Hujan

Written By BAGUS herwindro on Nov 16, 2013 | November 16, 2013

Manusia, termasuk saya, biasanya banyak yang gagal untuk merumuskan, memahami dan memilih apa yang menjadi kebutuhannya yang sejati. Dia biasanya hanya akan terlempar dan berputar-putar sesaat-sesaat dari satu keinginan ke keinginan yang lain yang pastinya tak pernah ada batasan puasnya. Mengapa demikian ? Kemungkinan karena manusia gagal dalam menyimpulkan hidupnya sehingga tak memiliki tujuan, kalau pun toh ada, maka tujuan itu bukan tujuan akhir, hanya sesaat saja dan kembali lagi tujuan itu untuk mencapai keinginannya yang berikutnya.

Siniasi pada jaman ini memang terlampau sulit untuk diatasi. Akal terlalu berat untuk bertahan dari serbuan sihir kapitalisme sehingga mengenali dirinya sendiri saja sulit, akibatnya kebanyakan manusia menjalani hidupnya tidak dengan kesadaran yang utuh namun telah dikendalikan oleh kesadaran semu yang seolah baik, yang diam-diam telah tertanam dalam dirinya. Moderen itu begini begini. Cantik itu kalau begini-begini. Sukses itu begini begitu. Demikian setrusnya, hinga kalau tak seperti itu akan menjadi sebuah masalah besar dalam diri dan kehidupannya. Maka seorang perempuan yang berkulit gelap, berambut keriting dan berhidung pesek bisa jadi akan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri sepanjang hidupnya, sebab kebenaran semu yang diyakini adalah bahwa kalau cantik itu kulitnya putih, berambut lurus dan berhidung mancung, demikian contoh sederhananya. Itu masih aspek fisik, belum yang lain yang tentunya akan terjadi kelatahan-kelatahan yang sama atau bahkan lebih parah lagi. Bahkan dari aspek spiritual pun bisa jadi hal yang demikian itu terjadi. Misalnya, kalau dekat Tuhan itu pakaiannya harus begini, harus aktif melakukan peribadahan di tempat ibadah, omongannya harus selalu penuh ayat dari kitab suci, harus tampak di banyak kegiatan soial yang diikuti dan seterusnya tanpa pernah pernah menelusuri dalam dirinya sudah muliakah akhlaknya terhadap sesamanya dalam makna yang hakiki dan sudah pulakah hatinya beretika pada Tuhannya ?

Semoga Panjenengan dan saya dimasukan ke dalam golongan  manusia-manusia yang selesai hidupnya karena dimampukan menyimpulkan  dan memilih tujuan akhir yang hendak Panjenengan dan saya capai, sehingga paham apa yang kita butuhkan dan bagaimana cara memenuhinya, sehingga pula tidak terus terombang-ambing dalam samudera keinginan yang tiada bertepi. Bila masing-masing kita demikian, insya Allah sembuh Negara ini.

Lho lalu apa hubungannya dengan hujan sebagaimana saya tuliskan untuk judal tulisan ini ? Sementara ini hubungannya baik-baik saja.

Begini saudara… kemarin malam hujan sudah benar-benar mengguyur Surabaya setelah beberapa bulan dimesrai oleh panasnya suhu udara yang wow.  Panas dan hujan sebenatnya hal yang biasa dan merupakan sebuah kewajaran, yang menjadikannya tak biasa adalah saat panas dan hujan itu bersentuhan dengan keinginan manusia dan bukan kebutuhannya.

Bagi daerah yang sulit air atau daerah pertanian, hujan merupakan sebuah kebutuhan. Pun demikian dengan panas yang memang dibutuhkan oleh petani garam misalnya. Namun, saat  di perkotaan, panas dan hujan tidak menjadi penentu atau bukan merupakan sebuah kebutuhan yang langsung termanfaatkan, maka panas dan hujan akan saling berbenturan dalam keinginan setiap orang berkait dengan kenyamanan yang dirasakan oleh masing-masing orang tersebut. Yang merasakan gerah akan menginginkan hujan, tetapi yang kerjanya di jalanan akan lebih memilih panas, lebih banyak junga yang menginginkan hujan atau panas bisa diatur sekehendaknya. Hujan ya hujan tapi malam saja kalau waktunya orang tidur, kalau waktunya orang beraktivitas keluar rumah ya lebih baik panas. Ini yang repot dan mungkin ini merupakan salah satu contoh tentang hikmah pengkabulan doa bahwa wujud, kapan dan di mananya pengkabulan itu Tuhan yang menetukan. Coba saja kalau setiap keinginan ditindaklanjuti dengan doa dan seketikan itu langsung wujud pengkabulannya sesuai yang diinginkan, bisa kacau tatanan alam ini, mungkin satu kampung bisa jadi tawuran gara-gara satu orang ingin hujan kemudian berdoa, tetangganya ingin panas kemudian berdoa juga, sedangkan tetangganya yang lain lagi ingin hujan juga dan berdoa juga, demikian yang lain. Apa jadinya jika saat itu juga serentak doanya bersamaan mewujud sesuai yang diinginkan, kacau.

Tiba-tiba saja ingatan saya melayang ke tahun 1995 lalu. Saat itu kakak perempuan saya menikah dan itu merupakan mantu pertama bagi kedua orang tua saya, jadilah pernikahan itu diselenggarakan dengan prosesi pernikahan adat jawa yang lengkap mulai prosesi siraman hingga berakhir pada resepsi. Nah itu dia, penetapan tanggal pernikahan jatuh pada bulan Nopember, yang saat itu musim penghujan atau pun kemarau masih relatif sesuai dengan yang diterangkan di buku-buku SD dulu. Jadi pada bulan Nopember bertepatan dengan musim penghujan, karena hal itulah kemudian timbul keinginan agar pada rangkaian prosesi pernikahan, hujan tidak dulu turun. Kebetulan saya yang ketiban sampur untuk melakukan hal itu.

He… he… he… jelek-jelek begini saya dulu itu jelek :P. Setelah sehari sebelumnya menggores-gores langit dengan hijaiyah, alhamdulillah hujan tetap turun dengan derasnya, hanya saja hujan tersebut mereda dan berhenti setiap menjelang suatu proses akan berlangsung dan sampai selesainya prosesi krang lebih satu jam sebelum dan setelah prosesi. Begitu terus sampai pada tahap prosesi yang terakhir yaitu resepsi pernikahan. Alhamdulillah, acara tetap berlangsung lancar, hujan pun tetap turun dengan lancer. Kalau di Indonesia hal-hal macam begitu itu banyak dan bukan sesuatu yang luar biasa. Yang luar biasa itu justru pada mereka pemilik  acara [sohibul hajat], apalagi acaranya menyangkut ummat bukan cuma sekedar acara keluarga biasa, yang tetap berbahagia karena kerelaannya tak terusik keluhan bahkan penyesalan meski hujan turun dengan derasanya saat acaranya berlangsung. Itu yang selalu saya usahakan untuk menirunya, relanya itu lho.

Menurut keterbatasan pengamatan saya, banyak fenomena kurangnya etika berkait dengan masalah “pawang hujan”.

Pertama, yang terpikir hanya bagaimana agar tidak turun hujan itu saja, berarti bagaimana caranya menolak hujan. Ini pasti menimbulkan ketidakseimbangan alam yang pada nantinya hanya akan menambah masalah. Di suatu lokasi hujan ditahan selama sekian hari, di lokasi lainnya lagi demikian juga begitu seterusnya. Biasanya hujan yang semestinya sudah membasahi bumi itu akan terakumulasi, maka saat batas waktunya usai, hujan pun akan turun dengan lebih deras dan lama.

Kedua, kalau metodenya adalah memindahkan atau menggeser, biasanya juga tidak pernah memikirkan akan dipindahkan atau digeser kemana hujan itu agar tidak merugikan siapa pun atau apa pun. Maka kalau di suatu posisi tempat digesernya hujan itu juga sedang ada acara yang menggunakan metode yang sama juga untuk menggeser hujan, yang terjadi adalah kuat-kuatan tenaga saja karena pasti akan berbenturan.

Maka apakah tidak sebaiknya belajar berendah hati dengan tidak memaksakan kemenangan pada kepentingan pribadi ? Kalau memang perlu sekali terang atau sebaliknya perlu sekali hujan, ya monggo menggunakan metodenya masing-masing, tetapi saya kira akan lebih baik dan lebih luar biasa kalau didasari dengan kerelaan menyerahkan dan memohon yang terbaik pada Tuhan. Hujan atau pun terang, terang atau pun hujan, bukan masalah. Yang utama usahanya, bukan hasil usahanya.

Bagaimana menurut Panjenengan ?
Share this article :
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. sebagai bentuk hablum minan naas(حبل من الناس),adlah menghargai orang lain termasuk profesinya, yaaaa.....termasuk pawang hujan, itu termasuk profesi jg kan....
    Untuuu...ng aku bkn pawang hujan....tapi pawang kopi he...3x, biar bs menahan sedikit dinginx hujan.......

    ReplyDelete








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger