Home » , » Hidup itu [ternyata] sederhana [kalau sadar]

Hidup itu [ternyata] sederhana [kalau sadar]

Written By BAGUS herwindro on May 3, 2010 | May 03, 2010

Bermula dari keagungan Rasulullah Muhammad SAW yang tiada terkira, yang cintanya kepada kita umatnya demikian hebatnya, bahkan sampai detik-detik menjelang pertemuan dengan sang kekasih, Allah SWT, yang dipikirkan, yang diprihatinkan, yang disebut adalah umatnya, “Umatku, umatku, umatku…” begitu yang didawuhkan oleh kanjeng Nabi.

Manusia utama, makhluq termulia yang kehadirannya menjadikan sebab turunnya rahmat Allah untuk semesta ciptaan-Nya. Insan sempurna yang menjadi tauladan sepanjang sejarah peradaban manusia. Betapa luar biasa amanah yang diembannya, memperkenalkan Allah kepada umat, bukan hanya umat pada jamannya melainkan seluruh umat sampai akhir jaman kelak. Permasalahan yang harus dihadapi tidak hanya pribadinya atau keluarganya tetapi meliputi seluruh umat sampai akhir jaman.


Bandingkan dengan kita saat ini. Tangung jawab apa yang membebani pundak kita ? Paling urusan keluarga, urusan kerjaan, urusan sosial kemasyarakatan dan urusan lainnya yang tidak sampai seperti urusannya kanjeng Nabi yang harus ngemong umat secara keseluruhan lahir batinnya sampai akhir jaman kelak.

Coba kumpulkan semua permasalahan, semua urusan yang sering dihadapi kebanyakan manusia. Belum dapat jodoh, sedang sakit, tidak punya uang, konflik dengan keluarga, anaknya bermasalah, jualannya belum laku, lagi senang maksiat, putus cinta, dikerjat target pekerjaan, pasangannya selingkuh, barangnya hilang-kecurian, usahanya merugi, belum dapat proyek, dikejar-kejar hutang, kalah dalam pencalonan, dikomplain pelanggan, merasa dizholimi bos, sedang kasmaran, lagi giat ibadah, dapat promosi jabatan, patah hati, gaji naik, kena PHK, ditilang polisi, harus kerja lembur, mengalami kecelakaan, bayar sekolah mahal, ingin punya ini-itu, disenggol orang di jalan, lagi kesal, belum punya anak, baru saja menikah, pembantu pulang kampung, ada teman engga tahu diri, kebanjiran, ban gembos, jauh dari keluarga, buka usaha baru, dapat bonus tahunan, ditipu orang, dapat downline baru, dapat order tak terduga, berangkat haji, puasanya batal, dzikirnya bolong, ditaksir orang, putus cinta, digoyang gempa, ditiup beliung dan sebagainya. Kalau didata tentunya bisa ribuan, baik yang menurut kebanyakan orang “enak” atau pun yang “tidak enak”.


Kenyataannya, semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita, sama sekali tidak bisa kita kendalikan. Coba di antara semua yang sedang membaca tulisan ini, siapakah yang berani mengklaim bahwa Anda sanggup mengendalikan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Anda ?

Nasi di sendok yang sudah siap masuk ke mulut pun, ternyata ada saja yang terjatuh ke tanah walau pun hanya satu butir. Itulah gambarannya. Rejeki yang sudah di depan mata, yang menurut pikiran pasti terpegang, kenyataannya bisa meleset, walau pun sebenarnya melesetnya itu rejeki kita juga. Sebaliknya yang tak disangka-sangka malah hadir di hadapan kita. Niat istiqomah beribadah, tegak lurus di hadapanNya pun, terkadang terpeleset oleh tarikan hawa nafsu kita. Ingin selamat terus pun terkadang celaka juga. Seluruh usaha keras kita, walau pun sampai berdarah-darah ibaratnya, pada akhirnya harus menyerah pada benteng takdir. Manusia punya kehendak, tetapi kehendak Allah yang pasti berjalan.

Syaikh Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî mengingatkan dalam kitab Al Hikam-nya : sawaa biqu lhimami laa takhriqu aswaaraa l-aqdaar [kerasnya semangat/perjuangan itu tidak dapat menembus benteng takdir]
Q.S. At Takwiir [81:29] : wamaa tasyaauuna illaa an yasyaa-allaahu rabbu l'aalamiin [Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.]

Lalu kenapa kita sering mengeluh, padahal keluhan kita selamanya tidak akan pernah menyelesaikan masalah, malah menambah masalah. Karena keluhan kita tidak akan pernah menambah beningnya hati kita, tetapi sebaliknya malah menambah buramnya hati kita.

Q.S. Al Qashash [28:68] : warabbuka yakhluqu maa yasyaau wayakhtaaru maa kaana lahumu lkhiyaratu subhaanallaahi wata'aalaa 'ammaa yusyrikuun  [Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)]. 

Orang-orang pintar sekarang, termasuk para trainer, para motivator sering mengajarkan bahwa dalam mewujudkan impian jadi kenyataan seseorang harus fokus pikirannya pada impian tersebut dengan menjaga agar pikiran selalu positif (positive thinking) karena energi mengikuti pikiran kalau perlu malah fokus itu ditanamkan di pikiran bawah sadar agar bisa bekerja secara terus menerus. Sehingga semakin fokus pikiran berarti semakin kuat energi yang terarah untuk mematerialisasikan impian itu agar wujud secara nyata dalam realitas fisik. 

Apakah hal itu keliru ? Sebenarnya [mungkin] hal tersebut tidaklah keliru karena memang itulah tugas pikiran, tetapi kurang lengkap kalau tidak menyertakan “rasa” di dalamnya. Rasa apa ? Rasa yang dimaksud adalah rasa yakin, penerimaan atau kerelaan dan keberlimpahan atau syukur. Sehingga positive thinking haruslah disertai positive feeling.  Yang ada di pikiran harus ada rasanya juga, sebab bila rasa itu tidak ada akan berakibat pada diri kita yang diperbudak oleh fokus yang ada di pikiran kita, sehingga kalau toh tercapai/terwujud akan semu sifatnya, tidak membawa ketenangan. Kalau ketenangan tidak ada, keberkahannya pun biasanya juga tidak ada. Dalam kata lain, apa yang dicapai tidak bisa dirasakan nikmatnya karena masih kurang atau karena aspek lainnya di luar yang difokuskan malah kalah. 

Nah, sebenarnya [mungkin lagi], yang utama dan pertama adalah fokus pada hati yang melahirkan rasa, bukan pada akal yang melahirkan pikiran, karena permasalahan yang melingkupi diri kita itu bisa dilihat tanda-tandanya dari seberapa jauh kita bisa menata hati kita [lagi-lagi mungkin]. 

Bila hati kita belum ada keyakinan yang kuat akan jaminan pemeliharaan Allah atas kehidupan kita sehingga kita mengkhawatirkan masa depan kita, biasanya itu tanda-tanda bahwa apa yang kita khawatirkan itulah yang akan menjadi permasalahan kita di masa depan.

Bila hati belum bisa bersabar menikmati proses yang memang harus kita lalui, biasanya itu adalah tanda-tanda kalau permasalahan yang kita hadapi tak kunjung mendapat solusi. 

Bila hati belum bisa merasakan nikmatnya segala yang kita peroleh saat ini, biasanya itulah tanda-tanda bahwa kita belum akan mendapatkan nikmat yang lebih lagi. 

Bila hati belum bisa merelakan semua yang kita alami khususnya yang tidak mengenakkan kita, biasanya itu adalah tanda-tanda bahwa apa yang kita alami tersebut kemungkinan besar akan terulang kembali. 

Itulah contoh sederhananya.

Rasa itu bisa keluar dengan sendirinya bila hati yang melahirkan rasa itu telah terbiasa dengan dzikir. Karena itu kalau ada permasalahan berat yang membutuhkan solusi, bertanyalah pada ahli dzikir. Jangan bertanya pada ahli pikir. Kenapa demikian ? Karena ada perbedaan orientasi antara berdzikir dan berpikir. 

Q.S. Ali ‘Imran[3:191] : alladziina yadzkuruunallaaha qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii khalqi ssamaawaati wal-ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaba nnaar [(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.] 

Berdzikir, orientasinya selalu pada Allah, sedangkan berpikir orientasinya pada fenomena langit dan bumi. Dengan kata lain dalam proses berpikir selalu terikat atau terpaku pada data empiris, metodologi dan logika. Proses berpikir berarti mengamati, mencari makna dari obyek yang menjadi pengamatan hingga nantinya menemukan bentuk, warna, komposisi dan hubungan sebab-akibat dan seterusnya. Sebaliknya, berdzikir tidak memerlukan itu semua. Berdzikir bukan mencari makna, melainkan akan menemukan makna dengan merasakan bahkan menjadi obyek itu sendiri. Orang yang berpikir akan mencari makna Allah melalui ciptaanNya atau makhlukNya, sedangkan orang yang berdzikir, akan mendapatkan makna Allah atau mengenal Allah melalui Allah yang selanjutnya akan mengenal ciptaan/makhluk Allah melalui Allah juga. Syaikh Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî mengatakan bahwa dalil hanya dibutuhkan orang yang mencari Tuhan, bukan orang yang telah menyaksikanNya.

Berpikir ibarat berjalan, dalam arti bahwa untuk berjalan itu memerlukan strategi penempuhan sesuai kondisi jalan  yang dilalui, seperti misalnya seberapa lebar langkah kaki harus diayunkan, seberapa cepat gerak langkah harus diulang, haruskah diselingi dengan lompatan-lompatan dan sebagainya. Seperti itulah para ahli pikir, selalau terikat dengan kaidah-kaidah berpikirnya.

Berdzikir ibarat terbang, bebas dari strategi penempuhan dan sangat dinamis tanpa beban. Kadang menukik tajam, kadang menanjak pelan, kadang berputar ritmis, kadang pula meliuk-liuk bagai tarian yang indah, yang semuanya itu berlangsung dengan sendirinya dan pada saat yang tepat pula. Begitulah para ahli dzikir, hatinya selalu menuntun dengan cara yang sesuai dan pada waktu yang tepat, tanpa direncanakan, tanpa disiapkan, sering terlihat tidak logis dan tidak terduga, seperti selalu terhubung dengan sebuah database raksasa yang semua data ada di dalamnya, tersedia setiap saat dan akan muncul pada saat yang tepat dengan sendirinya.

Dzikir bukan untuk mencari ketenangan, namun ketenangan merupakan salah satu efek samping dari dzikir. Ketenangan di hati inilah yang sangat diperlukan dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan kita. Masalah selalu ada,  tetapi bagaimana hati kita menyikapi masalah, itulah yang akan menentukan apakah suatu masalah itu menjadi masalah bagi kita atau tidak. Dengan hati yang tenang, hidup sempit pun akan terasa lapang. Dengan hati yang tenang, keputusan dapat diambil dengan matang. Dengan hati yang tenang, kesulitan bisa diselesaikan dengan gampang. Dengan hati yang tenang, kesuksesan dapat dicapai dengan gemilang.

Lalu letak sederhananya hidup kita ini di mana ?

Pertama, jika kita menyadari bahwa hidup kita tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan hidupnya Kanjeng Nabi Muhammad dan para pewarisnya yang diamanahi gusti Allah untuk ngemong umat secara keseluruhan. Kalau kita menyadari itu, bukankah hidup kita ternyata sangat sederhana ?
Kedua, apapun permasalahan yang melingkupi kita, sebenarnya hanya berkisar pada empat hal saja, yaitu nikmat, cobaan, taat dan maksiat. Sederhana bukan ?

Syaikh Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî pernah mengadukan kerisauan hatinya kepada sang guru Mursyidnya, Syaikh Abu al-Abbas al Marsi, dan dijawab oleh Beliau, “Hanya ada empat keadaan yang dialami oleh seorang hamba : nikmat, cobaan, taat dan maksiat. Jika berada dalam nikmat, bersyukurlah. Jika berada dalam cobaan, bersabarlah. Jika berada dalam taat, saksikanlah anugerah-Nya kepadamu. Jika berada dalam maksiat, segeralah bertobat.”

NIKMAT - Bersyukur

Nikmat bagi kebanyakan orang mungkin diartikan sebagai segala sesuatu yang apabila kita dapat merasakan atau memperoleh atau meraih atau memilikinya akan menimbulkan rasa senang dan bahagia. 

Mengapa kita harus bersyukur jika berada dalam nikmat ? Karena bersyukur itu perintah tuhan kita, Allah. Bersyukur berarti memenuhi kewajiban kehambaan kita kepada Tuhan kita yang telah memberikan nikmat. Bersyukur berarti telah merawat nikmat yang telah kita dapatkan. Kalau nikmat yang telah kita dapatkan tidak kita rawat dengan syukur malah dengan gerutu kekecewaan, maka apakah mungkin yang memberikan nikmat tersebut akan menambah pemberian nikmatnya kepada kita ? Bersyukur berarti juga mempersiapkan wadah hati kita untuk lebih luas lagi dalam kesanggupannya menerima limpahan nikmat berikutnya yang tentunya lebih baik dari yang sebelumnya baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Sebaliknya bila nikmat yang kita terima malah kita ingkari dengan tidak mesyukurinya, niscaya azabnya Allah akan berlaku pada diri kita. Tidak usah menunggu nanti di akhirat, di dunia ini pun langsung bisa kita rasakan dengan tidak adanya ketenangan di hati. Hati yang selalu gelisah, hati yang selalau was-was, hati yang selalu resah tanpa adanya rasa pasrah, bukankah itu merupakan azabnya Allah juga ?

Yang namanya dunia itu selalu bersifat dualitas, sesuatu yang berlawanan. Ada laki-laki ada perempuan, ada siang ada malam, ada hujan ada kemarau, ada panas ada pula dingin, begitu seterusnya. Maka ketika kita mau menerima suatu keadaan, maka harusnya mau pula untuk menerima keadaan yang berlawanan. Dengan menerima berarti kita mensyukuri, dengan menolak berarti kita telah kufur. Sebagai contoh, misal dalam usaha kita menjemput rejekinya gusti Allah, saat kita menerima kondisi yang ramai dalam arti rejeki sedang mengalir ke diri kita, maka seharusnya kita bisa menerima juga kondisi yang mungkin sedang sepi. Penerimaan kita pada kondisi yang sepi berarti mensyukuri, yang berarti pula kita telah menyiapkan diri untuk menerima kondisi yang lebih ramai lagi. Tetapi sebaliknya bila kondisi yang sepi kita sikapi dengan keluhan dan gerutuan, biasanya itu tanda-tanda akan semakin sepi dan azab Allah akan menyelimuti hati kita dengan hilangnya ketenangan di hati. Pikiran kita akan lebih aktif memikirkan usaha kita, bukan dalam arti mencari solusi melainkan aktif memantau saja dan yang pasti gambaran-gambaran yang tidak baik akan muncul silih berganti dalam pikiran kita. Kita akan semakin melekat dan semakin diperbudak. Itulah percepatan azabnya Allah yang langsung dapat kita rasakan.

Sebenarnya, setiap detik kehidupan yang kita lalui hakikatnya adalah nikmat yang tak terhingga dari Allah. Sayang hati kita terlalu keruh untuk merasakannya dan biasanya kita baru menyadari itu nikmat setelah nikmat itu diambil dari diri kita. Kita baru menyadari nikmatnya sehat ketika kita jatuh sakit, kita baru menyadari nikmatnya berkeluarga setelah keluarga kita tak tentu arahnya karena kesalahan kita sendiri dan begitu seterusnya. Kalau ada hal-hal yang rasanya tidak mengenakkan kita, yakinlah dan carilah dari kondisi tersebut ada hal-hal yang patut disyukuri karena memang dalam setiap kondisi pasti selalu ada yang bisa disyukuri sesuai sifat dualitas dunia ini. Sebagai contoh kalau ada hal-hal yang menurut kita kurang pada diri suami/istri kita, pasti ada hal-hal lebih lainnya yang ada pada diri suami/istri kita yang bisa kita syukuri. Maka, tidakkah kita sebaiknya mendahulukan syukur itu terlebih dahulu [meskipun sulit] ?

Bersyukur memang sesuatu yang sulit, tetapi lebih sulit lagi bila rasa syukur kita itu semata-mata bukan karena nikmat yang kita terima, melainkan karena kita memandang siapa yang ada di balik nikmat yang kita terima itu, yaitu Allah. Karena itu kalau hati kita dilapangkan untuk bisa merasakan syukur, syukurilah, karena sebenarnya rasa syukur itu sendiri merupakan nikmat yang luar biasa dari Allah melebihi obyek nikmat yang kita syukuri.

Q.S. IBRAHIM [14:7] : “wa-idz ta-adzdzana rabbukum la-in syakartum la-aziidannakum wala-in kafartum inna 'adzaabii lasyadiid” [Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"]

Yang diperintahkan adalah BERSYUKUR ketika mendapatkan nikmat, lalu teknisnya seperti apa ?
Pertama, syukur melalui lisan, yaitu dengan menceritakan nikmat Allah yang kita peroleh yang tentu saja niatnya adalah benar-benar untuk bersyukur bukan untuk sekedar pamer. Syukur melalui lisan ini minimal dengan mengucapkan hamdalah.

Q.S. Ad Dhuhaa [93:11] : [Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.]

Kedua, syukur melalui anggota badan, yaitu dengan melakukan ketaatan pada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ketika shalat terus hingga kedua kaki Beliau bengkak-bengkak. Kemudian Beliau ditanya mengapa Rasulullah melakukan itu padahal Allah sudah mengampuni dosa Rasulullah yang dahulu dan yang kemudian. Dijawab oleh Rasulullah, “Tidakkah kau suka aku menjadi hamba yang bersyukur ?”.

Ketiga, syukur melalui hati, yaitu dengan benar-benar meyakini serta mengakui bahwa semua nikmat yang kita dapatkan melalui perantara apa pun dan siapa pun adalah berasal dari Allah.

Q.S. An Nahl [16:3] : [Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.]
Mari kita bersama-sama belajar untuk bersyukur, mensyukuri apa pun dalam keseharian kita. Mari kita syukuri sms dari istri/suami/anak/orang tua kita yang masuk pertama kali di HP kita, mari kita syukuri panggilan kepada kita yang terucap pertama kali dari lisan suami/istri/anak kita, mari kita syukuri hidup kita pertama kali setelah terbangun dari tidur, mari kita syukuri senyum pertama yang kita lihat dari wajah orang yang kita kenal, mari kita syukuri pekerjaan kita dan seterusnya.

Intermezo :

Jadi ingat ilmu untung atau ilmu selametnya orang Jawa. Orang tua-tua kita dulu sering mewariskan  [walau tanpa disadari] cara pandang dalam memaknai setiap peristiwa yang tidak mengenakkan dengan kosa kata untung atau selamet. Misalnya si fulan mengalami kecelakaan di malam hari yang sepi karena menjadi korban tabrak lari sehingga harus masuk rumah sakit. Maka ketika melihat peristiwa itu dan memaknainya akan terucap, “Untungnya kok di sekitar situ masih ada yang lewat hingga fulan ini ada yang menolong dan membawa ke rumah sakit.” Selalu ada yang disyukuri dalam setiap peristiwa. Itu pula yang sering saya praktekkan dan ceritakan ke kawan-kawan, seperti ketika dulu saya kehilangan sepatu sewaktu jum’atan di masjid. Total saya mengalami kejadian kehilangan sepatu itu sampai empat kali di empat masjid yang berbeda-beda. Pertama di Masjid UNAIR Dharmawangsa tahun 1993, kedua di Masjid Al Muhajirin Pemkot Surabaya kalau tidak salah [berarti benar] tahun 1998, ketiga di Masjid Al Falah Darmo Surabaya tahun 2001 dan keempat di sebuah masjid kawasan Ngagel Rejo Surabaya kalau tidak salah [berarti benar lagi] tahun 2005. Tapi kok sampai empat kali ya ? Ya karena salah saya sendiri yang gak mau nitipin sepatu [masjid yang terakhir itu memang gak ada penitipannya] karena beranggapan semua jamaah adalah orang baik. Bisa jadi karena saya belum bisa merelakan, sehingga kekhawatiran seperti itu selalu ada dan akhirnya kejadian. Tetapi sekarang sambil tertawa saya sering menceritakan hal itu dengan memakai ilmu untung atau ilmu selamet tadi. “Untungnya waktu sepatu itu hilang kok pas tidak saya pakai, coba kalau hilangnya itu pas saya pakai, lha saya kan ikut hilang, iya kan ?”

COBAAN - Bersabar

Q.S. Al Baqarah [2:155] : walanabluwannakum bisyay-in mina lkhawfi waljuu'i wanaqshin mina l-amwaali wal-anfusi watstsamaraati wabasysyiri shshaabiriin [Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.]

Cobaan itu ternyata merupakan pemberian Allah kepada kita, berarti dalam konteks pemberian semestinya respon pertama yang harusnya muncul dari hati kita adalah syukur mengingat cobaan itu adalah pemberian Allah. Tetapi karena mungkin terlalu sulit bagi kita untuk merespon cobaan itu dengan syukur, maka yang diperintahkan kepada kita oleh Allah adalah merespon cobaan tersebut dengan sabar.

Q.S. Al Baqarah [2:156] : alladziina idzaa ashaabat-hum mushiibatun qaaluu innaa lillaahi wa-innaa ilayhi raaji'uun  [(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"]

Sabar dalam merespon cobaan berarti menata hati kita untuk menyadari dan meyakini bahwa segala sesuatu berasal dari kehendak Allah dan pada akhirnya segala sesuatu itu akan kembali juga kepada Allah. Sabar dalam merespon cobaan berarti menata hati untuk pasrah total kepada Allah di samping secara lahiriah tetap menjalani proses yang ada sebagai ikhtiar kita untuk mendapatkan solusi yang terbaik bagi kita.

Q.S. Al Baqarah [2:157] : ulaa-ika 'alayhim shalawaatun min rabbihim warahmatun waulaa-ika humu lmuhtaduun [Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.]

Pada akhirnya, sabarnya kita menghadapi cobaan akan berbuah keberkahan dan rahmat Allah, tetapi patut diingat, kebisaan kita dalam merespon cobaan dengan sabar pun sesungguhnya semat-mata karena petunjuk dari Allah.

Seberapa besar kesanggupan kita menerima dan mengatasi godaan, cobaan dan ujian, sebesar itu pulalah kebahagiaan dan kebarakahan yang akan bertambah pada diri kita, sebab tidak akan bertambah nikmat jika wadah penampung nikmat itu belum siap. Tidak akan bertambah nikmat, jika nikmat yang telah diberi tidak kita rawat dengan rasa syukur kita padaNya. Jika gusti Allah berkehendak untuk menaikkan derajad kita, maka hati kita akan diperhalusNya dengan cobaan, ujian, godaan, kesempitan juga kelapangan, agar hati kita semakin luas untuk sanggup menerima anugerahNYA.

TAAT – Saksikan anugerahNYA

Ketaatan pada Allah merupakan suatu nikmat yang layak dan harus untuk disyukuri, karena kalau kita taat berarti itu merupkan tanda-tanda bahwa gusti Allah masih menyapa kita. Adakah yang berani mengklaim bahwa ibadah Anda adalah hasil upaya Anda sendiri ? Kalau tanpa hidayah dari Allah maka pasti kita tidak akan tergerak untuk beribadah kepada Allah. 

"Laa haula walaa quwwata illaa illaahil 'aliyyil 'adzhim" [Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung].

Secara akal, ibadah kita menyebabkan turunnya ridhonya Allah. Kalau seperti itu berarti Allah tergantung kepada manusia ? Bukankah kekuasaan Allah menentukan segala sesuatu ? Secara akal memang seperti itu, tetapi secara hakiki kalau Allah ridho kepada hambaNya maka Allah juga akan menggerakkan hati si hamba untuk taat dan beribadah kepadaNya. Karenanya kalau kita bisa beribadah kepada Allah, hati harus memandangnya sebagai limpahan hidayah, rahmat dan pertolonganNya kepada kita. Jangan mengklaim itu sebagai usaha kita sendiri. Bisakah kita menjamin diri kita bahwa besok masih beriman ? Bisakah kita menjamin di akhir kehidupan nanti dalam keadaan yang khusnul khotimah ?

Ketaatan kita adalah semata-mata karena fadhol dan rahmatnya Allah saja, tanpa itu niscaya untuk niat sholat pun kita tidak akan sanggup.

Q.S. Yunus [10:58] : qul bifadhlillaahi wabirahmatihi fabidzaalika falyafrahuu huwa khayrun mimmaa yajma'uun [Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". ]

MAKSIAT – Bertobat

Q.S. Al Maa’idah [5:74] : afalaa yatuubuuna ilaallaahi wayastaghfiruunahu walaahu ghafuurun rahiim [Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.]

Q.S. Huud [11:90] : wastaghfiruu rabbakum tsumma tuubuu ilayhi inna rabbii rahiimun waduud [Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.]

Ada kalanya kita terpeleset berbuat maksiat, maka segerah bertobat. Itu perintahNYA. Jangan berputus asa dari ampunan Allah, karena sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun. Bisa jadi kita ditakdirkan berbuat dosa oleh Allah dalam rangka menarik kita untuk lebih mendekat kepadaNYA.

Rasa sesal kita itu saja merupakan tanda-tanda kalau ampunan Allah sudah turun, apalagi kalau kita tergerak untuk bertobat, berarti itu pertanda Allah sudah mengampuni kita.


NIKMAT – COBAAN – TAAT – MAKSIAT, sederhana bukan ?

Semoga gusti Allah senantiasa menganugerahkan tetapnya iman, terangnya hati, keselamatn dunia-akhirat, ampunan serta ridhoNYA kepada kita semua. Semoga gusti Allah melapangkan hati kita agar setiap detik kehidupan yang telah ditakdirkanNYA untuk kita, bisa kita respon dengan rasa syukur, sabar dan ridho sehingga hati kita bisa merasakan Allah di balik setiap apa pun dalam keseharian kita. Aamiin.
Share this article :
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Alhamdulillah, Gusti Alloh berkenan mempertemukan saya dengan tulisan ini, pas banget dengan kondisi hati saya,
    boleh ijin share ga mas?
    suwun..

    ReplyDelete
  2. Monggo saja .... semoga bermanfaat.

    ReplyDelete








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger