Home » , , , » Gerakan SULTAN AGUNG 78

Gerakan SULTAN AGUNG 78

Written By Bagus Herwindro on Jun 6, 2011 | 10:55

Gerakan Sultan Agung 78 merupakan program yang mulai disosialisasikan kepada jamaah Pondok PETA Tulungagung. Apa dan bagaimananya Gerakan ini, sebagaimana biasanya tak usahlah dulu dipertanyakan maksudnya, nanti seiring dengan berjalannya waktu pasti akan jelas dengan sendirinya.

Pada intinya bahwa dengan semakin banyaknya jamaah / santri / murid PETA diperlukan suatu penataan yang lebih baik di mana Yai tidak mencari murid, tidak mencari jumlah yang banyak namun lebih menerima murid yang mempunyai komitmen keda Guru Mursyid dengan kata lain murid yang mempunyai ghiroh atau kesungguhan menjadi murid, yang secara kasat mata / lahiriah / duniawi akan diikat dalam Gerakan Sultan Agung 78 ini. Dawuhnya, kalau ada murid yang tidak mau ya sudah, ditinggal, kalau nantinya ada murid yang begini-begitu, ya sudah, ditinggal.

Siapa saja, kalau bersungguh-sungguh boleh ikut serta di dalamnya. Gerakan Sultan Agung 78 ini mengklasifikasikan keanggotaannya menjadi 3 (tiga), yaitu :


  1. Anggota Khusus, yaitu bagi mereka yang telah berbaiat kepada Guru Mursyid.
  2. Anggota Biasa, yaitu bagi mereka yang belum berbaiat namun sudah mendapatkan ijazah / amalan dari Mursyid.
  3. Anggota Umum, yaitu siapa saja, semua golongan baik muslim maupun non muslim yang berkehendak ikut berperan serta dalam program-program Pondok PETA.

Untuk itu, agar segera dibentuk kepengurusan Gerakan Sultan Agung 78 di setiap kelompok. Kepengurusan ini di luar Ketua Kelompok dan Imam Khususiyah yang telah ada. Jadi berbeda walaupun teap dalam satu kesatuan. Ibarat Ketua Kelompok dan Imam Khususiyah adalah tangan kanan, maka Pengurusus Gerakan Sultan Agung 78 ini adalah tangan kiri.

Pengurus di tiap kelompok nantinya terdiri dari 5 (lima) unsur, yaitu : 1. Ketua, 2. Sekretaris, 3. Bendahara, 4. SDM (bertugas untuk memahami dan menggali potensi dari jamaah di masing-masing kelompok) dan 5. Humas (bertugas mensosialisasikan dan mengkomunikasikan program-program Gerakan kepada atau antar jamaah dan pengurus pusat).

Untuk lebih meneguhkan komitmen bagi siapa saja yang berkehendak mengikuti/daftar dalam gerakan ini, maka diwajibkan menjadi donator tetap tiap bulan minimal sebesar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah). Lebih banyak boleh, namun tidak diperkenankan meropel/menggabung donasinya untuk sekian bulan sekaligus, yang diminta adalah keistiqomahannya untuk memberikan donasi di setiap bulannya.

Demikianlah yang disampaikan oleh Kang Wasi’ sesuai dawuhnya Yai, kemarin sore tanggal 5 Juni 2011 seusai khususiyah sebagaimana biasanya.

Kang wasi juga menyinggung bahwa adanya Gerakan Sultan Agung 78 ini, menurut Kang Wasi’, merupakan kesempatan yang dibuka seluas-luasnya oleh Mursyid untuk menyambungkan hati / robithoh kepada Beliau.

Kang Wasi’ juga mengingatkan lagi tentang robithoh sebagaimana yang pernah didawuhkan oleh Almarhum Syaikh Abdul Jalil Mustaqim, bahwa robithohnya murid Syadziliyah PETA itu ada dua ketentuan, yaitu :

Pertama, robithoh di dalam dzikir / aurod adalah langsung ismu dzat : Allah… Allah… tidak boleh tergambar atau terbayang wajah Mursyid, tidak ada perantara di hati kita harus langsung dengan Allah, hadhoroh Fatihah, istighfar, shalawat, tahlil dan seterusnya sebagaimana biasa.

Kedua, robithoh di luar dzikir adalah dengan mengingat-ingat semua apa yang pernah didawuhkan Mursyid (tentu saja pengertiannya dalam arti luas, tidak hanya mengingatnya namun juga dalam penerapannya sekaligus).

DEMIKIAN. Semoga bermanfaat.


Update :

Dikutip dari website sultangagung78.com


PENGANTAR


Bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial yang dalam kehidupannya memiliki himmah dan cita-cita demi langgengnya martabat dan kodrat kemanusiaan dalam mengabdi kepada Allah SWT.

Komitmen untuk mencapai himmah dan cita-cita pribadi dan sosial adalah hak dan kewajiban seluruh manusia untuk berusaha, berihtiar secara sungguh-sungguh dengan tetap menempatkan dalam bimbingan dan arahan Ulama Warasyatul Ambiya'.

Bahwa bagi simpatisan dan jamaah Pondok Pesulukan Thoriqot Agung (Pondok PETA) untuk melaksanakan komitmen himmah dan cita-cita secara pribadi tidak dapat dipisahkan dengan upaya mencapai program dan tujuan yang digagas dan ditetapkan oleh Yayasan Pondok PETA

Oleh karena itu, dengan memohon ridlo Allah SWT dan dengan didorong oleh cita-cita luhur untuk meningkatkan derajat kemanusiaan serta terbentuknya manusia yang berilmu amaliah dan selalu mengingat Allah SWT, maka dibentuklah Organisasi Sultan Agung 78 sebagai Lembaga Yayasan Pondok PETA.


PROFIL SultanAgung78

SultanAgung78 merupakan lembaga/organisasi yang bersifat informal. Secara struktural, ia berada di bawah naungan yayasan PETA (Pesulukan Thoriqot Agung), yang berkedudukan di tulungagung. SultanAgung78 selanjutnya disingkat SA78,didirikan oleh KH.Sholachuddin Abdul Djalil Mustaqim, pengasuh pondok PETA TulungAgung.

Organisasi SA78 ini, didirikan sebagai wadah bersama bagi seluruh umat manusia (silaturrohim); tidak membedakan latar belakang etnik, bahasa maupun agama. SA78 bersifat terbuka (inklusif), pluralistik, toleran serta menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran dan profesionalitas. ia hadir sebagai upaya memperkuat dan meneguhkan kembali nilai-nilai tersebut. sekaligus sebagai bentuk pengabdiannya kepada Agama Bangsa dan Negara tercinta ini.

SA78 merupakan lembaga non-profit; lebih berorentasi pada bagaimana menggali dan mengambangkan seluruh potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki oleh masing-masing anggotanya. Tak terkecuali - ini yang terpenting, SA78 sangat berkomitmen untuk ikut serta membangun karakter (character building) bangsa yang bersumberkan dari akar tradisi kita sendiri.

Pengembangan SDM dimaksud, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia itu sendiri. Baik yang bersifat jasmani maupun rohani, lahir maupun batin serta berjiwa mandiri. Tentunya, upaya demikian tidaklah mudah. Masih banyak diperlukan daya dukung lain. yang mampu mensinergikan kekayaan potensi tersebut. Dalam hal ini, SA78 lalu bergerak dan merajut kembali pilar pilar kemandirian masyarakat tadi.

Sifat keanggotaan SA78 yang sangat terbuka ini, nantinya akan benar-benar jadi "rumah rohani" bersama - bagi siapa saja, khususnya bagi Jama'ah Pondok PETA, yang mengerti akan hak dan kewajiban seorang hamba terhadap sesamanya maupun Tuhannya.

Di samping itu, keberadaan SA78 ini diharapkan menjadi pintu utama yang menjembatani berbagai macam pola interaksi social masyarakat; antar individu maupun kelompok social tertentu dengan lainnya. Sehingga, dalam tahapan tertentu, dimungkinkan semakin terjalinnya hubungan-hubungan silaturahmi dan ukhuwah (persaudaraan) yang bersifat multi-dimensi di antara masing-masing pihak.

Watak dan sifat SA78 yang multi-kultural semacam itu, merupakan wujud komitmen dirinya untuk selalu konsisten berdiri di tengah-tengah atas kuatnya tarikan arus globalisasi. Oleh karenanya, ia akan selalu bergerak secara lentur; melestarikan yang baik di masa lampau dan memilih yang baik sesuatu yang baru di masa depan (al muhafadzotu ala qodimi sholih wa al akhdu bi al jadidi al ashlah), menjadi garda terdepan menjaga keseimbangan.

Dengan demikian, kelahiran SA78 sebenarnya merupakan panggilan sejarah. Sekaligus, merupakan ikhtiar dan "ijtihat" Pengasuh Pondok PETA, dalam menjawab dinamika kehidupan masyarakat saat ini maupun dimasa mendatang.

Akhirnya, atas berkah dan Karunia Tuhan Yang Maha Kuasa dan didorong oleh semangat cita-cita luhur di atas, semoga kehadiran Sultan Agung 78 ini akan menjadi tonggak kemaslahatan (rahmatan lil 'alamin) bagi kita semua. Amiin.

VISI dan MISI

Visi

Membangun dan memperkuat masyarakat - agar mengerti akan hak dan kewajibannya terhadap sesama maupun Tuhannya, berjiwa mandiri, toleran dan professional menuju capaian kemaslahatan yang Agung; rahmatan lil 'alamin.

Misi
  1. Menggali dan mengembangkan seluruh potensi sumber daya manusia secara utuh dan proporsional.
  2. Mempersiapkan generasi masyarakat yang mandiri dan bertanggungjawab.
  3. Memupuk semangat profesionalisme sesuai dengan bidang masing-masing.
  4. Menumbuhkan rasa memiliki terhadap kekayaan tradisi masyarakat serta semangat persaudaraan (ukhuwah) baru.
  5. Bersikap moderat, berdiri di tengah-tengah golongan, sebagai komitmen menjaga keseimbangan.
  6. Meningkatkan taraf hidup dan kehidupan masyarakat yang sejahtera ; baik lahir maupun batin.

OPINI [salah satunya]


Oleh : Mochamad Munib Huda*

Pondok Pesantren PETA Tulungagung, sejak tiga bulan yang lalu, terus saja berbenah. Beberapa pengurusnya, di seluruh jajaran, terlihat sibuk. Dering telpon dan semburan surat elektronik, hampir tak pernah berhenti. Bahkan, sebagian diantaranya harus bekerja lembur. Mereka sedekahkan waktunya –khusus untuk mengemban amanah tersebut.

Apa sebenarnya yang terjadi? Nah, ini yang terpenting. Mereka bukan mempersiapkan kegiatan haul –seperti setiap tahunnya, atau kegiatan-kegiatan pondok lainnya. Bukan itu. Melainkan, mereka mengawali langkah-langkah penataan diri –khususnya jamaah PETA, secara baik. Bahkan, diharapkan upaya penataan ini bisa berjalan langgeng –memiliki jangkauan yang panjang.

Diawali dengan pendataan jamaah; pengisian formulir data pribadi serta hal-hal lain yang lebih bersifat konseptual. Melalui data jamaah, nantinya, kita bisa tahu banyak hal. Tak terbatas pada keragaman pontensi sumber daya manusianya saja, tapi juga orientasi dari pengembangan potensi tersebut. Bagaimana dan ke arah mana potensi tersebut diberdayakan, kiranya akan menjadi agenda utama kita bersama.

Di sini, yang terpenting bukan hanya dalam hal bagaimana mekanisme pendataan jamaah tadi. Upaya demikian, cukup kita serahkan pada ahlinya. Yang –secara tehnis, mengerti dan menguasai tehnologi maupun kriteria-kreteria yang diperlukan. Bahwa, merubah mindset (pola pikir dan cara pandang) di kalangan jamaah PETA, adalah hal yang lebih penting lagi. Mengapa? Ini sangat erat terkait –bagaimana seharusnya hubungan seorang murid terhadap Guru Mursyidnya. Juga, bagaimana seluruh jamaah PETA –bersama-sama mengaktualisasikan serta melaksanakan tugas dan fungsi ‘kekhalifahan’ Guru Mursyid-nya dalam sebuah masa yang berbeda dari era sebelumnya –maupun tantangan masa depannya.

Tentu, upaya demikian tidaklah gampang. Di sana-sini masih banyak kita dapati alur ke-salah-pahaman maupun “pertentangan” yang –sebenarnya, tidak perlu. Ini semua terjadi, akibat pola interaksi dan komunikasi serta kepemimpinan di masing-masing kelompok jamaah PETA yang masih menganut pola yang lama. Pola interaksi pengurus kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, lebih bercorak patron-client dan bersifat rigid, ketimbang mengutamakan pola interaksi yang longgar. Sehingga, tanpa disadari, pola semacam itu justru menimbulkan sekat-sekat yang rumit.

Dalam hal ini, saya teringat apa yang pernah dialami Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid –atau biasa dipanggil Gus Dur, ketika memimpin Nahdlatul Ulama (NU). Di satu pihak, NU sebagai organisasi modern yang memiliki struktur kepengurusan sampai tingkat desa, berhadapan dengan alur kepemimpinan pesantren di pihak lain. Yang terjadi, apa yang menjadi kebijakan pimpinan NU –saat itu, tidak serta merta diikuti warga Nahdliyyin, termasuk pesantren. Kepemimpinan pesantren, ibarat “raja-raja” kecil yang memerlukan pendekatan khusus ketika harus berinteraksi dengan NU. Peran-peran kepemimpinannya, lebih banyak menghambat ketimbang memaksimalkan kebijakan NU. Maka, tak heran jika lalu muncul pertanyaan; mengapa NU selalu “terseok-seok” dalam menjalankan peran-perannya di tingkat nasional? Artinya, jumlah warga NU besar, tapi kekuatannya ringkih.

Ya, apa yang terjadi di NU hanyalah sebagian contoh kecil saja. Hal itu biasa terjadi di lingkungan kelompok social tertentu, termasuk di dalam jajaran Keluarga Besar Jamaah Pondok PETA Tulungagung sendiri. Koreksi diri semacam ini, sangatlah penting dan perlu. Dengan begitu, kita akan tahu sisi kelemahan ataupun “wajah bopeng” kita. Yang seharusnya segera kita tumbuhkan, hanyalah kemampuan diri kita berjiwa besar, mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi serta mengubur sifat ke-aku-an diri kita. Bukankah semua itu selalu dinasehatkan oleh Guru Mursyid kita?

Sekali lagi, ini terkait bagaimana merubah mindset di atas. Tidak semua pola kepemimpinan yang lama, adalah jelek. Yang kita perlukan –bagaimana kemampuan kita beradaptasi dengan tuntutan dan kebutuhan jaman itu sendiri. Setiap jaman, memiliki momentum dan pola kepemimpinan yang khas dan gaya yang berbeda.
 Pondok PETA –di bawah asuhan KH. Sholachuddin Abdul Djalil Mustaqim, Guru Mursyid kita, mengetahui secara seksama terhadap tuntutan dan kebutuhan jaman tersebut. Karenanya, beliau sendiri kini sedang melakukan upaya-upaya konsolidasi-konstruktif –khususnya, terhadap jamaah pondok PETA sendiri. Artinya, langkah konsolidasi ini dimulai dari dalam diri kita terlebih dahulu.

Dan, Alhamdulillah, kini telah lahir Sultan Agung 78 – sebagai upaya penataan (konsolidasi) jamaah PETA tadi. Bagi kita, jamaah pondok PETA, kiranya tidak ada kata “menolak” maupun “berpaling” darinya. Kalaupun masih ada yang ragu, itupun jumlahnya kecil. Dan, itu terjadi akibat keterbatasan wawasan yang mereka miliki. Upaya demikian, memang mesti harus bertahap. Tidak bisa terjadi secara tiba-tiba.

Akhirnya, saya hanya bisa mengucapkan “Selamat Bergabung” dengan Sultan Agung 78. Saya sih sudah, bagaimana dengan anda?

Tulungagung, 27 Juli 2011

*) Penulis adalah santri Keluarga Besar PETA di Jakarta
Share this article :
Comments
6 Comments

6 comments:

  1. Nanti ini bentuknya menjadi ormas?

    ReplyDelete
  2. Mungkin ini bermanfaar utk kord kecamatan :
    http://www.ziddu.com/download/15462266/SultanAgung78.rar.html

    http://www.ziddu.com/download/15462449/Panduanpengisian.rar.html

    Menawi tidak berkenan mohon dihapus

    ReplyDelete
  3. Nice blog dude! Keep it work and very useful

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Mohon dengan sangat untuk jamaah Surabaya, terutama kelompok khususiyah Ketintang atau pun jamaah pengajian Cahaya Ilahi Masjid Al
    Akbar Surabaya yang berkenan bergabung di Gerakan Sultan Agung 78, agar segera mengirimkan data sesuai form isian plus KTP dan Pas Foto via email di : den.bagus@ymail.com

    Data yang perlu dilengkapi :
    nama, tempat tanggal lahir, nomor ktp, alamat ktp, alamat tempat tinggal sekarang, no telpon, no hp yang bisa dihubungi, pendidikan terakhir, jurusan, nama suami/istri, nama anak-anak dan jenis kelaminnya, alamat e-mail dan jumlah donasi

    Jangan lupa sertakan KTP dan Pas Foto 3x4.

    Untuk mempercepat proses pengisian database, mohon datanya langsung diisikan pada format excel yang sudah tersedia [mohon didownload]

    Karena instruksi sudah sejak Mei, maka mohon dengan sangat segera ditindaklanjuti pada hari ini atau besok dan mohon disebarluaskan kepada jamaah yang Panjenengan ketahui.

    Instruksi yai :
    https://docs.google.com/viewer?a=v&pid=explorer&chrome=true&srcid=0B0xecSLFaV-_NjIwMzljMjUtYmRjMy00ZDc4LTg0MGUtYjgyMTczZTM2YzZi&hl=in

    Form Isian word :
    https://docs.google.com/leaf?id=0B0xecSLFaV-_MTE1YmQ1OWYtZTI1ZS00MDk2LWE0MTUtOTkxMjcwZTdmYjNh&hl=in

    Form Isian Excel :
    https://docs.google.com/leaf?id=0B0xecSLFaV-_ZmRlMWZiY2MtMzliMC00M2U2LWFlYTktY2RhZGI2MzM0ZmQ4&hl=in

    Untuk di luar Surabaya yang masih memerlukan informasi lebih lanjut, mohon agar langsung menghubungi Bapak Ahmad Anshori di nomor
    0817456978.

    Terima kasih. Matur nuwun sanget.

    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  5. Ass, den saya orang awam kalau mau berptsi dan menjadi jmh gmana ? Siapa yang harus saya hubungi ? tempat tinggal kudus. Matur nuwun sa derengipun. Wass

    ReplyDelete
  6. Coba njenengan hubungi Pak Ahmad Anshori, HP. 0817456978

    ReplyDelete


    








 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger