Home » » Parabola Doa

Parabola Doa

Written By BAGUS herwindro on Jun 6, 2008 | June 06, 2008

Teringat aku akan kisah dari ibuku, bahwa para leluhurku kebanyakan adalah ahli tirakat dalam artian biasa dalam hal lelaku cegah dahar lawan guling (puasa dengan segala jenisnya dan memperbanyak tidak tidur), suatu displin spiritual dalam mengolah rasa dan menempa jiwa untuk memperoleh kasampurnan menjadi manusia utama yang mumpuni lahir batin sesuai dengan jamannya ketika itu, manusia utama yang memahami kesejatian dirinya dan kesejatian tuhannya.

Salah satunya adalah generasi ketiga di atasku yaitu eyang kakungku yang pada jamannya di daerahnya dikenal sebagai orang yang lurus sikap hidupnya, dukdeng / sakti mandraguna, mandi sabdanya / ampuh perkataannya, tempat berkeluh kesah masyarakat sekitarnya dengan berbagai persoalan hidupnya, sekaligus sebagai tempat berlindung para pejuang kemerdekaan di kala itu. Beliau adalah seorang mantri alas / mantri hutan yang bertugas menjaga hutan dari jarahan para blandong / pencuri kayu yang hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa berpikir tentang kelestarian hutan. Sebungkus uang yang nilainya ketika itu sangat banyak pun tidak bisa mengubah pendiriannya, bahkan dia yang berusaha menyuap diwejang semalam suntuk tanpa bisa bergerak sedikit pun bahkan menggigil takut karena merasa tulang belulangnya lepas dari tubuhnya. Bandingkan dengan masa kini dimana penjarahan kayu di hutan-hutan Indonesia sudah dalam taraf yang sangat mudharat, yang dilakukan dengan peralatan yang lengakap, secara sistematis, terencana dan terorganisir bahkan meliputi aparat yang seharusnya berwenang memberantas praktek ilegal tersebut.

Satu hal yang pasti, dari berbagai ilmu jaya kawijayan / kesaktian yang tersimpan dalam dirinya, sudah dilepaskan beberapa tahun sebelum Beliau meninggal. Beliau mengatakan bahwa seluruh ilmu yang pernah dikuasainya sudah dilepaskan karena di antara anak keturunannya tidak ada yang kuat untuk meneruskannya, melakukan tirakat sebagaimana Beliau dulu bertirakat. Hanya satu ilmu yang tersisa yaitu ilmu keselamatan untuk anak cucu. Demikian juga dengan para leluhur yang sebelumnya, biasanya laku tirakatnya juga dimohonkan untuk keselamatan seluruh anak keturunannya, biarlah mereka yang hidup tirakat dan anak keturunannya yang memetik buahnya. Dari sinilah timbul satu hikmah yang bisa kupetik, yaitu bahwa kehidupanku saat ini tidak bisa lepas dari kehidupan para leluhurku di masa yang lampau dan kehidupan anak keturunanku kelak sampai akhir jaman juga tidak bisa lepas dari kehidupanku saat ini, dalam arti bahwa ada mata rantai yang menghubungkan antara satu generasi ke generasi yang berikutnya yaitu yang utama adalah doa.

Dengan laku tirakat, para leluhur mengubah kejasmaniahan mereka menjadi energi ruhani yang dimuati oleh doa, doa keselamatan, yang kemudian energi ruhaniah ini dipancarkan pada frekuensi yang khas yang terus menerus menyebar ke semesta sebagaimana yang diniatkan. Maka, agar dapat terhubung dengan frekuensi yang khas tersebut dan agar daya tangkap sinyalnya bagus, ya syaratnya harus memasang antena parabola yang sesuai yaitu dengan mengirimkan doa kepada para leluhur tersebut sekaligus mengikuti tujuan dari lakuu tirakat yang mereka lakukan yaitu pengendalian diri, pengendalian nafsu untuk mengenal tuhan yang sejati. Bila frekuensi sudah sama maka dengan sendirinya energi ruhaniah di balik frekuensi yang terpancar tersebut akan mengalir dalam kehidupanku dan selanjutnya akan mewujud menjadi materi dalam keseharianku. Proses inilah yang harus aku teruskan juga untuk anak keturunanku, agar doaku juga bisa mencahayai mereka. Makanya kalau berdoa tidak lepas juga mendoakan seluruh anak keturunanku sampai akhir jaman kelak sebagaimana yang diajarkan oleh Syekh Abdul Jalil Mustaqim semoga selalu diberikan oleh Allah : tetapnya iman, terangnya hati keselamatan hidup dunia kahirat, ampunan-Nya serta keridhoan-Nya dan smoga selalu dijadikan hamba Allah yang sholih-sholihah yang manfaat dunia-akhirat. Aamiin.

Tetapi.... ada tetapinya nih, sehebat apa pun tirakat dan doa yang dipancarkan oleh para leluhurku, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan doa Rasulillah Muhammad yang sudah terpancar 15 abad yang lalu untuk kita umatnya bahkan untuk semesta. Sampai menjelang meninggalnya pun yang disebut-sebut dan yang diingat oleh Rasulullah adalah kita umatnya, bagaimana kita sepeninggal Beliau. Maka agar kita bisa terhubung dengan frekuensi doa Rasulillah Muhammad caranya adalah dengan mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah sejak 15 abad yang lalu. Salah satunya adalah dengan bersholawat. Bersholawat berarti menunjukkan bahwa kita umat Muhammad dengan demikian bersholawat sama artinya kita memasang antena parabola yang bisa menangkap frekuensi doa Rasulullah yang nantinya pada hari kiamat akan berwujud sebagai syafaat.

Lebih khusus, lebih cepat dan lebih presisi lagi kalau antena parabola itu berbentuk dzikir, dzikir khusus yang mempunyai mata rantai pengajaran yang hakiki yang bersambung terus menerus dari Rasulillah Muhammad sampai dengan seorang mursyid yang kami dan mukammil di jaman ini. Dzikir itulah dzikir thoreqoh/tarekat yang akan membawa kita kepada inti dari ajaran Rasulullah yaitu Ihsan. Bukankah syafaat Rasulullah Muhammad juga akan lebih cepat sampai kepada kita melalui mata rantai silsilah thoriqoh/tarekat yang hakiki ?

Wallahu’alam.

Share this article :
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Assallamu'alaikum......

    "Laukana Khairon la sabakuna ilaihi" Jika sekiranya perbuatan itu baik tentulah para sahabat r.a.
    telah lebih dahulu melakukannya.
    kaidah ini yang harus kita tanyakan kepada diri kita ya akhi,apakah sahabat mealakukan apa yang kita lakukan ?
    "barang siapa yang beramal denga amalan yang tidak ada contohnya dari kami ,maka amalannya itu tertolak"
    wallahu 'alam

    ReplyDelete








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger