Home » » Neo MANTRA

Neo MANTRA

Written By BAGUS herwindro on Mar 5, 2011 | March 05, 2011

Terlibat sendiri dalam berbagai keruwetan hidup baik dalam skala diri sendiri, keluarga maupun [mau atau pun tidak pasti terpengaruh oleh berbagai informasi media yang terdengar telinga maupun terlihat mata] bangsa dan negara ini, terasa sangat sering melelahkan diriku. Belitan rasa lelah, lemah, takut, ragu, cemas bimbang, frustasi dan mungkin terkadang tetapi sering, rasa putus asa hinggap dan belum bisa kalis dari diriku.


Saat-saat seperti itu rasanya ingin sekali ada seseorang yang sanggup menguraikan apa yang kurasakan, sebab sering kurasakan sesuatu, namun untuk mengungkapkan pun masih sulit bagiku. Memahami gejolak perasaanku sendiri masih sulit kulakukan, karenanya terkadang ekspresi dari kegelisahan yang terjadi dalam diri biasanya ngawur, asal dan sering tidak pantas untuk dilakukan, kurang tepat untuk diucapkan serta kurang pas untuk dituliskan.

Salah satunya orang yang biasanya mengerti tentang gemuruhnya dada ini adalah mBah ZhudhrunH. Tapi kemana rupanya si mBah yang satu ini. Sudah lama banget dia tidak datang menemuiku. Sudah kukirim hadiah Fatihahku berkali-kali tetap juga tidak muncul batang hidungnya. Mungkin memang dia sedang membiarkanku mencari jawabnya sendiri, sebab kutahu dia tidak mau melemahkanku, aku harus bisa memberdayakan diriku sendiri, mendayagunakan akal pikirku sambil mengolah rasaku yang sesungguhnya merupakan suatu potensi yang sangat luar biasa yang sudah diberikan Gusti Allah untukku.

Mendadak saat aku mengangankan kehadiran si mBah satu itu, tiba-tiba kesadaranku seakan menghilang seperti saat-saat mengantuk menjelang tidur dan tiba-tiba pula wajah mBah ZhudhrunH sudah ada tepat di hadapan wajahku dengan jarak kurang dari sekilan sambil mengucapkan sebuah kalimat pendek dengan pelan tapi penuh ketegasan yang menyiratkan kekuatan kata yang muncul dari lelaku panjangnya, “GUSTI ALLAH ORA SARÉ !” [Tuhan tidak tidur !].

Tergagap aku berusaha mencerna kalimat itu, sebuah kalimat yang dulu sering aku dengar dari para sesepuh dan pinisepuh [orang-orang tua].

Apa ada dasarnya mBah, pakai istilah Jawa lagi ?”, tanyaku

“Apa kamu tidak tahu, kalau para ulama sepuh dulu yang datang ke tanah Jawa ini jago tirakat, ahli riyadoh ? Beliau-beliau itu selalu dan tak pernah lepas dari mujahadah, mêpêr häwä nêpsu [mengendalikan hawa nafsu], nutup babagan howo sängä [menutup/mengendalikan sembilan lubang tubuh], cêgah dahar lawan guling [mengurangi makan/puasa dan mengurangi tidur], demi mendekatkan diri kepada Gusti Allah, demi mengharapkan Gusti Allah saja. Mujahadah itu berbuah makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Begitu makrifat kepada Gusti Allah, Gusti Allah pun memakrifatkan beliau-beliau itu terhadap makhluknya, makanya Beliau-Beliau itu biasanya sangat detail ilmunya dalam mengenali segala sesuatu.”

Contohnya mBah ?”, selaku.

“Sederhana, dalam mendiskripsikan tentang bau saja, bahasa yang digunakan sangat detil [memakrifati bau] yang tidak kita temui dalam bahasa Indonesia misalnya atau bahkan dalam bahasa Inggris. Coba, kosa kata yang mendiskripsikan bau dalam bahasa Jawa ada bermacam-macam, begitu detil, seperti pêsing [untuk baunya kencing], apêk [baunya baju yang lama di lemari], kêcut [baunya keringat], bangêr [baunya air payau], sêngak [bau mulut], sangit [bau terbakar], amis [baunya ikan laut], anyir [baunya darah] dan seterusnya. Juga untuk hal-hal lain, pengenalannya begitu detil.”

Contoh lainnya mBah ?” tanyaku lagi.

“Pengenalan musim lewat ilmu pranätä mängsä, pengenalan teknologi waktu melalui sistem penanggalan tahun, mängsä, dinä dan pasaran juga saat mustajabah dalam tiap hari dan pasaran dan seterusnya. Pengenalan teknologi pengobatan melalui khasiat tanaman obat dan sebagainya.”

“Begitu detilnya pula pengenalan tentang kehidupan yang di atas bumi maupun yang di bawah bumi. Begitu mengenalnya terhadap prilaku alam. Semuanya dihormati, bukan karena menyekutukan Gusti Allah, namun justru semata-mata karena kesadaran bahwa Gusti Allah itu sendiri yang menciptakan semua itu.”

“Ulama-ulama dulu tidak hanya mengartikan asma-asma Allah yang mulia, melainkan juga memahamkan rasa dengan bahasa yang sederhana, yang mudah dimengerti tapi mengena di hati. Beliau-beliau itu malah jarang membawa-bawa ayat dalam berdakwah, sebab Beliau-beliau itu sudah menjadi ayat itu sendiri. Apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan adalah Qur’an itu sendiri. Semua tidak lepas dari syariatnya Gusti Allah yang disertai hakikat penghambaan kepada-Nya.”

Kusela lagi, “Lalu bagaimana dengan ‘Gusti Allah ora saré’ itu mBah ?

“Itu dia. Gusti Allah ora saré itu bukan sekedar idiom, bukan sanepan/ibarat namun sebuah kasunyatan/kenyataan yang dipahamkan dengan bahasa lokal yang sederhana, namun sesungguhnya kedalaman maknanya luar biasa yang bagiku belum bisa menjangkaunya.”

Gusti Allah ora saré atau Allah tidak tidur itu didasarkan pada sebuah ayat yang paling mulia yang berada di surat yang mulia pula di Qur’an. Ayat Kursi.

[Q.S. 2:255] ALLAH, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan TIDAK TIDUR. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Di ayat yang mulia itu berhimpun asma Allah yang mulia, ada yang menyelami 16 asma, 17 asma dan ada pula yang meneyelami 21 asma Allah di dalam ayat Kursi itu. Ah… mbuhlah aku juga tak paham tentang itu. Aku hanya paham yang sederhana-sederhana saja.”

Sederhananya mBah ?”, tanyaku penasaran.

“Apa kau pernah mengantuk ?”

Sering mBah, lha wong saya ini memang dasarnya ngantukan kok, makanya enggak betah kalau disuruh wirid lama-lama ?”, jawabku.

“Saat mengantuk, dapatkah kau menahannya atau adakah sesuatu hal yang membuat rasa kantukmu itu hilang ?, tanya mBah Zhudhrunh.

Ya ada mBah, tuh kalau lagi jum’atan atau khususiyah, hawanya kan ngantuk tuh, ngantuk banget, he…he… mungkin karena aku khusyuk ya mBah. Nah ujug-ujug ngantukku hilang mBah, mataku jadi terang benderang.

“Lha kok bisa ?”

Ya bisa mBah.”, jawabku, “Lha wong  jamaah tiba-tiba bilang : aamiin… aamiin…. keras sekali, ya otomatis aku juga ikutan amin lebih keras to mBah biar enggak ketahuan kalau ngantuk.”

“He…he...he… bocah gemblung ! Sekarang kalau tidur, bisakah kau meniadakan tidur itu dari dirimu ?

Ya enggak bisalah mBah, memangnya mesin yang 24 jam bisa disuruh kerja terus, bahkan mesin nonstop pun perlu waktu tidak beroperasi untuk perawatan berkala.”, jawabku ngotot.

“Nah itulah…. yang namanya makhluk selalu mempunyai keterbatasan, terbatas dan memang dibatasi. Makanya Gusti Allah menginformasikan bahwa diri-Nya tidak hanya tidak mengantuk saja tetapi bahkan tidak tidur. Kalau tidak mengantuk saja, makhluk bisa mengatsinya meskipun sesaat-sesaat saja sifatnya, namun kalau tidak tidur ? makhluk tidak mungkin seperti itu. Makhluk tidak pernah abadi dalam suatu kondisi, dia selalu berubah-ubah dari satu kondisi ke kondisi yang lain sesuai ruang dan waktu yang dia tempati dengan aturan-aturan yang tersendiri pula. Tetapi Gusti Allah tidak demikian.

TIDAK TIDUR merupakan penegasan KONTINUITAS, bahwa Gusti Allah memang Tuhan sesembahan semua makhluk, hidup kekal tanpa tergantung pada apapun dan kekal pula dalam mengurus semua makhluknya yang ada di langit dan di bumi, semua urusan makhluk ada dalam genggaman-Nya. Gusti Allah-lah pemilik mutlak dari semua yang diciptakan-Nya. Sebagai Tuhan sesembahan, hanya Gusti Allah pula yang mutlak memberi syafa’at, yang memiliki pengetahuan yang mutlak atas segala sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk-Nya kecuali hanya sedikit sesuai yang dikehendaki-Nya. Maha mengetahui semua kondisi makhluknya, karena memang kursi Allah meliputi seluruh langit dan bumi yang semunya ringan dalam pemeliharaannya, sebab Gusti Allah-lah yang sebenar-benarnya Maha Tinggi dan Maha Besar.

Maka, Gusti Allah ora saré, haruslah menjadi kesadaran dan keyakinan hamba yang membuatnya selalu bangkit menuju pada-Nya, menjadi pribadi-pribadi yang bukan hanya BAIK tetapi LEBIH BAIK dalam arti berlomba-lomba menuju kebaikan dan selalu menambah kadar kebaikannya. Selalau berbuat kebaikan merupakan perintahnya Gusti Allah, yang dalam istilah agama adalah amal sholeh.”

Jelasnya mBah ?”, tanyaku.

“Kesadaran dan keyakinan Gusti Allah ora saré adalah kesadaran dan keyakinan IHSAN, yang akan meniadakan diri kita sebagai subyek, sebab subyeknya adalah Gusti Allah. Yang MEnggerakkan Allah, yang DIgerakkan kita, maka kita pun bergerak. Yang MEmampukan Allah, yang DImampukan kita, maka mampulah kita. Yang MEngampuni Allah, yang DIampuni kita, maka kita pun memohon ampunan. Begitu seterusnya.

Maka kesadaran dan keyakinan Gusti Allah ora saré, akan membentuk pribadi yang mulia, optimis namun sederhana, berani namun rendah hati, sabar namun tegas.

Apa pun masalahnya, betapa pun sulitnya situasi, seberapa pun lemah kondisi, dengan keyakinan dan kesadaran Gusti Allah ora saré selalu mengetahui kondisi makhluknya dan terus menerus mengurus makhluknya tanpa merasa berat sedikit pun, akan membuat semua itu menjadi ringan dengan wujud keSABARan, sebab yakin bahwa pasti dimampukan, pasti dimudahkan dan pasti diselesaikan.

Sebaliknya, kebahagian, kegembiraan dan semua yang mengenakkan, dengan keyakinan dan kesadaran Gusti Allah ora saré selalu memiliki seluruh langit dan bumi secara mutlak dan kekal, sedang makhluk selalu terbatas dan dibatasi oleh ruang dan waktu, akan membuat semua itu sederhana dan sekedarnya saja dengan wujud SYUKUR kepada Gusti Allah yang telah memberikan nikmat.

Dengan keyakinan dan kesadaran Gusti Allah ora saré, akan tertutup pula semua kemungkinan walau secuil sekali pun untuk berbuat zhalim, berlaku aniaya dan bertindak yang tidak baik, sebab Allah selalu melihat perbuatan makhluknya dan keadilan-Nya pasti akan tiba.

Intinya keyakinan dan kesadaran Gusti Allah ora saré berarti kita – hamba, tidak akan pernah lepas dari Allah, di segala ruang, di setiap waktu, di semua kondisi dan di seluruh situasi selalu bersama Allah, untuk Allah dan menuju kepada Allah.”

Ah… rasanya masih di awang-awang perkataan mBah Zhudhrun, maka aku bertanya lagi padanya, “Trus sederhananya seperti apa mBah, biar saya tidak hanya tahu kalau Gusti Allah ora saré tetapi bisa paham, merasakan, meyakini dan menjadi dalam kesadaran Gusti Allah ora saré ?

“Saat di malam hari engkau mulai menapaki rasa kantukmu, maka sadarilah bahwa kantukmu itu sebagai kewajiban kemakhlukanmu yang pasti nantinya akan berlanjut ke kondisi tidur, yang tentu saja bertolah belakang dengan Tuhanmu yang mengantuk saja tidak, apalagi tidur, tentunya malah tidak terjadi. Maka saat itu katakan dalam hatimu dengan penuh kesadaran : ‘Gusti Allah ora saré’ agar katamu menjadi rasamu, agar rasamu menjadi lakumu, agar lakumu menyatu dalam dirimu.

Maka tidurlah, sebab tidur adalah salah satu nikmat dari gusti Allah untuk mengistirahatkan tubuhmu setelah seharian berbuat kebaikan ([Q.S. 78:9]  dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat). Tidurlah dan biarkan Gusti Allah tetap menjagamu dalam tidurmu, menjaga seluruh organ tubuhmu tetap bekerja sesuai aturannya dan tetap menjaga langit tidak runtuh menimpamu.

Saat pagi menjelang, bangunlah, hiruplah udara pagi yang kesegarannya selalu disiapkan Gusti Allah untukmu dan sebisa mungkin tuntaskan terlebih dahulu seluruh kewajiban wiridmu. Itulah kunci kekuatanmu untuk beraktivitas berbuat kebaikan di sepanjang harimu.”

[Di setiap AWAL hari, bersama keSEGARan pagi, GEMBIRAkan hati, agar DImampuKAN merasakan BERKAH ILAHI sepanjang waktu nanti, hingga di PENGHUJUNG hari DImampuKAN pula untuk menSYUKURi semua yang telah terjadi.]

“Jangan lupa mengawali setiap aktivitas kebaikanmu dengan mengucapkan Bismillah, iringilah dengan selalu menyebut asma Allah dan sertailah selalu dengan doa kebaikan. Mengucapkan Bismillah berarti mengingat Gusti Allah, maka syariatnya, kalau engkau ingat kepada-Nya, insya Allah engkau pun akan diingat pula oleh-Nya. Dengan ingatan itu berarti pula engkau mengkaitkan dirimu kepada-Nya yang hakikinya menjadi sebab awal yang menggerakkanmu dan yang memampukan dirimu berbuat kebaikan. Iringi juga setiap detikmu dengan berdzikir menyebut nama Allah. Sebab tiada satu detik kehidupan pun yang terlepas dari skenario agung-Nya, maka sangatlah rugi bagi kita jika tidak mengiringinya dengan berdzikir kepada-Nya. Jangan juga melupakan doa, sebab itulah yang akan membuat segala aktivitasmu begitu bermakna. Misal, engkau sebagai seorang ayah, di pagi hari saat menyiapkan keperluan sekolah anakmu, iringilah dengan doa semoga mereka menjadi hamba Allah yang sholeh dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta barokah. Sebagai pedagang atau wirausaha misalnya, bukalah tempat usahamu, bersihkan dan tatalah serapi mungkin, dan berdoalah semoga mereka yang berkunjung ke tempat usahamu dibahagiakan hatinya karena merasa nyaman dan senang atas kerapian dan kebersihan tempat usahamu. Berusahalah dan berdoalah agar dimampukan untuk dapat melayani pelangganmu sebaik mungkin. Demikian setrusnya, berdoalah agar aktivitas keseharianmu bias bermanfaat untuk orang lain, maka insya Allah engkau akan bisa merasakan kebahagiaan dalam hatimu setelah melalui semua itu.”

[Kaitkan dan pasti TERKAIT, maknai dan pasti BERMAKNA, terima dan pasti BAHAGIA. INGATlah dan pasti akan diINGAT.]

Tapi mBah, bagaimana bisa tenang hati ini mBah, lha wong saya ini mencari sarana penghidupan saja harus pontang-panting, biasanya selalu sport jantung, selalu ragu, bisa apa tidak menutup kebutuhan sehari-hari ?”, selaku lagi.

“Penyakit itu !”, jawab mBah ZhudhrunH keras, “Gusti Allah ora saré, pasti mengetahui apa yang kau yakini tentang DIA dan pasti akan membuktikan keyakinanmu. Gusti Allah itu maha kaya dan maha memberi kekayaan, pemilik seluruh rejeki. Sukses, sukses, sukses… begitu lho… pasti sukses. Lha wong kamu yakin saja setengah-setengah ya mana bisa…. ? hatimu berkata : gak cukup.. gak cukup…, ya gak cukup beneran. Pokoknya lakukan saja apa yang menjadi sarana penghidupanmu dengan sebaik-baiknya dan penuh kesadaran. Bukankah ikhtiarmu menjemput rejekinya Gusti Allah itu bagian dari amal sholehmu ? Kalau saat ini kondisimu masih susah, tidak enak dan kawan-kawannya itu, katakan dengan penuh ketegasan pada dirimu sendiri bahwa ini hanya sementara, nanti pasti sukses, begitu lho !”

[Saat berada dalam ketidakpastian masalah rezeki, pastikanlah diri kita tidak menghiraukannya karena Allah yang maha memberi rezeki itu pasti. Jangan hiraukan ketidakpastian itu dengan memastikan diri terus berbuat kebaikan sebagaimana mestinya sesuai tanggung jawab yang kita emban, melebihi malah lebih baik, tanpa mengharapkan penilaian. Temuilah, ketidakpastian itu pasti berujung pada kepastian, karena kita memastikan diri melakukan yang dituntut-Nya yaitu berbuat kebaikan tanpa meragukan jaminan-Nya.]

Apa mungkin mBah ?”, tanyaku lagi mengharap kepastian.

“Ya MUNGKIN saja. Gusti Allah ora saré, langit bumi ini miliknya, mudah bagi-Nya membolak-balikkan keadaan sekehendak-Nya yang menurut kita tidak mungkin, tetapi tentu saja semua secara akal juga bergantung pada diri kita sendiri. Kamu mau rejeki yang banyak, berapa nilainya ? Terus untuk apa ? Lalu apakah kau kuat menerima yang lebih dari biasanya ? Kalau lagi susah, mungkin engkau malah sering berdoa, sering berdzikir dan lainnya. Nah kalau diberi lebih banyak lagi, masih seringkah seperti itu, atau malah sudah melupakan Gusti Allah ?”

[Selalu ada kemungkinan dalam berbagai ketidakmungkinan.]

[Sebuah NIKMAT menjadi orang BIASA meski hanya untuk mencukupkan kebutuhan hari ini saja harus pontang-panting. SEBAB dengan sedikit saja diLEBIHkan dari BIASA, bisa jadi malah JAUH dari SELAMAT karena berkemungkinan untuk CURANG, CULAS, SOMBONG, ANIAYA, SEMENA-MENA, LICIK dan BENGIS [dst, dsb, dll].]

Tapi mBah, biasanya bukan hanya masalah sarana penghidupan saja yang menjadi ganjalan hati. Masalah-masalah lain itu lho selalu datang silih berganti, ndak pernah berhenti, ada saja. Hidup kok banyak masalah ?!”.

“Ya kalau ndak mau banyak masalah, ya kamu mati saja. Beres tho ? he… he… he… Bagi sebagian orang yang pendek cara berpikirnya, dangkal pemahamannya dan redup semangatnya, mungkin mereka lebih berani mati daripada berani hidup. Sebenarnya masalah itu kan bergantung bagaimana kita menyikapinya. Makanya biar tidak berat, jangan menjadikan dirimu subyek, sebab Gusti Allah-lah subyeknya. Gusti Allah itu ora saré, pasti tahu betul kalau kamu itu kuat dan mempunyai kesanggupan untuk DIdidik Gusti Allah menjadi lebih baik lagi melalui berbagai masalahmu itu. Tinggal bagaimana kamu menyikapinya. BerSABARlah, lha wong namanya sedang diuji, lalui saja dengan sepenuh hati dan sepenuh dayamu agar bagaimana caranya punya solusi atas masalahmu itu biar cepat selesai. Tetapi di balik itu berSYUKURlah pula, sebab kalau kau diberi ujian, bukankah itu tanda-tanda derajadmu sedang akan dinaikkan oleh-Nya ? Bukankah watak dunia memang penuh masalah, agar engkau lari darinya [dunia] dan menuju pada-Nya [Gusti Allah] ? Makanya seperti aku katakana tadi, landasilah semua keseharianmu dengan doa.”

[Seberapa besar kesanggupan kita menerima ujian, sebesar itu pulalah kebahagiaan dan kebarakahan yang akan bertambah pada diri kita, sebab tidak akan bertambah nikmat jika wadah penampung nikmat itu belum siap. Tidak akan bertambah nikmat, jika nikmat yang telah diberi tidak kita rawat dengan rasa syukur kita padaNya.]

Apa doa bisa mengubah takdir mBah ?

“Secara akal iya, syariatnya memang begitu : BERDOALAH MAKA AKAN KUKABULKAN, hamba berdoa lalu Allah member. Hakikinya kebalikan dari itu.”

[Allah maha penyebab dari segalanya, Allah maha tidak tergantung pada apapun. Bukan doa yang mengubah takdir, tetapi doa yang diiringi ikhtiar kita, biasanya merupakan pertanda bahwa Allah berkehendak menggerakkan posisi kita dari satu titik takdirNya ke titik takdirNya yang berikutnya.]

Gusti Allah itu ora saré dan pasti mendengar jika engkau berdoa pada-Nya. Maka berdoalah. Dalam doamu, adukan semua permasalahanmu, ceritakan semua kesulitanmu, mohonlah agar DImampukan merelakan apa pun yang terjadi dan DImampukan menemukan jalan penyelesaiannya dengan mudah, lalu rasakanlah kelegaan yang memenuhi hatimu. Gak percaya, coba saja… he…he…he…”

[Tak ada keLEGAan selain anugerah kelegaan setelah BERSERAH.]

mBah DhrunH, mbok saya ini didoakan agar hidup enak, bisa yakin seyakin-yakinnya sama Gusti Allah tapi kalau bisa mbok ndak usah diuji, paling tidak jangan diberi soal ujian betulan ya…. contoh soal saja lho mBah… please !” pintaku dengan tampang paling memelas yang kumiliki.

“He…he… bocah gemblung mblung, mblung, mblung….. !!!! nDungo’o dewe….”

[Tak ada yang tiba-tiba, sebagaimana angka yang harus dimulai dari satu, di segala sesuatu pasti ada PROSES. Maka PROSES merupakan pengejawantahan keSABARan, keTEGUHan, keISTIQOMAHan, keYAKINan sekaligus keBERSERAHan dalam meNIKMATi irama kehidupan yang tak pernah sama dalam setiap masa yang terlalui, kini hingga nanti.]


mBah… indonesa ki kok makin ruwet ya mBah, muangkel aku…”, tiba-tiba saja aku teringat rasa neg-ku dengan berbagai hal yang beberapa tahun terakhir ini tidak menjadi lebi baik tetapi malah lebih buruk di negeri ini.

“Wis gak usak kamu pikir lha wong orang besar-besar itu mikir terus ya belum ada hasilnya, alam ini sudah rusak sampai pada tingkat tidak bisa diperbaiki, pemerintahmu ruwet. Kekuasan jadi rebutan, uang jadi tujuan akhir mereka yang punya jabatan, mereka yang punya partai, mereka yang punya organisasi, mereka yang punya masa. Siapa mau menyelesaikan ini semua ? Hanya Gusti Allah yang bisa mengakhiri ini semua. Gusti Allah itu ora saré, keadilan-Nya pasti turun, hanya sebelum keadilan-Nya turun, adililah sendiri dirimu dulu. Yang penting sekarang bagaimana engkau bisa menjadi orang baik. Orang baik yang sesungguhnya dan bagaima caranya kebaikanmu itu bisa menular kepada keluargamu, tetanggamu, sahabatmu dan semua orang yang mengenalmu. Piy é carané, usahakan seluruh aspek hidupmu juga menjadi baik. Itu saja kuncinya dan pasrahkan pada Gusti Allah, akan ke mana dan akan bagaimana semua ini nantinya. Selalu sertakan mereka semua dalam doa-doamu.”

[SEIMBANG. Demikianlah berlakunya hukum Tuhan Gusti Allah itu ora saré. Tinggal menunggu waktu, diperCEPAT atau diperLAMBAT. KeBAIKan kita pasti berbuah LEBIH BAIK. KeBURUKan kita pasti berbuah LEBIH BURUK juga. Semoga keBURUKAN kita diperCEPAT buahnya, agar tak menumpuk terlalu banyak hutang saat menghadap-NYA.]

 “mBah kalau begitu Gusti Allah ora saré itu berarti di segala ruang, di setiap waktu, di semua situasi dan di seluruh kondisi tidak ada yang lain kecuali ya Gusti Allah itu sendiri ya mBah ?”, weleh tiba-tiba saja si mBah Zhudhrunh sudah lenyap dari hadapanku, tak berbekas tapi berbau, hi…hi…hi…hi…

Gusti Allah ora saré Gusti Allah ora saré Gusti Allah ora saré Gusti Allah ora saré Gusti Allah ora saré Gusti Allah ora saré Gusti Allah ora saré Gusti Allah ora saré Gusti Allah ora saré… Gusti…Gusti…Gusti… Allah…Allah…Allah…

Dan setelah semua itu tiba-tiba saja rasanyanya cobaanku semakin banyak, mengaduk rasa dan menggelorakan jiwa. Seakan seperti dipaksa untuk membuktikan bahwa benar-benar bahwa Gusti Allah ora saré.

[Tiada NIAT tanpa medan pemBUKTIan dan perJUANGan yang terhampar dihadapannya.]

Ya sudahlah ndak papa, lha kok untungnya Gusti Allah ora saré. BISMILLAH.
Share this article :
Comments
3 Comments

3 komentar:

  1. matur suwun kang...

    ReplyDelete
  2. Wong ndablek kumat lagi ne, jd pgn cpt2 baca posting trbarunya denmasbagus

    ReplyDelete
  3. Wong ndablek tambah ndableke. Ngapunten Gusti... Kurang maturnuwune, sambat ngersulo ae:tambah kkufurane, ora trimo pandume Gusti. Ndablek1000x ngapunten1000000000x. Wong ndablek is loyal reader of denmasbagus, ngalap pituduh, wawasan n barokah. Blog is just blog, SING MARAI AYEM dudu postinge. walah mboh wes-dowo2 tambah ngisin2i

    ReplyDelete








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger