Home » » Kegagalan ...

Kegagalan ...

Written By BAGUS herwindro on Jan 12, 2010 | January 12, 2010

Dalam suatu perbincangan dengan rekan seperjalanannya yaitu si Panjul, Cak ZhudhrunH tiba-tiba saja disodori pertanyaan tentang kegagalan.
“Cak, sampeyan pernah ndak Cak dalam hidup sampeyan itu mengalami yang namanya GAGAL ?”
“Gagal ? Wah ya sering banget nJul-nJul. Seperti kata salah seorang komedian kita : sedikit-sedikit gagal, sedikit-sedikit gagal, gagal kok sedikit-sedikit ?”
“Ya ya ya aku sering dengar dan lihat itu Cak di acara Republik Mimpi kan ? Tapi kalau menurut sampeyan sendiri, misalnya apa Cak, kegagalan dalam perjalanan hidup sampeyan selama ini ?”
“Ya… seperti kegagalanku menjalin hubungan dengan seorang wanita.”
“Patah hati gitu tah Cak ?”
“Yah… gitulah. Aku dulu pengen sekolah juga gagal dengan berbagai sebab. Buka usaha kecil-kecilan juga pernah gagal. Ngelamar kerjaan juga banyak gagalnya, padahal pengalamanku kan sudah tak terhitung.”
“Wah hebat dong sampeyan Cak, pernah kerja di berbagai perusahaan sehingga pengalaman sampeyan tak terhitung, gitu ya ?”
“Ngawur ae, pengalamanku yang sudah tak terhitung itu pengalaman menulis surat lamaran itu saja dan sekaligus pengalaman surat lamaranku ditolak.”
“Wakakakkkk…… sampeyan itu pancet ae Cak-cak. Trus perasaan sampeyan gimana Cak kalo pas ngalami gagal seperti itu ?”
“Yah, kalo dulu sih sewaktu mengalami kegagalan rasanya ya sedih, kecewa, marah, terkadang malah putus asa, wis pokoknya campur aduk gak karuan. Tapi kalo sekarang sih Alhamdulillah gak seperti itu malah sudah ada syukurnya meskipun gagal.”
“Lho lha kok bisa gitu Cak, gagal kok malah syukur ?”
“Kamu gak paham to maksudku ?”
“Enggak Cak.”
Whoahhhaaaa lha kok sama, aku yo belum mudeng tuh.”
“Serius Cak, aku pengen tahu.”
Ngetes…. Ngetes… kamu itu jangan suka ngetes orang to nJul.”
“Lho bukannya ngetes gitu Cak.”
“Gak gitunya lho nJul, dari tadi kamu kok menginterogasi diriku tentang kegagalan, sebenarnya ada apa to nJul.”
Gini lho Cak ceritanya, aku itu baca dawuhnya Syaikh Ibnnu Athaillah as-Sakandary : Al-Man’u ‘ainul ‘atha’ (Gagal itulah hakikat pemberian anugerah), lha aku kan jadi bingung, masa gagal kok malah itulah anugerah ? Makanya aku tanya sampeyan yang mungkin lebih paham. Aku gak butuh orang yang ngerti tapi orang yang paham.”
Weleh… wong sudrun kok mbok takoni, hati-hati sesat lho nanti.”
“Sesat yo ben, justru itu biasanya dengan bahasa sesama orang awam aku itu lebih ngeh, lebih mudeng alias paham.”
“Sekarang begini saja, biar enak, kita mulai dari kata gagal. Gagal menurut pemahamanku adalah suatu kejadian atau peristiwa tidak bisa terlaksananya atau tidak bisa tercapainya apa yang sudah kita rencanakan atau apa yang sudah kita atur atau apa yang sudah kita proyeksikan setelah kita berusaha mencapainya. Jadi intinya, kita mempunyai suatu tujuan dan untuk mencapai tujuan itu kita merencanakan langkah-langkah pencapaiaannya. Setelah itu kita melaksanakan langkah-langkah pencapaian tersebut dan pada langkah akhir ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang kita tuju. Saat itulah kita mempersepsikan sebagai sebuah kegagalan. Benar begitu nJul ?”
“Iya Cak. Itulah gagal.”
“Kalau engkau yang mengalami nJul, kenapa hal itu engkau persepsikan sebagai sebuah kegagalan ?”
“Ya karena apa yang aku rencanakan, apa yang akan kuraih itu baik bagiku Cak ? Kalau tidak berhasil berarti gagal kan ? Aku gagalmemperoleh kebaikan dalam hidupku.”
“Baik bagimu, menurutmu. Apakah itu pasti ?”
“Menurutku sih pasti baik Cak.”
“Apakah tidak ada pilihan lain yang lebih baik misalnya atau bahkan yang terbaik selain dari yang kaurencanakan itu nJul ?”
“Mungkin mestinya ada Cak, tapi aku tidak tahu ?”
“Kenapa engkau tidak mengetahuinya ?”
“Aku kan bukan tuhan Cak !”
“Nah itu dia kata kunci pertama. Engkau bukan tuhan sehingga jangkauan berpikirmu terbatas, sekali lagi, sangat-sangat terbatas. Jangkauan berpikirmu hanya berdasarkan referensi data dari apa yang kau lihat, apa yang kau dengar, apa yang kau amati dari pengalamanmu selama ini (secara empiris) yang kemudian engkau rumuskan dalam kemungkinan-kemungkinan ke depan dalam jangka waktu yang sangat pendek. Nanti kita bahas tentang kata kunci pertama ini.”
“Aku bertanya lagi padamu nJul, Apakah engkau percaya kalau kehidupanmu ini sudah ditakdirkan oleh tuhanmu, Allah ?”
“Ya percaya Cak.”
“Lalu apakah engkau mengetahui apa yang menjadi takdir kehidupanmu ?”
“Ya jelas tidak Cak, yang kutahu ya hanya yang sudah terjadi saja, yang ke depan ya tidak tahu.”
“Nah, itu kata kunci kedua, takdir tuhan.”
“Berikutnya nJul, menurut pengertianmu apakah usaha itu harus disertai tawakal ? Dan dimana letak tawakal itu dan bagaimana sikap kebanyakan orang ketika menemui kegagalan dalam usahanya ?”
“Kebanyakan orang seperti diriku ini Cak, tawakal itu ya harus. Setelah berusaha kemudian gagal ya harus bertawakal, kan sudah takdir tuhan ?”
“Lalu di mana letak tawakal ketika keberhasilan yang diraih ?”
“Iya ya Cak, di mana ?”
“Itu kata kunci ketiga, tawakal.”
“Lha kata kunci keempat opo Cak ?”
“Gitu aja repot !”
Guyon sampeyan itu Cak. Serius dong !”
“Lho ini malah ndak cuma serius ini, malah dua rius ini. Coba ya kita mulai dari kata kunci pertama  :
Kita bukan tuhan.
Kebanyakan kita, atau pada umumnya kita pasti tidak lepas dari berbagai keinginan dalam hidup ini. Kenapa ada banyak keinginan dalam diri kita yang selalu kita harapkan untuk terwujud secara nyata ? Ya karena kita menganggap apa yang kita inginkan itu jika bisa terwujud akan baik bagi kita, menyenangkan kita dan membuat kita merasa nyaman. Keinginan itu akan menjadi target yang akan kita usahakan terwujud dengan merencanakan strategi pencapaiannya. Dalam bahasa kita, jika target itu tercapai maka kita mengatakan berhasil, tetapi sebaliknya jika target itu tidak tercapai maka kita akan mengatakan gagal.
Kita bicarakan tentang gagalnya dulu. Kenapa kok sampai gagal, meskipun umpamanya kita sudah menyiapkan rencana A, rencana B dan rencana C untuk mencapai target kita ? Biasanya itu disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang lepas dari perencanaan kita atau ada kalanya meskipun faktor-faktor itu sudah masuk dalam perencanaan kita tetapi kenyataannya faktor-faktor itu tidak bisa kita kendalikan. Kenapa demikian ? Jawabnya jelas, karena kita ini hanya manusia biasa, bukan tuhan, sehingga memiliki banyak keterbatasan. Hanya tuhan yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah, lha kita yang hanya hambanya Allah tentu saja penuh kekurangan, tempatnya salah dan lupa. Al-Insaanu Mahallu al-khatha` wa al-nisyaan [Manusia itu tempatnya salah dan lupa].
Contoh sederhana, misalnya ada seorang teman yang sudah demikian hebatnya persiapan dalam menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Berbagai macam soal sudah dilalap habis, berbagai rumus baik yang konvensional maupun yang taktis sudah dikuasai, ketika ujian berlangsung pun semuanya dapat dikerjakan dengan mudah. Tetapi ternyata dia tidak bisa lolos saringan hanya gara-gara terlupa untuk mengisi nomor ujiannya.
Lalu bagaimana jika berhasil dalam arti bisa mencapai target ? Kebanyakan keberhasilan itu hanya sesaat saja bisa memenuhi rasa senang, rasa aman dan nyaman bagi kita. Karena sesaat kemudian biasanya apa yang sudah dicapai akan terasa kurang, kurang ini kurang itu dan pasti berikutnya kita akan menginginkan yang lebih lagi dari yang sudah kita capai. Jadi keberhasilan itu hanya dalam mencapai atau mewujudkan keinginan yang lalu, tetapi gagal dalam memuaskan rasa senang, aman dan nyaman kita. Kenapa demikian ? Sekali lagi karena kita bukan tuhan, hanya manusia, sehingga untuk merumuskan dengan benar tentang apa sih yang bisa membuat kita senang, bahagia, aman dan nyaman saja, kita tidak akan pernah bisa. Contoh sederhana, kejadian nyata beberapa tahun lalu ada seorang pejabat di kantor pemerintahan sebuah kabupaten yang belum puas atas jabatan yang disandangnya. Dia mengincar jabatan lain yang dinilainya lebih enak, lebih baik dan lebih nyaman baginya. Berbagai cara dilakukannya baik secara nyata maupun secara ghaib. Maka berkeluhkesahlah dia pada guru hikmahnya. Dibantulah dia dan singkat kata akhirnya berhasil memperoleh jabatan yang diincarnya. Namun apa yang terjadi baru beberapa saat saja memegang jabatan barunya dia gagal memperoleh kepuasan dan kenyamanan dan memandang ada jabatan lain lagi yang lebih enak buatnya. Sampai guru hikmahnya pun memarahi dia,”Memangnya saya Tuhan ? Kamu minta-minta kok seenaknya, itu kan pilihanmu sendiri !”.
Intinya GAGAL itu mungkin cara tuhan kita, Allah, untuk mendidik, untuk mengingatkan kita kembali, bahwa kita hanyalah hamba yang faqir di hadapanNYA. Jika pesan ini sampai dan bisa kita terima maka gagal itu adalah hakikat anugerah dariNya, karena gagal itu bisa menjaga hakikat kehambaan kita di hadapanNYA. Allah tidak pernah butuh kita, kitalah yang selalu butuh Allah.
Q.S. Al Faathir [35:15] : yaa ayyuhaa nnaasu antumu lfuqaraau ilaallaahi walaahu huwa lghaniyyu lhamiid [Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.]
Takdir tuhan
Hidup ini adalah sebuah pilihan. Dalam setiap detik kehidupan yang kita lalui, kita tidak akan pernah lepas dari berbagai pilihan yang harus kita putuskan mana yang akan kita pilih. Dalam setiap pilihan pun akan mempunyai konsekuensi yang berbeda-beda. Contoh sederhana saja, dalam satu kali proses makan yang kita lakukan, kita akan dihadapkan pada berbagai pilihan yang harus kita putuskan untuk memilih. Ketika ada tumpukan piring dan sekumpulan sendok, kita sudah harus memutuskan piring mana yang akan kita pakai dari sekian piring yang tersedia. Sendok mana pula yang kita pilih di antara semua sendok yang tersedia. Saat mengambil nasi pun kita juga sudah harus memutuskan dari bagian sebelah mana nasi itu akan kita ambil pertama kali dan seberapa banyak. Berapa kali juga kita harus mengambil nasi sehingga kita rasa pas porsinya untuk perut kita. Dari masakan yang terhidang, harus diputuskan lagi yang kita pilih, mana yang diambil terlebih dahulu, dari sebelah mana dan seberapa banyak. Ketika menyuapkan makanan ke dalam mulut kita pun sudah penuh dengan berbagai pilihan. Dari sebelah mana nasi itu akan kita sendok dengan komposisi lauk yang seperti apa dan seberapa banyak. Samapai di mulut pun kita juga mempunyai banyak pilihan, apa kita benar-benar merasakan rasa makanan yang dimulut kita, atau hanya sekedar menguyah saja. Mengunyah pun banayak pilihan yang harus kita putuskan, berapa kali harus dikunyah dalam kondisi makanan yang masih kasar atau sudah benar-benar lembut dan kapan kita akan menelanyya dan seterusnya. Intinya dalam setiap detik kehidupan kita, ada beragam pilihan yang rasanya bebas untuk kita tentukan dan memang harus kita usahakan untuk memilih yang terbaik bagi diri kita sendiri.
Q.S. Al Ra’d [13:11] : innallaaha laa yughayyiru maa biqawmin hattaa yughayyiruu maa bi-anfusihim [Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri]
Lalu kalau usaha-usaha perubahan sudah kita lakukan, keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan atas berbagai kemungkinan dalam hidup ini sudah tentukan dan itu sudah terjadi, cobalah telusuri dari mana asalnya hingga diri kita akhirnya memutuskan sesuatu itu baik yang menurut anggapan kita hal itu berhasil atau pun gagal. Beranikah kita mengakui bahwa itu sepenuhnya karena ilmu atau pengetahuan atau daya upaya kita sendiri tanpa campur tangan tuhan ? Sungguh, keputusan itu, pilihan itu sebenarnya keputusan dan pilihan tuhan untuk diri kita dan itulah takdir tuhan untuk kita yang baru kita ketahui setelah terjadi.
Q.S. Al Qashash [28:68]  : warabbuka yakhluqu maa yasyaau wayakhtaaru maa kaana lahumu lkhiyaratu subhaanallaahi wata'aalaa 'ammaa yusyrikuun  [Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)]

Kita tidak mungkin bisa terlepas dari takdir Allah, hanya takdir yang telah berlalu saja yang kita mengetahuinya sedangkan yang belum terjadi kita tidak mengetahuinya sehingga oleh Allah dalam wilayah akal kita diberi kebebasan untuk memilihnya. Untuk itulah dalam setiap apa pun juga, dalam setiak gerak dan langkah kita, dalam setiap ikhtiar kita dan dalam setiap amal sholih kita diperlukan kata kunci ketiga yaitu tawakal.

Tawakal

Tetang tawakal, mari kita belajar dari do’a yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW yaitu do’a ketika kita keluar rumah.

Bismillaahi tawakkaltu 'alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi [Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja]

Tawakal berarti berserah diri kepada Allah. Lalu kenapa do’a tersebut diajarkan untuk diwirid ketika keluar rumah ? Ya karena ketika kita keluar rumah itu bisa diartikan bahwa kita bersiap untuk memulai langkah dalam beraktivitas/berikhtiar/beramal sholih apa pun bentuknya dalam hubungan kita secara horizontal (hablum minannaas). Ada yang beramal sholih dengan menjemput rejeki dari gusti Allah dengan berdagang atau menjadi karyawan atau yang lain. Bisa juga beramal sholih dengan menuntut ilmu atau melakukan pelayan sosial atau berdakwah atau apa pun juga.
Dari ajaran tentang do’a itulah kita bisa ketahui bahwa tawakal itu letaknya di awal usaha kita, di awal ikhtiar kita, di awal kerja keras kita dan bukannya di akhir sebagaimana pemahaman kebanyakan orang, terlebih lagi tawakal diletakkan paling akhir ketika apa yang diusahakan menemui kegagalan.
Kenapa di awal ? Karena meskipun secara akal kita diberikan kebebasan oleh Allah dalam menentukan pilihan tetapi setelah itu terjadi kita mengetahuinya itulah takdir Allah yang berlaku untuk diri kita. Sehingga sejak awal, sejak kita meniatkan sesuatu haruslah kita tanamkan kesadaran bahwa apa pun yang nantinya terjadi baik berhasil atau pun gagal adalah sudah merupakan kehendak Allah dan usaha yang kita lakukan pun Allah-lah yang menggerakkan. Sehingga, hakikatnya bahwa usaha kita sebenarnya adalah takdirnya Allah juga yang akan mengubah posisi kita di suatu titik menuju titik yang lainnya baik itu berhasil atau pun gagal menurut kita. Bila hal itu kita pahami maka gagal atau pun berhasil akan sama saja bagi kita. Gagal tidak membuat kita berputus asa, berhasil pun tidak akan membuat kita menjadi sombong, karena di balik dua peristiwa yang kelihatannya bertolak belakang itu hakikatnya ada Allah juga. Terjadinya juga dengan kekuatan Allah juga. Itulah makna laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi. Lha selama ini mungkin tawakal diletakkan di bagian akhir, sehingga sering juga kebanyakan kita kalau mengalami kegagalan selah-olah menyalahkan bahwa itu sudah menjadi takdir tuhan, tetapi manakala keberhasilan yang di dapat, tuhan ditinggal dan menepuk dada bahwa keberhasilan itu adalah hasil dari upayanya sendiri.
Sering kita mengucapkan bismillaahirrahmanirrahiim, kita yakin bahwa Allah itu memang maha pengasih dan maha penyayang. Lalu ketika kita mengalami kegagalan yang dalam persepsi kita adalah sesuatu yang tidak enak, apakah sifat pengasih dan penyayangnya Allah berkurang ? Tentunya tidak demikian. Misal kita bertemu dengan seorang presiden Indonesia dan kemudian sang presiden memberi kita sebuah benda yang tidak bagus dan harganya pun kalau beli sendiri cukup murah seperti misalnya peci. Apa yang kita rasakan ? Senang, bangga atau bahagia ? Yang bernilai bukan dari pemberiannya tetapi siapa yang member benda itu. Demikian juga dengan gagal. Gagal atau pun berhasil sebenarnya sama saja nilainya bila yang kita lihat adalah Allah-lah yang memberikan itu semua.
Keberhasilan seharusnyalah membuat kita dapat bersyukur karena keberhasilan terasa lebih mengenakkan diri kita dan tentunya kita harus lebih bersyukur lagi manakala kita menyadari Allah yang memberikan keberhasilan itu. Tetapi di balik sesuatu yang mengenakkan itu, keberhasilan seharusnya juga harus disikapi dengan sebuah kesabaran karena dibalik keberhasilan itu pasti juga ada cobaannya dan cobaan terberat di balik keberhasilan itu adalah semakin jauhnya kita dari Allah. Sering kita dilalaikan oleh Allah dengan keberhasilan yang diberikan kepada kita. Seneng yo seneng nanging sakmadya wae. Senang ya senang tetapi sekedarnya saja, harus sabar.
Sebaliknya kegagalan memang harus kita sikapi dengan sabar, karena kegagalan itu tidak mengenakkan diri kita. Dibalik kegagalan itu pasti terkandung hikmah yang luar biasa bila kita bisa memahaminya, sayangnya biasanya kita baru menyadari hikmah apa yang terkandung di balik sebuah kegagalan jauh setelah peristiwa itu terjadi.
Q.S. Al Baqoroh [2:216] :  wa'asaa an takrahuu syay-an wahuwa khayrun lakum wa'asaa an tuhibbuu syay-an wahuwa syarrun lakum walaahu ya'lamu wa-antum laa ta'lamuun [Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.]
Hikmah terdekat yang mestinya bisa langsung kita rasakan ketika kita mengalami kegagalan adalah peluang untuk lebih mendekat kepada Allah. Itulah yang harus kita syukuri di balik sebuah kegagalan dan seharusnya kita bisa lebih bersyukur lagi manakala bisa memahami bahwa itu adalah pemberian Allah juga. Jadi kegagalan itu hakikatnya ya anugerah pemberian dari Allah.
Gitu lho nJul. Piye mudeng ora kowe  ?”
“Iya ya Cak, lha Allah itu kan tuhan jadi terserah saja kan mau ngasih ke kita apa baik itu enak atau pun engga enak buat kita. Yang namanya dikasih kan berarti anugerah, berarti pemberian juga namanya. Tinggal kitanya aja yo Cak, bisa ndak nyetel hati kita ke arah sana.”
“Ya memang kita perlu latihan. Aku pun terus berlatih noto hati ini agar biasa merespon setiap detik kehidupan yang ditakdirkan Allah atas diriku dengan rasa sabar dan syukur, meskipun kenyataannya ya mungkin masih level TK terus, tapi kan sudah aku niati dan diusahakan terus.”
 “Lha kata kunci keempat itu apa Cak ?”
“Kanjeng Nabi pernah dawuh : yassiruu wa laa tu’assir – permudah jangan dipersulit, artinya manakala kita mengalami kegagalan, ya sudah, jangan malah meruwetkan atau mengacaukan suasana hati kita dengan melankolis seakan-akan menjadi orang yang paling sengsara di dunia. Kalau seperti itu kondisinya malah akan semakin terpuruk. Makanya permudah hati kita untuk menjadi lapang agar apa pun yang terjadi bisa kita hadapi dengan tenang. Kalau gagal, ya segera bangkit berusaha lagi. Gitu aja kok repot !!!
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger