Sunday, February 26, 2012
SELAWE
Posted by Bagus Herwindro
On 11:15 PM
Jadi ingat pesan salah satu
sesepuh saya bahwa kalau punya hajat harus dibandhani / dimodali dengan “satus selawe” [kalau di-Indonesia-kan :
seratus dua puluh lima]. Bila secara harfiah pesan itu biasanya harus ditunaikan
dengan mencari pecahan uang seratus rupiah sama dua puluh lima rupiah sebagai
syarat dengan dihanyutkan ke aliran sungai yang deras. Kalau dijabarkan akan
cukup panjang, luas dan dalam. Namun inti dari “satus selawe” itu adalah “wetenge ditus nganti luwe” dalam arti
perutnya harus dikosongkan hingga lapar. Itu merupakan sebuah idiom bahasa yang
arti luasnya adalah menganjurkan untuk banyak tirakat atau riyadhoh atau
menjalankan suatu disiplin dengan nilai spiritual.
Tetapi bukan itu yang saya maksud
dengan judul tulisan ini, yaitu SELAWE.
SELAWE pada
judul tulisan ini bermakna jumlah minimal yaitu dua puluh lima orang untuk
jamaah khususiyah.
Ya… itulah yang disampaikan oleh
Kang Wasi’ seusai khususiyah kemarin pada tanggal 5 Februari 2012. Sebagaimana
yang pernah dikatakan Kang Wasi’ sesuai dawuhnya Mursyid, bahwa orang thoriqoh
[khususnya murid PETA] itu punya tiga hal yang diwajibkan oleh Mursyid, yaitu :
bekerja, bermasyarakat dan berkhususiyah. Nah, beberapa waktu yang
lalu, Kang Wasi’ menceritakan bahwa Beliau dipanggil Mursyid dan didawuhi bahwa
khususiyah itu jumlah jamaahnya minimal dua puluh lima orang. Artinya kalau
kurang dari dua puluh lima orang berarti tidak sah. Semua ada aturannya dan
harus mulai ditata, tidak semaunya sendiri seperti mungkin selama
ini.
Sebab itu pada khususiyah
berikutnya, jika jamaah belum mencapai dua puluh lima orang, khususiyah tidak
akan dimulai.
Pada kesempatan itu, Kang Wasi’
juga mengingatkan tentang keseharusannya bahwa amaliyah thoriqoh itu mengubah
akhlaq kea rah yang makin baik, jika tidak demikian maka perlu
dipertanyakan.
Alhamdulillah pada khususiyah
berikutnya tanggal 19 Februari 2012, batas minimal jamaah khususiyah terpenuhi,
24 orang jamaah lelaki dan 4 orang jamaah perempuan.
Kang Wasi’ ini salah satu orang
yang istimewa bagi saya, sebab Beliau adalah salah satu orang yang paling banyak
mendengar atau pun mendapat dawuh-dawuh langsung dari Syaikh Abdul Jalil
Mustaqim maupun dari Syaikhina wa Mursyiduna wa Murobbi Ruuhina Syaikh Charir
Muhammad Sholahuddin Al Ayyubi. Bahkan kyainya Kang Wasi’ dulu, almarhum KH.
Wahid Zuhdi pernah mengatakan bahwa akan meminta pendapat dari Kang Wasi’,
diapakai atau pun tidak pendapat itu.
Semua ditata. Kewajiban
masing-masing murid tidak akan bias diwakilkan kepada yang lain atau pun kepada
kelompok. Adanya pengurus, adanya kelompok sebenarnya hanya sebatas
memfasilitasi saja, memudahkan.
-----------------
Untuk itu, khususnya menghimbau
pada diri saya sendiri juga kepada sedulur-sedulur yang berkesempatan membaca
tulisan ini, ayo kita tata diri kita sendiri memenuhi kewajiban yang telah
digariskan oleh Mursyid. Ayo kita ikut berkhususiyah. Ayo kita tertibkan dharma
kita pada SA78 sesuai ketentuan yang ada, agar tidak membebani sedulur-sedulur
kita yang lain. Kalau Panjenengan
punya kesibukan, saya kira semua yang lain juga punya kesibukannya
masing-masing. Bismillah.
Generasi KEMPONG
Posted by Bagus Herwindro
On 10:13 AM
by: mBah NUN [Muhammad Ainun
Nadjib]
Kebudayaan kita serba instan. Mie-nya instan. Lagunya instan. Maunya masuk surga
juga instan. Kalau bisa, langsung dapat uang banyak, ndak usah kerja ndak apa-apa. Kalu perlu ndak usah ada Indonesia ndak apa-apa, ndak usah ada Nabi dan Tuhan juga ndak apa-apa, asal punya duit
banyak.
Sedangkan kitab suci kita baca
terus menerus sepanjang hidup, itupun belum tentu memperoleh ilmu dan hikmah.
Wong tiap hari shalat lima waktu rajin khusyuk sampai bathuk benthet saja belum tentu
menemukan kebenaran. Wong naik haji sampai sepuluh kali saja belum dijamin akan
memperoleh ridhollah. Lha kok sekali baca ingin mendapat kedalaman
nilai, lha kok lagu-lagu pop diharapkan menawarkan
kualitas hidup, lha kok menyanyikan
shalawat dianggap sama dengan bershalawat atau melakukan
shalawat.
Generasi kempong tidak punya waktu dan tidak memiliki tradisi untuk tahu
beda antara kalimat sindiran dengan bukan sindiran. Tak tahu apa itu ironi,
sarkasme, sanepan, istidraj.
Generasi kempong sangat rentan terhadap apa saja. Tidak ada etos kerja .
Tidak ada ideologi dharma atau falya’mal
‘amalan shalihan. Yang mereka punyai hanya obsesi hasil, khayal kepemilikan
dan kenikmatan. Apapun caranya. Boleh rejeki langsung dari langit, boleh hasil
copetan atau korupsi.
Engkau tinggal memilih akan menjadi bagian dari generasi
yang semakin kempong giginya ataukah diam-diam engkau menumbuhkan
lingkaran-lingkaran Indonesia baru yang menumbuhkan gigi-gigi masa
depannya.
Friday, February 24, 2012
Benang MERAH
Posted by Bagus Herwindro
On 10:08 PM
Sungguh dan sesungguhnya, benar dan sebenarnya bahwa seutas benang apa pun
warnanya tak akan bisa kita menegakkannya apalagi jika benang itu dalam keadaan
basah. Lalu apa kaitannya benang yang tak bisa kita tegakkan dengan Benang MERAH
yang saya jadikan judul tulisan ini ? Sungguh dan sesungguhnya, benar dan
sebenarnya bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali, seperti biasa, ini
hanyalah sekedar prolog yang nantinya bisa berhubungan atau bahkan tidak
berhubungan sama sekali, tinggal dari sudut pandang yang mana Panjênêngan memandangnya atau bisa juga
dari bingkai apa yang Panjênêngan
nanti akan sematkan. Yang jelas, menurut berita terakhir yang saya terima,
hubungannya baik-baik saja.
-----------------
Benar dan sebenarnyalah manusia
tidak memiliki saham apa pun dalam hidupnya, sebab sejak masa awal sebelum
kelahirannya pun, semua potensi yang berguna untuk mendukung kehidupannya sudah
disediakan oleh Gusti ALLAH. Maka, sungguh dan sesungguhnyalah bahwa manusia
tidak memiliki daya apa pun kecuali kalau dia diberi daya oleh Gusti
ALLAH.
Hidup yang sesungguhnya itu
tidaklah semudah dan segampang sebagaimana yang dikatakan oleh para motivator,
kecuali bagi mereka yang bersedia membuka pikirannya dan meluaskan hatinya serta
terus menerus memproduksi kebaikan dalam setiap detail dan detik kehidupannya.
Hidup memang tidak mudah, penuh hambatan, rintangan, ujian dan cobaan. Itulah
seninya, sebuah perjuangan. Untuk itu diperlukan kekuatan sebagai sarana untuk
mengatasinya agar bisa terlampaui dengan baik yang kebaikannya tidak hanya untuk
diri sendiri melainkan kalau bisa juga dirasakan oleh sesama
makhluq.
Para nabi dan rasul yang
dipamungkasi oleh Kanjeng Nabi Muhammad selalu memperkenalkan Gusti Allah.
Ummatnya selalu diajak untuk éling / sadar /
taqwa kepada Gusti Allah. Setiap kali merasakan detak jantung, setiap kali pula
merasakan kehidupan yang mengaliri dan setiap kali itu pula diajak untuk
éling / sadar /
taqwa kepada sumber kehidupan kita yaitu Gusti Allah. Setiap kali merasakan
tarikan dan hembusan nafas, setiap kali pula merasakan kehidupan yang mengaliri
dan setiap kali itu pula diajak untuk éling / sadar /
taqwa kepada sumber kehidupan kita yaitu Gusti Allah. Maka, tiada jantung
berdetak kecuali teriring dzikir kepadaNYA. Tiada tarikan dan hembusan nafas
yang terlewat dari iringan dzikir kepadaNYA. Dengan dzikir yang éling / sadar /
taqwa, hati menjadi tenang walau itu bukan tujuan. Dengan hati yang tenang,
pikiranpun menjadi terang. Buah dari semua itu biasanya terjadi perubahan akhlaq
menjadi lebih mulia. Bukankah salah satu tugas Kanjeng Nabi Muhammad adalah
memperbaiki akhlaq ?
Manusia tanpa daya, tanpa
kekuatan, kecuali Gusti Allah yang memberinya dan ternyata Gusti Allah memberi
kekuatan itu melalui kemuliaan akhlaq.
Dengan akhlaq mulia tanpa cela, Kanjeng Nabi Muhammad membuat dunia terang
benderang dari yang sebelumnya gelap gulita. Dengan kemulian akhlaq, para
pewaris nabi dan rasul melintasi jamannya masing-masing menanamkan iman, menebar
kebaikan dan mengukir teladan yang keberkahannya masih tetap dapat kita unduh
dan rasakan hingga detik ini.
Dengan akhlaq mulia, potensi yang
sudah dikaruniakan Gusti Allah bisa terungkap secara optimal sebagai bekal
melintasi jalan yang harus dilalui dalam kehidupan, sehingga andai ada beban
yang berat atau persoalan yang rumit atau permasalahan yang sulit maka
seakan-akan mempunyai kemampuan lebih untuk mengatasinya hingga terasa lebih
ringan, sederhana dan mudah. Kira-kira begitu.
Yang sering tidak diyakini oleh
mereka yang mengandalkan logika biasanya adalah apakah memang ada korelasi
antara akhlaq yang berdimensi spiritual dengan kondisi kehidupan manusia yang
bersifat material ?
Ternyata di antara kedua hal tersebut ada Benang
MERAHnya.
Ada seorang yang lebih dari 30
tahun melakukan pengamatan tentang spiritualitas, David R.Hawkins M.D., Ph.D., mengklasifikasikan tingkat
kesadaran manusia dan mengkalibrasinya dalam suatu skala ukuran energi secara
phsikis, emosi apa yang muncul dan proses apa yang terjadi dalam kesadarannya
[sebagaimana pada tabel terlampir].
Kira-kira penjelasannya sebagai
berikut :
RASA MALU
:: Level energi 20 ::
Rasa malu merupakan emosi yang
sangat berbahaya karena beroperasi dekat dengan kematian. Sering kali, rasa malu
ini menjadi pendorong orang, baik secara sadar maupun tidak sadar, untuk
melakukan bunuh diri. Rasa malu sangat merusak emosi dan kesehatan psikologis.
Rasa malu tampak dalam perilaku takut kehilangan muka atau takut tidak "jadi"
orang. Dalam masyarakat efek dari rasa malu ini tampak dalam bentuk pengucilan
yang dilakukan terhadap orang yang dianggap sebagai penyebab timbulnya rasa
malu.
Dampak dari rasa malu yang tampak
dalam perilaku seseorang di antaranya adalah : harga diri rendah, mudah sakit,
pemalu, menarik diri dari pergaulan, dan introvert kejam pada diri sendiri dan
orang lain, paranoid, delusi, dan psikosis, kriminalitas yang sangat kejam,
tidak toleran, kaku dan perfeksionis.
Dengan kata lain rasa malu akan
mengakibatkan seseorang memiliki kepribadian yang rapuh sehingga mudah mengalami
berbagai emosi negatif lainnya.
RASA BERSALAH
:: Level energi 30 ::
Rasa bersalah sangat sering
digunakan dalam masyarakat kita untuk melakukan manipulasi dan menghukum orang
lain. Rasa bersalah bisa muncul dalam bentuk-bentuk lain seperti penyesalan,
masoschism (kenikmatan seksual yang didapat melalui penyiksaan baik secara fisik
maupun emosi), dan perasaan diri sebagai korban.
Perasaan bersalah yang tidak
disadari karena terpendam jauh dalam pikiran bawah sadar akan mengakibatkan
berbagai penyakit psikosomatis, kecenderungan untuk mengalami kecelakaan dan
perilaku bunuh diri.
Banyak orang yang dihantui oleh
perasaan bersalah sepanjang hidup mereka, yang membuat mereka hidup dalam
penyangkalan dan mentransfer perilaku, perasaan, dan impuls negatif mereka ke
orang di sekitar mereka.
Dampak dari rasa bersalah yang
tampak dalam perilaku seseorang di antaranya adalah : perasaan diri kotor,
perasaan diri tidak berharga, merasa berdosa, bersifat memaksa dan
mengendalikan, mudah marah dan dapat mengarah pada pembunuhan, mendukung
pelaksanaan hukuman mati.
APATIS/PUTUS ASA
:: Level energi 50 ::
Orang yang berada pada level ini
hidupnya miskin, putus asa, dan tidak berpengharapan. Mereka memandang dunia dan
masa depan sebagai sesuatu yang suram, kelabu, dan tidak nyaman. Dalam
masyarakat, level ini adalah level para pengemis, gelandangan, dan orang yang
tidak punya tempat tinggal tetap. Orang yang berada pada level ini dipandang
sebagai orang yang hanya menghabiskan sumber daya.
KESEDIHAN MENDALAM
:: Level energi 75 ::
Ini adalah level kesedihan,
penyesalan, dan perasaan tidak bahagia. Pada level ini orang selalu merasa
kehilangan dan depresi. Ini juga level berduka, bersalah dan kehilangan orang
yang dicintai. Level ini juga adalah level para pecundang dan penjudi. Perasaan
sedih yang mendalam dapat dengan mudah terpicu bila seseorang mengalami
"kehilangan" yang besar (misalnya, anggota keluarga meninggal) saat ia masih
kecil.
TAKUT
:: Level energi 100 ::
Takut adalah hal yang positif.
Bila dilihat dari sudut level energi, takut mempunyai lebih banyak energi
kehidupan daripada level-level di bawahnya. Banyak orang yang hidupnya berjalan
karena didorong oleh perasaan takut. Pada level ini dunia tampak sebagai tempat
yang penuh ancaman dan bahaya. Pikiran yang didasari oleh perasaan takut, bila
tidak dikendalikan, akan berubah meniadi paranoid atau ketakutan yang
berlebihan.
Takut kehilangan akan berubah
menjadi kecemburuan. Takut bersifat menular dan dapat menjadi tren yang dominan
dalam masyarakat. Takut juga digunakan dengan efektif oleh berbagai lembaga
untuk bisa mengendalikan massa. Takut bersifat menghambat pertumbuhan dan
perkembangan diri dan akan mengakibatkan keterbatasan pengembangan
potensi.
Orang-orang yang takut akan
mencari pemimpin yang kuat, yang mereka pandang telah berhasil menaklukkan
ketakutan, untuk memimpin mereka keluar dari "perbudakan" perasaan takut
mereka.
KEINGINAN
:: Level energi 125 ::
Pada level ini terdapat jauh lebih
banyak energi kehidupan dibandingkan dengan level-level di bawahnya. Keinginan
merupakan pendorong manusia untuk bergerak, menjadi sumber motivasi, termasuk
dalam bidang ekonomi. Televisi, radio, surat kabar dan media massa apa pun
dijadikan alat untuk menjual apa saja terutama menjual gaya hidup sehingga kita
merasa butuh dan menginginkan sesuatu.
Keinginan yang kuat akan
eksistensi diri, uang, prestise dan kekuasaan bila tak terkendali akan menguasai
dan menjadi pendorong keserakahan. Sumber utama masalah yang berhubungan dengan
keinginan bahkan samapi pada tingkat ketagihan adalah bahwa keinginan itu
mengalir sangat deras seperti air sungai dan tidak dapat
terpuaskan.
Di balik sebuah keinginan, apalagi
keinginan yang menggebu-gebu (burning desire), biasanya terdapat emosi takut.
Bisa berupa rasa takut tidak bisa mencapai apa yang diharapkan, takut tidak bisa
mengendalikan sesuatu, takut tidak diterima, takut tidak diakui, ataupun takut
kehilangan rasa aman.
MARAH
:: Level energi 150 ::
Marah dapat mengarah pada dua
kemungkinan tindakan yaitu konstruktif atau destruktif. Penggunaan emosi marah
secara konstruktif dapat membawa perubahan positif dalam masyarakat. Sebaliknya,
emosi marah yang tidak terkendali dapat mengakibatkan pembunuhan, perang,
perusakan, dan berbagai tindakan anarkis lainnya. Keinginan yang tidak
terpenuhi, bila tidak dikendalikan, akan mengakibatkan timbulnya rasa frustrasi
yang selanjutnya akan menimbulkan kemarahan. Kemarahan ini berawal dari
kemelekatan, pemaksaan kehendak dan merasa apa yang diinginkan adalah hal yang
penting dan harus didapat.
Marah muncul dalam bentuk iri,
dengki, benci, sakit hati, tersinggung, dan dendam. Orang pemarah sering kali
bersikap tidak adil, suka membuat keributan/onar, agresif dan suka bertengkar.
Marah mempunyai efek yang sangat negatif terhadap semua area kehidupan.
BANGGA
:: Level energi 175 ::
Rasa bangga adalah kondisi emosi
yang sangat dicari oleh kebanyakan orang. Pada level ini orang akan merasa
nyaman, dibandingkan dengan energi pada level yang bawah. Rasa bangga dapat
menjadi batu lompatan untuk beranjak dari rasa malu, rasa bersalah dan takut.
Rasa bangga walaupun dibenarkan secara sosial ternyata mempunyai level energi
yang negatif. Rasa bangga sebenarnya rapuh karena dapat berubah menjadi rasa
malu.
Rasa bangga adalah dasar dari
perang agama, terorisme, dan fanatisme. Sisi negatif dari rasa bangga adalah
arogansi dan penyangkalan. Rasa bangga menghambat pertumbuhan emosi dan
spiritual. Rasa bangga juga menghambat penyembuhan diri dari ketergantungan pada
sesuatu (misalnya obat-obatan).
BERANI
:: Level energi 20 ::
Power atau kekuatan positif muncul
pertama kali pada level energi 200. Level ini adalah level kritis yang
membedakan antara energi positif dan negatif yang memengaruhi hidup kita. Level
200 juga disebut dengan level pemberdayaan. Ini adalah level eksplorasi,
prestasi, ketabahan, dan keteguhan hati. Pada level ini hidup tampak
menyenangkan, menantang, dan menggairahkan. Pada level BERANI ini terdapat
kemauan untuk belajar hal-hal baru. Ini adalah energi yang dibutuhkan untuk
mempelajari kecakapan baru. Level ini mendukung pertumbuhan dalam bidang
pendidikan dan kekuatan dalam menghadapi rasa takut. Pada
level ini hambatan berubah menjadi tantangan.
NETRALITAS
:: Level energi 250 ::
Pada level ini energi menjadi
sangat positif karena level ini tidak lagi ada keberpihakan, seperti yang
terjadi pada level-level di bawahnya. Pada level di bawah 250 kesadaran
cenderung melihat dikotomi atau perbedaan dan bersikap kaku terhadap hidup. Menjadi netral berarti secara relatif tidak
melekat pada hasil yang ingin dicapai. Posisi netral membuat seseorang
dapat mengatasi pengalaman kekalahan, rasa takut dan
frustrasi.
Level ini adalah awal kepercayaan
diri. Orang tidak mudah terintimidasi pada level ini dan tidak perlu membuktikan apa pun pada siapa
pun. Ini adalah level di mana hidup, secara umum, mengalir dengan baik.
Orang yang bersikap netral mempunyai
perasaan bahagia, tenang, damai, serta merasa aman. Orang pada level
netralitas nyaman untuk dijadikan sahabat atau rekan kerja, tak tertarik pada
konflik, kompetisi atau perasaan bersalah.
Orang pada level netralitas secara
emosi stabil dan nyaman. Mereka bersikap netral, tidak menghakimi dan tidak
ingin mengendalikan perilaku orang lain. Orang pada level ini bersifat mandiri
dan menghargai kebebasan. Oleh sebab itu, mereka jauh lebih sulit untuk
dikendalikan, dipengaruhi, ataupun diprovokasi dibandingkan dengan orang pada
level yang lebih rendah.
KEMAUAN
:: Level energi 310 ::
Level ini adalah pintu gerbang
untuk menuju keberhasilan. Pada level ini pertumbuhan berlangsung dengan cepat.
Orang pada level ini memilih untuk maju dan meningkatkan diri. Kemauan mengandung makna bahwa seseorang
telah berhasil mengatasi resistensi internal terhadap hidup dan
kehidupan.
Level 310 mengindikasikan awal
dari keterbukaan pikiran yang sesungguhnya. Level ini adalah level keramahan
yang tulus dan keberhasilan di bidang ekonomi dan sosial. Orang pada level ini
jarang ada yang menganggur atau tidak bekerja. Mereka tidak risih bekerja di
bidang jasa. Mereka sangat membantu dan memberikan kontribusi positif pada
masyarakat.
Orang pada level ini bersedia dan
berani menghadapi masalah yang berasal dari dalam diri mereka dan tidak
mempunyai masalah di bidang pembelajaran. Mereka mempunyai harga diri yang
tinggi dan hal ini diperkuat dengan respons positif yang mereka terima dari
masyarakat.
Kemauan
berarti responsif terhadap kebutuhan orang lain. Orang pada level ini dapat melakukan koreksi terhadap
diri sendiri, merupakan murid yang hebat, dan mempunyai pengaruh yang besar di
masyarakat.
PENERIMAAN
:: Level energi 350 ::
Ketidakberdayaan yang terjadi pada
level-level bawah berasal dari keyakinan diri bahwa sumber dari apa yang terjadi
pada hidup seseorang atau penyebab dari masalah seseorang itu berada di luar
dirinya.
Pada level ini orang berhenti
memandang diri mereka sebagai korban. Mereka memandang diri mereka sebagai sumber
dan pencipta kebahagiaan mereka sendiri. Dengan demikian terjadilah
transformasi diri yang luar biasa. Orang pada level ini emosinya tenang,
pikiran dan persepsinya terbuka. Mereka tidak tertarik pada benar atau
salah. Mereka lebih tertarik pada penyelesaian masalah. Pada level ini orang
tidak mengeluh karena mendapat pekerjaan yang berat. Mereka fokus pada tujuan
jangka panjang, disiplin, dan cakap. Mereka juga tidak terpengaruh oleh konflik
atau pertentangan. Pada level ini setiap individu dipandang mempunyai hak yang
sama.
BERPIKIR
:: Level energi 400 ::
Ciri utama level ini adalah
intelegensi dan rasionalitas. Inteligensi adalah kemampuan menangani jumlah data
yang besar dan kompleks serta membuat keputusan yang cepat dan benar.
Rasionalitas adalah kemampuan memahami kerumitan hubungan, gradasi, dan
perbedaan yang halus.
Pada level ini orang mampu
melakukan manipulasi simbol sebagai konsep yang bersifat abstrak. lnilah level
ilmu pengetahuan dan pengobatan. lnilah level peningkatan kapasitas dalam
pemahaman dan konsep. Memahami informasi merupakan kunci sukses pada level ini.
lnilah level dari para pemenang hadiah nobel, para jenius, dan para negarawan
besar. lnilah level Einstein, Freud, dan para tokoh penting lainnya yang telah
memberikan pengaruh besar pada masyarakat kita.
Kekurangan atau kelemahan orang
yang berada pada level ini adalah kebingungan antara dunia objektif dan
subjektif yang membatasi pemahaman mengenai hokum sebab akibat. Orang pada level
ini dapat tenggelam dalam ide, konsep atau teori dan tidak memahami hal yang
esensial.
Kemampuan berpikir merupakan
peranti yang sangat efektif dalam dunia teknik. Kemampuan berpikir, sebaliknya, merupakan
suatu penghambat besar untuk mencapai level kesadaran yang lebih
tinggi.
CINTA
:: Level energi 500 ::
Cinta, yang dimaksudkan dengan
level 500, bukan seperti yang digambarkan oleh kebanyakan orang. Apa yang orang
nyatakan sebagai perasaan cinta sebenarnya adalah tidak lebih dari kondisi emosi
yang intens, berupa ketertarikan, kemelekatan, kepemilikan, atau
pengendalian.
Apa yang orang nyatakan sebagai
cinta biasanya bersifat bergantung / dependen, erotis, hal-hal baru, kesenangan,
temporer dan fluktuatif. Suatu hubungan, yang katanya diawali dengan perasaan
cinta namun ternyata berakhir dengan kebencian pasti bukan diawali dengan cinta
pada level ini.
Cinta pada
level 500 ini adalah cinta yang tidak bersyarat, tidak berubah, tulus dan
permanen. Cinta pada level ini tidak berfluktuasi karena sumber cinta berasal
dari dalam diri orang yang mencintai, dengan demikian tidak bergantung pada
faktor eksternal. Cinta, pada level ini, adalah suatu kondisi kesadaran dan
merupakan kebahagiaan sejati.
Hanya 0,4% dari populasi yang pernah
mencapai level ini dalam evolusi kesadaran manusia.
SUKA CITA
:: Level energi 540 ::
Saat cinta menjadi semakin tidak
bersyarat, kita mulai merasakan kebahagiaan yang berasal dari dalarn diri.
Perasaan bahagia ini bukan muncul karena suatu kondisi atau peristiwa namun
perasaan bahagia ini terus ada dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Level
540 dan yang lebih tinggi lagi merupakan wilayah kesadaran para orang suci,
spiritual healer, dan para rnurid spiritual tingkat
tinggi.
Salah satu
ciri level ini adalah kesabaran yang luar biasa, persistensi dalam sikap positif
walaupun mengalami hambatan hidup yang luar biasa. Ciri lainnya adalah rasa
belas kasih yang mendalam. Orang yang telah mencapai level ini akan mempunyai
pengaruh yang kuat terhadap orang di sekitarnya. Pada level 500-an, orang
memandang dunia sebagai sesuatu yang indah dan sempurna. Pada level ini, dunia
dan segala isinya dipandang sebagai ekspresi cinta dan keagungan llahi. Pada
level ini ada keinginan untuk menggunakan kondisi kesadaran seseorang untuk
kebaikan kehidupan dan juga terdapat kapasitas untuk mencintai banyak orang
secara bersamaan.
Orang yang mengalami "hampir mati"
(near death experience) sering kali mengalami level energi antara 540 dan
600.
KEDAMAIAN
:: Level Energi 600 ::
Level energi ini dihubungkan
dengan kondisi kesadaran yang kita sebut dengan iluminasi, pencerahan, dan
realisasi diri. Kondisi ini sangat langka dan hanya dicapai oleh satu dari
sepuluh juta orang.
Saat level ini berhasil dicapai,
perbedaan antara subjek dan objek menjadi tidak ada dan oleh sebab itu tidak
lagi terdapat satu fokus persepsi tertentu.
Beberapa orang pada level ini
meninggalkan keramaian dan hidup menyendiri. Ada pula yang menjadi guru
spiritual, ada pula yang bekerja secara diam-diam demi kemajuan umat
manusia.
Beberapa orang
pada level ini menjadi orang jenius dalam bidangnya masing-masing dan memberikan
kontribusi besar pada masyarakat. Persepsi pada level ini, misalnya persepsi
visual, tampak dalam bentuk gerak lambat. Pada level ini pikiran menjadi :
hening dan berhenti berpikir. Pada level ini, pengamat dan yang diamati menyatu
dalam satu kesatuan identitas yang sama.Pada level ini segala sesuatu tampak
saling terhubung satu sama lainnya oleh suatu daya yang abadi, sangat lembut,
namun sangat kuat.
PENCERAHAN
:: Level energi 700-1.000 ::
Ini adalah level orang-orang
besar, dalam sejarah umat manusia, yang menetapkan pola-pola spiritual yang
pengaruhnya berlangsung hingga saat ini.
Pada level
ini, semuanya terhubung dengan Tuhan. Ini adalah level inspirasi yang luar
biasa. Orang yang mencapai level ini tidak lagi mengalami "diri pribadi'. Ini
adalah level di mana ego telah terlampaui. Level ini adalah pencapaian tertinggi
dari evolusi kesadaran manusia. Pada level ini, tubuh dimengerti hanya sebagai
alat dari kesadaran dan fungsi utama tubuh adalah sebagai alat komunikasi. Apa
yang terjadi pada tubuh bukan hal penting lagi. Ini adalah level nondualitas
atau kesatuan sempurna.
.:: FAKTA MENARIK ::.
1 individu pada level energi 300
setara dengan 90.000 individu di bawah level energi 200
1 individu pada level energi 400
setara 400.000 individu di bawah level energi 200
1 individu pada level energi 500
setara 750.000 individu di bawah level energi 200
1 individu pada level energi 600
setara 10 juta individu di bawah level energi 200
1 individu pada level energi 700
setara 70 juta individu di bawah level energi 200
12 orang di level energi 700
setara dengan 1 orang Avatar di level energi 1.000
-----------------
Silahkan dibaca dan dipahami
menurut persepsi Panjênêngan
masing-masing, silahkan juga menarik Benang MERAHnya / korelasinya / gandéng
rénténgnya dengan
ajaran akhlaq yang kita pahami.
Saya kira dari hasil riset
tersebut dapat kita ambil pelajaran untuk lebih bisa menjelaskan hal-hal yang
bersifat spiritual, salah satunya adalah tentang doa, bagaimana akhlaq batin
kita kepada Gusti Allah saat berdoa dalam hubungannya dengan realisasi fisik
sebagai wujud ijabah doa kita.
Tentunya juga harus diiringi dengan hakikatnya, bahwa sebab Gusti Allah
berkehendak memberi, maka manusia mempunyai keinginan untuk memohon. Direnungkan
sendiri sajalah pokoknya.
Satu hal lagi sebelum Panjênêngan mengakhiri membaca tulisan
ini, saya ajak bereksperimen sederhana. Coba Panjênêngan cari satu obyek benda yang
beratnya kira-kira mendekati batas puncak kemampuan Panjênêngan untuk bisa mengangkatnya
dalam arti bahwa obyek itu masih bias angkat tetapi harus mengerahkan tenaga
yang sangat besar. Cobalah angkat, berat dan harus memaksa bukan ? Nah sekarang
ulangi lagi, tetapi sebelumnya, heningkan diri sejenak, hadirkan kebahagiaan
dalam hati Panjênêngan. Kalau masih
sulit menghadirkan rasa bahagia itu, coba saja ingat-ingat peristiwa di masa
lalu yang menyebabkan Panjênêngan
berbahagia. Rasakan dan bila intensitas rasa bahagia itu sudah memenuhi diri Panjênêngan, silahkan angkat kembali
obyek benda itu tapi tanpa disertai keinginan yang memaksa untuk mengangkat,
jadi santa saja. Saya yakin Panjênêngan akan dengan mudah
mengangkatnya dengan sedikit saja dari kekuatan otot Panjênêngan.
Friday, February 10, 2012
Kéré – Ngéré
Posted by Bagus Herwindro
On 12:50 PM
Kéré, dalam bahasa
Indonesia sama artinya dengan idiom “orang yang tidak punya” alias fakir, dalam
arti sempit sering diidentikkan dengan fakir harta. Kalau ngéré, merupakan kata
kerja aktif dari kéré yang berarti dengan sengaja menjadi orang yang tidak
punya.
-----------------
Bermula dari
obrolan di pinggir jalan, terbayang di benak saya, andai saya memiliki seorang
pujaan hati yang dalam “pengakuan saya” sangat saya cintai, entah dalam
“kenyataannya”. Terpisah jarak, ruang dan waktu. Bagi Sang Pujaan, saya tiadalah
berarti apa-apa. Sesungguhnya memang demikian, sebab saya bisa dikatakan kéré
itu tadi dalam arti luas, ya harta, ya ilmu, ya akhlaq, ya amal dan
seterusnya.
“Cinta sejati
tidak perlu pengorbanan. Karena cinta adalah persembahan, titik. Jangan ngomong
cinta kalo masih merasa berkorban, jangan ngomong cinta kalo masih terbebani.
Sekali lagi, CINTA ADALAH PERSEMBAHAN, TIDAK ADA PENGORBANAN DALAM CINTA SEJATI.
Yang dianggap pengorbanan oleh kebanyakan orang, sesungguhnya adalah perjuangan
untuk bisa mempersembahkan.”
Sang Pujaan tak
memerlukan ilmu saya, sebab saya memang tak punya yang darinyalah nanti saya
akan mendapatkan. Sang Pujaan juga sama sekali tak memerlukan harta saya, itu
kalau pun saya punya harta, tapi Sang Pujaan meminta bukti cinta saya dengan
saya mengirim kepada Sang Pujaan sejumlah nominal sesuai kemantaban hati saya
secara periodik. Itu pun tidak boleh secara langsung, harus melalui lembaga
keuangan yang telah ditunjuk.
Andai lagi, saya
tak memiliki sebuah akun pun di sebuah lembaga keuangan, berarti saya harus
membuat sebuah akun, walau nantinya juga belum tentu terisi, sebab kondisi saya
memang pas-pasan. Itu seandainya.
Okelah kalau begitu.
Saya visualisasikan lagi, sebuah akun saya buat.
Jaman terus
bergulir, roda perekonomian terus berputar dan tak mungkin lepas dari adanya
lembaga keuangan baik bank maupun yang bukan bank. Membuat sebuah akun,
menjadikan saya berani menginjakkan kaki di sebuag gedung bagus, rapi, dingin
dan nyaman. Membuat saya sering salah tingkah karena sapaan dari mereka yang ada
di dalamnya yang bagi saya terlihat terlalu ramah dan berlebihan, sebab saya
merasa tak pantas diperlakukan seperti itu. Membuat saya juga berani menyakan
tentang hal-hal yang belum saya mengerti sebelumnya.
Sebuah mindset baru terbentuk, mindset sukses dengan parameter
kemampuan ekonomi, seiring dengan kesadaran untuk meyakini bahwa dengan memiliki
sebuah akun perbankan, saya nantinya juga diberi kemampuan untuk bisa mengisi
akun saya sebab saya sedang mengawali sebuah keberlimpahan dalam kemakmuran,
kesejahteraan dan kemanfaatan serta keberkahan.
Ooo… ternyata saya
juga harus mulai belajar akrab dengan teknologi yang juga terus menggelinding.
Transaksi perbankan bisa dilakukan hanya dengan sms bahkan lebih mudah bila
dilakukan dengan meggunakan fasilitas internet banking.
Kini saatnya
mencoba untuk merasakan persembahan cinta saya yang tak seberepa
nilainya.
Saya tekan
tombol-tombol di HP saya mencoba fasilitas sms banking, mudah, di manapun bisa,
tetapi rasanya nilai juangnya tak ada.
Saya mencoba
belajar menggunakan internet banking, meyenangkan ternyata, layaknya datang ke
kantor bank, sangat-sangat mudah, tetapi rasanya nilai juangnya juga tak
ada.
Rasanya lebih
mantab memanfaatkan fasilitas ATM, saya harus berjalan mencari lokasi ATM yang
terdekat, tinggal memasukkan kartu ATM, tekan sana tekan sini, selesai sudah.
Mudah, tetapi rasanya lebih mantab bila dibandingkan sekedar sms atau pun
internetan, tentu saja dalam skala perjuangan untuk persembahan
cinta.
Tapi rasa paling
mantab ya yang ini, harus sejenak meluangkan waktu mencari posisi bank yang
terdekat, menembus kemacetan lalu lintas kalau memang sedang padat, kemudian
langsung antri setelah sebelumnya mengisi formulir isian setoran. Detik demi
detik dilalui sampai akhirnya giliran pun tiba maju ke hadapan teller dan menyerahkan slip setoran, bismillah, seakan menghadap langsung
kepada Sang Pujaan.
Ooo… rupanya
rangkaian sejak awal dan kemudian terus berulang secara periodik ini bila
dilakukan dengan kesadaran merupakan salah satu latihan disiplin spiritual.
Sebuah bagian dari olah ruhani, sebagai sebuah pengejawantahan menyambungkan
rasa.
Sebuah lelaku,
sebuah tirakat, sebuah riyadhoh sesuai kekinian jaman ini.
-----------------
Teringat dua
dekade yang lalu, seorang Guru Mulia menguji, melatih dan mendidik muridnya
untuk menanggalkan keAKUannya sekaligus menancapkan TAUHID yang lurus bukan yang
miring dalam arti benar-benar yakin kepada jaminan Tuhan, dengan lelaku ngéré,
menyisir pesisir pantai yang
mengelilingi pulau Jawa, tanpa bekal apapun kecuali pakaian yang melekat di
badan. Itu pun ada yang harus mengulanginya lagi karena sudah “merasa bisa”
menjalani ngéré itu sendiri, sebuah perasaan yang sangat lembut, halus dan tak
terlihat.
Ooo… sebuah hal
yang bila diperbandingkan terasa sangat berat, untuk mendapatkan stempel
cinta.
Wednesday, February 8, 2012
Sepenggal DIALOG
Posted by Bagus Herwindro
On 6:01 PM
HUJAN mengguyur
membasahi bumi. Seorang anak kecil berlarian ke sana ke mari di jalanan depan
kos-kosannya, dengan riangnya bercengkerama dengan hujan, gembira meski dia tak
memakai celana. Sementara kakaknya dengan mata sayu mengawasi adiknya, sambil
sesekali tertawa.
Seorang pengendara
motor yang lewat, berhenti dan menyapa si kakak.
“Ke mana aja kamu
kok enggak sekolah-sekolah ?” /
“Sakit.”
“Sakit apa ?” /
“Pusing.”
“Ibumu ke mana,
kok lama enggak kelihatan jualan
?” /
“Ada di dalam, lagi sakit.”
“Sudah ke
puskesmas tah ?” / “Belum.”
“Kenapa ?” / “nDak punya uang.”
nDilalah
nyari uang di
dompet dan di saku kok adanya cuma tiga puluh ribu, itu pun baru saja terpakai
sepuluh ribu, jadi tinggal dua puluh ribu, ya sudah itu saja. Ada lagi seribu
lima ratus, buat si anak kecil itu, duh
Gusti, girangnya bukan main dapat uang seribu lima ratus, bagai durian
runtuh, langsung buat jajan.
Faktanya memang
sangat menyedihkan kalau Panjenengan
tahu sendiri, tidak bisa menyalahkan kalau banyak sakitnya dibanding sehatnya,
tak bisa menyalahkan pula kalau sekolah pun banyak tidak masuknya dibandingkan
hadirnya.
Potret rakyat
sejati, bukan potret wakil rakyat, bukan pula potret pengurus rakyat. Potret
rakyat sejati yang berjuang atas hidupnya sendiri, meski sebenarnya ada yang
harus ikut membantu memperjuangkannya. Potret rakyat sejati yang bertanggung
jawab mengurus hidupnya sendiri, meski seharusnya ada yang ikut bertanggung
jawab untuk mengurusinya.
Sebokek-bokeknya
diriku, masih tetap Alhamdulillah.
Urusan dunia memang harus lebih banyak melihat ke bawah, kalau sudah demikian,
nikmat Tuhan yang mana yang akan kita dustakan ?
-----------------
SeBERAT apa pun
beban kehidupan kita, seSEMPIT apa pun dada kita, seRUMIT apa pun masalah kita
dan seSULIT apa pun langkah kita, semoga DIkuatyakinKAN kembali berSANDAR pada
JAMINAN-NYA, hingga tak sampai merendahkan diri di hadapan manusia. Tidak untuk
diRINGANkan, namun SEMOGA DItambahKAN-NYA kemampuan kita meLEBIHi beban yang ada
hingga tiba-tiba saja RINGAN, LAPANG, SEDERHANA dan MUDAH.
Aamiin.
Kalau rakyat
jelata miskin, itu untuk dirinya sendiri, tak ada yang perduli padanya dan
miskinnya takkan memiskinkan orang lain. NAMUN, kalau yang miskin itu sang
penguasa, sang penegak hukum, sang wakil rakyat, sang pamong praja, sang
pemegang senjata dan sang-sang lainnya.... maka PASTI efek kemiskinannya terasa
di seluruh negeri. ::: SEMOGA yang maha kaya dan maha memberi kekayaan,
mengKAYAkan hati kita dulu atau mungkin bersamaan dengan mengKAYAkan kehidupan
lahiriah kita. KAYA dalam keKAYAan, bukan MISKIN dalam keKAYAan
:::
Friday, January 13, 2012
TimeLINE
Posted by Bagus Herwindro
On 11:32 AM
Apa pun yang telah
kita rasakan, pikirkan dan lakukan pada setiap detik kehidupan di masa yang
telah kita lampaui akan menjadi suatu keabadian dalam pergerakan semesta. Apa
yang telah berlalu seiring waktu, tidak akan pernah bisa kita koreksi, takkan
pula bisa kita hapuskan, sebab tidak mungkin kita bisa kembali ke masa lalu.
Sebab itu pulalah, Imam Al Ghazali pernah dawuh kepada murid-muridnya bahwa jarak
yang terjauh adalah masa lalu.
Yang dapat kita
lakukan terhadap masa lalu kita adalah mengubah sudut pandang kita terhadapnya,
memberi bingkai baru dalam rangka menuai hikmah yang di dalamnya, agar apa pun
yang pernah terjadi bisa menumbuhkan kesadaran untuk lebih baik lagi dalam
menyongsong masa yang ada di depan sana.
Seluruh data
kehidupan kita secara detil sejak masa kelahiran, dengan setia dicatat oleh
malaikat Raqib dan Atid, walau kita tidak menghendakinya. Itu tidak bisa
dilakukan oleh teknologi rekam manusia, sehebat apa pun teknologi yang
dikembangkannya. Apalagi kalau sekedar media jejaring sosial macam facebook,
sebab facebook saat ini mengubah
sedikit sistemnya dengan menambahkan Timeline atau kronologi waktu bagi penggunanya yang teantu
saja hanya sebatas apa yang dilakukan oleh pengguna dengan facebook.
Bila tampilan
faceebook Anda belum menggunakan timeline, Anda bisa mengaktifkannya dengan
melalui ini : Facebook
Timeline.
Nah, untuk
menambah cover facebook Anda, bisa
langsung di-upload sembarang gambar
yang tentu saja nanti akan menyesuaikan dengan aturan yang diterapkan oleh facebook. Tetapi kalau Anda senang
otak-atik grafis, lebih baik mencoba membuat sendiri dengan menggunakan program
grafis yang Anda kuasai.
Untuk ukurannya
silahkan lihat gambar di bawah ini :
Pada skema sampul
FB di atas, foto profile diberi ruang seluas 125x125 pixel, namun yang Anda upload haruslah berukuran 180x180 pixel
kalau memang Anda rencanakan bahwa foto profil Anda menyatu dengan kisah yang
Anda tampilan pada sampul kronologi facebook Anda.
Tinggal atur saja
apa yang akan Anda tampilkan, simpan dalam format JPG dengan ukuran file kurang
dari 150 KB, lalu upload file
tersebut untuk sampul kronologi Anda. Beres deh…
Contoh yang saya
buat seperti ini :
.:: Selamat mencoba berkreasi ::.
Sunday, January 8, 2012
TV Online
Posted by Bagus Herwindro
On 3:51 PM
Dengan TV Online di BLOG ini, Panjenengan bisa menyaksikan TV di mana saja dan kapan saja hanya dengan bermodalkan koneksi internet. Otre kan ???
Saturday, January 7, 2012
Jual TOYOTA Surabaya
Posted by Bagus Herwindro
On 5:36 PM
Di segala sesuatu, pasti tak lepas dari pilihan-pilihan. Di antara pilihan-pilihan itu adalah saat Panjenengan sudah memerlukan aatu mungkin sudah merencankan untuk memiliki sebuah mobil atau hendak mengganti mobil yang lama dengan mobil baru atau pun menambah lagi mobil yang telah ada.
Di antara pilihan itu ada satu merek yang bisa Panjenengan pertimbangkan, yaitu TOYOTA : Avanza, Kijang Innova, Yaris, Camry, Alphard, Fortuner, Rush, Vios, Corolla Altis, Hilux, Dyna dan Prius.
Namun saat menetapkan diri Panjenengan untuk memilih merek tersebut, pastikan bahwa kalau di Surabaya, yang mendampingi Panjengan adalah Danang, bisa dihubungi di nomor : 031.709.98037 / 0888.531.2000 / 0818.514.574 atau PIN BB 21DAA894, pemilik dari blog : Jual Toyota Surabaya
Di antara pilihan itu ada satu merek yang bisa Panjenengan pertimbangkan, yaitu TOYOTA : Avanza, Kijang Innova, Yaris, Camry, Alphard, Fortuner, Rush, Vios, Corolla Altis, Hilux, Dyna dan Prius.
Namun saat menetapkan diri Panjenengan untuk memilih merek tersebut, pastikan bahwa kalau di Surabaya, yang mendampingi Panjengan adalah Danang, bisa dihubungi di nomor : 031.709.98037 / 0888.531.2000 / 0818.514.574 atau PIN BB 21DAA894, pemilik dari blog : Jual Toyota Surabaya
Thursday, January 5, 2012
Bagai bumi dan langit [lapis 7]
Posted by Bagus Herwindro
On 10:15 AM
Sekitar empat bulan yang lalu, tanpa tahu sebelumnya dan tanpa kenal sebelumnya, ada seorang ibu dengan usia mungkin menjelang setengah abad, bersepeda datang ke rumah menemui isteri dari ayahnya kakaknya anakku yang kedua [gak bingung kan ?]. Tiba-tiba saja dia mengadukan masalahnya yaitu anaknya yang SMP sudah beberapa hari tidak masuk sekolah karena tidak mempunyai sepatu karena sepatu yang biasa dipakainya sudah amat parah, jadi meskipun sudah dirawat di ICU sudah tidak bisa dipakai [mungkin juga karena sudah sempit, mungkin ?].
Dia berusaha mencari rumahku karena sering melihat mamanya adiknya anakku yang kedua sering hilir mudik bersepeda motor membonceng tiga malaikat kecilku, antar jemput sekolah dengan jadual yang berbeda, maka dia memberanikan diri untuk mencari di mana seseorang itu tinggal dan akhirnya ketemu juga.
Salutku untuknya, bahwa dia memaksa menolak menerima sesuatu tanpa berbuat sesuatu atas apa yang diterimanya. Jadi sebenarnya dia memaksa agar bisa mengganti dengan tenaganya, entah dengan mencuci baju atau menyeterikanya atau apa saja yang bisa dilakukannya. Patut diteladani, tanggung jawab seorang ibu terhadap anak-anaknya, dalam kondisisi terjepit oleh keadaan, ia menepiskan rasa malu untuk mencari solusi dan bukan hanya itu, dia tidak hanya sekedar berharap untuk diberi namun dia juga bersedia bertanggung jawab untuk menggantinya dengan apa yang bisa dia lakukan.
Beberapa hari sesudah Idul Adha kemarin, selepas maghrib, ibu ini datang lagi ke rumah mengadukan bahwa barang-barangnya sudah dikeluarkan dari kamar kos yang ditempatinya. Dia diusir oleh tuan rumah karena belum bisa membayar sewa kos itu yang besarnya seratus ribu rupiah sebulan.
Ya… tiba-tiba saja aku ingat kisah tersebut dipicu kemarin lusa membaca running text di JTV tentang anggaran perumahan anggota dewan di salah satu kota/kabupaten jawa timur per bulan per anggota dewan mendapatkan 13 juta rupiah. Data dari mBah Google, untuk anggota dewan Propinsi bisa mencapai 15 juta, entah berapa yang di Pusat sana. Itu baru untuk tunjangan perumahan saja, belum lain-lain.
Lagi-lagi sebuah ironi di negeri ini. Bagai bumi dengan langit. Buminya sap yang ke-7 yang terbawah dan langitnya sap yang ke-7 yang teratas.
Wednesday, January 4, 2012
Hebat ...
Posted by Bagus Herwindro
On 3:42 PM
Bangsa yang paling
ditakuti oleh seluruh bangsa yang ada di dunia ini sebenarnya adalah bangsa
Indonesia, sebab bangsa ini memiliki potensi kehebatan yang luar
biasasasasasasa… maka selama ini Indonesia selalu diganggu, diobok-obok dengan
berbagai cara dari yang halus sampai yang paling halus agar kisruh di antara
sesame anak bangsa.
Rakyat dari bangsa
Indonesia ini, dalam hal ini khususnya yang dikategorikan sebagai rakyat kecil
atawa rakyat jelata, mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh bangsa manapun
di dunia, yaitu KUAT MENDERITA. Ada
atau tidak ada pemerintah, sama saja bagi mereka. Adanya pemerintah, malah
merepoti bagi mereka, bagamana tidak ? Urusan KTP saja
susah.
Bayangkan…
Hanya bermodal
keplokan / bertepuk tangan sambil menggumam tidak jelas (bukan bernyanyi) di
samping mobil di simpang jalan yang ada traffic light-nya saja, BISA HIDUP.
Tentu saja tidak usah mendebat seberapa derajad kehidupan yang mereka jalani,
yang utama mereka tetap bisa hidup walaupun TIDAK dipelihara oleh Negara
sebagaimana yang diamanatkan undang-undang dasar Negara.
Di kamar kos-kosan
kecil di daerah Surabaya Utara, sang suami berprofesi sebagai penarik becak,
isterinya tidak bekerja, ternyata anaknya 10 kuecil-kuecil semua, akhirnya anak
yang terkecil yang baru lahir diminta dan dirawat seseorang di Bojonegoro, 3
kakaknya diambil oleh salah satu yayasan social di Surabaya Selatan. Mereka
BERANI HIDUP. Tentu saja tidak usah mendebat seberapa kualitas kehidupan yang
mereka jalani.
Suami berprofesi
sebagai penjual pentol (he… he… he… yang ini asli pentol, bukan pentil), sang
isteri bekerja di sebuah toko usaha jasa, bertempat tinggal di sebuah kamar kos
dengan satu anak seusia SD. Pendapatan suami tidak tetap, pendapatan isteri
tujuh ratus ribu rupiah, yang lima ratus ribu rupiah dipergunakan untuk mencicil
sepeda motor. BERANI KREDIT.
Seorang laki-laki
dengan pekerjaan yang serabutan yang tentu saja penghasilan tidak tetap,
ternyata isterinya tiga ha… ha… ha… yang ini sih berani menyengsarakan orang
lain namanya, KOPLAK !!!
Masih banyak
contoh lain, dalam ketakberdayaan mereka terus berjuang dengan cara sebisanya
dan hasil seadanya yang tentu saja jauh dari cukup apalagi
layak.
Maka kalau di
belahan dunia lain banyak negara yang kolaps karena krisis ekonomi, Indonesia
tidak sampai mengalami hal yang demikian itu. BUKAN karena pemerintahnya hebat
dalam mengendalikan faktor-faktor perekonomian negara, tetapi semata-mata karena
sebagian besar rakyatnya KUAT MENDERITA. Satire.
Seandainya ada
embargo terhadap Indonesia sekalipun, kemungkinan tak akan berpengaruh. Menyerbu
Indonesia secara terang-terangan pun, masih berpikir ulang, karena kekuatan
untuk menderita itu pasti akan memunculkan militansi di saat keadaan memang
mengharuskan demikian.
Hal lain yang
merupakan kekuatan bangsa ini selain kekuatan untuk menderita adalah KEKUATAN MEMAAFKAN, tetapi maaf saya
benar-benar tidak paham apakah memafkan ini karena benar-benar rela memafkan
atau hanya karena sikap acuh alias tak peduli sekaligus daya ingat yang pendek
?
Bayangkan…
Pemerintah
menaikkan tarif dasar listrik, BBM yang kemudian pasti diikuti kenaikan harga
bahan pokok lain yang sangat berimbas pada rakyat kecil. Tapi mereka paling misuh-misuh sebentar saja, kemudian
melanjutkan hidupnya lagi seakan tak ada masalah bagi mereka. Entah karena sudah
memaafkan pemerintahnya atau karena apatis sebab berteriak sekeras apa pun
percuma atau bisa juga karena mudah lupa, sebab memang oleh pemerintahnya
dibiasakan lupa. Kalau ada suatu hal yang menjadi sorotan, pasti akan ada hal
lain yang mengalihkan hal yang sebelumnya menjadi sorotan
itu.
Belanda menjajah
bangsa ini kurang lebih [sesuai data di
buku sejarah SD] tiga ratus lima puluh tahun. Adakah rakyat bangsa ini
yang kemudian membenci Belanda hingga kini ? Mungkin tak ada. Bahkan sebaliknya,
orang-orang Belanda yang pernah ke Indonesia itulah yang sering kangen dengan
Indonesia. Mereka sering bernostalgia di Indonesia. Bahkan Belandalah yang ngopeni jejak-jejak sejarah Indonesia,
lengkap ada di museum maupun perpustakaannya.
Masih banyak
contoh lain tentang pemaafnya bangsa ini atau mungkin ketakpeduliannya atau juga
mungkin pendeknya ingatannya.
Ada lagi satu hal
yang membuat keder yaitu DARAH
DINGIN alias RAJA TEGA yang
membuat bangsa lain takut.
Bayangkan…
Karena cemburu
saja, seorang suami pun demikian sebaliknya bisa memutilasi pasangannya dengan
tenang.
Hidup dalam
kekurangan, keterasingan dan keterpurukan memunculkan orientasi yang berbeda
dalam interaksi sosial, hingga sesuatu yang dianggap mengancam dirinya
ditanggapi dengan ketegaannya untuk menghilangkan nyawa sekaligus menjadikannya
sebagai santapan perut. Kanibal. Yang menjadi perhatian khalayak seperti kasus
S*****O.
Tak jauh dari
kondisi di atas, seseorang bisa terperangkap, hidup dalam ilusinya sendiri yang
dianggapnya sebagai kebenaran. Maka saat ada yang mengusik kedaimaian dirinya
dalam khayalannya itu, tak segan akan langsung dijagal, seperti kasus yang
terkenal dengan sebutan jagal R***N.
Negara lain akan
lebih ngeri lagi kalau sempat menyaksikan rekaman video berbagai kasus konflik
horizontal yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia seperti di Sampit atau
yang terakhir ini mencuat yaitu Mesuji. Belum lagi kasus dukun santet dan ninja
beberapa tahun yang lampau.
Hebat bukan
???






















