Home » » Jejak RAMADHAN

Jejak RAMADHAN

Written By BAGUS herwindro on May 27, 2010 | May 27, 2010

Tak terasa insya Allah kurang dari tiga bulan lagi kita akan menemui bulan Ramadhan, pertengahan agustus, lalu kira-kira adakah bekas Ramadhan yang telah lalu itu dalam diri kita ini ? Kalau saya sendiri sih rasanya masih jauh….. jauh sekali dari derajad orang yang taqwa, mungkin malah dari tiap Ramadhan yang telah terlalui tidak ada bekasnya sama sekali.

Satu

Kemarin ketika Ramadhan menjelang dan setiap Ramadhan menjelang, di benak ini tergambar betapa banyak ibadah yang ingin dilakukan, tetapi ah… benarlah bahwa nafsu di dalam keburukan itu lebih jelas terlihat dari pada nafsu yang menyertai kebaikan apalagi nafsu di balik ibadah yang kulakukan. Nafsu shalat, nafsu dzikir, nafsu puasa dan seterusnya. Lho lha kok tahu kalau itu nafsu ? Ya tahu asalakan aku memang benar-benar mau menelusurinya, bahwa setelah kutelusuri, segala hal yang meskipun kelihatannya baik, meskipun ibadah sekali pun, ternyata tujuannya bukan semata-mata untuk Allah berarti nafsuku ikut bermain di sana. Demi pahala, demi selesainya masalah, demi kemakbulan doa dan demi-demi yang lain bukan semata-mata karena Allah. Apalagi kalau keingina beribadah itu hanya sekedar angan-angan kosong tanpa tindakan nyata, ah… apalah artinya ? “Pengharapanmu harus disertai dengan amalan. Kalau tidak, maka itu hanyalah lamunan”. (al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî).


Dua

Saat menginjak Ramadhan, teringat olehku selalu saja terlihat fenomena yang sama. Di siang hari, di mall-mall banyak terlihat yang sedang makan dengan demikian enaknya. Kalau yang makan non muslim sih, itu urusan mereka, tetapi banyak di antara mereka yang berkerudung, itu pun sebenarnya bukan masalah karena mungkin saja mereka sedang berhalangan, tetapi pasangannya, mestinya laki-laki kan tanpa halangan, juga ikut makan dengan enaknya. Tapi bisa jadi mereka itu musafir sehingga mendapatkan rukshoh, tapi musafir kok di mall ya .. ? Byuh-byuh, …. Apalagi di luar sana…. Wuaaakeeeehh sing gak poso, shalat saja tidak apalagi puasa. Meski puasa tapi kalo diri ini masih sekedar dapat predikat orang yang hanya dapat lapar dan dahaga saja, rasanya sedih banget, apalagi yang tidak berpuasa. Tapi kok bisa ya mereka nyantai seperti itu ? Halah ya sudahlah, urusan mereka, ora usah melu-melu, namanya saja fenomena.

Tiga

Saat Ramadhan kemarin, Surabaya, kalau siang puaanassss banget. Kasihan mereka yang bekerjanya seharian di lapangan, pakai otot lagi, bisakah mereka berpuasa ? Para tukang becak, pekerja bangunan, pedagang keliling dan lainnya, kalau mereka berpuasa, sungguh perjuangan yang teramat sangat berat sekali terutama dari segi fisik. Tenaga terus terpakai, keringat tak kunjung kering, tetapi berpuasa, sungguh tak terbayangkan. Boleh tidak ya kalau memang kondisinya begitu berat seperti, kemudian tidak berpuasa tetapi membayar fidyah ? Kalau misalnya boleh berarti mestinya kewajiban kita semua dalam mengeluarkan zakat fitrah tidak usah menunggu di akhir bulan Ramadhan, tetapi mestinya di awal bulan Ramadhan agar segera bisa didistribusikan kepada mereka yang memang kondisinya benar-benar membutuhkan, agar mereka pun kalau toh terpaksa tidak sanggup berpuasa bisa tetap membayar fidyah dari zakat yang diterimanya. Tetapi mungkin banyak yang mengatakan yang penting kan niatnya, kalau niatnya kuat, meski kerja berat pasti bisa melaksanakan puasa. Tapi bagiku, coba saja yang ngomong begitu suruh menjalani kehidupan seperti yang mereka jalani, kuat engga ? Ojok omong thok ae !!! Bersyukurlah diri ini yang tidak harus melampaui puasa dalam kondisi seperti itu.

Empat

Aku ingat sejak tahun 1993 kemarin, ketika waktu Maghribku banyak terlewati di sepanjang jalan yang harus kutempuh, berbuka puasa di masjid memberikan suatu kesan kebahagiaan tersendiri di hati ini. Begitu juga saat Ramadhan kemarin, hampir setiap hari, di saat teman-teman lain banyak berbuber (buka bersama) di mall-mall, di resto-resto, aku demikian juga adanya, selalu berbuber tetapi di masjid bareng sama rekan-rekan kerja. Yang pasti lebih barakah, karena tidak mungkin terlewatkan waktu shalat maghribnya, sekalian shalat berjamaah di masjid, serta memberi kesempatan bagi mereka yang ingin beramal dengan menyediakan makanan untuk berbuka puasa. Walau hanya sebungkus nasi dan walau hanya segelas teh hangat tetapi nikmat dan hemat :D. Tetapi di masjid itu, selalu kutemui sosok lelaki paruh baya [yang mungkin lepas dari pengamatan teman-temanku], dengan uban mulai tersebar di rambutnya, dengan dandanan yang bersahaya, selepas shalat berjamaah menanti hidangan buka puasa dibagikan, duduk terdiam dengan pandangan menerawang jauh entah ke mana. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa yang direnungkannya. Kuamati, sosok itu hanya sekedar minum segelas teh hangat. Nasi bungkus yang dibagikan tidak pernah dimakannya, hanya disimpan. Kalau di akhir berbuka masih ada kelebihan nasi yang dibagikan kepada jama’ah, sosok itu selalu ikut berusaha untuk menerimanya dan makanan itu selalu di bawanya pulang kerumah. Oh.... apakah keluarga di rumah menantikan itu ? Sungguh masih banyak di negeri ini yang kondisinya masih sangat memprihatinkan kalau tidak boleh dibilang sangat mengenaskan, bahwa untuk makan genap sehari sekali saja sudah merupakan kemewahan luar biasa bagi mereka. Kalau kebanyakan kita hanya berpuasa sebulan saja di tiap tahun, itu pun hanya di siang hari saja, tetapi masih banyak saudara-saudara kita yang puasanya sepanjang tahun. Bukan karena puasa itu sendiri, tetapi karena memang kondisinya yang tidak memungkinkan walau pun hanya sekedar untuk makan saja. Sungguh rasanya teriris hati ini bila menyaksikan yang seperti itu, tapi apalah daya, diri ini bisanya ya hanya berprihatin, belum bisa sama sekali berbuat dalam tindakan nyata untuk mereka. Karena itu, salut, hormat dan terima kasihku untuk mereka yang senantiasa memwakafkan hidupnya untuk selalu ngemong, mendampingi dan menguatkan mereka yang terpinggirkan oleh perekonomian bangsanya sendiri, mereka yang terpingirkan oleh sejarah negerinya sendiri dan mereka yang terpinggirkan oleh sistem sosial kemasyarakatan negaranya sendiri.

Lima

Nah, tiba saatnya Idul Fitri, sangat terlihat bahwa momen tersebut bukan lagi suatu momen ritual keagamaan tetapi merupkan momen ritual budaya juga, Momen terheboh tahunan yang melibatkan seluruh komponen negara. Pemerintahnya sibuk mempersiapkan angkutan lebaran, keamanan, ketersediaan dan kestabilan harga sembako, transportasi dan sebagainya. Pengusahanya sibuk memanfaatkan momen lebaran dengan berusaha meningkatkan volume penjualan dengan berbagai iming-iming diskon. Para karyawan, pegawai dan buruh sibuk menantikan pembagian THR. Para oknum juga sibuk ke sana kemari mencari tambahan THR. Masyarakatnya juga sibuk sendiri-sendiri mempersiapkan lebaran sesuai persepsi mereka masing-masing dan banyak di antara masyarakat kita yang notabene tertulis Islam di KTP-nya, walau sama sekali tidak pernah menjalani puasa juga tidak pernah absen ikut merayakan Idul Fitri.

Enam

Momen terheboh tahunan, MUDIK. Siapa pun, ketika lebaran tiba rasanya ingin pulang ke tempat asal berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara. Walaupun jauh asal ada sangunya, ya inginnya pulang. Sehingga saking banyaknya penduduk negeri ini yang pulang ke tempat asal masing-masing, maka pemerintah beserta seluruh jajarannya, lintas departemen sampai aparat keamanan dibuat sibuk mempersiapkan mudik lebaran. Sampai-sampai setiap stasiun televisi selalu meng-update berita tentang mudik lebaran. Dengan mudik itu pula perputaran uang lebih cepat lagi dalam wilayah yang lebih luas. Fenomena mudik ini mungkin merupakan hasrat ruh. Maksudnya, setiap diri kita ini pasti punya kecenderungan menelisik asal mula kehidupan kita, yang paling dekat ya pasti setiap orang ingin tahu siapa orang tuanya. Makanya mudik itu kan keinginan untuk kembali bertemu orang tua, berziarah ke makam kakek nenek misalnya. Menelusuri dari mana kita dulu berasal. Nah, kita hidup di dunia ini kan dilengkapi tubuh fisik oleh Allah karena memang kita hidup di alam fisik, dilengkapi juga dengan hawa nafsu, akal, qalbu dan tentu saja yang inti adalah ruh. Yang nantinya kembali kepada gusti Allah kan ruh kita, sehingga ruh kita pun punya kecenderungan untuk bertemu dengan asalnya, penciptanya, pemiliknya yaitu Allah. Masalahnya, kecenderungan itu terbimbing tidak ? Kalau tidak terbimbing jadinya pun macam-macam, arahnya pun macam-macam, tujuannya pun macam-macam, bukan kepada Allah. Nah pada fenomena mudik inilah, kecenderungan ruh untuk bertemu tuhannya sebagai asal mula kehidupan terwujud dalam realita fisik berupa keinginan untuk menemui bapak dan ibu biologis kita juga mungkin terus ke atas kakek dan nenek biologis kita. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI 'UN.

Tujuh

Ada lagi satu tradisi di Idul Fitri yaitu tradisi untuk saling bermaafan. Dari tahun ke tahun jengah juga pikiranku ini, kenapa bermaafan saja kok harus menungu lebaran ? Itu pun belum tentu di hati ini bisa benar-benar memaafkan. Bila dinilai dari kedalaman hati, minta maaf bagiku mungkin suatu hal yang lebih mudah dibandingkan dengan memaafkan. Bila misalkan ada kesalahan terhadap seseorang, pasti di hati ini muncul suatu penyesalan dan ada satu keinginan untuk meminta maaf kepada orang yang kusalahi, meskipun dalam wujud realitas fisik belumlah menjadi suatu tindakan nyata. Tetapi kalau kita merasa pernah disalahi orang, sepertinya rasanya masih sulit ya untuk benar-benar rela memaafkan. Coba saja dicek, umpama orang yang pernah menyalahi kita tiba-tiba saja mendapatkan sesuatu yang buruk bagi dirinya, kira-kira kita berprihatin atau malah bersyukur ya ? [harus jujur lho ya !] Kalau sampai kejadian seperti itu, sungguh, menghabiskan banyak energi, masa lalu terus akan menghantui kekinian kita, kita tidak akan bisa berdamai dengan diri sendiri. Cape deh.....

Delapan

Satu lagi tradisi di awal Ramadhan dan biasanya juga di ahir Ramadhan, yaitu ziarah kubur ke makam orang-orang terdekat kita yang lebih dahulu menghadap-Nya. Banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari ziarah kubur itu,di antaranya :
Ziarah kubur mengingatkan kita akan keterkaitan sejarah kehidupan, bahwa masa ini ada karena adanya masa yang telah lalu dan masa yang akan datang ada pun karena masa ini ada. Meski hakikinya kita semua Allah-lah yang menciptakan, tetapi adanya kita di dunia ini berasal dari orangtua kita, maka adanya kita selalu dinisbahkan kepada orang tua kita dan terus menyambung ke kakek nenek kita terus ke atas ke seluruh leluhur kita. Dalam ziarah kubur, ada Cinta, yang terungkap dari doa-doa kita kepada Allah untuk mereka yang telah meninggalkan kita. Kita mempersembahkan doa kita kepada mereka walau pun mereka sudah tidak memberikan kemanfaatan langsung bagi kita. Patut diingat juga bahwa apa pun yang telah kita capai saat ini, bisa jadi secara sebab akibat duniawi itu adalah berkah dari doa yang telah dipanjatkan leluhur kita dahulu, sehinga doa kita untuk mereka adalah pemulian kita kepada leluhur kita sebagai rasa terima kasih kita untuk mereka. Doa kita untuk mereka juga berarti penguatan dan penegasan bahwa kitalah bagian dari doa yang telah mereka panjatkan yang berarti hal itu merupakan kesiapan kita untuk menerima perwujudan dari doa mereka para leluhur kita. Hal itulah yang semestinya menjadi kesadaran kita, bahwa kita hidup hari ini bukan untuk diri kita sendiri, melainkan nantinya kita pun akan mempunyai anak keturunan yang terus berkembang sampai akhir jaman kelak. Lalu apa yang bisa kita wariskan kepada mereka anak cucu kita ? DOA. Maka marilah kita panjatkan juga doa untuk seluruh anak keturunan kita sampai akhir jaman kelak. Orang tua jangan sampai lupa mendoakan anaknya sehabis shalat dan kita sebagai anak juga jangan sampai enggan mendoakan orang tua kita setiap selesai shalat. Apa jadinya atau mau jadi apa generasi ini jika orang tua sudah tidak pernah mendoakan anaknya dan anak pun sudah tidak pernah mendoakan orang tuanya ? Kalau kita memiliki kesadaran bahwa hidup bukan untuk hari ini saja bukan untuk diri kita sendiri saja tetapi masih akan anak kita, cucu kita dan seterusnya, maka biasanya dalam menjalani hidup kita tidak akan semena-mena, sakmadya saja. Kalau kita mempersulit orang lain, relakah kita kalau anak kita atau cucu kita juga dipersulit ? Kalau kita mencurangi orang lain, relakah kita kalau anak kita atau cucu kita juga dicurangi orang lain ? Kalau kita menzholimi orang lain, relakah kita kalau anak kita atau cucu kita juga dizholimi orang ? Kalau kita seenaknya sendiri dan semena-mena pada istri kita, relakah kita bila hal itu terjadi pada anak perempuan kita ? Dan seterusnya dan seterusnya. Sebaliknya juga begitu, andai kita senang memudahkan seseorang, senang berbuat kebaikan, senang membantu seseorang, maka insya Allah nantinya anak cucu kita akan mudah. Ibarat saat ini kita menanam dan biarlah nanti anak cucu kita yang memanennya.

Ziarah kubur mengingatkan kita akan singkatnya masa hidup kita. Fulan, lahir : xx-xx-xxxx dan wafat : xx-xx-xxxx, berarti hidupnya dibatasi tanda “strip” tahun xxxx – xxxx. Sangat-sangat singkat bila dibandingkan dengan masa penantian sebelum ruh ditiupkan ke jazad kita, sangat-sangat singkat bila dibandingkan degan masa penantian akan hari kebangkitan kelak dan sangat-sangat singkat bila dibandingkan dengan akhirat yang kekal dalam kekekalannya Allah. Masa singkat yang menentukan nasib kita kelak di hadapan Allah dan tidak akan mungkin untuk diulangi lagi. Pilihan kita untuk mengisi masa singkat itu dengan apa dan bagaimana. Apakah kita bisa menghidupkan hidup kita [minimal] atau malah kita sebenarnya tidak hidup ?

Ziarah kubur mengingatkan kita bahwa yang namanya makhluk pasti ada masanya. Setelah habis, pasti kembali kepada sang pemilik dan siapa lagi yang memiliki jika bukan Allah. Berarti masa depan kita yang hakiki adalah Allah dan betapa ruginya hidup ini jika tidak berorientasi Allah. Semoga kita dimudahkan untuk selalu meorientasikan hidup kita untuk Allah. Apa pun yang kita raih, apa pun yang kita miliki, apa pun yang kita perjuangkan walau sampai berdarah-darah tidak akan pernah kita bawa ke liang lahat, ruang sempit 1x2 meter yang pengap, lembab dan gelap. Ih... ngeri.
Semoga menjelang Ramadhan, hati kita dipersiapkan Allah untuk memasukinya dengan suka cita dan bisa membuat hidup kita benar-benar hidup. Aamiin.


Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger