukan ? Nah sekarang ulangi lagi, tetapi sebelumnya, heningkan diri sejenak, hadirkan kebahagiaan dalam hati Panjênêngan. Kalau masih sulit menghadirkan rasa bahagia itu, coba saja ingat-ingat peristiwa di masa lalu yang menyebabkan Panjênêngan berbahagia. Rasakan dan bila intensitas rasa bahagia itu sudah memenuhi diri Panjênêngan, silahkan angkat kembali obyek benda itu tapi tanpa disertai keinginan yang memaksa untuk mengangkat, jadi santa saja. Saya yakin Panjênêngan akan dengan mudah mengangkatnya dengan sedikit saja dari kekuatan otot Panjênêngan.


Friday, February 10, 2012

Kéré – Ngéré

Posted by Bagus Herwindro On 12:50 PM

Kéré, dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan idiom “orang yang tidak punya” alias fakir, dalam arti sempit sering diidentikkan dengan fakir harta. Kalau ngéré, merupakan kata kerja aktif dari kéré yang berarti dengan sengaja menjadi orang yang tidak punya.

-----------------

Bermula dari obrolan di pinggir jalan, terbayang di benak saya, andai saya memiliki seorang pujaan hati yang dalam “pengakuan saya” sangat saya cintai, entah dalam “kenyataannya”. Terpisah jarak, ruang dan waktu. Bagi Sang Pujaan, saya tiadalah berarti apa-apa. Sesungguhnya memang demikian, sebab saya bisa dikatakan kéré itu tadi dalam arti luas, ya harta, ya ilmu, ya akhlaq, ya amal dan seterusnya.

Cinta sejati tidak perlu pengorbanan. Karena cinta adalah persembahan, titik. Jangan ngomong cinta kalo masih merasa berkorban, jangan ngomong cinta kalo masih terbebani. Sekali lagi, CINTA ADALAH PERSEMBAHAN, TIDAK ADA PENGORBANAN DALAM CINTA SEJATI. Yang dianggap pengorbanan oleh kebanyakan orang, sesungguhnya adalah perjuangan untuk bisa mempersembahkan.”

Sang Pujaan tak memerlukan ilmu saya, sebab saya memang tak punya yang darinyalah nanti saya akan mendapatkan. Sang Pujaan juga sama sekali tak memerlukan harta saya, itu kalau pun saya punya harta, tapi Sang Pujaan meminta bukti cinta saya dengan saya mengirim kepada Sang Pujaan sejumlah nominal sesuai kemantaban hati saya secara periodik. Itu pun tidak boleh secara langsung, harus melalui lembaga keuangan yang telah ditunjuk.

Andai lagi, saya tak memiliki sebuah akun pun di sebuah lembaga keuangan, berarti saya harus membuat sebuah akun, walau nantinya juga belum tentu terisi, sebab kondisi saya memang pas-pasan. Itu seandainya.

Okelah kalau begitu. Saya visualisasikan lagi, sebuah akun saya buat.

Jaman terus bergulir, roda perekonomian terus berputar dan tak mungkin lepas dari adanya lembaga keuangan baik bank maupun yang bukan bank. Membuat sebuah akun, menjadikan saya berani menginjakkan kaki di sebuag gedung bagus, rapi, dingin dan nyaman. Membuat saya sering salah tingkah karena sapaan dari mereka yang ada di dalamnya yang bagi saya terlihat terlalu ramah dan berlebihan, sebab saya merasa tak pantas diperlakukan seperti itu. Membuat saya juga berani menyakan tentang hal-hal yang belum saya mengerti sebelumnya.

Sebuah mindset baru terbentuk, mindset sukses dengan parameter kemampuan ekonomi, seiring dengan kesadaran untuk meyakini bahwa dengan memiliki sebuah akun perbankan, saya nantinya juga diberi kemampuan untuk bisa mengisi akun saya sebab saya sedang mengawali sebuah keberlimpahan dalam kemakmuran, kesejahteraan dan kemanfaatan serta keberkahan.

Ooo… ternyata saya juga harus mulai belajar akrab dengan teknologi yang juga terus menggelinding. Transaksi perbankan bisa dilakukan hanya dengan sms bahkan lebih mudah bila dilakukan dengan meggunakan fasilitas internet banking.

Kini saatnya mencoba untuk merasakan persembahan cinta saya yang tak seberepa nilainya.

Saya tekan tombol-tombol di HP saya mencoba fasilitas sms banking, mudah, di manapun bisa, tetapi rasanya nilai juangnya tak ada.
Saya mencoba belajar menggunakan internet banking, meyenangkan ternyata, layaknya datang ke kantor bank, sangat-sangat mudah, tetapi rasanya nilai juangnya juga tak ada.

Rasanya lebih mantab memanfaatkan fasilitas ATM, saya harus berjalan mencari lokasi ATM yang terdekat, tinggal memasukkan kartu ATM, tekan sana tekan sini, selesai sudah. Mudah, tetapi rasanya lebih mantab bila dibandingkan sekedar sms atau pun internetan, tentu saja dalam skala perjuangan untuk persembahan cinta.

Tapi rasa paling mantab ya yang ini, harus sejenak meluangkan waktu mencari posisi bank yang terdekat, menembus kemacetan lalu lintas kalau memang sedang padat, kemudian langsung antri setelah sebelumnya mengisi formulir isian setoran. Detik demi detik dilalui sampai akhirnya giliran pun tiba maju ke hadapan teller dan menyerahkan slip setoran, bismillah, seakan menghadap langsung kepada Sang Pujaan.

Ooo… rupanya rangkaian sejak awal dan kemudian terus berulang secara periodik ini bila dilakukan dengan kesadaran merupakan salah satu latihan disiplin spiritual. Sebuah bagian dari olah ruhani, sebagai sebuah pengejawantahan menyambungkan rasa.

Sebuah lelaku, sebuah tirakat, sebuah riyadhoh sesuai kekinian jaman ini.

-----------------

Teringat dua dekade yang lalu, seorang Guru Mulia menguji, melatih dan mendidik muridnya untuk menanggalkan keAKUannya sekaligus menancapkan TAUHID yang lurus bukan yang miring dalam arti benar-benar yakin kepada jaminan Tuhan, dengan lelaku ngéré,  menyisir pesisir pantai yang mengelilingi pulau Jawa, tanpa bekal apapun kecuali pakaian yang melekat di badan. Itu pun ada yang harus mengulanginya lagi karena sudah “merasa bisa” menjalani ngéré itu sendiri, sebuah perasaan yang sangat lembut, halus dan tak terlihat.

Ooo… sebuah hal yang bila diperbandingkan terasa sangat berat, untuk mendapatkan stempel cinta.

Wednesday, February 8, 2012

Sepenggal DIALOG

Posted by Bagus Herwindro On 6:01 PM

HUJAN mengguyur membasahi bumi. Seorang anak kecil berlarian ke sana ke mari di jalanan depan kos-kosannya, dengan riangnya bercengkerama dengan hujan, gembira meski dia tak memakai celana. Sementara kakaknya dengan mata sayu mengawasi adiknya, sambil sesekali tertawa.

Seorang pengendara motor yang lewat, berhenti dan menyapa si kakak.

“Ke mana aja kamu kok enggak sekolah-sekolah ?”  /  “Sakit.”
“Sakit apa ?”  /  “Pusing.”
“Ibumu ke mana, kok lama enggak kelihatan jualan ?”  /  “Ada di dalam, lagi sakit.”
“Sudah ke puskesmas tah ?”  /  “Belum.”
“Kenapa ?”  /  nDak punya uang.”

nDilalah nyari uang di dompet dan di saku kok adanya cuma tiga puluh ribu, itu pun baru saja terpakai sepuluh ribu, jadi tinggal dua puluh ribu, ya sudah itu saja. Ada lagi seribu lima ratus, buat si anak kecil itu, duh Gusti, girangnya bukan main dapat uang seribu lima ratus, bagai durian runtuh, langsung buat jajan.

Faktanya memang sangat menyedihkan kalau Panjenengan tahu sendiri, tidak bisa menyalahkan kalau banyak sakitnya dibanding sehatnya, tak bisa menyalahkan pula kalau sekolah pun banyak tidak masuknya dibandingkan hadirnya.

Potret rakyat sejati, bukan potret wakil rakyat, bukan pula potret pengurus rakyat. Potret rakyat sejati yang berjuang atas hidupnya sendiri, meski sebenarnya ada yang harus ikut membantu memperjuangkannya. Potret rakyat sejati yang bertanggung jawab mengurus hidupnya sendiri, meski seharusnya ada yang ikut bertanggung jawab untuk mengurusinya.

Sebokek-bokeknya diriku, masih tetap Alhamdulillah. Urusan dunia memang harus lebih banyak melihat ke bawah, kalau sudah demikian, nikmat Tuhan yang mana yang akan kita dustakan ?

-----------------

SeBERAT apa pun beban kehidupan kita, seSEMPIT apa pun dada kita, seRUMIT apa pun masalah kita dan seSULIT apa pun langkah kita, semoga DIkuatyakinKAN kembali berSANDAR pada JAMINAN-NYA, hingga tak sampai merendahkan diri di hadapan manusia. Tidak untuk diRINGANkan, namun SEMOGA DItambahKAN-NYA kemampuan kita meLEBIHi beban yang ada hingga tiba-tiba saja RINGAN, LAPANG, SEDERHANA dan MUDAH. Aamiin.

Kalau rakyat jelata miskin, itu untuk dirinya sendiri, tak ada yang perduli padanya dan miskinnya takkan memiskinkan orang lain. NAMUN, kalau yang miskin itu sang penguasa, sang penegak hukum, sang wakil rakyat, sang pamong praja, sang pemegang senjata dan sang-sang lainnya.... maka PASTI efek kemiskinannya terasa di seluruh negeri. ::: SEMOGA yang maha kaya dan maha memberi kekayaan, mengKAYAkan hati kita dulu atau mungkin bersamaan dengan mengKAYAkan kehidupan lahiriah kita. KAYA dalam keKAYAan, bukan MISKIN dalam keKAYAan :::

Friday, January 13, 2012

TimeLINE

Posted by Bagus Herwindro On 11:32 AM

Apa pun yang telah kita rasakan, pikirkan dan lakukan pada setiap detik kehidupan di masa yang telah kita lampaui akan menjadi suatu keabadian dalam pergerakan semesta. Apa yang telah berlalu seiring waktu, tidak akan pernah bisa kita koreksi, takkan pula bisa kita hapuskan, sebab tidak mungkin kita bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu pulalah, Imam Al Ghazali pernah dawuh kepada murid-muridnya bahwa jarak yang terjauh adalah masa lalu.

Yang dapat kita lakukan terhadap masa lalu kita adalah mengubah sudut pandang kita terhadapnya, memberi bingkai baru dalam rangka menuai hikmah yang di dalamnya, agar apa pun yang pernah terjadi bisa menumbuhkan kesadaran untuk lebih baik lagi dalam menyongsong masa yang ada di depan sana.

Seluruh data kehidupan kita secara detil sejak masa kelahiran, dengan setia dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid, walau kita tidak menghendakinya. Itu tidak bisa dilakukan oleh teknologi rekam manusia, sehebat apa pun teknologi yang dikembangkannya. Apalagi kalau sekedar media jejaring sosial macam facebook, sebab facebook saat ini mengubah sedikit sistemnya dengan menambahkan Timeline atau  kronologi waktu bagi penggunanya yang teantu saja hanya sebatas apa yang dilakukan oleh pengguna dengan facebook.

Bila tampilan faceebook Anda belum menggunakan timeline, Anda bisa mengaktifkannya dengan melalui ini : Facebook Timeline.

Nah, untuk menambah cover facebook Anda, bisa langsung di-upload sembarang gambar yang tentu saja nanti akan menyesuaikan dengan aturan yang diterapkan oleh facebook. Tetapi kalau Anda senang otak-atik grafis, lebih baik mencoba membuat sendiri dengan menggunakan program grafis yang Anda kuasai.

Untuk ukurannya silahkan lihat gambar di bawah ini :
Pada skema sampul FB di atas, foto profile diberi ruang seluas 125x125 pixel, namun yang Anda upload haruslah berukuran 180x180 pixel kalau memang Anda rencanakan bahwa foto profil Anda menyatu dengan kisah yang Anda tampilan pada sampul kronologi facebook Anda.

Tinggal atur saja apa yang akan Anda tampilkan, simpan dalam format JPG dengan ukuran file kurang dari 150 KB, lalu upload file tersebut untuk sampul kronologi Anda. Beres deh…

Contoh yang saya buat seperti ini :

Setelah di-upload seperti ini :


Sunday, January 8, 2012

TV Online

Posted by Bagus Herwindro On 3:51 PM

Dengan TV Online di BLOG ini, Panjenengan bisa menyaksikan TV di mana saja dan kapan saja hanya dengan bermodalkan koneksi internet. Otre kan ???


Saturday, January 7, 2012

Jual TOYOTA Surabaya

Posted by Bagus Herwindro On 5:36 PM

Di segala sesuatu, pasti tak lepas dari pilihan-pilihan. Di antara pilihan-pilihan itu adalah saat Panjenengan sudah memerlukan aatu mungkin sudah merencankan untuk memiliki sebuah mobil atau hendak mengganti mobil yang lama dengan mobil baru atau pun menambah lagi mobil yang telah ada.

Di antara pilihan itu ada satu merek yang bisa Panjenengan pertimbangkan, yaitu TOYOTA Avanza, Kijang Innova, Yaris, Camry, Alphard, Fortuner, Rush, Vios, Corolla Altis, Hilux, Dyna dan Prius.

Namun saat menetapkan diri Panjenengan untuk memilih merek tersebut, pastikan bahwa kalau di Surabaya, yang mendampingi Panjengan adalah Danang, bisa dihubungi di nomor : 031.709.98037  /  0888.531.2000  /  0818.514.574 atau PIN BB 21DAA894,  pemilik dari blog : Jual Toyota Surabaya




Thursday, January 5, 2012

Bagai bumi dan langit [lapis 7]

Posted by Bagus Herwindro On 10:15 AM

Sekitar empat bulan yang lalu, tanpa tahu sebelumnya dan tanpa kenal sebelumnya, ada seorang ibu dengan usia mungkin menjelang setengah abad, bersepeda datang ke rumah menemui isteri dari ayahnya kakaknya anakku yang kedua [gak bingung kan ?]. Tiba-tiba saja dia mengadukan masalahnya yaitu anaknya yang SMP sudah beberapa hari tidak masuk sekolah karena tidak mempunyai sepatu karena sepatu yang biasa dipakainya sudah amat parah, jadi meskipun sudah dirawat di ICU sudah tidak bisa dipakai [mungkin juga karena sudah sempit, mungkin ?].

Dia berusaha mencari rumahku karena sering melihat mamanya adiknya anakku yang kedua sering hilir mudik bersepeda motor membonceng tiga malaikat kecilku, antar jemput sekolah dengan jadual yang berbeda, maka dia memberanikan diri untuk mencari di mana seseorang itu tinggal dan akhirnya ketemu juga.

Salutku untuknya, bahwa dia memaksa menolak menerima sesuatu tanpa berbuat sesuatu atas apa yang diterimanya. Jadi sebenarnya dia memaksa agar bisa mengganti dengan tenaganya, entah dengan mencuci baju atau menyeterikanya atau apa saja yang bisa dilakukannya. Patut diteladani, tanggung jawab seorang ibu terhadap anak-anaknya, dalam kondisisi terjepit oleh keadaan, ia menepiskan rasa malu untuk mencari solusi dan bukan hanya itu, dia tidak hanya sekedar berharap untuk diberi namun dia juga bersedia bertanggung jawab untuk menggantinya dengan apa yang bisa dia lakukan.

Beberapa hari sesudah Idul Adha kemarin, selepas maghrib, ibu ini datang lagi ke rumah mengadukan bahwa barang-barangnya sudah dikeluarkan dari kamar kos yang ditempatinya. Dia diusir oleh tuan rumah karena belum bisa membayar sewa kos itu yang besarnya seratus ribu rupiah sebulan.

Ya… tiba-tiba saja aku ingat kisah tersebut dipicu kemarin lusa membaca running text di JTV tentang anggaran perumahan anggota dewan di salah satu kota/kabupaten jawa timur per bulan per anggota dewan mendapatkan 13 juta rupiah. Data dari mBah Google, untuk anggota dewan Propinsi bisa mencapai 15 juta, entah berapa yang di Pusat sana. Itu baru untuk tunjangan perumahan saja, belum lain-lain.

Lagi-lagi sebuah ironi di negeri ini. Bagai bumi dengan langit. Buminya sap yang ke-7 yang terbawah dan langitnya sap yang ke-7 yang teratas.

Wednesday, January 4, 2012

Hebat ...

Posted by Bagus Herwindro On 3:42 PM


Bangsa yang paling ditakuti oleh seluruh bangsa yang ada di dunia ini sebenarnya adalah bangsa Indonesia, sebab bangsa ini memiliki potensi kehebatan yang luar biasasasasasasa… maka selama ini Indonesia selalu diganggu, diobok-obok dengan berbagai cara dari yang halus sampai yang paling halus agar kisruh di antara sesame anak bangsa.

Rakyat dari bangsa Indonesia ini, dalam hal ini khususnya yang dikategorikan sebagai rakyat kecil atawa rakyat jelata, mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh bangsa manapun di dunia, yaitu KUAT MENDERITA. Ada atau tidak ada pemerintah, sama saja bagi mereka. Adanya pemerintah, malah merepoti bagi mereka, bagamana tidak ? Urusan KTP saja susah.

Bayangkan…

Hanya bermodal keplokan / bertepuk tangan sambil menggumam tidak jelas (bukan bernyanyi) di samping mobil di simpang jalan yang ada traffic light-nya saja, BISA HIDUP. Tentu saja tidak usah mendebat seberapa derajad kehidupan yang mereka jalani, yang utama mereka tetap bisa hidup walaupun TIDAK dipelihara oleh Negara sebagaimana yang diamanatkan undang-undang dasar Negara.

Di kamar kos-kosan kecil di daerah Surabaya Utara, sang suami berprofesi sebagai penarik becak, isterinya tidak bekerja, ternyata anaknya 10 kuecil-kuecil semua, akhirnya anak yang terkecil yang baru lahir diminta dan dirawat seseorang di Bojonegoro, 3 kakaknya diambil oleh salah satu yayasan social di Surabaya Selatan. Mereka BERANI HIDUP. Tentu saja tidak usah mendebat seberapa kualitas kehidupan yang mereka jalani.

Suami berprofesi sebagai penjual pentol (he… he… he… yang ini asli pentol, bukan pentil), sang isteri bekerja di sebuah toko usaha jasa, bertempat tinggal di sebuah kamar kos dengan satu anak seusia SD. Pendapatan suami tidak tetap, pendapatan isteri tujuh ratus ribu rupiah, yang lima ratus ribu rupiah dipergunakan untuk mencicil sepeda motor. BERANI KREDIT.

Seorang laki-laki dengan pekerjaan yang serabutan yang tentu saja penghasilan tidak tetap, ternyata isterinya tiga ha… ha… ha… yang ini sih berani menyengsarakan orang lain namanya, KOPLAK !!!

Masih banyak contoh lain, dalam ketakberdayaan mereka terus berjuang dengan cara sebisanya dan hasil seadanya yang tentu saja jauh dari cukup apalagi layak.

Maka kalau di belahan dunia lain banyak negara yang kolaps karena krisis ekonomi, Indonesia tidak sampai mengalami hal yang demikian itu. BUKAN karena pemerintahnya hebat dalam mengendalikan faktor-faktor perekonomian negara, tetapi semata-mata karena sebagian besar rakyatnya KUAT MENDERITA. Satire.

Seandainya ada embargo terhadap Indonesia sekalipun, kemungkinan tak akan berpengaruh. Menyerbu Indonesia secara terang-terangan pun, masih berpikir ulang, karena kekuatan untuk menderita itu pasti akan memunculkan militansi di saat keadaan memang mengharuskan demikian.

Hal lain yang merupakan kekuatan bangsa ini selain kekuatan untuk menderita adalah KEKUATAN MEMAAFKAN, tetapi maaf saya benar-benar tidak paham apakah memafkan ini karena benar-benar rela memafkan atau hanya karena sikap acuh alias tak peduli sekaligus daya ingat yang pendek ?

Bayangkan…

Pemerintah menaikkan tarif dasar listrik, BBM yang kemudian pasti diikuti kenaikan harga bahan pokok lain yang sangat berimbas pada rakyat kecil. Tapi mereka paling misuh-misuh sebentar saja, kemudian melanjutkan hidupnya lagi seakan tak ada masalah bagi mereka. Entah karena sudah memaafkan pemerintahnya atau karena apatis sebab berteriak sekeras apa pun percuma atau bisa juga karena mudah lupa, sebab memang oleh pemerintahnya dibiasakan lupa. Kalau ada suatu hal yang menjadi sorotan, pasti akan ada hal lain yang mengalihkan hal yang sebelumnya menjadi sorotan itu.

Belanda menjajah bangsa ini kurang lebih [sesuai data di buku sejarah SD] tiga ratus lima puluh tahun. Adakah rakyat bangsa ini yang kemudian membenci Belanda hingga kini ? Mungkin tak ada. Bahkan sebaliknya, orang-orang Belanda yang pernah ke Indonesia itulah yang sering kangen dengan Indonesia. Mereka sering bernostalgia di Indonesia. Bahkan Belandalah yang ngopeni jejak-jejak sejarah Indonesia, lengkap ada di museum maupun perpustakaannya.

Masih banyak contoh lain tentang pemaafnya bangsa ini atau mungkin ketakpeduliannya atau juga mungkin pendeknya ingatannya.

Ada lagi satu hal yang membuat keder yaitu DARAH DINGIN alias RAJA TEGA yang membuat bangsa lain takut.

Bayangkan…

Karena cemburu saja, seorang suami pun demikian sebaliknya bisa memutilasi pasangannya dengan tenang.

Hidup dalam kekurangan, keterasingan dan keterpurukan memunculkan orientasi yang berbeda dalam interaksi sosial, hingga sesuatu yang dianggap mengancam dirinya ditanggapi dengan ketegaannya untuk menghilangkan nyawa sekaligus menjadikannya sebagai santapan perut. Kanibal. Yang menjadi perhatian khalayak seperti kasus S*****O.

Tak jauh dari kondisi di atas, seseorang bisa terperangkap, hidup dalam ilusinya sendiri yang dianggapnya sebagai kebenaran. Maka saat ada yang mengusik kedaimaian dirinya dalam khayalannya itu, tak segan akan langsung dijagal, seperti kasus yang terkenal dengan sebutan jagal R***N.

Negara lain akan lebih ngeri lagi kalau sempat menyaksikan rekaman video berbagai kasus konflik horizontal yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia seperti di Sampit atau yang terakhir ini mencuat yaitu Mesuji. Belum lagi kasus dukun santet dan ninja beberapa tahun yang lampau.


Hebat bukan ???