
Ora nyêkêl dhuwit ngéné iki opo yo iso ayêm atiku ?
.:: Edisi : #Ayemsorimawon
Ayêm, ora kêpingin opoopo. | Ayêm, ora kuatir opoopo.
.:: Edisi : #Ayemsori
Lebih baik hati yang berpegas dari pada hati yang berlapis baja.
.:: Edisi : #Jareku mbuh #jaremu.
Adakah garam yang tak asin ?
.:: Edisi : #Takonologi
Saat ingin lebih di:perhati-dengar:kan atau di:hormat-turut:i, biasanya pertanda usia beranjak senja.
.:: Edisi : #Semoga senja menjadi samudera, #bukan got depan rumah.
Selalu tak berjeda dalam prasangka. | Berkarib alibi menjegal segala upaya pemberdayaan diri. | Memandang di luar pandangan cinta. | Berasyikmasyuk dalam tontonan penggoyang pinggul, namun tak demikian dengan tuntunan penentram jantung. | Terlalu cepat merasa rugi, meski tidak untung tidak selalu berarti rugi. | Hanya mencela tanpa berkaca bahwa dalam diri pun ada meski pada intensitas dan skala yang berbeda. | Menggoda setan untuk menggoda diri, saat sendiri, sepi dan teralingi dari pandangan manusia. | Mengutuk, sebab belum kebagian, sambil diamdiam mengharap kesempatan yang sama. | Merasa bisa ini itu tanpa bisa merasakan siapa yang membisakan ini itu. | Menikmati pujian, bangga akan sanjungan, namun sakit hati akan celaan meski itu benar. | Belum sepenuhnya menemukan dan menjadi diri sendiri, masih berperan sesuai baju yang dipakaikan oleh orang lain.
.:: Edisi : #Gelapku
Kegelapan pun berakumulasi dan pastinya ada andilku.
.:: Edisi : #nDuding
Kalau tak mandi sehari saja badan bau luar biasa, pertanda ada yang salah dalam dada.
.:: Edisi : #Jareku mbuh jaremu
Kalau spiritual dikaitkan dengan berbagai kehebatan, satu di antaranya bisa melayang atau terbang, maka selamanya manusia akan kalah hebat spiritualitasnya bila dibandingkan dengan seekor lalat dan atau nyamuk.
.:: Edisi : #BiasaWae
Tak jua ingat, memuji berarti mencela yang lain, pun demikan mencela berarti memuji yang lain.
.:: Edisi : #Siapa punya
Sebegitu lelapkah tidur panjang ini, hingga sebuah suara yang mulai mengeras pun tak cukup tuk membangunkannya ?
.:: Edisi : #CTM
Tak kiro aku, nyatane dudu,mulane kok cik apik'e. [kikira aku, nyatanya bukan,makanya kok baik sekali]
.:: Edisi : #Kapusan [tertipu]
Semoga selalu diperjalankan, bukan berjalan sendiri, dengan menjaga kesadaran di selasela atau pun juga bersama setiap gerak dan langkah seberapa pun takarannya.
.:: Edisi : #Allahuma mbuh.
Pandirnya diri ini yang merasa tak disapa, meski slalu disapa, sederhana semestinya, sebab bukan kemewahan yang sulit memperolehnya. Maka merasakan sapaan itu selalu saja terasa wah.
.:: Edisi : #PanjenenganDalem
Meski bukan kemewahan, tetap saja selalu wah sat berjumpa.
.:: Edisi : #PanjenenganDalem
Andai bisa, kuajak saja hati dan pikiranku ngopi bareng, ben podo karepe.
.:: Edisi : #Tarung terus.
Orang jäwä selalu menjadi raja dalam dirinya sendiri.
.:: Edisi : #Umurku tuwo, nanging durung jowo.
Di siang tergesa malam, di malam memburu siang.
.:: Edisi : #Karêpé déwé
Lebih banyak yang tak masuk di akal, selama ini. Matur nuwun GUSTI.
.:: Edisi : #Rejeki
Lha kalau sudah, mau apa ?
.:: Edisi : #Tenane ?
Sebuah kesepian, saat melihat sesuatu yang tak mungkin diungkap.
.:: Edisi : #Mensunyikan kesepian.
Baru sebatas meminta-pinta, namun jarang menyapa hingga karib pun tak kunjung tiba.
.:: Edisi : #Prejenganku
Sembahyangku koyok absen pegawai.
.:: Edisi : #Prejenganku
Kasih sayangNya tampak, tetapi banyak yang mengingkarinya karena tak menyenangkan jiwanya, tak pula paham maknanya.
.:: Edisi : #Aku termasuk.
Aku berdiri di sudut ini, menepi dari keramaian di depan sana. Sejenak meredakan gelora rasa yang mengaduk jiwa. Kehampaan, kebahagiaan, keharuan, kekhawatiran dan entah apa lagi yang silih berganti berlomba unjuk diri.
Di titik ini selesai sudah atau mungkin belum. Saat kukira sudah ternyata belum, saat kukira belum nyatanya sudah. Terus meraba, terus membaca dan terus bergerak melingkari waktu.
.:: Edisi : #1
Benarlah bahwa bertaubat adalah melupakan dosa, bukan mengingat-ingatnya.
.:: Edisi : #Kelingan, pengen nggawe duso maneh.
Di tiap perjalanan, hanya ada dua keadaan di stasiun pemberangkatan, menghadap atau membelakangi.
.:: Edisi : #Luwih kerep mungkuri, aku. mBuh kowe.
Aktivitas fisik harian sangat bisa menjadi sebuah olah raga tanpa olah raga, manakala aktivitas tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran teiring perasaan yang membahagia karena dimampukan bersyukur. Menghemat detak jantung agar jatah berdetaknya tak cepat habis.
.:: Edisi : #Kirakirabegicu
nJeng Nabi, nyuwun duko ingkang katah menawi ngantos sakmeniko dalem dereng saged saestu-estu tresno dumateng Panjenengan, tresno dalem taksih dados 'abang-abange lambe'. Namung dalem nyuwun kanti sanget, kersoho Panjenengan tansah 'nyatet' dalem ing salebeting ummat Panjenengan.
.:: Edisi : #Isin
Salahku opo ?
.:: Edisi : #Salah.iku.mesti.wong.liyo.rek #Aku.gak.tau.salah
Tak ada yang tak bergiliran.
.:: Edisi : #Kudu.sabar.ben.subur.
Suara sejati hanya muncul dalam keheningan diri di tengah hingarbingar lalulalangnya inderawi.
.:: Edisi : #NengNingNangNung
Kapokku kapan ?
.:: Edisi : #Lha.kapokmu.kapan.
Baik atau pun buruk akan menjadi "semakin" saat diberi intensitas perhatian [vibrasi pikiran dan atau perasaan].
.:: Edisi : #Kricikan.dadi.grojogan
Sering merasa tak memiliki saat masih memiliki.
.:: Edisi : #Gelane keri, aku, mbuh kowe.
Kalau koma saja masih selalu kuraba, bagaimana pula dengan titik ?
.:: Edisi : #Muspro ora bejo.
Berpikir saja untuk selangkah ke depan, kalau yang sepuluh langkah belum terpikirkan.
.:: Edisi : #Anti.ruwet
Sebuah pintu di hadapanku, entah luarkah ini atau dalam ?
.:: Edisi : #Lawang.sewu
Kandang bubrah, itu urusanmu kalau yang kau bubrahkan rumahmu sendiri. Namun tak demikian kalau yang kau bubrahkan kampungmu, daerahmu, apalagi negaramu, terlebih lagi agamamu bahkan mungkin pula tuhanmu.
.:: Edisi : #Suhu.panas akeh sing dadi tumbal.
Tak perlu ada alasan bagi pendengki untuk melampiaskan kedengkiannya.
.:: Edisi : #Mager.welas-asih-loman.
Mulane akeh sandungane, sebab lakuku antarane taat karo maksiyat, antarane syukur karo kufur, antarane manut karo mbegedut, etc.
.:: Edisi : #Oplosan.ku mbuh awakmu.
Asli... PENGERAN bluasss gak butuh aku.
.:: Edisi : #Aku.sing butuh
Nek uwis arep opo ?
.:: Edisi : #Arep.opo.yo
Antaraning rong ambegan: saiki, ning kene, koyo ngene, aku gelem.
.:: Edisi : #nJembarke segaraku, mbuh segaramu.
Sering merasa tak memiliki saat masih memiliki.
.:: Edisi : #Gelane keri, aku, mbuh kowe.
Kecuali mati, hidup selalu baru, maka apalah artinya selalu menunggu tahun baru, sedang hatipun selalu diterjang badai yang mengharu biru ?
.:: Edisi : #Takon.ku gak usah dijawab
Bagaimanapun juga semua buku di luar sana hanya sebatas referensi untuk buku yang kau tulis sendiri.
.:: Edisi : #Ingat.nya padaku sore ini, entah padamu.
Ojo pedot olehmu nyenyuwun, kareben pikirmu ora kober nglokro lan atimu ora nganti tugel.
.:: Edisi : #nDerek.
Pintu sebesar apa pun, pasti "gembok"nya jauh lebih kecil dan pasti pula "kunci"nya juga jauh lebih kecil. Itu pun bisa di"bandrek" dengan alat yang jauah lebih kecil dari kunci dan pastinya pula lebih sederhana bentuknya.
.:: Edisi : #mBandrek, membuat hidup lebih hidup.
Ora usah kakehan mikir. Rasakke wae sakabehing lakumu, wiwitan nganti pungkasan !
.:: Edisi : #Bisik.ku pada benakku, entah #bisik.mu.
TAK SEMUA PERTANYAAN HARUS DIJAWAB. Banyak orang yang bertanya namun tak sungguh-sungguh bertanya, sebab ia tak membutuhkannya, namun ia hanya menginginkan jawaban yang sesuai dengan jawaban yang telah disusunnya sendiri.
.:: Edisi : #Kalibrasi personal.
Tinimbang sambat, luwih becik diniati tirakat [kanggo anak putu].
.::Edisi : #Siasat.ku, mbuh siasatmu.
Wong ampuh kuwi dudu uwong kang ora naté sudrä, lärä utowo ciläkä, nanging uwong kang bisä lilä lêgäwä nalikané nandang sudrä, lärä utowo ciläkä kuwi mau.
.:: Edisi : #Impen.ku ndek bengi, mbuh impenmu.
AKU, Aku dan aku.
.:: Edisi : #Telu
Hanya ada satu ujung yang sama dari banyak jalan yang dilalui, segelap atau seterang apa pun, selurus atau berkelok bahkan melingkar seperti apa pun itu.
.:: Edisi : #Salam katresnan.
Cahaya lampu atau pun senter atau cahaya apa pun yang kasat mata di depan wajah hanya akan menyilaukan. Lebih nyaman menyalakan cahaya cinta dalam hati yang terangnya membukakan mata memandang kehidupan tanpa silau. Cahaya cinta dan buah kebijaksanaannya semoga selalu mengakar dan bertumbuh dalam diri sebagai pengiring perjalanan hingga bahagia dan membahagiakan.
.:: Edisi : #Salam katresnan.
Saat tak ada panutan, diri kita sendirilah yang seharusnya siap untuk jadi panutan.
.:: Edisi : #Penting aplikasine | amal, gak cumak teorine | ilmu.
Berkah bagi sesama. | Mempertahankan perasaan syukur untuk setidaknya 20 detik saja akan melebarkan vibrasi energi syukur itu hingga area 2,5 km.
.:: Edisi : #Kanggoku ngono, embuh kanggomu.
Lelakonmu adile yo dilakoni. [skenario hidupmu adilnya ya harus dijalani]
.:: Edisi : #Dijewer kupingku, embuh kupingmu.
PEKOK | Ketika kulit disangka isi, ketika permukaan dikira kedalaman, ketika mainan dijadikan sesembahan.
.:: Edisi : #MAIYAH
| Kridaning ati ora bisa mbedah kuthaning pesthi. | Menggebunya semangat tak bisa mengoyak benteng takdir |
.:: Edisi : #ngGAHngGIHorakepanggih
Di dia selalu berkemungkinan ada aku.
.:: Edisi : #TepoSliro #LembahManah
Mengemis tak hanya identik dengan rendah~kerendahan, melainkan juga terkait paut dengan tinggi~ketinggian.
.:: Edisi : #GOMBALisasi
***
Semoga Anda mendapatkan kemudahan-kemudahan, atau minimum diberi kekuatan di dalam kesulitan-kesulitan. Karena orang yang dapat kesulitan kemudian dapat kemudahan berbeda tingkat kualitasnya dengan orang yang diberi kesulitan dan tidak pernah diberi kemudahan tetapi dia disangoni kekuatan, ketabahan, dan keluasan yang luar biasa sehingga hidupnya hanya berisi kenikmatan-kenikmatan berupa kesulitan yang dikawinkan dengan ketabahan, kelegowoan, kearifan, keluasan, dan sumeleh.
***
.:: Edisi : #mBahNUN
***
Saya merasa sedang “disuruh mengantarkan barang” yang banyak orang semakin tidak membutuhkannya, padahal gratis.
“Barang” itu adalah kepercayaan terhadap doa, manajemen barokah, produk la-azidannakum yang tak tersangka-sangka dari setiap kejujuran hati kita, keadilan pikiran kita, serta kemurnian sikap dan perilaku kita. Juga sebaliknya: produk inna ‘adzabi lasyadid yang juga tak terduga-duga dari kecurangan pikiran, kotornya kalbu, atau adigang adigung adiguna-nya sikap kita kepada sesama manusia.
Di atas semua itu, benar-benar semoga Allah jangan sampai memaparkan di langit ayat “wallahu khoirul makirin”, gara-gara kita makar terhadap kebenaran, kefitrian, ketulusan, dan kejujuran hidup.
***
Saya bukan siapa-siapa, saya hanyalah salah satu debu hasil ciptaan-Nya, yang sekecil apa pun diberi hak oleh-Nya untuk Ia dengarkan dan siapa tahu Ia kabulkan.
***
.:: Edisi : #mBahNUN
BEJO kuwi bertemunya kemampuan dan kesempatan.
.:: Edisi : #HORAmelunDUWE|semoga BEJO.
Gusti Allah kuwi ora nate ngantuk, ora tau sare, pirso sakabehing kahanan. Selalau memberi kemudahan semua permasalahan. Masalahnya adalah : yakin opo ora ? #TurbaSF81
.:: Edisi : #Pasrah|tekan ngendi.
Gusti Allah itu ndak pernah ngantuk dan ndak pernah sare, selalu mengawasi, manusianya saja gak merasa diawasi. Sewu siji. Soko sewu uwong, mung siji sing gelem mlebu suwargo. #TurbaSF81
.:: Edisi : #Suwargolodhang|Ngajakajak apik.
Sakabehing sing ono ning bumi lan langit, kagunganne Gusti Allah. Ora melu nduwe kok ngakuaku, mulane njur dipekso latihan ngetokke opo sing rumangsane dinduweni. #TurbaSF81
.:: Edisi : #SAPI|antarane tletong lan pedhet.
Ngajak-ajak kenal Gusti Allah, ngajak apik, lumantar akhlaq welas asih. #TurbaSF81
.:: Edisi : #KIAI|wis mestine welas asih.
Didawuhi dadi kiai kabeh.... [mikir... ?] #TurbaSF81
.:: Edisi : #KIAI|opoopo soposopo sing mbarokahi lan manfaati marang sak akehakehe liyan
Ora ono kasekten kang biso ngalahke papesthen.
[tak ada kesaktian yang mampu mengalahkan kepastian (takdir)]
.:: Edisi : #Didawuhi ngono, embuh kowe didawuhi opo.
Dadi anak kudu dowo ambeganne, dadi wong tuwo kudu luwih dowo ambeganne, opo maneh dadi kawulo alit ~ wong cilik kudu soyo luwih dowo ambeganne sukur-sukur saguh ora ambegan.
.:: Edisi : #Kandaku, mbuh piye kandamu.
Gak usah kakean protes. | Obah usregke sing nang njobo iku tergantung soko obah usregke sing nang njero.
.:: Edisi : #Jareku, mbuh jaremu.
BAIK selalu ada di segala sesuatu, seBURUK apa pun itu, tak ada yang sia-sia di kehendakNYA, berHIKMAH..
#denBagus
.:: Edisi : ngGoléki #APIK.é
Selalu saja gagal sembahyang, saat di tiapnya tak berangsur terlepas wajah kepalsuan.
#denBagus
.:: Edisi : #isin
Laku ibadah merupakan tantangan bagi nafsu, agar manusia selalu ingat dan tetap menjadi hamba saat berada di dalam ruang dan bergulir bersama waktu. #denBagus
.:: Edisi : #arasarasen
Bahkan, Musa pun harus berguru pada Khidir.
.:: Edisi : Ojo duméh.
Keajaiban kata tergantung siapa pengucapnya ~ semua mungkin terjadi saat ada damai dalam diri.
.:: Edisi : Mantra.
Men~di~dasar~i. Demi apa ... ?
.:: Edisi : DEMIkian.
Mengkadaluarsakan rasa yang tak bertuan.
.:: Edisi : No reken.
Yang terbiasa sederhana, biasanya sederhana pula dalam mengelola perasaan, sebagaimana seorang anak dalam keseharian yang sederhana yang mampu menjadikan air, pasir, batu, daun, bunga, kertas, kardus atau apa pun yang ditemui menjadi alat permainan yang menggembirakan, tanpa menunggu memiliki gadget mahal untuk bergembira dan itu membahagiakan.
.:: Edisi : Manah.
Tujuan akan menentukan arah perjalanan. Yang hanya berputar-putar, bukan karena tak tahu jalan, namun sebab tak memiliki tujuan.
.:: Edisi : Terminal akhir.
Takkan hebat dan kuat, tanpa dekat~mendekati~didekati dan takkan demikian tanpa kenal~paham~cinta. Maka agar tak hebat dan kuat, kabur~kubur~hancur~sesat~kan saja seluruh metode~jalan~jejak untuk kenal~paham~cinta itu. Sesederhana itu.
.:: Edisi : Shollu 'ala Nabiy.
Merasakan kembali kenyamanan saat mengakses ingatan masa lalu kala menjadi pengajar.
.:: Edisi : Siapa mau di[h]ajar ?
Hari libur sekali pun, nafas tak pernah ikut libur. RahmatNYA selalu mengalir. Semoga menjadi berkah.
.:: Edisi : Mewaspadai éling.
Seterik apa pun wajah mentari menyengat tubuh bumi, semoga saya dan PANJENENGAN tetap berkepala dingin, mewaspadai keliaran pikiran dengan tetap merasakan nafas, agar galau tak usil untuk mampir.
.:: Edisi : Tetap bernafas.
Sebuah tragedi, saat materi~ketenaran menjadi sebuah tujuan yang dibururebutlombakan.
.:: Edisi : Wajah kepalsuan.
Tragedi untuk makanan, saat ia disisakan tak habis dimakan, sebab ia gagal jadi manusia setelah melalui jalan panjang perjuangan hingga siap tersaji di hadapan manusia. Semoga saya dan PANJENEGAN senantiasa mendapat keberkahan, tak menyiakan makanan dengan mengambil di luar takaran kemampuan menghabiskan, selalu lahap saat makan karena sehat dan didahului lapar.
.:: Edisi : Shoima show.
Bahkan, hantu pun terbirit lari saat dibacakan doa makan.
.:: Edisi : Apale kuwi.
Hanya Eyang Google yang mau menjawab keingintahuanmu tanpa syarat apa pun. Semoga saya dan PANJENENGAN tetap dan selalu berakal sehat dengan terus memposisikan akal untuk menjaga kejernihan hati, hingga takkan menyalahkan siapa~apa~pun juga sebagai alibi saat menyadari ke~bodoh-zhalim-culas~an diri sendiri.
.:: Edisi : Esensi vs eksistensi.
Adzan Dhuhur telah menggema. Semoga hati saya dan PANJENENGAN masih berongga hingga masih dimampukan menggemakan suara hati.
.:: Edisi : Rehat.
Minggu pagi yang cerah, semoga secerah dan sehangat PANJENENGAN sekeluarga yang dengan itu semoga bisa meredakan demamnya negeri ini.
.:: Edisi : Nandur winihing pakerti.
Selalu saja mendadak gembira, kala hari mulai senja saat banyak hal telah tertuntaskan meski selalu ada yang mesti diselesaisempurnakan. Semoga PANJENENGAN pun menyongsong malam dengan gembira meski lelah menerpa raga.
.:: Edisi : Matur nuwun GUSTI.
Di saya atau pun PANJENENGAN, apa pun yang melintang di depan ~ yakin dan akan demikian adanya ~ saat ini atau beberapa saat nanti, telah dan akan terlalui dengan segala keindahannya, sepahit apa pun itu.
.:: Edisi : nDerek bingah [jagad rahsa]
Kuhardik, BERISIK !!!
.:: Edisi : Benak.
Menyeimbangkan takaran cemas dan harap.
.:: Edisi : Belum ditera.
Sedetik pun, tak kuasa merangkai cerita.
.:: Edisi : Mengkaribi tawakal.
Sakitnya terkelupas setara kelekatannya.
.:: Edisi : Mau tak mau.
Tak kuasa setarikhembusan nafas pun.
.:: Edisi : Monggo kerso.
Cêtik gêni.
.:: Edisi : Bismillah~innalillah.
Selalu saja pantulan cermin itu tersenyum saat aku tersenyum. Kira-kira, urip yo ngono kuwi.
.:: Edisi : Aamiin. [1717 X]
Mengamati, dengan pikiran bahkan segenap perasaan, hanya akan memperkuat eksistensi obyek pengamatan, apalagi jika dilakukan banyak orang.
.:: Edisi : Yang baik-baik saja, ojo anut grubyug.
Sebab pasrah, tamu itu datang tanpa diundang. Rejeki.
.:: Edisi : Aamiin. [1717 X]
Selama belum titik selalu ada kemungkinan berubah, entah lebih baik atau yang sebaliknya.
.:: Edisi : Tak ada kuasa.
Tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan dengan kebahagiaan yang tanpa sebab.
.:: Edisi : Belum merdeka, nyatanya.
Hanya perlu sedikit kesadaran tentang keterbatasan ruang dan waktu bagi makhluk, untuk menerima kenyataan.
.:: Edisi : Kepekso lilo.
Hanya perlu banyak manusia bahagia untuk mendamaikan dunia.
.:: Edisi : Berdamai dulu dengan diri sendiri untuk bahagia.
Salah pikirku, memburukkan prilakuku.
.:: Edisi : Detoks pikiran
Semestinya begini, namun kalau kenyataannya begitu... ya sudahlah.
.:: Edisi : Gitu aja repot.
Sebegitu kelamkah, hingga untuk menghibur diri dengan kegembiraan yang sesaat saja harus selalu mencari di gemerlapnya malam.
.:: Edisi : Dulaplip.
Marah... sebab selainku, salah !!!
.:: Edisi : Sabar, apa harus menunggu renta ???
Belum tercerahkan.
.:: Edisi : Ongap-angop sebuah parameter.
Tenang, tak tersilaukan ~ tak terpilukan oleh segala keberuntunan yang menyapa dalam segala rasa, smoga menjaga keterhubungan rahmat hingga menjadi berkat.
.:: Edisi : Tititp siji.
Di setiap mengapa, pasti selalu karenaku, bukan mu~nya, titik.
.::Edisi : Lubang di hati.
Ilusi, membuat ambisi tak pernah kehabisan amunisi.
.:: Edisi : Siang pun menjadi malam.
Saat kuacuhkan berbagai kekhawatiranku, ternyata dan nyatanya munculah wujud harapan yang kulupakan.
.:: Edisi : Ahad, siji, kok prei ?
Sebab kedamaian hatiku lebih berharga, tak berbandng dengan ~ bila hanya untuk menyimpan luka, menyemai dendam dan mengobarkan amarah, maka kumaafkan emgkau ~ siapa atau apa pun di yang telah lalu, titik.
.:: Edisi : Maafku untukku.
Antara 0 dan 1.
.:: Edisi : Biner, sesederhana itu namun tak juga sederhana.
Tahu itu memang perlu ilmu, namun semakin banyak yang diketahui, sebenarnya akan semakin banyak pula yang belum diketahui. Maka berendah hati akan tahu dan ketidaktahuan itu sendiri akan membuka cakrawala pandang yang lebih luas dan menyeluruh, hingga akal yang terbiasa merumitkan diri untuk TAHU akan beriring dengan rasa untuk PAHAM dengan sederhana dan itu baru akan terjadi saat ILMU ditransformasikan menjadi LAKU.
.:: Edisi : Mendadak Minggu.
Saat harapan tak menapak di bumi keyakinan, jadilah ia kekhawatiran dan saat kebahagiaan tak diberi tempat pada ruang jiwa, jadilah ia kesedihan.
.:: Edisi : Lingsir wengi.
CAHAYA, demikianlah ia adanya, tak bisa diperbesar, tak pula bisa diperkecil, yang hanya bisa ialah seberapa luas ruang yang kita berikan untuknya agar bisa menyebarkan terangnya.
.:: Edisi : Sering kusimpan dalam laci.
Begitu sering "manusiawi" kujadikan benteng perlindungan yang sebenarnya sangat rapuh, saat kuingkari kesadaranku sendiri.
.:: Edisi : Alibi basi.
Saat selalu diacuhkan, kadaluarsa sangat bisa terjadi pada cinta, rindu, simpati, hormat dan yang lainnya apa pun itu, termasuk juga rejeki.
.:: Edisi : Syarat dan ketentuan berlaku.
Tak bisa tidak, selalu tersisa "korah-korah" di penghujung setiap pesta pora apa pun itu. Banyak yang mau pestanya, tak banyak yang mau "korah-korah"nya.
.:: Edisi : Misi, korah-korah.
Selalu ada yang baru kutahu di setiap pertemuan baru yang selalu bukan benar-benar kebetulan.
.:: Edisi : Selalu DI bukan ME.
Kesesuaian diri dengan diri yang lain dengan skala imajiner kesamaan lebih dari delapan puluh lima persen merupakan sarana berkaca diri, baiknya baikku, buruknya burukku, asal berani jujur tentunya takkan babak belur, asal tak takabur biasanya selalu mujur.
.:: Edisi : Tumbu oleh tutup.
Selalu tersayat sunyi di sepanjang hingar bingarnya ritual pesta.
.:: Edisi : Kemlangut.
Yang diamdiam memberhala~tahayulkan diri, bersiaplah DigelincirKan oleh ketaktaatan agar segera kembali meng~abdi.
.:: Edisi : Kepleset plesetan mleseti.
Menunggu memang melelahkan jiwa, namun kesadar-relaan menjalaninya akan membuat waktu terasa melambat dan itu mempercepat jiwa mencahaya, mendewasakannya.
.:: Edisi : BUKAN membunuh waktu, tetapi memperlambatnya.
Bukan masalah me-ninggi~kultu
.:: Edisi : Bayek.
Tak ada yang tak bermakna, tak ada yang tak berarti, tak ada yang tak bermaksud.
.:: Edisi : Ada apa dengan kamsud.
Di mana~saat~hal apa pun, keLALAIanku selalu menyisakan LELAH.
.:: Edisi : Lali~nglali.
SAAT INI, tak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan. Dia yang tidak hanya datang dan mendekat saja tetapi juga terutama membaikkan diriku itulah yang sedang dikirimkanNya untukku.
.:: Edisi : Ahlan wa sahlan.
Respon ketakrelaan diri atas situasi yang sedang dialami bisa dititéni dengan menegangnya daerah dahi di sekitar pangkal alis.
.:: Edisi : Éling Bro...
SAAT INI, yang sedang hilang~berakhir
.:: Edisi : Jarin~babahkan.
KeINGINan terlalu sering menyeolahindahk
.:: Edisi : Pengen mabur.
SAAT INI, yang terjadi memang harus terjadi.
.:: Edisi : Babahin~jarkan.
SAAT INI selalu diriku telah beranjak TUA, namun juga selalu MUDA saat melangkah meniti waktu yang selalu baru, tak lepas pula dari diriku yang selalu ANAK-ANAK saat sengaja melepas kesadaran berpikir yang selalu terbatas dan membatasi.
.:: Edisi : Photoshop~layer
Dari sepuluh frekuensi yang datang, bisa jadi hanya satu atau dua saja yang masih belum terinterferensi
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Menikmati tak selalu nikmat, saat menikmati bermakna menyediakan diri menjalani saat ini, di sini dan seperti ini.
.:: Edisi : Memang basa basi.
Saat kata tak lagi dimaknai, diam adalah jawabnya.
Diam memberikan ruang bagi keangkuhan menemukan kerendahannya, bagi cinta menemukan keagungannya, bagi rindu menemukan kedekatannya, bagi keliru menemukan pengakuannya, bagi benar menemukan keteguhannya, bagi ilmu menemukan realitanya, bagi kepalsuan menemukan kesejatiannya, bagi waktu menemukan saatnya, bagi bayang-bayang menemukan dirinya dan bagi ketergesaan menemukan ketenangannya, serta bagi keinginan menemukan kebutuhannya.
.:: Edisi : Diam-diam menghanyutkan.
Kepada siapa semua kata akan kembali, terutama rahsa di balik ungkapan kata ? Memuji/
.:: Edisi : Alhamdulillah.
Dalam segala hal, yang tak pernah bersedia membumi takkan benar-benar melangit. Melangitnya bukan untuk mengokohkan pijakan kakinya di bumi, tetapi malah membuatnya melayang tak tentu arah, sebab biasanya hanya sekedar merasa melangit atau mencari langit yang lain kalau toh ada atau memperbandingka
Membumi itu mengilmui, memahami, meyakini, menyatukan diri dan mengkholifahi.
.:: Edisi : Ibu bumi ~ bäpä angkäsä.
Setiap kelahiran adalah kebangkitan dari kematian yang telah lalu. Entah berapa banyak yang telah berkali-kali mati tanpa terlahir kembali.
Hanya kelahiran yang melahirkan kelahiran barulah yang pantas disebut hidup dan hanya kematian yang meninggalkan jejak kelahiran untuk kelahiran barulah yang juga pantas disebut hidup. Selain itu, mati.
.:: Edisi : CAHAYA penyerap kegelapan [ngurupké urip].
Selamanya, takkan pernah bisa memahami orang lain sebelum menyediakan diri untuk melepas sudut pandang yang dipakai untuk memandangnya, karena sudut pandang yang dipakai selalu menciptakan prasangka sebelum realita, maka biasanya realita yang ada pun selalu dalam bingkai prasangka.
.:: Edisi : Memandang tanpa memandang, kriyip-kriyip.
Tak baik, bisa jadi bukan karena benar-benar tak baik namun hanya karena tak sesuai selera saja. Maka saat selera yang menjadi parameter, semua hal bisa menjadi tak baik, sebab selera itu selalu "rewel" dan yang "rewel" biasanya yang belum dewasa.
.:: Edisi : Maknyus ~ lodeh rewel, sambel crazy, ikan asin.
Langit itu rumit, tak usahlah diimtip. Cukuplah di bumi dengan sebaik-baiknya membumi.
.:: Edisi : Kemlangit.
Segala peristiwa, semua fenomena dan seluruh kisah nyata yang terhampar akan tersia begitu saja saat tak ada kesadaran meremah hikmah yang pasti dan selalau ada menyertainya, bahkan justru di susdut-sudut kecilnya yang sering tak terhiraukan.
.:: Edisi : Rasah maido.
Yang tak pernah sengsara, jauh dari musibah, berjarak dari kekurangan dan terhindar dari kekhawatiran belum tentu jauh dari salah dan khilaf, sebab bisa jadi sedang di"ujo" dengan tak dilihatNya.
.:: Edisi : Selalu ada keterbatasan ruang dan waktu.
SPRITUAL, sebuah pendakian jiwa yang selalu SEPI dari RITUAL pesta poranya keinginan untuk mengkapling TUHAN dan menjadi Tuhan. Kalau tak demikian, bukan spiritual namanya, hanya sekedar makelar komoditi spiriNGtual.
.:: Edisi : Cik kêndêlé.
Ada yang tak berubah sejak aku beranjak dewasa hingga saat ini beranjak tua, seakan jalan di tempat kalau tak mau dikatakan jalan mundur ke belakang, hingga selalu tergoda untuk mengelus dada.
.:: Edisi : KELURAHAN, kapan sadarmu ? Ben ora tansah ngGUAPLEKi.
Yang sukanya mengeluh biasanya tak perlu solusi, maka tak usah merepotkan diri memberi solusi, sebab yang diperlukannya cuma pendukung untuk membenarkan pikirannya tentang keluhannya. Opo yo ngono ?
.:: Edisi : Ora usah kakean sambat, minum saja jamu TOLAK SAMBAT.
JUM'AT yang lalu-lalu tak seJUM'AT JUM'AT ini, sebab yang lalu tak lagi JUM'AT hanya sekedar kenangan tentang JUM'AT.
.:: Edisi : JUM'ATnya JUM'AT.
Tasawuf, sufisme bukan kaum penyembuh manusia dari sakit. Sufi adalah jalan penyehatan hidup jasmani-rohani.
Wirid bukan keajaiban, ia hanya alat sederhana yang diperlukan oleh kelemahan manusia agar jiwa dan pikirannya tidak terpecah melebar ke segala sesuatu yang melemahkan hidupnya. Sesungguhnya, wirid memelihara fokus dan konsentrasi hidup manusia pada suatu titik yang paling pantas dan rasional untuk ia jadikan pusat perhatian dan tujuan. Kalau konsentrasi itu prima, maka kreativitas intelektualnya menjadi efisien dan efektif. Atmosfer kejiwaannya juga terhindar dari kepulan-kepulan takhyul yang merupakan isi utama dunia.
Penyakit kejiwaan seperti stress, depresi, paranoid, dan sebagainya berasal dari perlawanan hati manusia terhadap kewajaran hidupnya, jiwanya kalah dalam peperangan itu. Di sisi lain, pikiran manusia tidak membawa dirinya pada peletakan diri di titik koordinat nilai hidup yang paling sehat.
Hati manusia tidak bekerja sama dengan konsep pikirannya dalam menentukan ke mana ia memandang, apa yang harus ia kejar dan jangan dikejar, apa yang primer dan sekunder, apa yang semestinya disembah secara total dan apa yang silakan disepelekan saja
.:: Edisi : mBah Nun, dawuh.
Karena tak percaya dirinya ada, maka dia~mereka [beberapa bulan ke depan sampai dua tahun ke depan] akan memasang gambar dirinya~lukisan
.:: Edisi : Super badutz, mbegedud.
Skala Prioritas. Bagi saya, materi itu nomor 17, bukan yang nomor 1. Sayangnya dan nyatanya, nomor 1 sampai 16 masih kosong.
.:: Edisi : Mana uang... mana uang... ?!
Setinggi-tinggi
.:: Edisi : Atribut nisbi.
Banyak hal yang hanya bisa dirasa, tak terungkap walau ingin mengungkap, selalu terbata kala berkata sebab menyimpan makna di balik gejolak jiwa.
.:: Edisi : He... he... he...
Tak ada awal yang tanpa ada akhirnya, tak ada pula akhir yang tak berawal kembali, sebagaimana angka 8, itulah waktu. Semakin menyedikitnya sisa waktu, SEMOGA selalu dalam PITUlungan / pertolongannya Gusti Allah untuk SIJI~nyawiji~menyatu denganNYA, dengan me-nyawiji-kan niat me-nyawiji-kan ilmu dan laku dalam mengABDI memayu hayuning bawono.
Tak hanya memayu hayuning bawono, namun juga ambrasta dur angkoro. Angkaranya dajjal yang telah nyata mengendalikan segala bangsa, membelenggu ruh, mengkerdilkan jiwa, menipu akal, mengakali pikiran, menyihir kesadaran, menuhankan keinginan, mengagamakan materi, memecah persatuan, melebarkan perbedaan, memperuncing permusuhan dan pastinya mendiktekan segala skenario penguasaannya.
Maka berhala materi harus dihancurkan dengan menyatukannya di satu titik, menuju, menjadi dan agar mempunyai "bargaining power" terhadap hegemoni dunia.
Maka dalam diri pula harus terus diputari~dilingkari dengan metodologi asma' termutakhir untuk mengkaliskan jejak-jejak dajjal, agar tak kehilangan "jabang bayi"nya sendiri hingga bisa selamat "nyawiji" dengan Gustinya.
.:: Edisi : 7881
Saatnya merayakan menyedikitnya sisa waktu dengan pesta pora di kedalaman jiwa, membakar segala penyesalan hingga lepas mengangkasa dan meniup terompet kesadaran yang memekakkan serta membangunkan tidur panjangnya kealpaan akal.
.:: Edisi : Merayapi waktu.
Andai Sayyidina Umar mampu dan diijinkan Kanjeng Nabi untuk membunuh dajjal, selesai sudah ceritanya.
Kalau jalan cinta dipenggal dan dikuburkan, hendak ke mana akan melangkah pulang ? Yang hendak pulang dibelokkan ke kios-kios cinta, dengan label-label cinta yang sudah amat dangkal maknanya. Apus-apus~ngapusi~diapusi.
Maka tetaplah beragama asal itu sebatas identitasmu, asal tetap dangkal penalaranmu, asal tetap kasar perangaimu, asal tetap radikal gerakanmu, asal kemuliaan tak menjadi akhlaqmu, asal ilmu tak menjadi lakumu, asal cinta tak menjadi samudra jiwawu. Apus-apus~ngapusi~diapusi.
.:: Edisi : Jabang bayiku durung ketemu.
Membuat resolusi awal tahun itu memang perlu, namun lebih perlu lagi mengingat lagi semua rasa syukur di tahun lalu. [Selamet aku kumpul karo wong apik-apik, dadine melu apik senajan kepekso].
.:: Edisi : Loe Gue FRIend.
Butiran debu yang menempel di dahi itu, diperintahkan olehNya menyerap pancaran buruk pikiran saat kepala mau merendahkan diri merunduk ke bumi, hingga pemilik dahi makin lama merunduk makin ariflah ia, bukan sebaliknya.
.:: Edisi : Tak sekedar stempel.
Tak pernah cukup kalau tak mencukupkan diri : melihat yang di dalam bukan yang di luar, melihat yang di bawah bukan yang di atas, melihat yang sudah ada bukan yang belum ada, melihat yang kecil bukan yang besar, melihat yang sekarang bukan yang tadi atau nanti.
.:: Edisi : ngAlhamdulillah.
Dia yang menghina pasti merasa sempurna, dia yang memaki pasti merasa tinggi dan dia yang mengumpat pasti merasa terhormat.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Hidup itu perjalanan, jadi nikmati saja hingga akhirnya sampai. Kalau menganggap hidup sebagai sekolah, jangan protes kalau banyak PR dan ulangan mendadak di samping selalau ada ujian yang terjadwal.
.:: Edisi : Milih endi ?
Masih sulit berkelit dari tuntut~menuntut dalam sebuah rasa~merasa "taat" di balik kata "yakin" yang belum bermakna demikian.
Melangitkan keinginan dalam munajat doa tanpa menyerahkan dan merelakan pilihan terbaik pada pengetahuan dan kekuasanNya, bisa jadi bermakna "nantang perkoro" alias cari masalah.
Bukan karena kembang~menyan, bukan sebab japa~mantra dan bukan pula sebatas sembur~suwuk, anggapan hati dan akalkulah yang sering bengkok~miring~rancu~pekok~kop
.:: Edisi : Klenik~nglenik, delapan puluh persen.
Tak kuundang kau datang, tak kuantar pun kau pulang.
.:: Edisi : Tak hanya jailangkung.
Ke mana jiwa letih ini kuletakkan, setelah raga letih ini kuletakkan di atas tikar.
.:: Edisi : Ayu Ting-Ting.
Pengalaman yang ditempuh seseorang bisa jadi merupakan suatu kebenaran baginya, namun tidak berarti kemudian menjadi parameter kebenaran bagi orang yang lainnya.
.:: Edisi : Sebatas referensi.
Kutolak kaudatangi, kuterima kautinggal pergi.
.:: Edisi : Masalah.
Kukejar kauberlari, kudiam kauhampiri.
.:: Edisi : Rejeki.
Wira-wiri koyo wong edan.
.:: Edisi : Wiridan, pengejawantahan di dunia luar.
Cerminku buram~retak / ku~buram~retakkan ?
.:: Edisi : Wis ngerti.
Peka dan sadar akan hal-hal remeh yang tampak mata, sederhana namun tak mudah.
.:: Edisi : Mukasyafah.
SKAK. Kalah~buyar, ditata lagi, main lagi, semangat lagi.
.:: Edisi : Meski permainan, tetap ada aturan. Mainkan.
Istimewa bukan sempurna. Sempurna, menjadi dan menjalani "biasa"nya masing-masing.
.:: Edisi : Ngurupke urip.
Wuwu, metode menjebak, masuk tanpa bisa keluar, terjebak dalam dalam rahmat.
.:: Edisi : Welas asih.
Saat ikan menanyakan di mana air.
.:: Edisi : Merem.
Hormat bermakna mensyukuri realita tanpa terikat padanya.
.:: Edisi : Pangerten, kepekaan.
Soal ujian selalu masih menjadi misteri saat belum diujikan, bila tak demikian, bocoran namanya.
.:: Edisi : he... he... he...
Tak tertolak ~ diterima ~ langsung ~ tanpa jeda. Suatu perintah, yang DIA mendahului 'melakukannNya', tak demikian di perintah yang lain.
.:: Edisi : Shalawat.
Dahsyat ~judul bukunya, isinya belum tentu. Sukses penulisnya~kalau seminar bukunya laku. Kalau mau "isi" tengoklah yang judulnya kelihatannya tak berisi, siapa tahu menemukan "isi". Kalau mau "motivasi" jenguklah yang tak bertujuan memotivasi, siapa tahu "termotivasi".
.:: Edisi : Ada kalanya.
Lagak ~mempesona, ucap~membangkitkan asa, ilmu~harganya membelalakkan mata, namun kalau makin menguatkan ego, provokator namanya, meski atas nama Tuhan, lama-lama Tuhan hanya sekedar obyek pelengkap. Salah sendiri rupanya, berbuat baik saja perlu tukang kompor.
.:: Edisi : Menguat atawa melebur ?
fas -aluu ahla dzdzikri in kuntum laa ta'lamuun - Bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui.
.:: Edisi : Bukan ahli pikir.
Ketawa ~ketiwi senyam~senytm cengar~cengir, kumpul sana~sini, potrat~potret, bahagia kelihatannya, nyatanya sekedar fatamorgana perias wajah kerontang jiwanya.
.:: Edisi : Gak sedikit.
Andaikan ~seandainya~kalausaja "dulu", tak pernah terucap oleh sang putera waktu, sebab hidupnya saat ini, di sini, seperti ini dan sudah.
.:: Edisi : Saiki~saat ini.
Keliru ~salah~bengkok bisa menjadi seakan betul~benar~lurus, saat nikmat~menikmati~dinikmati berulang berbalut seribu alasan.
.:: Edisi : Salah kaprah atawa benar kaprah ?
Mendengar perlu kerendahhatian, sebagaimana bertanya yang perlu ketulusan dan seperti juga membaca yang perlu pengosongan.
.:: Edisi : Luwih gampang ngomong.
Andal ~diandalkan~mengandalkan diri~ku~mu~nya selamanya takkan pernah memperringan~menyelesaikan~mengurai segala soal~coba~uji~ingat. Tak usah ada tanya, jawabnya jika dan hanya jika bersedia memilah-memlih urusanku bukan urusanNYA.
.:: Edisi : Menyerahlah untuk menang.
Siang memang bergiliran dengan malam, namun sejatinya siang selalu bersama malam, tak pernah lebih lambat dan tak pernah pula lebih cepat. Kesadaranlah yang memahami siang bergilir dengan malam ataukah siang bersama malam.
.:: Edisi : Dualitas semu.
Segala lakon kebaikan yang pernah tertulis~terbaca terucap~terdengar tertampak~terlihat pasti akan dan selalu kontra dengan realita lakon yang sedang dijalani oleh masing-masing orang selama masih menguatkan akunya, namun tidak demikian bagi mereka yang mau menyerap lakon kebaikan itu menjadi lakunya, hingga membumi dalam dirinya.
.:: Edisi : http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10151133207742445&id=96375967444
Mustahil meredakan badai yang sedang mengamuk, mungkin hanya bisa berusaha diam meski teramuk badai.
.:: Edisi : Unpredictable.
Satu kata ungkapan jiwa lebih mengena dalam makna bila dibandingkan seribu kata hasil olah logika.
.:: Edisi : Kangeeennnnnnn.
Dunia tak semua hitam, tak juga putih semua, di antaranya ada abu-abu, warna-warni yang lain pun ada dan memang demikianlah gusti Allah menciptakan.
.:: Edisi : United colors of ndonya.
Bisikmembisik jegalmenjegal dorongmendorong cegahmencegah tarikmenarik kacaumengacau paksamemaksa elakmengelak belamembela hindarmenghindar, riuh ~ gaduh ~ berisik yang tak asyik.
.:: Edisi : Yang mana dikau, suarahatiku.
Dipuja -puji ~ memuja-muji, laksana terpuja-puji, terobsesi hingga terpalingkan~memalingkan~dipalingkan hatinya, terlena dari kesadaran dan terbius oleh rayuan masal yang bodoh~membodohkan.
.:: Edisi : Diam-diam menghanyutkan.
Saat hati penuh cinta, perasaan membahagia sejuta rasa, pikiran pun beraneka warna, ucapan dan perbuatan pun biasa membahagiakan mereka yang di luar sana dengan berbagi walau hanya secuil doa.
.:: Edisi : Begicu tho ?
Perasaan gembira dapat dibangkitkan dengan berolah raga, namun tak hanya itu, olah raga malah dapat membuahkan ketenangan dan kebahagiaan saat dilakukan dengan kesadaran taat risalah menjaga amanah raga.
.:: Edisi : Nyicil push-up.
Tak ada satu pun yang bisa mempengaruhiku kecuali memang aku menginginkannya.
.:: Edisi : Tolak sihir ~ iklan ~ setan.
Kesadaran bukan masalah tidur, jaga atau pun mimpi. Kesadaran juga bukan masalah otak beta, alfa, theta atau pun delta. Namun, kesadaran adalah bagaimana diri kita menyadari dengan sadar seluruh perasaan, pikiran, ucapan dan tindakan kita, dalam keterhubungan dengan seluruh kehidupan dan tentu saja yang pertama dan utama adalah dalam keterhubungan diri kita sebagai abdi dengan Allah sebagai Gusti, sehingga tidak ada penyesalan.
.:: Edisi : DI SINI TIDAK ADA PENYESALAN
Dzikir membuka gerbang jati diri ruhani, khusyu' memperlebar jarak dari segala keterikatan serta kemelekatan, sedangkan wirid meningkatkan kualitas kesadaran diri secara menyeluruh.
.:: Edisi : Catatan pribadi.
Jati diri, bagai logam mulia atau intan berlian, dia tak ditemukan begitu saja, baru terkuak saat kita bersedia menggali jiwa kita lebih dalam.
.:: Edisi : Catatan pribadi.
Apa iya untuk sayang harus kenal dulu ?
.:: Edisi : Tak kenal maka tak sayang, katanya.
Jarak merupakan satuan ukuran dalam dimesi ruang, tiap koordinat ruang yang satu pasti berjarak dengan koordinat ruang yang lain, namun tak berlaku untuk rasa, sebab pada rasa tak ada dekat atau pun jauh, yang ada hanyalah satu dan menyatu.
.:: Edisi : Catatan pribadi.
Meski tak diakui, setiap saat dalam interaksi selalu terjadi tarik menarik energi, saling menghisap energi. Maka, kita akan merasa tak nyaman dengan mereka yang tak sependapat, tak sepaham, tak sehaluan dan tak-tak yang lain, sebab kita tak bisa menghisap energi mereka.
Bahkan, sahabat kita, bukan karena selaras, tapi lebih karena kita menghisap energinya sebab kita masih memerlukan pengakuannya tentang diri kita.
Maka banyak kisah, sahabat berbalik jadi musuh, bukan sekedar musuh biasa melainkan musuh bebuyutan.
.:: Edisi : Éling lan Waspädhä.
Ada kalanya ada sesuatu yang dihindari, ada sesuatu yang diinginkan dan diusahakan untuk bisa lepas, namun tak kunjung terlaksana, karena nyatanya diam-diam menikmati sesuatu itu.
.:: Edisi : Lem Swi King, raja lem yang lekatnya lama.
Dalam diam seribu bahasamu, tetap saja kau mencandaiku. .:: Edisi : Kebatinan.
Untuk apa ? Kalau sudah, untuk apa ? Kalau juga sudah, untuk apa ? Kalau itu pun sudah, untuk apa ? kalau juga sudah, untuk apa ? Terus untuk apa ? Lalu untuk apa ? Selanjutnya untuk apa ?
.:: Edisi : Penipu ~ menipu ~ tertipu ~ ditipu ~ ternyata ~ nyatanya ~ nyata.
Ke mana hendak mengadu, kala hati berbisik rindu
Ke mana mau berkata, saat jiwa menyapa rasa
Ke mana akan melangkah, ketika bahagia menjamah raga
.:: Edisi : Limang watt setengah.
Kenapa diistilahkan "buang hajat" ? DAN untuk buang hajatnya anggota (...)ewan saja sampai perlu 1,4 M, sebuah nilai yang "wajar" untuk renovasi sebab itulah cermin mahalnya sebuah hajat, hajatnya syahwat, syahwatnya politik, politiknya kekuasaan, kekuasannya uang, uangnya tuhan, tuhannya syahwat.
.:: Edisi : Oalah yo... yo...
Sebab kepentingan tertentu, fakta sejarah sering dikabur-kuburkan.
.:: Edisi : JASMERAH, jangan sekali-sekali melupakan sejarah.
Seorang anak kecil usia sekolah dasar berjualan jajanan seribu rupiah per bungkus, sang ayah tergolek sakit di rumah, sakit jantung. Si anak setiap hari ke depot Padang [yang jual baik, mau melayani, alhamdulillah], beli nasi saja tanpa lauk dengan diguyur kuah rendang atau kuah yang lainnya, dua ribu rupiah, untuk makan ayahnya, dia sendiri tidak, mungkin hanya sekali sehari.
.:: Edisi : Cermin, realita yang tak hanya satu. Pilunya, maluku.
Menyerap kebaikan, bisa jadi hanya menjelma sampah, saat kebaikan yang diserap tak juga membaikkan diri sendiri dan tak juga berbuah kebaikan bagi diri yang lain.
.:: Edisi : Seribu guru, segudang buku, selangit ilmu, selaut tahu dan sepadang hikmah, akan tersia saat tak menjadikan beningnya kalbu dan mulianya prilaku.
Seorang anak kecil usia sekolah dasar berjualan jajanan seribu rupiah per bungkus, sang ayah tergolek sakit di rumah, sakit jantung. Si anak setiap hari ke depot Padang [yang jual baik, mau melayani, alhamdulillah], beli nasi saja tanpa lauk dengan diguyur kuah rendang atau kuah yang lainnya, dua ribu rupiah, untuk makan ayahnya, dia sendiri tidak, mungkin hanya sekali sehari.
.:: Edisi : Cermin, realita yang tak hanya satu. Pilunya, maluku.
Jangan pernah sekalipun, dengan "intensitas kebencian yang sangat", menjustifikasi fenomena alam di suatu wilayah semata karena menganggap penduduknya tak beriman pada Tuhan kita, meski mungkin demikian adanya, sebab justifikasi yang hakiki hanyalah milik TUHAN. Cukuplan menjadi pelajaran, tak usah ada kebencian sebab kebencian itulah yang berbahaya apalagi jika dilakukan bersama dalam jumlah manusia yang buanyaaak. Pancaran kebencian itu akan menarik fenomena alam yang serupa ke wilayah asal pancaran kebencian. Biasanya begitu.
.:: Edisi : Jagad Cilik, Jagad Gêdhé.
Selamanya, memperbaiki takkan pernah bisa dilakukan dengan mencaci, pun demikian dengan perduli, tak mungkin dengan cara memaki. Itu hanya pantas untuk diri sendiri, bukan untuk yang lain.
.:: Edisi : Diriku, dirimu, dirinya baik, Indonesia pun akan baik.
Ada satu hal yang terdekat yang selalu dapat disyukuri, meski tengah berada di berbagai masalah dan di beragam persoalan. Satu hal itu adalah nafas, sebab pada detik ini pun ada banyak manusia yang nafasnya telah terhenti.
.:: Edisi : Jagad Cilik, Jagad Gêdhé.
Tak juga mencapai titik tahu diri, malah larut terkagum dan terobsesi saat diri-diri yang lain melakukan hal-hal yang terlihat besar, Namun adakah yang sejatinya lebih besar dari tahu diri ?
.:: Edisi : Prestasi
Tak sanggup sejenak pun melepaskan ingatan dari anak/istri/suami/keluarga, pekerjaan, berbagai masalah dan ragam persoalan, walau tahu namun tak juga mau tahu bahwa semuanya terbatas dan dibatasi, hingga selalu saja menajdi sebuah obsesi yang tak kunjung henti, hingga pula sering berteman resah dan berkawan galau, namun tak pernah sekalipun berkarib yakin bersahabat pasrah dalam cinta sejati.
.:: Edisi : Lupa, lupa dan lupa.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk selalu mentransformasikan rahmat menjadi berkat, dengan membaikkan proses menyerapnya dan mengabdikannya dengan memperluas manfaat, hingga menemukan titik bahagia di dalamnya.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tiba-tiba merindu walau tak pernah bertemu, tiba-tiba pula ingin bersua walau tak pernah jumpa dan tiba-tiba pula hendak menyapa meski tak pernah berkata.
.:: Edisi : Sugeng sonten.
Ono dino ono upo.
.:: Edisi : Ono dino ono upo.
Malam selalu berselimut sepi berbalut sunyi, saatnya menyendiri. Tak demikian dengan dunia malam.
.:: Edisi : Dulaplip.
Tenang aja, semua masalah itu solusinya cuman satu : ndak usah mikir !!!
.:: Edisi : Wisik mBah DhrunH.
Setiap diri selalu unik. Diriku, dirimu, dirinya.
.:: Edisi : Indahnya ku-mu-nya.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk selalu mengacuhkan segala pujian, apalagi bila datangnya berulang dan berlebihan, agar tak ada kesempatan untuk kehilangan diri sendiri dengan bertindak, berlaku dan bersikap hanya demi pencitraan diri sebagaimana yang dipujikan orang. Berlaku juga untuk celaan, hinaan dan makian kalau itu hanya akan mengkerdilkan diri sendiri, kecuali untuk berkaca diri sehingga lebih melejitkan potensi diri.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Duduk berjajar di berm jalan, di sebuah tikungan, di salah satu sudut kota, berbekal peralatan sederhana penyambung nyawa: cangkul, linggis, sekop dan godam, tak lupa sebotol air yang bukan mineral. Menunggu rejeki datang, kiranya ada yang datang memberi kerjaan. Kerjaan hari ini, rejeki hari ini, makan hari ini dan sudah. Besok ya besok, dipikir lagi.
.:: Edisi : Menunduk ke bumi.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk selalu berusaha sederhana dalam melihat ke"indah"an bahwa segala sesuatu sejatinya adalah "indah". Karena saat "indah" itu terlihat kalau ada "sebab", maka pasti kita akan kehilangan "indah" itu saat "sebab"nya tiada.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tenaganya luar biasa, meski asupan gizinya hanya tetumbuhan berwarna hijau yang pahit rasanya, tanpa diolah, tanpa penyedap rasa, tanpa bumbu, tanpa ada esetetika dalam penyajiannya. Minum pun sekedar air mentah yang sering tak jelas kehigienisannya, tanpa gula, tanpa teh atau pun kopi. Contoh efisiensi energi.
.:: Edisi : Jaran, sapi, kebo lan sapanunggalane.
Teruslah berpura-pura mencintaiku sampai kau lupa kepura-puraanmu.
.:: Edisi : WoW.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk segera berkaca diri ~ saat "harap" tak kunjung mendarat, saat "ingin" tak juga beriring dan saat "target" masih enggan dijangkau ~ bisa jadi kita telah menjadi hambanya harap, ingin dan target itu dengan menggebu dan mengingatnya selalu hingga lalai - melalaikan - dilalaikan dari mengabdi kepada yang menjawab harap, yang memenuhi ingin dan yang mewujudkan target. .:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk selalu menimbang kadar kesadaran dengan membandingkannya dengan kadar nafsu. Tahu diri, dengan tidak "menantang" sebuah pengabdian atau pun "memaksa" sebuah anugerah bila itu hanya dilandasi oleh hasrat nafsu, bukan oleh terbitnya kesadaran.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk tetap menjaga momen-momen hidayah yang menyebabkan bisa berbuat baik, dengan tidak mengaburkannya dengan merasa memiliki kebaikan itu, membanggakan dan menganggap rendah mereka yang belum melakukan kebaikan itu.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Mentari, demikian ia adanya, selalu setia menyinari, tak ada malam baginya. Siang atau malam hanyalah sebatas pilihan bagi bumi, hendak menghadapnya ataukah akan membelakanginya.
.:: Edisi : Sugeng enjing.
Waktu akan, terus dan selalu bergulir, hingga siang bersama malam serta siang dan malam pun bergilir, pun demikian dengan rejeki, mengalir.
.:: Edisi : Lubér ~ ambér, dadi.
Tetap "Eling lan Waspodho", kalau "di" dan / atau "ke" mana-mana tercium "bau", jangan-jangan diri kita sendiri yang ber"bau" atau mungkin juga diri kita yang malah menularkan "bau".
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", separuh hari telah terlalui, banyak juga yang telah terjadi, tentunya mungkin sangat mewarnai situasi emosi. Mari bersegera menghalau segala perasaan galau juga pikirang yang kacau, bersegera memasuki rumah jiwa kita sendiri ~ hati ~ menemui Gusti yang sejatinya selalu menemani.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk selalu mendoakan orang tua, orang tuanya orang tua, orang tua orang tuanya orang tua dan seterusnya ke atas, sebab bisa jadi karena laku dan doa mereka semuanyalah saat ini hidup kita tercahayai, serta untuk selalu juga mendoakan anak, cucu, anaknya cucu dan seterusnya ke bawah, sebab doa kita saat ini untuk mereka bisa menjadi sebab tercahayainya kehidupan mereka.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk tidak menyakiti diri sendiri dengan memelihara kekecewaan, kemarahan, kebencian dan dendam pada siapa pun yang telah menyalahi, menyakiti, mengingkari dan seterusnya, sebab sejatinya mereka sedang dipinjam oleh Tuhan untuk menempa kedewasan dan mematangkan jiwa kita agar lebih siap menerima anugerahNya di depan sana.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", pada saat sekarang, untuk selalu mengusahakan dan memilih sebab yang baik agar nanti semoga berakibat yang baik pula, karena kemanusiaan kita tidak terlepas dari sebab-akibat.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", untuk selalu merawat cinta, kasih dan sayang pada keluarga ~ pasangan, anak, orang tua, saudara ~ yang menjadi salah satu pilar penyangga baiknya negeri ini. Baik keluarganya, baik pula negerinya.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", agar bombardir informasi tak menyebabkan diri kehilangan kendali, tersihir secara masal ~ ikut-ikutan ~ hingga terpesona oleh yang ditampakkan namun sejatinya telah jauh dari esensi yang sengaja dikabur-kuburkan. Hanya sekedar menerima syariatnya informasi tanpa mau mentarekati informasi hingga benar-benar paham dan merasakan hakekatnya informasi yang terpapar
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "Eling lan Waspodho", tak ada perubahan besar tanpa dimulai dari perubahan kecil. Tak ada perbaikan di luar sebelum yang di dalam membaik.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Tetap "eling lan Waspodho", segala sesuatu yang terpaparkan di hadapan kita adalah cermin yang mungkin memantulkan bayangan diri kita sendiri.
.:: Edisi : Ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Gembira itu biasanya dangkal dan sesaat, jadi mudah dicari, cukup keluar dari diri sendiri dan akan banyak kegembiraan yang di dapat. Tidak demikian dengan bahagia, ia hanya dapat ditemukan di dalam diri masing-masing orang, rasanya dalam dan tidak hanya sesaat, sebab dalam bahagia selalu ada muatan-muatan nilai yang melandasinya.
.:: Edisi : Wani ora usum.
Di negeri ini yang jelas hanyalah rakyat, itu pun tak benar-benar berdaulat. Yang lain tak ada kejelasan, mana negara mana pemerintah, mana presiden mana direktur, mana parpol mana perusahaan, mana aparat keamanan mana preman, mana pahlawan mana pecundang, mana gedung dewan mana pasar hewan. Namun demikian, dari berbagai ketakjelasan itu ada satu kejelasan yang sama, yaitu perut mereka yang tak pernah kenyang.
.:: Edisi : SesuaFu.
Selalu, selalu dan selalulah berharap agar tak sempat tipis apalagi putus harapan.
.:: Edisi : Status mBah Dhrunh.
Air pun tak selalu jernih, apalagi wajahmu !!!
.:: Edisi : Diomeli mBah DhrunH.
Kesadaran waktu menentukan kadar kenikmatan saat menikmati sesuatu. Rasa nikmat itu jika dan hanya jika menikmati sesuatu sekarang. Kala menikmati sesuatu sekarang namun pada kesadaran waktu tadi tentang sesuatu itu, bisa jadi kadar kenikmatannya akan sangat jauh berkurang, karena kenikmatan sekarang diperbandingkan dengan kenikmatan tadi.
.:: Edisi : Tak cukup dengan dua gunung emas.
Sebab "pas-pasan" dan tak ada yang dicadangkan untuk keperluan tertentu, maka tak punya prasangka apa-apa dan harapannya selalu baik. Biasanya pas butuh, pas ada.
Yang mencadangkan untuk suatu keperluan yang dikhawatirkan terjadi, biasanya cadangannya pasti terpakai untuk sesuatu yang dikhawatirkan itu.
.:: Edisi : Lancar jaya.
Di semua hal, di segala sesuatu dan juga pada setiap siapa pun pasti ada suatu pola ~ apa pun itu ~ yang pasti pula selalu berulang. Itulah siklus. Yang tak mau tahu tentang siklus, biasanya sering terkejut karena tak siap peredam kejut.
.:: Edisi : Bukan akrobat.
Saat sakit, di manakah sebenarnya letak rasa sakitnya ?
.:: Edisi : Menyelam.
Di setiap tadi, sekarang atau pun nanti, semoga dibisakan dimaafkan, semoga pula dimampukan memaafkan dan semoga juga selalu diampuni, agar tak ada yang menghambat langkah kaki saat beranjak pergi menapak dan merangkai misi pribadi kalau toh memang mengerti hendak ke mana dan akan bagaimana saat diperjalankan menuju akhir waktu.
.:: Edisi : Ngrogoh kasur.
Cincin ~ ali-ali ~ ojo nganti lali. Seberapa pun daya shakti yang tersemat di dalamnya, takkan berarti apa pun saat pemakainya tak waspada menjaga kesadarannya, hingga lalai ~ dilalaikan ~ melalaikan. [daya shakti : muatan nilai / deklarasi niat / prasasti peristiwa / doa penyangga / ...]
.:: Edisi : Bukan penyedap rasa.
Ternyata, kidal itu kiri dari lahir.
.:: Edisi : Lha kalau kadal ???
Yang tadi takkan mungkin diganti, sebab ia tlah mengabadi. Yang termungkinkan hanyalah memaknai kembali agar yang tadi tak membebani diri.
.:: Edisi : Peace man...
Tadi adalah kepastian.
Nanti adalah kemungkinan.
Sekarang adalah pilihan.
.:: Edisi : Dipilih ~ memilih ~ pilihan ~ kemungkinan menjadi kepastian.
Nyuwun mentahan saja Gusti...
Ada yang tak perlu no. rekening ?
.:: Edisi : Gak perlu ikhlas, yang penting banyak.
21:35 ~ Lubang hidung kiri lebih lancar dari lubang hidung kanan, perasaan mendominasi. Mohon maaf, tidak menerima permintaan mikir.
.:: Edisi : Pikiren dhewe.
Banyak hal yang akan terkuak lebar pada setiap pertemuan dan perbincangan secara langsung, hal yang tak akan terjadi dengan hanya membaca sebuah tulisan, betapa pun lihainya sang penulis.
.:: Edisi : Ngrogoh sak.
Selalu, orang pintar kalah sama orang bejo.
.:: Edisi : Jamu tolak mikir.
Tanggal 15, waktunya "padhang mbulan", beli kue terang bulan / martabak manis, makan sekeluarga. Semoga terang juga hidupmu sekeluarga dalam arti seluas-luasnya. Kata adalah doa, prasangka adalah doa, pun demikian dengan simbol, ia doa juga.
.:: Edisi : Wisik mBah DhrunH.
Bersyukur karena bahagia atawa bahagia karena bersyukur.
.:: Edisi : Ora usah digagas.
Membalik keadaan memang tak semudah membalik telapak tangan. Hanya tekad yang kuat yang mampu meredam hinaan, hanya keteguhan yang mampu melandaikan curamnya pendakian dan hanya keberserahan yang mampu mendatangkan lebihnya kemampuan. Hingga saatnya dimampukan membalik keadaan dan hingga sebuah senyum yang selalu tersungging di bibir, meski masih juga menetes buliran air di sudut mata, namun semata karena bahagia.
Tertebus juga akhirnya keterpaksaan tirakat sejak belia usia.
.:: Edisi : Melu seneng.
Tak hendak berlaku aniaya, sang Mpu selalu membakar, menempa dan memahat sebongkah logam agar mengindah menjadi keris. Keris pun makin mengkristal indahnya saat menyediakan diri dijiwai jiwa sang Mpu pembuatnya.
.:: Edisi : Ini tentang per-empuan.
Ilmu yang telah menyatu tak perlu jeda waktu saat terungkap dalam prilaku. Itulah laku yang bukan lagi ilmu. Itulah air dari mata air tenangnya hati bukan dari riak ombaknya pikiran.
.:: Edisi : Nggrojog.
Lagi-lagi ketemu orang yang tak bisa diatur waktunya juga tak bisa mengatur waktunya, sebab semat-mata benar-benar sejatinya telah diperjalankan olehNya, mengejawantahkan kehendakNya. Asli, bukan KW apalagi yang palsu.
.:: Edisi : Gasing
Pembawa mandat dan pendengar mandat.
.:: Edisi : Jelas beda.
Segala peristiwa yang terlalui dengan "deg-degan" akan menjadi ingatan yang kuat. Kalau membahagiakan tak menjadi soal, namun kalau sebaliknya itu yang harus dikaliskan.
.:: Edisi : Degan ijo.
Yang kasat mata seolah-olah hasil kerja keras upaya kemampuan kita, itulah rejeki yang masuk akal. Yang selain itu, rejeki yang tidak masuk akal. Banyak yang mana ?
.:: Edisi : Rejeki tak hanya uang.
Menahan nafas beberapa saat merupakan gerbang pembuka bawah sadar. Niat~doa dengan menahan nafas berarti juga memasukkan niat~doa itu ke bawah sadar, sehingga biasanya lebih terwujud nyata dalam laku keseharian untuk mengikhtiari niat~doa itu.
.:: Edisi : Megeng napas.
Yang tak bahagia cenderung tak suka melihat yang lain bahagia. Menciderai kebahagian yang lain merupakan kebahagiaan tersendiri untuknya.
.:: Edisi : Sing waras ngalah.
Standar ganda sering dipergunakan dalam menyikapi sesuatu, meski mungkin tanpa disadari. Saat siang terang bederang, ada sesuatu yang dicaci maki, diperolok dan dicela tanpa jeda. Namun saat malam, dalam kegelapan hatinya sendiri, diam-diam menginginkan hal yang sama dan berharap kapan dapat kesempatan untuk itu.
Sama seperti setan yang selalu dikutuk-kutuk, namun diam-diam suka menjadikannya santapan, dibuat bubur. Bubur setan ireng.
.:: Edisi : Bubur setan ireng + jujur kacang ijo, maknyos...
Saat jengah mulai menyapa sebab tak cerahnya suasana, menertawakan diri sendiri yang ada di dalamnya itulah obatnya, sambil menahan diri menunggu akhir kisahnya, seperti apakah gerangan.
.:: Edisi : Mengeluh bukan karakter pimpinan.
Puluhan sms yang terkirim dari HPku hari ini tak mungkin sampai di nomor tujuan hingga aku yakin akan sampainya dan kurelakan melepas sms itu dari HP dengan menekan tombol kirim, melupakannya tanpa ragu sedikitpun tentang sampai tidaknya.
Walau tak paham teknologinya, ikuti saja prosedurnya.
.:: Edisi : Prosedur tak kasat mata mewujudkan asa.
Saat mata menangkap peristiwa, selalu saja pikiran meliar menciptakan bayang-bayang prasangka yang tak terjamin kebenarannya.
.:: Edisi : Daya tipu pikiran, mengerikan.
Tak cukup dengan diam saja, menanggapi keadaan yang tak sesuai harapan, harus segera bergerak, memutari segala sudutnya, agar terkuak cakrawala ilmu baru yang disamarkan di situ.
.:: Edisi : Selalu siap.
Salah satu tanda kematangan adalah tenang dalam memproses, diproses dan berproses, hingga input yang baik akan menghasilkan output yang baik. Meneguhkan, mencerahkan dan menentramkan. Tak demikian bila setengah matang apalagi bila mentah, biasanya outputnya malah menggoyahkan, memburamkan dan menggelisahkan.
.:: Edisi : Lha piye maneh ?
Bagaimana jiwa bisa terdidik, kalau tak ada jiwa terdidik yang mendampingi di lintasan waktunya ? Bagaimana pula bisa terdidik kalau pendidiknya malah sibuk berjual beli ? Apalagi bila yang tak terdidik jiwanya merupakan potensi bagi pasar jual belinya ?
.:: Edisi : Potret buram.
Perempuan, menyimpan energi yang dahsyat yang tak dimiliki oleh seorang lelaki. Jangan pernah menjadikannya obyek gurauan, sebab dia ibumu, dia saudaramu, dia anakmu, dia istrimu... ya perempuan itu.
.:: Edisi : Relakah engkau jika mereka diguraukan.
Baik~benar yang terucap~terungkap dari siapapun~apapun, takkan pernah membangkitkan suksma, tidak juga menorehkan rasa atau pun menghadirkan iya apalagi sampai mengejawantah dalam laku~sikap~budhi~pekerti, saat seseorang tak mau menyediakan dirinya untuk terbuka menerima cahaya Tuhannya.
.:: Edisi : Asyiknya buka-bukaan.
Kita jalani hidup dengan sikap kristal: kerjakan yang baik di mana pun dengan apa atau siapa pun. Dipacu dengan rasa syukur dan sangka balk terhadap hari esok sehingga yang kemarin masih kita sangka, hari ini menjadi doa, besok menjelma fakta. #EAN
.:: Edisi : mBah NUN, dawuh. Aamiin.
Layang-layang memang bisa ditarik-ulur saat memainkannya, namun seterampil apa pun pemainnya, tak akan bisa bermain tanpa ada angin yang menerbangkannya. Pemain bukan angin, benang bukan angin, layang-layang bukan angin juga.
.:: Edisi : Ora usah mbok tafsiri.
Selalu saja merasa bisa bergerak, nyatanya hanya jalan di tempat, sekedar bergerak menginjak bumi di tempat yang sama, tanpa sadar kaki-kaki waktu terus menginjak dan menggilas diri, bergerak dengan sesungguhnya gerak, melesat cepat ke depan tanpa jeda sedetik pun. Di sini hanya tinggal bayangan sunyi tanpa arti.
.:: Edisi : Bukan tentangmu, ini tentangku.
Penari tak pernah mengaku dialah tarian, pun demikian tarian, juga tak hendak mengaku dialah penari. Tinggal pilih penari atau tariannya ?
.:: Edisi : Penari dan tariannya. Ini tentang rasa, bukan selera.
Tak hanya burung, kata-kata pun bukan tak mungkin untuk bersayap. Yang terpikir malah bukan termaksud, yang terasa itulah ia.
.:: Edisi : Kata punya rasa.
Meski telah pernah membaca sebuah kisah, mendiamkan keseluruhan diri seakan belum pernah membacanya saat mengulang baca kisah yang sama, merupakan hal yang mengasyikkan, sebab selalu dan tetap tergoda mengetahui akhirnya.
.::: Edisi : Selalu ada hal baru di kisah lama.
Indahnya malam terlihat indahnya hanya dengan diam.
.:: Edisi : Diam-diam memabukkan.
Gelisah selalu akan dan pasti akan, saat melihat yang di luar diri [apa pun itu, juga siapa pun itu], kala prahara di dalam diri belum juga direda, mereda dan reda.
.:: Edisi : Karepmu opo ?
Kalau sudah mau apa ?
.:: Edisi : Setiap ingin.
Meniru [bagaimana pun detail peniruannya] tahapan proses dari setiap pencapaian-pencapaian prestasi dari seseorang, tetap saja tidak bisa sama hasilnya. Sebab, di setiap pencapaian itu selalu ada momen-momen hidayah yang tidak bisa dikejar juga yang tak bisa dihindari.
.:: Edisi : Provokator mastery.
Di dalam sebuah tenda di bawah luasnya kolong langit, mungkin seperti mengkhususkan wirid untuk tujuan tertentu saja atau mempersepsikan semdiri sebuah dawuh yang multidimensional atau juga mengkebiri bekal keluarbiasaan potensi diri pemberianNya.
.:: Edisi : Ngedekke tendo ning ngarep omah.
Iyalah namun jangan langsung iya, untuk menguji kebenaran katanya, kalau engkau terlanjur berprasangka.
.:: Edisi : Wisik mBah DhrunH, khusus untukku.
Berjalan, perlu yakin. Yakin, tak perlu tahu, namun perlu diam. Sebab, yang tak diam, tak kalis godaan, hingga goyah atau bahkan berbalik arah.
.:: Edisi : Pokok'e aku yuakin, mbuh piye carane.
Sekedar gembira itu mudah, namun tak demikian dengan bahagia, sebab bahagia merupakan sebuah pilihan yang memerlukan kesadaran. Di bahagia ada nilai-nilai yang menentramkan, bukan menggelisahkan.
.:: Edisi : Soda gembira vs mega mendung.
Cara termudah agar tidak kePIKIRan adalah dengan tidak memPIKIRkannya.
.:: Edisi : Ning, neng, nang, nung, MATUNG.
Membantu orang lain menjadi lebih baik, jauh lebih mudah dibandingkan dengan membantu diri sendiri menjadi lebih baik.
Opo yo ngono ?
.:: Edisi : Sepertinya begicu.
Manusia merasa baik saat melihat manusia lain yang lebih buruk darinya, namun jarang yang mau melihat manusia lain lagi yang lebih baik dari dirinya. Maka saat manusia lain mau berubah dari yang buruk menjadi baik, diam-diam banyak yang tidak suka akan perubahan itu, sebab mereka jadi tidak punya obyek keburukan untuk diperbincangkan, dicela dan direndahkan.
.:: Edisi : Masihkan diriku manusia ?
Rencana itu perlu dan harus, asal tidak menuhankan rencana apalagi merencanakan tuhan, hingga "ngoyo" atau "kemrungsung" atau "nggege mongso" atau tergesa-gesa atau bernafsu, harusnya pasrah mengalir, tenang, terkendali, intuitif dan berakhlaq.
.:: Edisi : BISA vs DIbisaKAN
Makan, asal makan saja, tak pernah hirau akan tubuh yang memprosesnya, lelahkah ia, beratkah ia atau relakah ia. Hanya hirau pada rasa yang terkecap di lidah.
.:: Edisi : Maapin ya... matur tengkyu.
Kadang memunjukkan sesuatu yang "istimewa" itu harus, kalau memang itu bisa melunakkan yang keras atau menundukkan yang tinggi atau juga mencerahkan yang pudar.
.:: Edisi : Ning, neng, nang, nung, PAWANG.
Taat atau pun maksiatnya manusia, tak sekalipun mengurangi jatah pemberianNya yang telah ditetapkan. Tanpa syarat.
.:: Edisi : Mbuh nikmat mbuh azab, yang penting hepi ?!
Numpang eksis atas nama pembelaan dengan prilaku yang justru menjelekkan nama yang dibela ? Ah... setali tiga uang. Belum tentu yang dibela mengurat darah dalam diri dan jiwanya.
Edisi : Dan Panjenenganipin hanya tersenyum, senyum yang tak tertandingi.
ADAKAH yang dulu pernah merencanakan, bahwa di saat ini berada di tempat ini dalam kondisi ini dan sedang menjadi ini dengan segala hal yang melingkupinya ? Padahal dulu hanya seorang bayi yang hadir telanjang tanpa daya dan tak membawa apa pun juga ?
.:: Edisi : DIperjalanKAN, entah bagaimana dengan Panjenengan
Kopi tanpa gula bisa saja tak terasa pahit saat seseorang mampu menjadikan itu sebagai hal baru dengan mengemdalikan diri untuk tak mengakses kenangan tentang manisnya gula.
.:: Edisi : Asal kau pandang wajahku, kopi manis pun terasa pahit.
Kalau perlu, seisi dunia pun akan dilahapnya, memperbesar dirinya dengan menghanguskan yang lainnya. Dia itu api yang tak terkendali.
.:: Edisi : Lagu lama tentang keserakahan, kesewenangan, penindasan dan penguasaan.
Jujur itu kacang ijo. Enak, sehat, murah dan tak melelahkan.
.:: Edisi : ngGaya... tak demikian dengannya.
"Opo Jare..." sebuah semangat menyongsong hari esok atau sebuah keputusasaan menanti hari esok ??? | t.i.p.i.s. | s.a.m.a.r. | k.a.m.u.f.l.a.s.e. |
.:: Edisi : Menyerahlah untuk menang.
Lauknya makan itu lapar, bantalnya tidur itu kantuk.
.:: Edisi : Sugeng ngaso saliro, REBAH.
Ngintir, ning ojo kintir. Ngéli, mung ojo nganti kéli.
Menghanyutlah, namun jangan sampai terhanyut.
.:: Edisi : Pangsit mBah Dhrunh ~ kêntir yo kêntir, ojo nêmên-nêmên.
Sebuah paradoks... diam ~ tak bereaksi, mereaksi, direaksi. Mengarahkan pandangan dengan tak memandang. Memilih dengan tak memiih.
.:: Edisi : Kesempitan dalam kesempatan, DUMEH.
Cara terbaik untuk memperbaiki apa atau siapa / hal atau sesuatu adalah dengan menerimanya terlebih dahulu, bukan dengan menolaknya secara langsung. Menerima berarti menyapa dan menyetarakan serta mempersaudarakan.
Ora opo-opo, sing uwis yo uwis... sing durung diati-ati....
.:: Edisi : Apa tolak angin jadi terima angin ??? Gak payu...
Untaian kata juga barisan aksara, tak pernah sekalipun memuat makna, sampai bersua dengan pendengar dan pembacanya yang membandingkan dengan referensi yang terekam dalam dirinya.
Sanggahan bergegas menampakkan eksistensinya saat tak sesuai dengan refernsinya. Pun begitu juga dengan ya, saat bersesuaian dengan referensinya. Yang pasti, ada juga saat "heng", kala tak ada satu pun referensi yang ditemui dalam dirinya.
.:: Edisi : Kapan terakhir kali engkau melakukan hal yang pertama kali engkau lakukan ??? Pasti "heng".
Sabar itu tak pernah sekali pun mempertanyakan tentang kapan berakhirnya sabar itu sendiri.
.:: Edisi : Tokan-takon ae bar... bar...
Cinta itu tak pernah menanyakan tentang pertemuan dan perpisahan, juga jauh dan dekat. Pertemuan atau perpisahan, pun demikian juga dengan jauh dan dekat, itu bukan cinta, tetapi jarak.
.:: Edisi : Tentang apa ya ... ?
Tak perduli apa pun warnamu, bayanganmu tak pernah sekali pun tergoda untuk tak hitam.
.:: Edisi : Bukan dhemit.
Banyak hal atau suatu yang baru tampak saat melihat atau mengamatinya, banyak pula yang baru muncul saat memikirkannya dan tak sedikit juga yang baru wujud saat merasakannya.
Mengamati, memikirkan dan merasakan merupakan proses yang memerlukan kesadaran. Kesadaran membentuk realita, maka manusia dengan kesadarannya merupakan bagian dalam mekanisme terbentuknya realita.
.:: Edisi : Nyadar engga sih... NIAT.
Para pembelajar sejati yang menggali ilmu dengan "dalam" biasanya akan menemukan bahwa "benar" akan berlawanan dengan "benar" pula, sehingga saling mebenarkan.
Berbeda dengan pembelajar yang hanya asal gali sehingga cukup dengan "dangkal" saja. Bila demikian, "benar" yang ditemukan biasanya akan selalu berlawanan dengan "keliru" sehingga mudah sekali mengkelirukan yang lain sebab membenarkan dirinya sendiri.
.:: Edisi : Ngêduk sumur atawa ngêmut susur ?!
Andai ada "benang ruwet" dalam kehidupan kita, tidak bisa tidak, harus melihat ke dalam dan memperbaiki atau bahkan memutus "karma" kita sendiri. Ini solusi, bukan janji.
.:: Edisi : KARMA, aKAR MAsalah.
Mengajarkan ilmu dengan "harga" yang "murah" apalagi cuma-cuma, hanya akan menyia-siakan ilmu itu sendiri, sebab biasanya mereka yang mendapatkan ilmu dengan "harga" yang "murah" apalagi cuma-cuma akan menyia-siakan yang mereka pelajari.
Namun, "harga" itu sendiri tidak identik pula dengan nominal "dollar" tertentu, sebab "harga" itu bisa berupa kesediaan sang pembelajar ilmu untuk melintasi ruang, menempuh jarak dan melalui waktu menuju ke "sumber" ilmu.
.:: Edisi : Provokator MASTERY, persiapan.
Yang perasaannya selalu gelisah karena merasa tersaingi, sudahilah, jika tak demikian, makin jayalah "pesaing"mu sebab energimu engkau alirkan kepadanya.
Bersyukurlah mereka yang dianggap saingan tanpa bersikap sebaliknya, sebab selalu mendapat suplai energi dari mereka yang menganggapnya pesaing.
.:: Edisi : Engkau jual aku beli.
Masjid-masjid "tua", meski sederhana dan apa adanya, lebih bernuansa "memanggil" jika dibandingkan dengan masjid-masjid baru yang megah dan moderen. Salah satu sebabnya adalah bahwa penentuan lokasi, proses membangunnya dan segala keterkaitannya lebih bersifat "intuitif" a-teori yang tidak mungkin ditemui pada bangunan masjid baru yang penuh hitungan pada konstruksi dan arsitekturalnya.
.:: Edisi : Selaras dalam harmoni semestaNYA.
Karena "dosa" orang lain berbeda merek/bentuk/model dengan "dosa"nya sendiri itulah, sering manusia menghujat/mencela/menggunjing "dosa" yang lain itu.
.:: Edisi : Karepmu piye ?
Tak ada musuh yang sebelumnya tak menjadi sahabat. Tak ada pula sahabat terbaik, melainkan sebelumnya menjadi musuh.
.:: Edisi : Tom & Jerry.
Bayanganku pun tak mau mengikutiku, saat aku masuk ke ruang gelap tanpa cahaya.
.:: Edisi : Peteng jingglang, padhang ndedet.
Kerelaan saat memberi bantuan kepada orang lain, kadang sering luntur saat di kemudian hari orang yang dibantu telah bisa "berdiri". Lunturnya kerelaan itu seiring dengan munculnya keinginan untuk mendapatkan pengakuan atas bantuan yang dulu diberikan.
.:: Edisi : Iyakah ?
Menanam bayangan juga akan hanya menuai bayangan.
.:: Edisi : LoA.
Bobot ~ bibit ~ bebet , tak hanya pada perjodohan, melainkan juga pada persahabatan sekaligus permusuhan dan segala hal yang ada interaksi di dalamnya.
.:: Edisi : Kebijaksinian JAWA.
Gêlêm ngalah kudu wani ngalih.
.:: Edisi : Wisik mBah DhrunH
Andai doa semua manusia serentak langsung dikabulkan dalam wujud sebagaimana yang dipintanya, pasti akan kacaulah dunia.
.:: Edisi : Mergo karep ra podo.
SUAMI-ISTRI itu tak hanya harus seiya sekata, namun lebih dari itu harus sejiwa hingga tak ada beda, hingga seakan satu nyawa dengan dua wujud rupa.
BerSYUKURlah kalau mempunyai istri yang DImampuKAN untuk bisa bersama-sama menertawakan apapun yang sedang menjadi "reribed".
[Nyenggol nyaine... Bundane Cah-Cah, mugiyo ora kesel ngguyu... he... he... he... alhamdulillah ~ matur nuwun]
.:: Edisi : Sigarane nyowo, GARWO.
Ibarat KALKULATOR, kisah kehidupan kita sudah tersedia semua nilainya di dalamnya. Tinggal bagaimana kita menentukan pilihan untuk melakukan operasi hitungnya.
Hasil yang keluar sangat tergantung dan sesuai dengan operasi hitung yang kita pilih atau putuskan.
TERNYATA, pilihan atau putusan kita tersebut sebenarnya adalah pilihan-NYA atau putusan-NYA.
Arêp ngéyél piyé manéh to kowé ?!
.:: Edisi : Sebab musabab.
Memikirkan perasaan dan merasakan pikiran, sering menimbulkan ketidaknyamanan, namun sebenarnya juga bisa untuk melepaskan ketidaknyamanan itu sendiri.
.:: Edisi : Mumet ora kowe ?
IYA ya IYA , TIDAK ya TIDAK. Sesederhana itu namun menjadi tak sederhana saat kita tak mau mengenalinya, hingga "salah" bisa jadi di"benar"kan demikian sebaliknya, hingga berdoa bisa bermakna memaksa, hingga ibadah menjadi nafsu, hingga putus asa dimaknai pasrah, demikian seterusnya dan demikian sebaginya.
.:: Edisi : Jujur setan ireng.
Manusia menyangka dirinya baik. Namun saat dia menyediakan diri untuk jujur dan netral mengenali dirinya, yang sering ditemui adalah kenyataan tentang dirinya yang masih jauh dari baik. Timbullah rasa malu dalam dirinya menemui kenyataan itu. Kebaikannya tak lebih dari lapisan-lapisan topeng yang dikenakan untuk menutupi bopeng wajahnya.
Maka, banyak manusia yang enggan mengenali dirinya sendiri karena menghindar dari rasa malunya sendiri, hingga tak kunjung sadar diri.
.:: Edisi : MULAT SARIRO HANGRASA WANI
Harga termahal yang harus dibayar untuk sebuah "asuransi" atas kepemilikan jiwa maupun harta adalah kerelaan untuk tidak melekat atau tidak merasa memiki jiwa atau harta itu sendiri. Semakin takut kehilangan akan semakin menghilang dan berapa pun yang diganti oleh asuransi, takkan pernah benar-benar sanggup menggantikan yang hilang itu.
.:: Edisi : Tak pernah benar-benar memiliki, sekalipun.
Mengetik teks tanpa spasi antar kata hanya akan memahitkan mata. Namun teks tanpa kata alias spasi saja, juga tak ada maknanya. Begitupun kehidupan, harus ada spasi di antara berjalannya waktu, agar hidup lebih hidup.
.:: Edisi : Spasi ~ jeda ~ pause.
Eling !
Ayo padha dilakoni !
Durung menang yen durung wani kalah,
durung unggul yen durung wani asor,
durung gedhe yen durung ngaku cilik.
.:: Edisi : RMP Sosrokartono
Saiki , kene, ngene, aku gelem.
.:: Edisi : Terapi "ora melu nduwe" ~ Ki Ageng Suryomentaram.
Benarlah bahwa silahturohmi memperluas rejeki.
Anak-anak ~ lebaran ~ rejeki.
.:: Edisi : Bagi hasil.
Betapa sulit menjaga kesunyian di dalam diri, di tengah keriuhan di luar diri.
.:: Edisi : Unjung-unjung.
Menang ?! Kembali ?! Fitri ?! Hahahahahaha... bertahun-tahun yang terjalani masih selalu jauh... tak kunjung dekat !!!
.:: Edisi : Prikitiew.
Yang berjalan ke dalam dirinya sendiri, kadang kala sedikit aneh, "wani ora usum", sebab mereka, setelah tiga Matra Dasar yaitu garis, bidang dan ruang, ada matra keEmpat yaitu RASA.
Berbeda dari kebayakan manusia yang meletakkan Waktu pada matra keEmpatnya. Meski Waktu itu relatif, tetapi tetap ada ukuran material pada waktu. TIDAK demikian pada RASA.
RASAlah yang pada akhirnya mereka gunakan untuk memberikan makna pada segala fenomena dan realita. Bukan hal yang aneh, namun sering dipandang aneh.
.:: Edisi : Wani ora usum.
Tirakat pertama yang harus dijalani adalah bagaimana menjadikan hati menjadi WELAS ASIH dengan menyandarkan diri pada WELAS ASIHnya dia Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Hati yang penuh cinta.
.:: Edisi : ailupyupul.
Lembaran -lembaran ilmu mempunyai kesanggupan untuk "memotret" realita tetapi sangat jarang yang mampu "merekam" geraknya.
.:: Edisi : Pasti namun tak pasti, tak pasti tetapi pasti.
Sudahkah ? Banyak rejeki, banyak ilmu, banyak tahu dan banyak-banyak yang lain sudahkah membawa kebiasaan banyak berbagi, banyak melayani, banyak menambah kualitas dan kuantitas ibadah dan banyak baik-baik yang lain ???
.:: Edisi : Parameter.
Anak adalah cerminan orang tua. Seperti apa anak, seperti itulah orang tuanya, sebab yang dilihat anak pertama kali adalah orang tuanya, sebab pula anak tidak hanya berkomunikasi secara verbal dengan orang tuanya namun juga non verbal. Getaran perasaan dan pikiran orang tua sangat dominan mempengaruhi getaran perasaan dan pikiran anak.
Maka, menyadari dan menelusuri pola negatif pada diri kita sendiri sangatlah perlu, adakah kemungkinan pola tersebut merupakan duplikasi dari pola orang tua kita ? Jika YA, segeralah me-reset pola negatif tersebut agar tidak berlanjut dan tidak terduplikasi lagi kepada anak kita.
Jangan kontra pada pola negatif orang tua, jika kita memelihara pola negatif yang sama. Jangan pula kontra dengan anak jika polanya negatif, bisa jadi itu duplikasi pola negatif kita.
Hanya keSADARan yang bisa memperbaikinya.
.:: Edisi : CERMIN, éling lan waspädhä.
Dalam lingkup "akademis", "dia" yang memwisuda seorang sarjana pertama tentunya bukan seorang sarjana. Adakah para sarjana memiliki "silsilah" kesarjanaannya sampai "dia" yang pertama kali memwisuda sarja pertama ?
Hanya yang memiliki "silsilah", yang "sahih" ilmunya, "dijamin" kebenarannya dan "pas" takarannya.
.:: Edisi : Asal-usil. SILSILAH, bagi mereka yang mau berberpikir.
Bagaimana bisa mencari kalau tak tahu apa yang dicari ?
Bagimana bisa bertemu kalau alamatnya palsu ?
Bagaimana bisa menapak kalau tak juga memilih jalan ?
Dan bagaimana yakin jalan yang dipilih adalah benar kalau tak ada yang memandu ?
Bisa-bisa kehabisan waktu.
.:: Edisi : Singkatnya waktu.
Negativitas dalam diri baik perasaan maupun pikiran memang harus segera dilepaskan agar tak merusak jalan kehidupan kita sendiri. Nah, langkah pertama melepaskan hal itu adalah dengan menerimanya terlebih dahulu. Setelah itu barulah memaknainya kembali hingga negativitas itu benar-benar terlepas dari diri kita.
Menerima itu berarti tak beralibi, jujur mengakui dan menyadari masih ada negativitas itu dalam diri kita.
Takut. Melepas takut adalah dengan menerima takut itu sendiri, mengakui dan menyadari bahwa takut itu masih ada dalam diri kita. Tidak usah diberani-beranikan.
Marah. Melepas marah adalah dengan menerima kemarahan itu sendiri, mengakui dan menyadari bahwa diri kita masih marah dan belum bisa memaafkan. Tidak usah disabar-sabarkan.
Tidak khusyuk dalam peribadahan. Terima, akui dan sadari bahwa memang belum bisa khusyuk. Tidak usah dikhusyuk-khusyukkan.
.:: Edisi : Melepaskan dengan menerimanya.
Harapku sederhana...semoga disederhanakan niat dan keinginanku memasuki bulan RAMADHAN agar bertambah, semakin dan menjadi "ngeh" akanNYA dan bukan "kemrungsung" serta "kemaruk" berburu pahala yang dilipatgandakanNYA.
Semoga DIA memperkenalkan diriNYA, sehingga kita mengenalNYA. Semoga DIA mendekati kita, sehingga kita mendekat padaNYA. Semoga DIA mengingat kita,
sehingga kita mengingatNYA. Semoga DIA mencintai kita,
sehingga kita mencintaiNYA. Semoga apa pun yang kita lalui
adalah dalam rangka DIperjalanKAN olehNYA. Aamiin.
.:: Edisi : Semoga demikian untuk Panjenengan semua .
Saat doa kita untuk orang lain melangit dan terlihat begitu cepatnya membumi hingga dia yang didoakan merasa nyaman dan bahagia, begitu juga yang sangat termungkinkan untuk diri kita.
Maka, saat kita merasa nyaman dan bahagia, sangat termungkinkan karena ada yang diam-diam selalu melangitkan doanya untuk kita.
Bersyukur kepadaNYA dan berterima kasihlah kepada mereka.
.:: Edisi : Alhamdulillah, matur nuwun.
Niat baik, walau belum terealisasi sudah dicatat sebagai pahala kebaikan. Namun tidak demikian dengan niat buruk, yang baru dicatat sebagai keburukan saat direalisasikan.
Sungguh besar "welas asih"nya Gusti Allah kepada kita. Dicatat itu berarti pancaran getar / vibrasi niat baik itu diterima,diperkuat dan dipancarkan kembali ke segala penjuru oleh mekanisme otomatis alam semesta. Lha kalau berlaku juga untuk niat buruk, alam pasti bergolak, bisa jadi kiamat tiba. Sebab, kecenderungan kebanyakan manusia adalah lebih mudah atau lebih banyak niat buruknya.
.:: Edisi : Jagad cilik, jagad gêdhé
Dari banyak orang yang 'sambat' saat 'masalah' menghantam, tidak siap saat solusinya 'sederhana'.
Mereka malah menuntut yang 'rumit' seperti metode, teknik, ritual, 'ubo rampe' / syarat, doa / wirid dan 'tool' lain.
Padahal solusinya sangat sederhana, meski tak demikian penerapannya, yaitu PASRAH TOTAL, masuk ruang hampa dan sunyi hatinya sendiri.
.:: Edisi : ALLAHUMA embuh.
Salah satu model mimpi adalah mimpi yang kacau. Setting lokasi dan para pemerannya bisa campur aduk dalam satu episode mimpi. Mimpi itu sendiri salah satu produk pikiran.
Maka, berarti pikiran itu bisa ditipu, bisa tertipu dan bisa menipu. Bahkan dengan teknik tertentu, ingatan palsu bisa ditanamkan dalam pikiran seseorang hingga menjadi seakan suatu realita kebenaran yang pernah dialami dalam periode kehidupan seseorang dan itu permanen.
.:: Edisi : Ngaji PIKIR.
Takkan tinggi dengan merendahkan, takkan besar dengan mengecilkan, takkan mulia dengan menghinakan dan demikian juga sebaliknya.
.:: Edisi : Pertemuan di titik NOL.
Nyadran , menelusuri jejak asal, meniti jalan pulang.
.:: Edisi : Naluri bertuhan.
Ucapan kata takkan pernah sanggup mewakili rasa, betapa pun lihai sang pengata. Tulisan pun demikian adanya, tak pernah tuntas menggambarkan rasa, selihai apa pun sang penulis.
Rasa hanya bersambung dengan rasa.
.:: Edisi : Memendam rasa.
Tuhanku ...
Kalau kebaikan seseorang masih berupa kejelekan
Bagaimanakah kejelekannya bukan kejelekan yang berlipat ?
Bila "kesejatian" seseorang masih berupa kepura-puraan
Bagaimana kepura-puraanny
.:: Edisi : Sastra Hizb
Dunia dan akhirat itu satu, tak terpisahkan. Meski akhirat itu nanti, namun pasti melalui dunia. Maka apa pun yang didunia harus bermuatan akhirat. Materi harus selalu diruhanikan agar mencahaya.
Mengangkasa dengan sayap kanan, membumi dengan sayap kiri.
Mereka yang melangit, harus juga membumi. Mereka yang melangit, saat membumi pasti mengnolkan diri, hingga tak ada "sopo siro, sopo ingsun". Bersinergi, menyerap cahaya langit dan menebarkannya di bumi.
Bersinergi, mengelola keunggulan lokal, membentuk kemandirian sosial, kemandirian ekonomi dan kemandirian profesi. Melintasi batasan primordial, meneguhkan rahmat dan memperbesar pengabdian.
Saat tak mempunyai sayap dan tak pula mengerti apa itu sayap, kenapa tak segera bernaung di bawah sayap-sayap yang telah terkembang.
Menautkan diri mengikuti kepak sayap Sang Sultan yang menari indah di langit yang benderang oleh cahyaNya.
Senyampang masih ada kesempatan, selagi gerbang masih terbuka lebar bagi mereka yang sadar.
.:: Edisi : Sayap kanan, sayap kiri.
FEODAL tak pernah SINERGI, sebab feodal selalu "sopo siro, sopo ingsun", sedang sinergi "siro yo ingsung, ingsun yo siro".
.:: Edisi : Sayap kanan, sayap kiri.
Menahan diri untuk tak mengatakan "rugi" saat belum "untung", menjauhkan rugi yang sesungguhnya datang menghampiri, sebab belum untung tak berarti rugi, hanya ketergesaan nafsu yang menganggapnya rugi, Meski belum untung, bersyukurlah sebab tidak merugi.
.:: Edisi : Gêlêm panasé, yo kudu gêlêm udanné.
" Nyagêrké" / mengandalkan orang lain dengan menolak melakukan "dharma" karena [kalau jujur] faktor "malas", di saat diri sendiri mampu dan bisa, hanya akan menyumbat anugrah Tuhan yang semestinya lebih baik.
.:: Edisi : Malas, vibrasi penumpul.
Hidup manusia itu bisa ibarat diundang ke resepsi pernikahan.
Hidangan telah tersaji dan siap dimakan tinggal pilih yang mana.
Ada yang makan banyak karena memang lapar, ada yang sedikit karena masih kenyang dan ada juga meski tak lapar dia tak henti-hentinya makan.
Yang pasti, banyak makanan tersiakan, dibuang karena tak habis dimakan.
Yang pasti juga, para tamu hanya sebentar. Datang, sesaat kemudian pulang.
.:: Edisi : Mulih kondangan.
IBU itu bukan masalah jenis kelamin, bukan pula masalah beranak, namun 'ibu' itu karakter atau kesanggupan untuk menampung, mewadahi, memangku, menggendong, sekaligus mengayomi, melindungi, menguatkan, mengarahkan dan mensinergikan.
Maka 'ibu' harus dipunyai oleh mereka yang 'pintêr' agar tak 'kêmintêr', mereka yang berwenang agar tak sewenang-wenang, mereka yang kaya agar tak semena-mena dan seterusnya.
.:: Edisi : Ibu.
Ada hikmah keberkahan rejeki di balik pemenuhan janji, pelunasan hutang dan penuntasan kewajiban.
Saat janji dipenuhi, hutang dilunasi dan kewajiban dituntaskan, hati menjadi tenang dalam kebersyukuran, perasaan pun membahagia, demikian juga pikiran yang jernih membahana semesta, hingga keberlimpahan tak akan segan menghampiri.
.:: Edisi : Jagad cilik, jagad gêdhé.
Kebaikan jika diulang-ulang, akan semakin menambah nilai kebaikan itu sendiri, sebab biasanya akan semakin jauh dari pamrih.
Pun demikian sebaliknya. Keburukan yang diulang-ulang apalagi bila dilakukan bersama-sama, biasanya akan mengaburkan keburukan itu menjadi seolah-olah hal yang biasa dan bisa jadi dianggap sesuatu yang baik.
.:: Edisi : Bahaya pengulangan.
Niat untuk suatu kebaikan, bagi sebagian orang tidaklah cukup hanya disuarakan dalam hati saja, namun perlu disuarakan secara lisan walau hanya sekedar cukup terdengar oleh telinga sendiri.
Suara secara lisan itu sangat perlu untuk mengarahkah, mengomando dan mengatasi berbagai suara dalam diri yang saling mementahkan, agar niat kebaikan itu mempunyai daya gema di hati, daya juang di perasaan dan daya dobrak di pikiran hingga terwujud nyata dalam tindakan.
.:: Edisi : Deklarasi.
Melatih 'rasa' itu penting, agar 'peka' melihat diri sendiri. Selalu 'sadar' diri dan senantiasa 'waspada' terhadap hasrat mengelabuhi diri sendiri.
.:: Edisi : Rahsaning karêp atau karêping rahsa ?
Ada customer mahasiswa TA - deadline, hatinya "ngoyo", perasaannya "galau", pikirannya "kacau", tindakannya : salah copy data dari laptop ke flashdisk, harddisk ketinggalan, lupa convert officenya, salah menyusun penomoran halaman, dll. Sempat "mbrebes mili" juga sambil ngomel sendiri.
.:: Zona FORCE ::.
.:: Edisi : FORCE vs POWER.
Berbekal secuil informasi, di lokal gedung yang sama sudah tujuh kali bolak-balik menengok setiap ruangan, adakah wajah yang kukenal ?
Sampai akhirnya pasrah dan berkesadaran menerima tanpa sesal seandainya tidak ketemu sekalipun. Begitu pasrah, begitu rela menerima, "mak bedunduk" tiba-tiba saja si Bapak muncul dihadapanku.
.:: Edisi : The Power of Lilo Legowo.
Setiap makhluk dalam wujud materi pasti memiliki hati, meski bukan dan tidak seperti hatinya manusia. Dengan hati itulah mereka saling berhubungan dalam kebersamaan memuji penciptanya.
Maka berhati-hatilah dengan hati, agar tak melukai hati yang lain.
.:: Edisi : Salam satu hati.
Anjuran mengucapkan ALHAMDULILLAH di awal doa, semestinya tidak hanya berhenti sebatas lisan. Namun yang terpenting adalah kesadaran perasaan yang penuh kebersyukuran saat memohon, bukan penuh keluhan yang seakan Gusti Allah tidak pernah memberi curahan nikmat sebelumnya.
Karena
perasaan adalah persangkaan kita pada Tuhan, maka doa yang teriring oleh rasa
bersyukur yang mendalam atas semua curahan nikmat yang telah, sedang dan akan
selalu kita terima, biasanya akan lebih cepat terwujud dalam realitas
fisik.
Bagaimana akan diberi lebih,
kalau yang ada saja tak pernah dirasa. Bagaimana akan diberi banyak, kalau yang
sedikit saja tak pernah diakui. Bagaimana akan diberi besar, kalau yang kecil
saja selalu disiakan.
.::
Edisi : Piyé-piyéo têtêp
ngAlhamdulillah
Kalau bintang saja bisa jatuh ke
bumi, bagaimana dengan yang masih berpijak di bumi ?
.::
Edisi : mBuhlah...
Dalam hal perasaan, menerima
berarti melepaskan yang akan membaikkan perasaan, sebaliknya, menolak berarti
menggenggam yang akan memburukkan perasaan.
.::
Edisi : Membaikkan
perasaan.
Pada akhirnya, hidup itu untuk
menggenggam atau melepaskan ya ?
.::
Edisi : Konsekuensi
pilihan.
Dunia sunyi tak kenal basa-basi,
tak juga lobi-lobi apalagi upeti. Dunia sunyi selalu sederhana bahkan teramat
sederhana, jujur apa adanya, tak kenal tetapi, hanya ya atau tidak. Dunia sunyi
jauh dari iri dan dengki, namun tak berjarak dari cinta yang sejati. Dunia sunyi
selalu terasing dari lintasan jaman yang dilalui, sebab selalu mensunyikan hiruk
pikuknya keramaian jaman hingga takluk dalam kesunyiannya
sendiri.
.::
Edisi : Jalan
sunyi.
Kalau mau titén, sesungguhnya
pada setiap diri kita ada satu misi dari Tuhan. Misi itulah yang membuat
ketertarikan, keahlian dan kepahaman kita, serta tentu saja dengan soal ujiannya
yang akan selalu dihadapkan pada diri kita.
Dengan
misi itulah Tuhan memberikan kesempatan untuk mengabdi padaNYA dengan
mengabdikan diri kepada semua makhlukNYA, tanpa pamrih, tak juga berorientasi
materi, namun sungguh sangat membahagikan jiwa.
.::
Edisi : Uniknya setiap
diri.
Saat kata tak lagi bermakna,
diam adalah jawabnya. Diam memberikan ruang bagi keangkuhan menemukan
kerendahannya, bagi cinta menemukan keagungannya, bagi rindu menemukan
kedekatannya, bagi keliru menemukan pengakuannya, bagi benar menemukan
keteguhannya, bagi ilmu menemukan realitanya, bagi kepalsuan menemukan
kesejatiannya, bagi waktu menemukan saatnya, bagi bayang-bayang menemukan
dirinya dan bagi ketergesaan menemukan ketenangannya, serta bagi keinginan
menemukan kebutuhannya.
.::
Edisi : Diam-diam
menghanyutkan.
Di tengah pergumulan berbagai
ketidakpastian, semoga dimudahkan untuk selalu pasrah dengan berusaha memastikan
diri untuk tetap sebaik-baiknya bekerja, sesungguh-sungguhnya berdoa,
semampu-mampunya beribadah, sebanyak-banyaknya bersyukur, sekuat-kuatnya
bersabar, serela-relanya menerima, sehebat-hebatnya berikhtiar dan
setenang-tenangnya melalui jalan kehidupan.
.::
Edisi : Yang pasti-pasti saja
...
Tuhanku...
Meski
disertai kemaksiatan
Harapku pada-MU tak pernah
putus.
Sebagaimana aku pun
takut
Meski
disertai ketaatan.
.::
Edisi : Sastra
Hizb
Waktu dan teman ibarat GERINDA
yang bisa mempertajam pedang jiwa kita dan bisa juga malah
menumpulkannya.
Sebuah
pilihan bagi setiap yang masih mempunayi jatah ruang dan waktu
:
| Demi
masa. | Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, | kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. |
[Al 'Ashr : 1-3]
“Jangan berkawan dengan
orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu dan pembicaraannya tidak
membimbingmu ke jalan Allah. Boleh jadi engkau berbuat buruk tetapi tampak
olehmu sebagai kebaikan, lantaran engkau berkawan dengan orang yang tingkah
lakunya lebih buruk darimu”. [al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh
As-Sakandarî]
.::
Edisi : Ngitung wektu, isih okeh
nggedabruse... nyuwun ngapura Gusti...
Duhai
TUHANku
Bagaimana aku bisa
berkehendak, jika Engkau berkehendak
dan
kehendakMU itu memaksa ?
Atau...
Bagaima aku tidak
membulatkan tekad
Sedang
Engkau menyerunya untuk itu ?
.::
Edisi : Sastra
Hizb
Saat yakin mulai terusik, selalu
saja dikirim orang-orang yang lebih dan melebihi, namun tak
sebahagiaku.
disi :
Digoda dan
tergoda.
Banyak orang mencari cara agar
bisa cepat kaya, namun lupa mencari cara agar bisa bahagia, sebab kaya bukan
jaminan bahagia. Namun sebenarnya yang harus lebih diutamakan adalah bagaimana
caranya agar diri kita penuh cinta. Dengan cintalah bahagia tergapai dan dengan
bahagia, manusia akan kaya.
Yang patut diwaspadai, industri global telah
mendangkalkan makna cinta hanya sebatas cinta remaja yang penuh dengan tuntutan
jasmaniah. Maka dunia materi pun semakin melesat ke depan, sedang ruhaninya
semakin beringsut ke belakang.
.:: Edisi : Jalan cinta, jalan
cahaya.
Walau tanpa rumus hitung yang
pasti, ilmu titén bukanlah tahayul, sebab dia berdasarkan realita yang sering
terjadi.
Yang
terbaik adalah niténi diri sendiri hingga bisa dan selalu menjaga 'jabang
bayi'nya sendiri agar tak mudah tersihir rekayasa dunia.
.::
Edisi : Disain
global.
Siang selalu berganti malam, pun
demikian sebaliknya. Itulah dualitas makhluk. Namun, kesadaran selalu melampaui
dualitas, siang tidak berganti dengan malam dan malam pun tidak berganti dengan
siang, namun siang dan malam selalu bersamaan. Itulah
hakikinya.
Dalam
batasan ruang dan waktunya, seseorang mungkin sedang berada dalam kondisi siang,
namun dalam batasan ruang dan waktu di luarnya, bukankan kondisi malam juga
sedang berlangsung secara bersamaan ? Begitu
penyederhanaannya.
.::
Edisi : Nguantum
wayah.
Di sepanjang perjalanan pagi
ini, berapa persen kira-kira, yang menyunggingkan sebuah senyum di wajahnya ?
Bagaimana dengan kita masing-masing ?
Gak
usah mikir, senyun sajalah dan perasaan pun akan tersenyum, maka senyum akan
bersambut dengan senyum.
.::
Edisi : Hadapi dengan
senyuman.
Kadang memang perlu "teknik"
praktis pendamping doa untuk solusi problematika kehidupan, agar ibadah tak
diboncengi keinginan dan kepentingan diri.
Asalkan melebur, bukan
menguatkan. Menerima, bukan memaksa.
.::
Edisi : Nyuwungké pikir, nglêburké
rahsä.
Terkabulnya doa sesuai yang dipinta itu
biasa walapun rasanya luar biasa. Yang luar biasa dan rasanya lebih luar biasa
adalah saat ada "pertolongan/kemudahan/jalan keluar" dari arah tak terduga.
Namun yang lebih dari luar biasa dan rasanya sangat luar biasa adalah saat doa
tak terkabul namun ada kesadaran yang nyata bahwa ternyata tak terkabulnya itu
merupakan penyeimbang dari keseluruhan kehidupan kita.
.::
Edisi : Jagad cilik, jagad
gêdhé.
Salah satu atau mungkin yang bisa
dipersepsikan mewakili dualitas makhluk adalah positif dan negatif. Manusia
berkecenderungan mengapresiasi yang dipersepsikannya sebagai positif, namun
tidak demikian untuk yang negatif.
Saat
terhampar realita yang dipersepsikan negatif, harusnya cukup ditelaah oleh
pikiran saja tentang apa dan bagaimananya secara meyeluruh, tanpa melibatkan
perasaan. Perasaan harus tetap terjaga dalam kondisi baik, menerimanya sebagai
suatu kewajaran sebagai bagian dari dualitas makhluk.
Sebab
saat perasaan ikut mejadi dalam kondisi tidak baik dengan memberikan intensitas
perhatian yang tinggi terhadap suatu negatifitas tertentu, biasanya negatifitas
itu bisa bertambah parah atau bisa juga akan terulang lagi di periode waktu
berikutnya, bahkan bisa jadi berulangnya itu dengan intensitas negatifitas yang
lebih tinggi.
[~
apalagi kalau yang merasakan perasaannya seluruh penduduk negeri
~]
.::
Edisi : Jagad cilik, jagad ghêdé.
Baiknya perasaan akan
membaikkan pikiran, namun tidak untuk sebaliknya. Baik yang kita rasakan, baik
pula yang akan kita terima. Sebab perasaan adalah persangkaan kita pada
Tuhan.
Nggêdhékké, nyênêngké,
ngayêmké lan nglêrêmnké ati.
.::
Edisi : Jagad cilik, jagad
ghêdé.
Yang tak mencari sumber bahagia
dalam dirinya, yang tak pula tersadar singkatnya waktu untuknya, biasanya selalu
mencari cara mempercepat waktu, agar bisa sesaat bergembira dan waktu tak terasa
lama baginya.
.::
Edisi : Mempercepat waktu, memperlambat
mencahaya, mendekati sia-sia.
Permohonan yang disampaikan melalui
doa dengan perasaan yang penuh syukur atas semua nikmat yang telah diberikan,
biasanya lebi cepat terwujud dalam realitas fisik, bila dibandingkan dengan
permohonan melalui doa dengan perasaan penuh kekurangan dan
keluhan.
.::
Edisi : Jagad cilik, jagad
gêdé.
Dalam batas-batas tertentu,
manusia sangat berpengaruh dan dapat mempengaruhi alam
semesta.
.::
Edisi : Jagad cilik, jagad
gêdé.
Selalu menanti datangnya [pasti
datang] rejeki dari arah tak terduga dengan tak membatasi arah
datangnya.
.::
Edisi : Äjä sok ngurusi urusané Gusti
Allah.
Jadi orang kaya itu enak dan
harus, agar hidupnya tenang, jauh dari obsesi, tak pernah serakah dan yang pasti
gemar berbagi.
.::
Edisi : Menyedikitkan keinginan,
membanyakkan rasa berkelimpahan.
Setiap manusia memiliki kebebasan
untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Nyatanya, yang dipilih adalah selalu
dan pasti apa yang telah ditakdirkan untuknya.
.::
Edisi : The End. GurauanNya selalu
serius.
Firasat memang harus disimpan
rapat, sampai tibanya saat. Bagi yang siap, bisa jadi penyemangat. Namun yang
tidak, malah jadi pemberat.
.::
Edisi : Ojo sok ngurusi urusanne Gusti
Allah.
Tidak ikhtiarmu mengganggu
ikhtiarmu yang lain.
.::
Edisi : nguantum dawuh
...
Semoga setiap hari selalu
dianugerahi hati yang terang, jiwa yang tenang, akal yang jernih, pikiran yang
bersih serta perasaan yang baik dan terkendali hingga cenderung atau bahkan
selalu tepat dalam setiap ucapan, tindakan dan keputusan dari berbagai pilihan,
di segala tempat dan di setiap waktu.
.::
Edisi : Sugeng morning, good
pagi.
Gusti Allah itu maha pengampun,
agar kita bisa menerima diri kita sepenuhnya, betapa pun
kelamnya.
.::
Edisi : Mumpung durung
sekarat.
Semoga setiap hari hati kita
dianugerahi kesabaran, kebersyukuran, kerelaan dan kepasrahan dalam merespon
setiap detik kehidupan kita.Semoga
juga pikiran kita digerakkan untuk bisa meraih yang terbaik sesuai kadar diri
kita masing-masing.Semoga
dimudahkan untuk berbuat baik dan menebarkan kebaikan.
.::
Edisi : Good Pagi, Selamat
Enjing.
Barat selamanya tak pernah
mengungguli Timur. Timurlah pusat pengetahuan, pusat ilmu dan peradaban. Sebelum
Barat menemukan / merumuskan teorinya, Timur sudah mengalami realita dalam
keseharian, tanpa alat atau pesawat apa pun.
Dahsyat, sedang Barat baru
mengalami realitanya, itu pun tak lebih dari besarnya tahi
lalat.
.::
Edisi : Efek samping memperlambat waktu
pribadi.
Jangan lupa berdoa terus ya Nak...
BISMILLAH jangan lupa, mau masuk sekolahan bismillah, mau masuk kelas bismilah,
mau pelajaran bismillah, mau ke kamar mandi bismillah, mau ngerjakan
bismillah.
Jangan
lupa BISMILLAH.
.::
Edisi : Harus diulang terus, sebab
manusia cenderung lalai.
Sugeng
enjing, sugeng ngraosaken menapa ingkang dipunkersakaken Gusti Allah, sugeng
ngayahi kewajiban, mugi-mugi tansah pinaringan pepadhang, pengayoman, karaharjan
lan kawelasanipun Gusti Allah, mugiyo Kalis nir Sambikolo wonten samubarang
tumindak~langkah ugi panjangkah.
.::
Edisi : Selamat
pagi...
Your
Self does not age, get tired or suffer fear or pain. When you come to know Self
completely you will no longer suffer or be hurt by others.
.::
Edisi : ngGaya sitik
...
RUMUS semesta itu sama,
ungkapannya saja yang beda. Pilihannya, apakah meyakini kemudian tinggal memakai
dan mengalaminya, ataukah mencari untuk mengalami, meyakini dan merumuskannya, ataukah mengalami tapi tak
kunjung bisa merumuskannya sebab tak pernah meyakininya ?
.::
Edisi : Tanya kenava
...
Tetaplah menjadi misteri, agar aku
terus mencari, walau lelah sering menghampiri setelah berjalan ke sana ke mari,
tetapi yang pasti aku tak akan undur diri.
.::
Edisi : penasaran...
PemBURU EKSISTENSI pasti akan
keHILANGan ESENSI, tetapi TIDAK untuk yang sebaliknya.
.::
Edisi : nyuwung...
PerUBAHan peRASAan yang drastis akan
pula mengUBAH PIKIRan kita dan persepsi kita tentang suatu
REALITA.
.::
Edisi : Terus membangun perasaan positif
[obat-abit mastery]
Satu titik peristiwa yang
terjadi, biasanya tak pernah berdiri sendiri, namun selalu berkait dengan
peristiwa di titik-titik lain sebelumnya. Dengan melihatnya secara utuh, berarti
menghindarkan dari penghakiman secara subyektif, memudahkan pemberian makna
kembali dan tentunya menepatkan dalam mencari solusi.
.::
Edisi : pas mantab
mastery
Kepekaan mendalam tanpa kemampuan
membentuk ruang privat imajiner, tidak hanya menguras energi, namun juga
menguras air mata.
.::
Edisi : Memang enak ...
???
Berbahagialah kalau ketemu orang yang
senyum terus. Hatinya bahagia karena cinta dan vibrasi cintanya sampai kepadamu
dengan senyumnya. Terimalah senyumnya dengan cintan juga. Jangankan manusia,
bahkan setan pun juga dicintainya.
.::
Edisi : ... dan setan pun enggan mendekat
kepadanya karena malu.
Kanjeng Nabi sudah mendengar
langkah kaki Bilal di surga, bahkan Kanjeng Nabi pun sudah sampai di hadapan
Gusti Allah.
disi :
Cahayanya MAHA CAHAYA, ora
mudhêng...
PengAKUan seorang "GURU" bahwa
seseorang itu MURIDnya merupakan tombol ON koneksitas tanpa jeda jarak dan waktu
untuk pengaliran CAHAYA Ilmu yang menDEWASAkan RUHANI sang Murid agar LEBUR
meny(S)ATU dengan keSEJATIan HIDUP, selama sang Murid sendiri tidak mengOFFkan
koneksinya.
Cahaya
Ilmu itu merupakan BIBIT, POHON sekaligus BUAH kehidupan sang Murid dalam
keSEMENTARAAN waktu keMAKHLUKannya, maupun keKEKALan waktu keSEJATIan
HIDUPnya.
.::
Edisi : Wis disangoni, mosok yo ijik
ngrepoti GURU ? Masalah itu biasa... walau rasanya rruuarrrr biasa...
ha...ha...ha...
Kondisi khusyuk ["lahiriah"]
merupakan alat bantu yang "powerfull" untuk mengoptimalkan kualitas seluruh
aspek kehidupan kita.
.::
Edisi : otak-atik matuk, ra gêlêm kalah
karo motivator, siap meluncurkan program : "provokator mastery"
...
Khusyuk ["lahiriah"] itu menyadari,
merasakan dan menikmati setiap detik dan detail proses aktivitas yang sedang
kita lakukan dengan selalu menautkan pada sumber
kehidupan.
.::
Edisi : Ngolah räsä, hidup
meditatif.
Setiap penyakit memang harus
disembuhkan, namun tak harus sembuh.
.::
Edisi : Nglaras suksmä, mbêningké pikir,
nyéléhké rägä.
TULUS.
MATA tanpa keTULUSan, RABUN.
X +
-TULUS = -Y
X =
Fungsi; Y = Manfaat
.::
Edisi : jaréku
...
DI
berbagai SAAT, TEMPAT, SITUASI dan KONDISI yang "tidak sesuai" dengan hati kita
dan tentunya yang "tidak dapat" kita kendalikan, yang bisa kita lakukan hanyalah
"menemani" berbagai saat, tempat, situasi dan kondisi itu DAN tentunya yang
utama adalah sambil dan sekalian terus memPERBAIKi DIRI : hati, pikiran,
perasaan, ucapan dan tindakan terutama agar "tidak terpengaruh" oleh "berbagai"
itu.
.::
Edisi : nglêrêmké
ati...
CAHAYA LILIN DI TENGAH CAHAYA
MATAHARI. Seterang apa pun cahaya lilin, pasti lenyap terserap dalam cahaya
matahari, karena yang sebenarnya bercahaya adalah matahari bukan lilin. Lilin
hanya seakan-akan menyala dalam terangnya nyala matahari.
Hamba
di hadapan Tuhannya, lebih dari itu dan tak bisa diperbandingkan dengan itu.
Kalau ada cahaya dalam diri sang hamba, PASTI itu dicahayai oleh Tuhannya,
KARENA Tuhan berkehendak menunujukkan cahayaNya melalui diri sang
hamba.
.::
Edisi : ngêmpakké
rumangsaku...
KeBUTUhan UTAMA seorang ANAK adalah
"RASA AMAN" melalui Cinta, Penerimaan dan Penghargaan ORANG
TUAnya.
Kalau
itu kurang atau bahkan tidak ada, dia akan mencari perhatian orang tuanya dengan
berbagai cara. Bila itu berhasil, dia akan mengulangnya di lain waktu. Bila hal
itu berulang terus, maka akan menjadi prilaku atau kebiasaan yang bisa terus
terbawa hingga usia dewasa.
.::
Edisi : sinau dadi wong
tuwo...
Para MASTER/AVATAR itu empat
pola gelombang otaknya : bheta, alfa, theta dan delta selalu aktif secara
bersamaan dalam proporsi sebagaimana dikehendaki dan dibutuhkan oleh para
MASTER/AVATAR itu.
.::
Edisi : ngecrack gelombang otak para
MASTER ...
Bagaimana bisa marah saat ingat bahwa
kesadaran tak bisa dipaksakan ? Kalau ada yang berwenang memberikan hukuman
secara fisik atas ketaksadaran seseorang sekali pun, hal itu juga bukan
penyelesaian masalah. Sebab sakitnya fisik karena hukuman tidak selalu menyentuh
kesadaran untuk menjadi lebih baik.
Satu-satunya cara yang tak
boleh jeda dalam melakukannya dan tak boleh pula mengharapkan hasil nyata,
adalah menebarkan vibrasi cinta kepada semesta. Dengan cinta kita bisa merasa
bahagia. Cintai dia karena dia manusia. Cintai alam karena dia penyangga
kehidupan kita. Cintai negeri ini karena di sinilah kita dilahirkan, menginjak
tanahnya, menghirup udaranya dan meminum airnya. Kalau setiap orang hatinya
penuh cinta, sungguh... kekuatan apa yang bisa menandinginya
?
.::
Edisi : satu lagi dari CINTA
...
Materi jangan semua dijadikan
jazad yang berpotensi untuk diberhalakan, namun harus selalu ada bagian yang
dirohanikan agar mencahaya dan mengabadi dalam
keabadianNya.
.::
Edisi : Sinau ngabdi mring
sapodo-podo.
Seseorang sering tak menghargai
sesuatu yang diperolehnya dengan mudah dan salah satu dari sesuatu itu adalah
ilmu. Maka siapa pun yang berniat menyerap ilmu dari "pemangku" ilmu
seharusnyalah memberikan "mahar". Bukan untuk pemangku ilmu itu, namun lebih
untuk dirinya sendiri, sebagai tanda kesungguhan, komitmen dan penyeimbang dari
apa yang akan didapatnya.
Dan...
ilmu yang ampuh [manfaat & berkah] itu ilmu yang tidak diperjualbelikan,
apalagi dengan mengatasnamakan mahar. Letak ampuhnya adalah pada kerelaan
mengajarkan bagi pemangku ilmu dan kerelaan menerima pengajaran dengan segala
konsekuensinya bagi penyerap ilmu.
.::
Edisi : power of exchange
...
Lapar lalu tak makan, bukan
karena tak punya atau eman keluar uang, namun lebih kepada tak tega saat
sekitarnya juga "belum" makan. Dari pada tujuh ribu untuk makan sendiri, lebih
baik keluar sepuluh ribu buat gorengan ramai-ramai.
.::
Edisi : senasib sepenanggungan
...
Kesediaan diri untuk selalu "NITÉNI
awaké déwé" membuat keSADARan selalu terjaga dalam keWASPADAannya dan itulah
sumber awal untuk meKENALi DIRI.
.::
Edisi : ngélmu titén
...
Mereka yang 'ajêg' menyapa Gusti
Allah dengan doanya yang tidak individualis, biasanya doanya
makbul.
Beda
dengan orang yang doanya 'kêbêlêt'. Baru berdoa saat terbentur, kepepet dan
terjepit.
.::
Edisi : manjingké dongä
...
Salah satu makma SABAR adalah
me-TAHAN DIRI dalam arti sempit maupun luas. TerNYATA, menahan diri berarti
memperLAMBAT waktu pribadi yang berefek memperCEPAT gerak "quark atom" menuju
kecepatan cahaya.
SABAR
merupakan salah satu stasiun SPIRITUAL. Makin SABAR -> makin berCAHAYA ->
makin SPIRITUAL -> me-SATU dengan TUHAN.
.::
Edisi : nguantum
roso...
Hari
Kartini -> baju daerah nasional ???
Hari
Kemerdekaan -> lomba-lomba [banyak yang gak karuan] ???
Hari
Pahlawan -> Baju pejuang ???
.::
Edisi : Esensi itu gak penting, yang
penting bisa gembira sesaat. Itu !!!
Nggér... bukannya Ayahmu ini
tidak mengijinkan... namun mulailah ENGKAU membedakan antara PERLU dan
INGIN.
PERLU
itu butuh dan penting, maka harus segera diadakan. NAMUN kalau hanya sekedar
INGIN, berarti tidak harus segera diadakan, bisa ditunda.
.::
Edisi : Kanggoné cah cilik, terpenting
adalah teladannya, sebab belum tentu memahami kata.
Yang terpenting adalah dirimu
Nak... Saat engkau bisa mengendalikan dirimu, maka yang di luar dirimu takkan
bisa mempengaruhimu...
.::
Edisi : nransfer rumus anak, senajan
durung mudheng...
YAKIN pada Gusti ALLAH bila bisa
menjadi seMAKIN DALAM, biasanya akan seMAKIN mengNOLkan DIRI, seMAKIN
meLEMBUTkan HATI dan juga seMAKIN mengKUATkan DAYA dari
NYA.
.::
Edisi : napak tilas satria
pinandhita...
Anak cerminan orang tuanya.
Balita, secara alami masih mempunyai kemampuan berkomunikasi secara non verbal
dengan lingkungannya terutama kedua orang tuanya. Sikap, kebiasaan, tingkah
laku, emosi, pikiran dan perasaan kedua orang tuanya pasti terserap dalam diri
anaknya. Itu merupakan faktor pembentuk perannya saat bertambah usia hingga
menjelang dewasa.
.::
Edisi : Kuwi anakmu [awakmu], ojo kesusu
nesu...
Daya rasa, karsa dan ciptanya
pikiran, tak jarang membuat seseorang menjadi "keblingêr" dengan meniadakan
TUHAN dalam hidupnya. Merasa bisa mewujudkan semua keinginan, target dan
rencananya sendiri tanpa kehendak TUHAN. TUHAN hanya obyek, bukan subyek. Otak
memang boleh dieksplorasi, namun hati harus tetap
mendasari.
.::
Edisi : Bertanya pada ahli dzikir, bukan
pada ahli pikir.
DariNYA kita berangkat, kepadaNYA
pula kita pulang. Dengan AKAL dariNYA kita diberi pilihan jalan pulang mana yang
akan kita tempuh : jalan CAHAYA atau Anti Cahaya, dengan CINTA atau Anti Cinta.
IBLIS pun diberi peran sebagi tokoh Anti CAHAYA yang mengajak Anti CINTA untuk
memuliakan manusia, agar manusia mengenal CAHAYA dan menjadi DEWASA dengan
melalui jalan CINTA. Takkan kenal cahaya kalau tak ada
gelap.
.::
Edisi : manjingké
räsä...
Tiba-tiba KEBELET "BAB" pasti
bikin repot cari WC, namun setelahnya pasti LEGA luar biasa. KeLEGAan seperti
itulah yang seharusnya ditiru dan dicari metode internalnya pada diri
masing-masing orang untuk melepas setiap emosi negatif yang mampir pada
perasaannya agar hidup lebih HIDUP.
.::
Edisi : Sabar opo disabar-sabarno
???
Bagai ruang pada badan gitar yang
beRESONANSI saat dawai digetarkan, begitu juga seseorang, situasi, kondisi dan
sesuatu yang melingkupi keseharian kita. Saat terdengar suara sumbang, bisa jadi
itu hanya meresonansi suara sumbang kita sendiri. Saat bau tahi, jangan-jangan
itu hasil meresonansi bau kita sendiri. DST, DSB, DLL,
LSP.
.::
Edisi : nguantum
sariro...
DULU, dia bernyanyi karena UAng
dan POPULARITAS. Namun KINI, kalau dia bernyanyi SEMATA sebagi bentuk SYUKUR
kepada DIA yang memberikan suara indahnya, PERSEMBAHAN
kepadaNYA.
Selalu
ada LAKU agar bisa berTEMU dan TAHU siapa sesungguhnya
AKU.
.::
Edisi : teladan mengenal
diri...
Dekat TOWER belum tentu menerima
signal kuatnya. Perangkatnya RUSAK ?!?!
.::
Edisi : kalibrasi
jiwa...
Melihat keDAMAIan di wajah tidur
anak-anakku.
.::
Edisi : Damainya malam, nguantum
wengi.
PenyeLARASan frekuensi hati dengan anak
isteri agar tak ada sakit hati atau salah persepsi. Anak isteriku, sahabat
sejatiku. Semoga.
.::
Edisi : 'ndingkluk' nguantum
roso...
"Ngeh" itu "mak bleg", ora ono pitakonan
alias tak ada tanya, ora ngerti nanging paham alias tidak mengerti tetapi
memahami, ora iso nyeritakke nanging ngerasakke alias tak bisa menceritakan
tetapi merasakannya.
.::
Edisi : semlengeren...
Ada saja orang yang suka debat,
bukan untuk mengurai sesuatu secara siklikal agar keluar ilmu dari sesuatu itu,
tetapi lebih kepada meninggikan dirinya sendiri. Semakin disanggah, semakin
bersemangat, bergembira dan berapi-api.
"Iya,
Panjenengan benar..."
Cukup
satu kalimat singkat, padam apinya, mangkel hatinya dan kita pun bergembira
hahaha...
.::
Edisi : lidah memang tak
bertulang...
Banyak yang mau menertawakan
kekurangan orang lain, namun jarang yang menyediakan diri menertawakan
kekurangan dirinya sendiri. Kemampuan menertawakan diri sendiri berarti memahami
batasan-batasan yang ada di dirinya dan itulah awal kebangkitan, sebab
memunculkan keunikan tersendiri apalagi bila ditambah dengan kemampuan dalam
melakukan "positioning", maka yang lain pasti lewat...
.::
Edisi : bukan empat
mata...
Anak ragilku, laki-laki, gak
seperti kedua mbakyunya. Ngalemnya puol sama mamanya, tiap hari minta beli
mainan, tetapi ya sudahlah... Masa anak-anak memang masanya bermain dan biar dia
bermain hingga benar-benar puas. Agar pada saatnya nanti, semoga dia
sungguh-sungguh menjadi laki-laki dewasa.
Sebab
banyak laki-laki yang usianya telah dewasa, namun jiwanya masih anak-anak, sebab
masih senang bermain-main dan mempermainkan "komitmen" dalam arti sempit dan
luas.
.::
Edisi : dewasa bukan sekedar
usia...
Hari ini kuijinkan kesedihan
merayapi hatiku, SENDIRI dan SEBENTAR saja. Tidak untuk kunikmati, tetapi untuk
menguatkan "pegas" hatiku agar tetap "lentur", tidak keras dan tidak pula rapuh.
Kuterima dan kulontarkan kembali ke langit kesadaran hingga membentuk tarian
jiwa yang indah dan mempesona. Meski belum terwujud, setidaknya telah kulihat
lukisanNya.
.::
Edisi : bukan
robot...
Tak ada energi penyembuhan yang
daya sembuhnya melebihi keRELAan menerima penyakit. Tak ada energi doa yang daya
wujudnya melebihi keRELAan menerima pantulan doa. Tak ada energi pembebas yang
daya dobraknya melebihi keRELAan memaafkan. Tak ada energi sabda yang daya
shaktinya melebihi keRELAan mengendalikan nafsu.
Tak
ada kebahagiaan yang melebihi keRELAan menerima takdir TUHAN. Tak ada kedamaian
yang melebihi keRELAan merasakan kehadiran TUHAN. Tak ada pengetahuan dan
pemahaman yang melebihi keRELAan mengenal TUHAN.
.::
Edisi : Ajar lêgäwä sênajan nêlängsä,
sinau lilä masiyä rêkäsä, njêmbaraké dädä nalikané
gêlä.
Cermin tidak selalu terbuat dari
kaca namun bisa berupa apa saja atau pun siapa saja. Bercermin sejatinya bukan
untuk menilai seberapa ganteng atau cantiknya si pencermin, tapi lebih mencari
"sesuatu" yang bisa mengurangi penampilan ganteng atau cantiknya si pencermin.
Sesuatu yang kurang baik siapa pun itu atau apa pun itu bukan untuk diperolok,
direndahkan dan dihinakan, namun sejatinya selalu memantulkan bayangan diri -
adakah si pencermin di "sana". Hanya tidurnya ke"sadar"anlah yang selalu
mengatakan cerminnya yang rusak kala melihat pantulan bayangan yang tidak baik
dari dalamnya.
.::
Edisi : ngilo githoké
déwé...
Tertawa itu sebentar, sebab habis
itu menangis dan setelahnya tertawa lagi. Susah itu sebentar, sebab setelahnya
senang dan habis itu susah lagi. Sedih itu sebentar, sebab habis itu gembira dan
setelahnya sedih lagi. Tirakat itu sebentar saja, sebab setelahnya berhari raya
dan habis itu tirakat lagi. Khawatir itu juga sekejap saja, sebab habis itu
berharap dan setelahnya khawatir lagi. Siang juga sebentar saja, sebab
setelahnya pasti malam menjelang dan berganti siang lagi. Gonta-ganti
terus.
.::
Edisi : menepuk jidat ... kok gak
apal-apal se ???
Enak itu sedikit n sebentar,
hebat itu sedikit n sebentar, jaya itu sedikit n sebentar, de es
te.
.::
Edisi : mengejar
fatamorgana...
SEDERHANA tidak identik dengan remeh,
kecil dan lemah. Justru dalam kesederhanaan itu biasanya tersimpan potensi
keluarbiasaan yang tak terindra, kecuali bagi yang
mengetahuinya.
.::
Edisi : mlongo...
TIDAK
BISA TIDAK, keluarga harus menjadi media penyemaian nilai-nilai mulia kehidupan
di tengah arus jaman yang cenderung saling berinteraksi tanpa nilai. Kepemilikan
materi dan kemajuan teknologi tanpa diimbangi kematangan ruhani maupun kedalaman
spiritual, hanya akan melahirkan generasi yang cengeng, apatis serta hedonis.
Keluarga merupakan aset sekaligus investasi masa depan. Masa depan dalam
kehidupan ini, maupun masa depan dalam kehidupan setelah kematian dan tentunya
masa depan yang hakiki bersama Tuhan yang menciptakan
kehidupan.
.::
Edisi : Memahat batu, mengukir kayu.
Anakmu goresan jiwamu.
Betapa mudah saat ini orang
berlaku aniaya, bahkan nyawa begitu murah harganya untuk suatu hal yang tak
mengharuskan keterpaksaan untuk itu. Perasaan memang tak bisa diam di satu
titik, selalu berubah silih berganti, selalu bereaksi terhadap aksi yang
diterimanya. Unsur api memang lebih mudah dikobarkan dalam marah, benci, kecewa,
dendam yang akhirnya merusak, menghancukan dan menistakan. Sementara unsur
cahaya jarang diberi ruang untuk menjelma kelembutan, permaafan, penerimaan dan
kebersahayaan. Tak ada manusia yang bebas dari libasan perasaannya, yang ada dan
bisa menjadi pilihan adalah manusia yang terampil mengendalikan
perasaannya.
.::
Edisi : Meredupkan api, memberi ruang
cahaya, agar aksi tak selalu langsung direaksi.
Tontonan-tontonan tanpa tuntunan
sangat banyak dihamparkan karena layak jual, ajaran menahan tak lagi mempan di
tengah pelampiasan yang dibudayakan sebab melesatkan omzet penjualan, hidup
mewah layaknya bintang selalu menjadi ajang rebutan tanpa sadar itulah awal
keterjajahan. Hidup itu sulit, kok malah senang melambungkan keinginan yang
menjadikan tambah rumit. Malas berpikir dalam, enggan merenung diam, hingga
terkungkung imajinasinya sendiri yang liar kemana-mana, hingga jauh dari esensi,
jauh dari hakiki, jauh dari isi, hanya kulit-kulit luar saja yang hanya sekedar
ilusi.
.::
Edisi : Menghapus bayang semu, merekahkan
esensi.
Semakin sulit untuk berkelit dari
hidup yang kian menghimpit, sedang di luar sana banyak pesona sihir iklan semua
yang dijual, banyak pula yang pamer kemewahan yang hanya jadi angan-angan
kebanyakan orang. Yang tak tanggap dan selalu tergagap, hanya mimpi yang jadi
solusi, melambungkan imajinasi dalam dunia khayalnya sendiri dan jangan
berani-berani mengusik mimpi itu !!! Rasakan sendiri akbatnya
...
.::
Edisi : Hati-hati, makin banyak phsikopat
yang siap menamatkan riwayat !
Seperti PRODUK, setiap orang punya
MEREKnya sendiri-sendiri dan orang lain yang pernah dekat langsung, pasti lebih
ingat kenyataannya rasanya bila dibandingkan dengan pesona
iklannya.
.::
Edisi : Jangan BOHONG
!!!
SUARA TUHAN saja tak pernah
didengar, kok yang jadi RAKYAT ingin didengar suaranya ? Sungguh suatu "hil yang
mustahal" he... he... he...
Apa
pun yang terjadi, ya... sudahlah... tak akan berarti bagiku SEBAB TUHAN selalu
memberiku kemampuan lebih.*)
*)Term
and Condition Apply
.::
Edisi : ngGedek'ke ATIku
dewe
TOPENG memang bisa menyamarkan
diri dari pandangan orang lain, tapi bisakah nurani sendiri diingkari
???
Kalau
bisa, betapa ngerinya ... TER-LA-LU ...
.::
Edisi : jiwa yang sakit sering tak
menyadari sakitnya
Hiasilah selalu HARI INI dengan
keBAIKan agar engkau dan mereka mengenang hari ini sebagai keINDAHan saat telah
berada di HARI ESOK.
.::
Edisi : Ati-ati yo
ngger...
Kalau saja bisa berdoa tanpa
pamrih ijabah, tentunya aku lebih suka berdoa sendiri. Sayangnya TIDAK, atau
setidaknya BELUM.
Enakan
minta doa orang lain, tanpa pamrin ijabah, insya Allah malah pertanda turunnya
IJABAH.
.::
Edisi : nyuwun dongane nggih
mBah...
Ingin TENANG dan tak lari
menghindar dari suatu situasi atau kondisi ??? Tak usah mencari goa tuk bertapa
dan tak usah pula masuk hutan mengengkeramai alam. Tak usah juga banyak cakap
menyeribukan alasan. CUKUPlah penuhi janjimu, laksanakan tanggungjawabmu dan
tuntaskan pekerjaanmu. ITU !!!
.::
Edisi : Itu.
Selalu saja CINTA berubah dengki,
saat tak terwujudnya harapan tentang cinta. Semua tak ada yang benar dan selalu
kurang kecuali sang penDUKA cinta. Kalau itu bukan cinta
namanya....
.::
Edisi : makan tuh
cinta...
Kalau saja slalu kusadari smua
ini ILUSI, tentu kutakkan bersedih hati, takkan pula bergembira ria, tidak juga
menangis pilu atau terbahak tawa, juga tidak tercekam takut, resah gelisah dan
seterusnya. Sayangya
TIDAK.
.::
Edisi : Sakmadya.
PEMIMPIN, yang membedakan dengan
yang bukan adalah keBERANIANnya. BERANI memutuskan & menagmbil resiko,
BERANI untuk PALING AWAL merasakan penDERITAan dan BERANI untuk PALING AKHIR
merasakan keMAKMURSEJAHTERAan.
Kalau
aku NAHKODA kapal KELUARGA yang sudah, sedang dan akan selalu menempuh
dahsyatnya BAHTERA keHIDUPan, tak kuijinkan keCEMASANku keluar dari diriku
hingga terlihat dan mengGELISAHkan keluargaku.
.::
Edisi : Nyamar.
Saat kita bisa mengingat dan
menertawakan masa-masa sulit di waktu yang lampau, sesungguhnya masa-masa sulit
itulah anugerah bagi kita yang baru kita sadari saat telah bisa
menertawakannya.
.::
Edisi : Ngguyu
dewe…
CrewCilku di rumah... 3 orang, akulah
yang menguatkan mereka saat mereka menapak mempelajari hal-hal baru dalam
kehidupan mereka, NAMUN di balik itu merekalah yang sejatinya MENGUATKAN aku
menghadapi kehidupan.
.::
Edisi : Suplemen
hidupku.
JUAL BELI biasanya selalu ada
TAWAR MENAWAR.
MENAWAR, bisa jadi dan
mungkin sering terjadi bukan karena mencari kesesuaian harga, bukan pula karena
perlu menawar sebab keterbatasan kepemilikan alat tukar, NAMUN karena bernafsu
MENANG secara phsikis dari disetujuinya penawaran itu, meski saat itu harga
sudah pantas dan tak pula kekurangan uang.
.::
Edisi : Arogansi
laten.
Untuk hatiKU yang masih sering
menggumpal SEMOGA engkau dipenuhiNYA dengan WELAS ASIH dari sifat RAHMAN DAN
RAHIMNYA, hingga engkau DImampuKAN untuk CINTA, makin YAKIN dan IKHLAS dalam
pengabdian tanpa batas kepada KASIH SAYANGNYA.
.::
Edisi : nDungo
Yang TAK BISA LUPA karena LUKA,
luka apa pun itu ~ bagaimana bisa lupa, kalau saat akan melupakan harus
mengingat dulu apa yang hendak dilupakan ???
.::
Edisi : Tanya kenapa
?
Bercermin sebenarnya bukanlah untuk
menilai ketampanan/kecantikan diri, tetapi lebih untuk mencari apa yang kurang
dari penampilan kita.
.::
Edisi : Ngilo githokku déwé,
uuaaaangééééllll puolllll !!!!
Saat bimbang untuk memutuskan,
diamlah, redamlah keinginan, istirahatkan pikiran, baru bertanyalah pada
Tuhan.
.::
Edisi : Nyuwun
pirso.
PENYANGKALAN adalah ekpresi
tercepat EGO dalam merespon kebenarn / kenyataan tentang
dirinya.
.::
Edisi : mbegedut
Bersikaplah seperti PESILAT yang sangat
dinamis dalam menggerakkan tangannya, kadang menggenggam, kadang mengembang dan
kadang pula menangkup.
Jangan
bersikap seperti PETINJU yang ari awal sampai akhir hanya menggenggam erat
telapan tangannya.
.::
Edisi : Berbagilah, jangan
pelit.
SELALU berusaha dan belajar
mengURAI apa pun agar menemukan keINDAHan saat
meSIMPULkan.
.::
Edisi : Ilmu
titén.
BELAJAR memelihara keSADARan untuk
tidak memperMASALAHkan segala hal yang tak mengenakkan, menyakitkan, bahkan yang
meyulitkan sekalipun. SEBAB semua itu
berfungsi menumbuk energi kita agar bisa lepas keluar dan melampaui semua
itu. TANPA demikian, tak pernah tahu
kita akan cadangan energi yang tersimpan dalam diri. MAKA, gitu aja repot ?!
.::
Edisi : Senengnya repot
kok.
Siksaan rasa sangat bersalah
hakikinya melebihi sakitnya hukuman secara fisik [kalau ada] dari kalahan itu
sendiri.
.::
Edisi : hakikat
TAKKAN PERNAH
LENGKAP
walau
doa terangkai panjang
walau
doa terungkap rinci
walau
doa melegakan hati
sebab
tak
pernah kutahu hakikinya yang kuperlu
sebab
tak
pernah kutahu pula skenario hidupku
sebab
doaku
adalah rencanaku
maka
SEMOGA
DIA SELALU MELENGKAPKAN DOAKU YANG TAK PERNAH LENGKAP
.::
Edisi : panyuwun
Makin tinggi
derajad
makin
luas ilmu
makin
dalam pemahaman
makin
banyak harta
makin
beragam yang dilayani
dan
seterusnya
maka...
makin
berat pula pertanggungjawabannya
makin
banyak cobaannya
makin
sulit ujiannya
dan
yang pasti
makin
beragam pula godaannya
jadi...
jangan
terobsesi
jadi
diri sendiri sepenuh hati
optimalkan potensi
diri
dan
selalu syukuri anugerah ilahi
.::
Edisi : Nrimo ing
pandum.
MUTIARA tetaplah berHARGA walau
terbenam dalam lumpur yang kelam. Maka selamilah ilmunya MUTIARA. Sedang BUNGA
di TEPI JALAN, walau INDAH namun biasanya hanya akan diJUMPUT dan kahirnya
diCAMPAKkan.
Dalam
segala hal / aspek apapun, pilihan selalu tersedia : hendak mengarah menjadi
MUTIARA atau BUNGA di TEPI JALAN ???
.::
Edisi : Pilih mana
?
MESKI menjaga pola makan, olah
raga teratur dan istirahat yang cukup merupakan penyempurna IKHTIAR SEHAT yang
HARUS dilakukan, namun BUKAN jaminan SEHAT. Saatnya SAKIT, sakitlah
engkau....
.::
Edisi : Beda
urusan…
Bukan SEBAB bahwa diri ini
membawa manfaat, TIDAK. Namun jika dalam interaksi apa pun sudah kehilangan
orientasi keMANFAATan, tak ada kebersamaan menyemaikan NILAI, hanya hura-hura
sesaat, hanya ekspresi dari tak tergenggamnya kendali diri, maka DIAM menahan
diri adalah LEBIH BAIK agar selamat sekaligus
menyelamatkan.
.::
Edisi : Silent
mode.
Tiada NIAT tanpa medan pemBUKTIan
dan perJUANGan yang terhampar dihadapannya.
.::
Edisi : Pasti.