Home » » Cinta... oh Cinta

Cinta... oh Cinta

Written By BAGUS herwindro on Jul 5, 2010 | July 05, 2010

Membahas soal cinta memang ruwet dan kalau mau mengetahui seluk beluk cinta secara komprehensif, silahkan membaca karya Imam Al Ghazali. Beliau menjelaskan dengan sangat detil perihal cinta.

Hanya saja tulisan ini tak hendak membahas hal tersebut yang bagi penulis masih sangat jauh untuk membahas cinta kepada Tuhan [terlalu ndakik atau muluk-muluk atau terlalu tinggi]. Tulisan ini hanya sekedar berbagi rasa, dengan rasa yang sederhana, dengan cara yang sederhana dan dengan pemahaman yang sederhana, yang mungkin juga banyak dialami oleh saudara-saudaraku yang lain terutama yang sedang mengalami problematika cinta, sehinga tema cinta pada tulisan ini mungkin sangat sempit artinya karena hanya berkisar pada cinta yang dirasakan dua insan yang berlainan jenis terutama dalam kaitannya membina mahligai rumah tangga.


Apa sih yang membedakan antara cinta dengan kasih atau dengan sayang ? Rasanya ketiga kata tersebut semakna tapi tak sama dan masing-masing kita bisa mempersepsikan ketiga kata tersebut dengan berjuta makna. Nah untuk menambah referensi rasa dari ketiga kata tersebut, bisa dicoba dengan mengucapkan kata tersebut secara berulang-ulang, dengan pikiran yang hening cobalah ucapkan dengan perlahan kata CINTA berulang-ulang, rasakan makna yangtertangkap oleh rasa Anda dan rasakan pula di bagian tubuh mana kata CINTA itu lebih kuat gemanya.

Lakukan hal yang sama dengan kata KASIH juga dengan kata SAYANG, dan maknailah sendiri apa arti dari ketiga kata tersebut, karena penulis tidak bermaksud mendefinisikan ketiga kata tersebut.

Jatuh cinta berjuta rasanya, begitu kata Titik Puspa dalam sebuah lagunya dan memang itu yang kita rasakan manakala kita sedang jatuh cinta. Kita tidak tahu kapan cinta itu menghampiri kita dan kita tidak tahu pula kapan cinta itu pergi meninggalkan kita. Ada yang mengatakan cinta itu buta, tak mengenal logika hinga seseorang yang sedang jatuh cinta sanggup melakukan sessuatu hal yang mungkin menurut orang lain adalah hal yang tidak masuk akal. Namun begitulah kenyataannya. Karena cinta, sang raja meninggalkan tahta, begitu ibaratnya.

Dalam sebuah sajak dituliskan :

dalam diri ini, murca sudah akal itu, berganti rasa yang membuncah, menggelora menggempur logika [seakan akal telah lenyap, logika telah kalah]

tiba-tiba saja..., aku terlempar dalam lamunan sunyi, terjebak dalam kebisingan suara
yang riuh rendah dengungkan namamu
[orang jatuh cinta sukanya melamun, teringat akan nama yang dicintainya]

tiba-tiba saja..., aku terperangkap dalam lukisan wajah yang penuh gurat warna pesonamu [terbayang terus wajah yang dicintainya]

tiba-tiba saja..., kerinduan itu tertuju kepadamu, rindu yang tak tergenggam oleh makna, rindu yang mencabik-cabik kesadaranku, rindu yang meluluhlantakkan egoku, rindu yang mengharu biru hariku, rindu yang seakan tak sanggup lagi aku menanggungnya [pokoknya setiap saat isinya kangen terus pada yang dicintai, inginnya bertemu dan bersama selalu]

inikah yang namanya cinta..., yang beribu-ribu kisah tertulis karenanya [tema cinta selalu mendominasi, apa pun bentuk karyanya]

inikah yang namanya cinta..., yang datangnya tanpa sapa [sering kita tidak tahu kenapa kita jatuh cinta dan kapan kita akan jatuh cinta, tidak terencana]

inikah yang namanya cinta..., yang perginya tinggalkan luka [banyak kisah cinta berakhir tragedi, mungkin karena cinta yang tak lagi setia atau karena cinta yang menemukan obyek cinta lain atau karena hal lainnya, yang jelas pasti ada luka di sana]

inikah yang namanya cinta..., yang adanya terselubung misteri [selamanya cinta menjadi misteri jika kita tidak tahu ilmu tentang cinta, dari mana cinta itu berasal dan ke mana cinta itu berlabuh]

Dan kesalahan kebanyakan kita termasuk penulis sendiri adalah ketika kita mulai merasakan yang namanya cinta tanpa terlebih dahulu tahu ilmu tentang cinta. Apalagi kemudian cinta yang kita rasakan itu berbalut oleh nafsu kita yang liar yang hanya menuntut pemuasan-pemuasan jasmaniyah saja, maka saat itu cinta hanya sekedar atas nama saja. Atas nama cinta dan akan berakhir tragedy yang memilukan hati.

Dalam sajak berikutnya tertulis :

kemana harus kutanya tentang cinta jika tidak kepada sang pemilik cinta

ternyata... cintaku karena cinta-Nya, ternyata... cintamu karena cinta-Nya, ternyata... cinta kita bagian dari cinta-Nya, ternyata... cinta itu hakikat penciptaan kita


Ya… cinta itulah hakikat penciptaan kita, bahwa Allah menciptakan semesta ini adalah karena Allah itu sangat cinta untuk dicintai, sangat cinta untuk dikenal, sehinga semesta ini diciptakan oleh-NYA agar kita ciptaan-NYA ini bisa mencintai-NYA.

Karena Allah itu meciptakan ciptaan-NYA dengan cinta, maka kita sebagai ciptaan-NYA pun dianugerahi rasa cinta. Maka keliru pulalah kita kalu kita tidak menyandarkan cinta yang kita rasa kepada-Nya,sedang Allah itu maha pencemburu, manakala cinta yang kita rasa tidak bersandar kepada-Nya apalagi malah mengalingi cinta yang semestinya kita persembahkan untuk-NYA. Saat kita mencintai cinta itulah akan lahir cobaan dibalik cinta itu sendiri, menjadi sebuah tragedi cinta yang menimbulkan luka. Nabi adam diusir dari surga adalah karena Nabi Adam mulai mencintai surga, saat itulah iblis berhasil memasukkan bujuk rayunya.

Begitu kita bisa mencintai-NYA, begitu cinta kita sandarkan kepada-NYA, maka tiba-tiba saja kita akan mencintai siapa pun dan apa pun dengan tanpa pamrih. Tiba-tiba saja kita akan mencinta tanpa atas nama cinta, cinta yang tulus, cinta yang murni, bukan cinta yang berbalut nafsu.

Berikutnya tertulis :

dan ternyata aku masih harus terus mencari, tentang cinta yang hakiki, cinta yang tak lagi memiliki

Hal inilah yang berat, penulis pun rasanya belum sanggup utuk sedemikian itu, tetapi bagi penulis sudahlah final, bahwa cinta sejati tidak perlu pengorbanan. Karena cinta adalah persembahan titik. Jangan berbicara cinta kalo masih merasa berkorban, jangan bicara cinta kalo masih terbebani. Sekali lagi, CINTA ADALAH PERSEMBAHAN, TIDAK ADA PENGORBANAN DALAM CINTA SEJATI.

Maksudnya adalah, yang harus menjadi dasar utama masalah pengorbanan ataukah persembahan dalam Cinta adalah bahwa sebenarnya Cinta itu untuk siapa ?

Bila cinta adalah untuk diri kita sendiri, maka selamanya kita akan merasa berkorban. Karena apa pun yang kita lakukan, tujuannya adalah bukan untuk kebahagiaan seseorang yang kita cintai melainkan hanya untuk diri kita sendiri, untuk ego kita sendiri. Kita berbuat sesuatu untuk seseorang yang kita cintai agar dia mencintai kita yang berarti tujuan akhirnya adalah demi memuaskan rasa cinta kita kepadanya.

Kalau pada akhirnya seseorang yang kita cintai tidak membalas cinta kita, maka yang terjadi adalah kita merasa terluka, berduka dan merasa bahwa apa yang telah kita lakukan yang menurut pandangan kita adalah demi dia akan sia-sia. Walaupun sebenarnya mungkin seseorang itu malah bahagia dengan tidak mencintai kita. Tetapi kita malah tidak terima, karena itu tadi, cinta kita bukan untuk seseorang itu melainkan untuk diri kita sendiri. Kita tidak bisa atau belum bisa mencintai tanpa memiliki.

Beda masalahnya bila Cinta itu benar-benar untuk seseorang yang kita cintai. Yang ada hanyalah persembahan untuknya. Apa pun yang kita lakukan orientasinya adalah demi kebahagiannya. Kita akan merasa sama sekali tidak rugi asalkan seseorang itu bahagia. Kita sama sekali tidak pernah merasa berkorban. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita juga. Saat itulah Cinta adalah persembahan, bukan pengorbanan dan kita bisa mencintai tanpa memiliki.

bagai cinta adam dan hawa, bagai cinta yusuf dan zulaiha, bagai cinta muhammad dan khodijah

Ketiga pasangantersebut merupakan teladan cinta sepanjang masa yang tak tertandingi oleh siapa pun. Nabi Adam diusir dari surga salah satu sebab awalnya adalah menuruti permintaan Ibu Hawa melanggar larangan Allah, tetapi walau pun begitu Nabi Adam tetap mencintai Ibu Hawa. Sejak diturunkan ke bumi, sekian ratus tahun saling mencari dan akhirnya bertemu tanpa luruh sedikit pun cintanya Nabi Adam kepada Ibu Hawa.

Zulaihalah yang menyebakan nabi Yusuf dipenjara karena fitnahnya. Walau pun seperti itu cinta Nabi Yusuf kepada Zulaihah tetaplah menyala. Setelah Beliau menjadi Raja, dicarilah Zulaihah yang sejak kejadian itu uzlah, menyendiri menempuh jalan Ilahi. Akhirnya Nabi Yusuf pun menemukan Zulaihah yang ketika itu sudah berusia lanjut. Nabi Yusuf cintanya tak pernah sirna dan dengan seijin Allah, Zulaihah pun kembali muda dan kembali merajt bahtera cinta dengan Nabi Yusuf.

Demikian pula dengan Rasulullah Muhammad, yang cintanya kepada Khodijah begitu dalam. Cinta kepada seseorang yang percaya sepenuh hatinya kepada Rasulullah saat tidak ada satu pun manusia yang mempercayainya. Seseorang yang mendukung seratus persen, lahir batin, terhadap dakwah Nabi saat semua orang masih menentangnya. Walau pun Khodijah telah wafat, cinta Nabi tidak pernah sirna. Inilah yang menimbulkan kecemburuan di hati para istri yang lain, khususnya Sayyidah Aisyah.

Sungguh episode cinta yang menggetarkan jiwa yang terekam abadi sepanjang masa.

kuingin seperti mereka...., kuingin cintaku kepadamu luruh dalam kehendak-Nya, kuingin cinta kita luluh dalam kelembutan-Nya, kuingin cinta kita abadi dalam keabadian-Nya, kuingin cinta-Nya dalam cinta kita

agar kita bisa mencinta-Nya, sekejap sampai di hadapan-Nya, bersama menatap wajah-Nya


Karena itu bagi sedulur-sedulurku yang belum terlanjur menapak bahtera cinta, belajarlah dulu ilmu cinta, biar tidak salah dalam menata niat, biar tidak salah dalam mengambil arah dan agar tidak keliru dalam memaknai cinta.

Sedikit ilmu mungkin bisa dibaca di catatan kecil penulis yaitu tentang : PERNIKAHAN.

Bagi sedulur-sedulurku yang sama seperti penulis dalam arti sudah menapak bahtera cinta, membina mahligai rumah tangga, tak ada salahnya untuk memperbarui niat kita.

Tetapi karena HIDUP ITU PENUH KEJUTAN, maka tatkala kita mengalami tragedi cinta bahkan sampai karamnya bahtera pun, janganlah berputus asa, sebab yakinlah apa yang kita anggap baik buat kita belum tentu yang terbaik untuk kita. Bangunlah terus sikap berbaik sangka kepada Allah, karena di depan sana terbentang luas kasih sayang-NYA dan memang hanya ALLAH-lah masa depan sejati kita.

Semoga mutiara hikmah [by : KH. M. Luqman Hakim, MA] ini bisa menjadi penghibur hati kita, saat akal kita tak lagi mampu mencerna, saat rasa kita tak lagi bisa menerima :

Kalau Allah mencintaimu maka Allah berkehendak memutuskan cinta hatimu kepada selain diriNya, agar cintamu kepada selain Allah hanya merupakan pantulan atau limpahan saja dari Cinta SejatiNya.

Kalau engkau diberi duka karena cintamu yang hilang, sesungguhnya Allah memberikan pendidikan jiwa yang agung kepadamu, hingga cintamu terbebaskan dari cinta semu dan pengkhianatan dunia.

Siapapun yang masih berada di masa lalu, walaupun saat ini ada di masa depan, sesungguhnya ia telah menangis dan menderita. Karena itu raihlah cinta masa depan, bukan cinta masa lalu. Cinta masa depan adalah “Mahabbatullah”.

Memasuki cinta yang hakiki, sesungguhnya tidak lagi ada ikatan hati selain dengan Nya.

Jangan kau dendami masa lalumu, tetapi bersyukurlah, karena kalau engkau tahu hakikat putus cintamu itu, maka engkau akan ingin terus menerus diberi cobaan putus cinta oleh Allah.

Mulailah untuk mengatakan “ I love You Yaa Allah..........! I Love You.......” agar masa lalumu tetap sebagai puing-puing.


Dan marilah kita tetap mejaga rasa kehambaan kita di hadapan-NYA dengan menengadahkan tangan, bermunajat kepad-Nya :

ALLAHUMMAGH FIRLII MAA QADDAMTU WA MAA AKHARTU WA MAA ASRARTU WA MAA 'ALANTU WA MAA ANTA 'ALAMU BIHI MINNII [Yaa Allah ampuni aku ats segala dosa yang telah lalu dan yang kemudian, yag kusembunyikan dan yang kutampakkan dan segala dosa yang Engkau lebih mengetahui dari diriku sendiri]

YAA ALLAH YAA 'AZHIIM ANTAL 'AZHIIM, QAD HAMMANAA HAMMUN 'AZHIIM, WA KULLU HAMMIN HAMMANAA YAHUUN BISMIKAL 'AZHIIM. [Yaa Allah, Engkau Maha Agung, Engkau sungguh-sungguh Maha Agung. Kami telah ditimpa persoalan yang sangat besar, namun sebesar apapun persoalan yang menindih kami, akan meleleh, akan lenyap, akan sirna, karena kami berlindung di bawah keagungan-Mu.]

ALLAHUMMA LAA SAHLA ILLA MAA JA'ALTAHU SAHLAA, WA ANTA TAJ'ALUL HUZNA IDZAA SYI'TA SAHLAA. [Yaa Allah, tidak ada kemudahan melainkan Engkaulah yang mempermudahnya, dan Engkau pulalah yang menjadikan kesulitan itu yang jika Engkau menghendaki akan menjadikannya mudah.]

RABBI TAQABBAL TAUBATII, WAGHSIL HAUBATII, WA AJAB DA'WATII, WA SADDAD LISAANII, WAHDI QALBII WASLUL KHAIMATI. [Yaa Rabbi terimalah taubatku,cucilah dosaku, kabulkanlah hajatku, benarkanlah ucapanku, penuhilah hatiku dengan petunjuk-MU dan luluhkanlah marah dan dengki yang memenuhi dadaku.]
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger