Home » » J o d O h

J o d O h

Written By BAGUS herwindro on Mar 30, 2011 | March 30, 2011

Di sebuah tempat keramaian di kota tempat tinggal Cak ZhudhrunH, di mana Cak ZhudhrunH sering melatih ilmu penerawangannya, suatu siang tiba-tiba Cak Zhudhrun merasa lengannya ada yang menggandeng dan menyeretnya ke pinggir.

[Maksudnya tempat keramaian itu mall, nah pengunjung mall itu biasanya suka pakai pakaian yang minim-minim. Sekwilda-nya (sekitar wilayah dada) sering di-go public-kan serta bupati (buka paha tinggi-tinggi) atau istilah kerennya pupu-lher, pupune diler, makanya Cak ZhudhrunH kalau mau latihan nerawang gak perlu susah-susah, lha wong gak ditutupi he…he… jangan ditiru !!!]

Saat Cak Zhudhrunh menoleh kearah orang yang tiba-tiba menggandengnya, tersenyumlah ia, tampak seseorang yang telah dikenalnya, seoarang wanita muda yang cantik dan semlohay istilah surabayanya.

Cak… jodoh cak… !

“Weleh kowe to wuk….. lama tak jumpa, sekali ketemu kok langsung bilang jodoh. Opo maksudnya ?”

Ternyata wanita itu kenalan lama Cak ZhudhrunH yang langsung menyeret Cak ZhudhrunH mojok, masuk ke salah satu gerai resto di mall itu.

Wis Cak, sampeyan pesan aja apa terserah.”

“He… he… aku sebenarnya gak suka makan, lebih suka mentahannya aja….”

Puancet aja sampeyan itu Cak, ket biyen njaluk mentahane ae, ntar aku mintain di dapurnya yang masih mentah.”

Maka sembari menunggu pesanan makanan siap tersaji, kenalan si cacak itu, Nanda, mulai mengalirkan kisah hidupnya yang penuh dengan liku-liku, kegembiraan juga kesedihan, semangat dan juga putus asa dan segala macam rasa yang terdapat di dalamnya.

Makanya Cak, aku bersyukur bisa dipertemukan Gusti Allah dengan sampeyan di sini, sebab sudah lama aku berusaha mencari tahu nomor HP sampeyan, kok engga ada, nyari alamat sampeyan juga gak ketemu. Tolong po’o Cak, gimana caranya biar jodohku bisa cepat datang.”

“He.. he… memangnya aku biro jodoh apa ? Kamu kurang usaha aja kok sampai gak tahu nomor HPku wong dari dulu ya tetap yang itu-itu saja, HP butut dengan nomor butut pula. Tapi memang kalau sms aku paling males, lha biasanya kalo ada yang nanya via sms, pertanyaannya singkat, jawabannya itu lho kan harus lengkap biar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Makanya lebih enak via email atau ketemu langsung. Kalau di rumah ngebel dulu biar bisa ketemu, lha wong aku ini nomaden, he… he…”.

Terus gimana nasib perjodohanku Cak ?

“Bentar dunk, sabar, ayo kita onceki satu-satu, he… he… apa ya oncek itu, kita kupas satu demi satu biar jelas permasalahannya.”

“Yang pertama, aku ingin menanyakan, kenapa engkau ngebet banget ingin segera mendapat jodoh ?”

Yah…. bagaimana to Cak sampeyan itu, lha umurku makin hari kan makin tambah, ntar keburu tua dunk aku kalo enggak segera dapat jodoh ! Apa kata orang ?

“He… he… itu kekeliruanmu yang pertama.”

Keliru apanya Cak, sampeyan itu belum-belum sudah menyalahkan aku !

“Sabar to diajeng, tak usah cemberut begitu, sebab jika cemberut wajahmu akan tampak lebih uaaaaaaaaaaasem he…. he…. Dari sudut pandangmu memang benar, pertama masalah umur, sebab memang ada batasan masa produktif pada diri kita masing-masing terutama wanita khususnya mengenai proses untuk mempunyai keturunan. Yang kedua benar juga mengenai masalah apa kata orang. Tapi sebenarnya kurang dahsyat, lebih sip kalau engkau ganti APA KATA DUNIA ??? he… he… seperti iklan pajak yang di TV itu lho.”

Terus kelirunya di mana Cak ?

“Kelirunya pada niatnya itu lho dan ini yang sering terlupa. Hal ini pula yang sering pada nantinya menimbulkan banyak masalah. Sebenarnya harus tidak boleh menjadi masalah tentang apa kata orang terhadap kita sepanjang kita tidak menyalahi aturannya Gusti Allah. Bahwa kita menginginkan jodoh untuk membangun sebuah rumah tangga itu memang sebuah fitrah, sebagaimana yang dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad, maka jika kita ingin menapaki jalan itu juga harus diniati untuk mengikuti jejak Rasul. Kalau di dalamnya kemudian ada rasa senang, rasa suka, rasa sayang dan cinta, itu memang suatu kewajaran, namun sejak awal harus ditata niatnya bahwa berumah tangga itu menjalankan sunah Rasul. Kenapa demikian ? Coba kau baca ini sebagai bahan renungan.

Kalau tidak ditata niatnya sejak awal, biasanya setelah menikah akan banyak timbul masalah. Sebelum menikah saja sepertinya ingin sekali segera mempunyai suami / isteri dengan gambaran-gambaran indah di dalamnya, tetapi setelah menikah apalagi kalau sudah punya anak, semakin hilang rasa syukurnya kepada suaminya / isterinya, kalau sudah seperti itu yang ada hanya konflik, konflik dan konflik.”

[Waktu adalah milik Tuhan, hinga kita takkan pernah tahu rahasia di balik perjalanan waktu. Maka saat memutuskan sesuatu yang menyangkut masa yang panjang di depan sana, PERTIMBANGKAN adakah kemungkinan Tuhan berkenan dengan apa yang kita putuskan dan apakah niat kita berselaras dengan kehendak Tuhan untuk memuliakan kita di hadapan-Nya ?]

Ya…ya… betul itu Cak, teman-temanku juga banyak yang mengalami seperti itu.”

“Nah, yang kedua ingin kutanyakan, sudah mantabkah hatimu untuk mendapatkan jodoh dan menikah ?”

Mantab sih mantab Cak, tapi…. sebenarnya aku takut juga nanti jangan-jangan dapat seperti yang kemarin-kemarin, masih sakit Cak hatiku ini, muangkel pol rasanya hatiku kalau ingat, egois, mau menangnya sendiri, kalau ngomong selalau menyakitkan dan seterusnya, padahal kurang sabar apa lho Cak aku ini ?

“He…he… itu kesalahanmu yang kedua, mantab kok pakai tapi ? Tapi itu biasanya alasan dan alasan merupakan faktor terbesar penggagal sebuah cita-cita/kehendak/keinginan. Engkau ingin dapat jodoh, di sisi lain engkau masih terbebani oleh masa lalumu itu baik kenangan-kenangan indah bersama si diamu yang menyebabkanmu enggan benar-benar melepasnya atau pun di sisi yang lain pula engkau terbebani oleh kenangan-kenangan burukmu yang menyebabkan kekhawatiranmu untuk melangkah ke depan. Ya enggak jadi-jadi, ibarat engkau menimba air dengan ember yang bocor, kapan penuhnya ?”

[Sing uwis yo uwis ora usah diéling-éling yen malah marakké larané ati... [hidup selalu baru]]

“Yang ketiga, sabar itu tidak ada batasnya, sebab sabar itu sebuah kesadaran. Jangan pernah merasa bisa sabar kalau masih sering mengeluh, katanya sabar kok ngersulo, mengeluh. Yang sudah terjadi ya sudah, biarkan saja, tak usah lagi dikorek-korek. Enak kok sebenarnya putus cinta itu, kan bisa cinta-cintaan lagi dengan yang lain ? he… he….”

“Yang keempat, setelah mendengar ceritamu tadi yang panjang lebar dan tinggi tentang mantan-mantanmu itu, aku jadi berpikir, itu kan cerita menurut versimu. Bisa jadi kan kalau kamu sendiri juga seperti itu ? Sebab biasanya seperti apa kita, maka seperti itu pulalah mereka yang hadir dalam lingkup keseharian kita.”

Wah ya jangan begitu to Cak, kalau menurut aku sih, aku ini dulu sudah berusaha menahan diri, lebih baik mengalah saja, tapi apa balasannya, malah seenaknya sendiri ! Lha kok dapat yang baru ternyata sama saja kelakuannya, benci aku !

“Nah itu dia, yang kelima jangan membenci, sebab begitu engkau membenci, saat itu pula pikiranmu selalu fokus pada apa yang engku benci, akibatnya tanpa engkau sadari energimu tersedot dan terpusat pada bayangan kebencianmu itu dan cepat atau lambat biasanya akan terwujud lagi. Makanya orang-orang tua dulu mengajarkan : ojo moyok mundak nemplok – jangan membenci nanti terjadi. Apapun yang terjadi di masa lalu dengan berbagai kenangan yang buruk, terimalah dengan kesadaran sebagai suatu hal yang memang harus kita lalui sebagai sarana pelatihan diri dari Gusti Allah untuk membentuk diri kita mejadi pribadi yang lebih baik lagi. Bisa jadi kita mengalami perlakuan / sikap yang tidak mengenakkan itu sebagai sindiran dari Gusti Allah bahwa adab kita kepada Gusti Allah juga sama seperti itu. Maka banyak-banyaklah beristighfar untuk dirimu dan juga untuk mereka yang engkau anggap menyakitimu”

[TINGGALkan dengan SENYUMan, maka itu berarti menabung energi untuk meWUJUDkan yang LEBIH BAIK lagi. JANGAN TINGGALkan dengan keBENCIan, sebab itu berarti menabung energi untuk meWUJUDkannya KEMBALI.]

Terus bagaimana caranya Cak agar aku mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi ?

“Telanjang !!!”

Hush…!!! Ngawur sampeyan Cak.”

“He… he… beneran ini, tapi jangan telanjang di hadapanku, bisa gawat urusannya nanti. Maksudku adalah engaku harus berani menelanjangi dirimu sendiri, dalam arti harus berani dan jujur menilai dirimu sendiri tentang segala kekurangan dan keburukan yang masih bersemanyam dalam dirimu yang masih bertahta dalam jiwamu. Mulat sariro hangrasa wani, kata orang jawa atau kata lainnya adalah introspeksi alias muhasabah. Perbaiki diri terus menerus / akhlak dan tingkatkan kesadaran terus menerus / taqwa.”

[SETARA. Seperti itulah biasanya. Bagaimana kita, seperti itulah yang akan ada dalam kehidupan kita. Maka saat mengINGINkan sesuatu yang LEBIH BAIK dari yang pernah ada di masa yang lalu, berTANYAlah pada diri sendiri, seBERAPA jauh kita sudah mengubah diri untuk jadi LEBIH BAIK agar LAYAK pula menerima yang LEBIH BAIK itu.]

“Yang terpenting, jangan banyak alasan. Setiap kali engkau punya masalah, setiap kali juga engkau selalu mengeluh, curhat. Boleh-boleh saja curhat tetapi dalam rangka mencari solusi, bukan dalam rangka mencari pembenar-pembenar atas semua alasanmu itu yang justru akan semakin menambah keterpurukanmu. Kalau memang mencari solusi, begitu ada saran kebaikan, laksanakan tanpa banyak alasan yang inilah yang itulah dan setrusnya. Lha kalau bukan dirimu sendiri yang berusaha menjaga hatimu agar tegar, kuat dan luas, lalu siapa lagi. Kalau orang lain kan bisanya hanya sebatas mendukung, menyemangati dan mendoakan, hanya itu.”

[Bergerak maju ke arah belakang, berputar-putar mengitari perhentian yang tetap, berulang-ulang mengulang kekeliruan yang sama. SEBAB, kekeliruan diyakini sebagai sesuatu yang benar, kesalahan selalu dicarikan alasan pembenar, MAKA ketaksadaran merupakan cara gembira untuk nestapa.]

Otree Cak, paham… paham… aku tentang semua yang sampeyan katakan itu. Tapi mbok saya ini dikasih syarat biar lebih mantab gitu lho.”

“Lho-lho… Otre itu kan merekku, kok kamu pakai sih ? He… he… ternyata diam-diam kowe ngefans banget ya sama aku, idiom-idiomku banyak kau pakai. Masalah syarat, memangnya aku ini dukun, kok kamu minta syarat ke aku ?”

Yang saya dengar sih begitu, sampeyan kan nyambi jadi dukun ha…ha…. salam tempelnya itu kan lumayan Cak.

“Wah kalau amplopnya sih terus terang aku enggak suka, biasanya aku kembalikan, tapi isinya itu lho yang aku suka banget he… he… Beneran mau aku kasih syarat plus sedikit ritual ?”

Iya Cak mau bangetz aqiu

“Hari kelahiranmu alias wêtonmu apa ?”

Rabu legi Cak. Kok pakai wêton segala sih Cak, memangnya hari lain enggak boleh ?

“Ya egga harus sih, mau tahun baru juga boleh, 17 Agustus juga monggo, tapi kan kelamaan ? Katanya minta cepat ? Tanya melulu sih ?!”

Iya Cak maaf, kan katanya orang, malu bertanya malu-maluin ?

“Nih… perhatikan, dasarnya ada di kalimat-kalimat ini : bahwa seseorang akan mudah mengingat suatu peristiwa dalam hidupnya, bila suatu peristiwa itu memberikan kesan mendalam baginya. Kesan yang mendalam itu biasanya berkaitan dengan orang, tempat, benda, rasa dan bau. Ingatan itu lebih cepat dipanggil dari simpanan di dalam otak kita jika ada prasasti / têtêngêr / tanda. Maka engkau memilih tanggal kemerdekaan negeri ini ya sah-sah saja, tetapi apa tidak terlalu umum apa tidak terlalu jauh waktunya ? Maka secara personal, lebih baik engkau memulai ritual ini nanti pas hari kelahiranmu biar engkau ingat, ingat akan niatmu, ingat akan doamu dan ingat akan tekad serta deklarasimu.”

Memangnya harus berniat, bertekad, berdeklarasi dan berdoa Cak ?

“Ya iyalah… bukankah segala sesuatu itu tergantung pada niatnya. Kalau sudah niat ya harus ada tekad yang secara lisan harus dideklarasikan sebagai arah dalam melaksanakan ikhtiar lahiriah dan tak lupa selalu teriring doa karena kita ini lemah, hanya Gusti Allah yang kuat dan memberi kekuatan dan hanya Gusti Allah pula yang menggerakkan segala ikhtiarmu itu.”

Ritualnya apa Cak ?

“Menjelang wêtonmu, kamu pergi ke pasar tradisional, beli yang namanya UWI. Uwi ini masih saudaranya singkong, masih sepupunya mbothe, semacam ubi, Tanya aja ke penjualnya, insya Allah dia tahu.”

Kenapa harus UWI Cak ?

Ntar akau jelasin semuanya, catat saja dulu.”
“Kalau sudah dapat Uwi 2 atau 3 biji, lubangilah tanah di depan pintu ruang tamu rumahmu atau di depan pagar rumahmu, pokoknya yang lokasinya tiap hari kau lewati. Lubangnya kira-kira cukup untuk memendam Uwi itu tadi. Uwi tadi tebaslah / potong-potonglah pakai pisau di atas lubang yang telah engkau persiapkan dan timbunlah  seperti sedia kala.”

Wah kalau ditebas, enggak bisa tumbuh dunk ?

“Tanya melulu… dengerin nih penjelasanku :

“Tuhan itu tidak tidur, Gusti Allah ora saré, pasti mendengar segala keinginanmu walau pun tidak terucap, pasti mengetahui segala hajatmu walau belum berwujud keinginan. DIA pasti mengabulkan apa yang kita pinta, maka berdoalah, hanya saja kalau berdoa biasanya kita melakukan tanpa rasa hingga selesai berdoa pun tidak ada kesadaran untuk melakukan ikhtiar secara lahiriah sebagai upaya mempersiapkan kepantasan diri untuk menerima apa yang kita doakan.

Maka ritual ini sebagai sarana berdoa kepada Gusti Allah melalui bahasa simbol, agar dalam doamu engkau lebih me”rasa” dan nantinya tergerak untuk terus menerus berikhtiar agar pantas menerima apa yang engkau inginkan.

Uwi itu ibarat / sanépan dari kata KUWI / Itu. Maka dengan memilih atau menggunakan Uwi, niatkan dalam hatimu, bermohonlah dalam hatimu agar Gusti Allah nanti seakan-akan menunjukkan padamu : KUWI / Itu lho jodohmu !”

Hi… hi… masuk… masuk…. mantab Cak, paham aku. Trus kenapa harus gali lubang dan menebas / memotong-motong Uwi itu Cak ?

“Begini…. Itu merupakan sebuah deklarasi bagimu di hari kelahiranmu, sebagai prasasti / tanda / têtêngêr tekadmu. Saat menebas-nebas / memotong-motong Uwi tersebut ke dalam lubang yang telah engaku gali, tekadkan dalam hatimu bahwa : ‘yang aku potong-potong ini, yang aku tebas-tebas ini, bukan lah Uwi ini melainkan sêngkala hidupku’.

Sêngkala itu hambatan / halangan hidup dan yang merupakan halangan hidup terbesar kita adalah hawa nafsu kita sendiri. Jadi saat engkau menebas-nebas Uwi itu, saat itu pula engkau harus benar-benar siap dan bertekad untuk menebas hawa nafsu yang adalah dalam dirimu, bukan untuk menghilangkan melainkan untuk mengendalikan, harus benar-benar berusaha meniadakan sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, hasud, riya, takabur, sombong, putus asa dan sebagainya itu dan menggantikannya dengan sifat-sifat mulia seperti sabar, syukur, qanaah, ridho, optimis dan seterusnya.

Orang-orang tua dulu kalau misalnya ada suatu benda / barang yang ada unsur sihirnya, untuk menetralisir salah satu metodenya adalah dengan melangkahi benda / barang tersebut. Dalam bahasa Indonesia sering kita dengar juga ungkapan : ‘Silahkan…. tapi langkahi dulu mayatku !’. Berarti melangkahi itu merupakan suatu simbol penaklukan dan kemenangan. Jadi saat potongan-potongan uwi tadi kau pendam dalam tanah yang tiap hari engkau langkahi saat engkau keluar rumah, ingatlah bahwa itu merupakan salah satu tekadmu bahwa engkau siap untuk mengalahkan hawa nafsumu, menjadi diri yang bertambah baik dan  semakin baik.

Benar-benar siapkan diri menjadi seorang isteri / suami yang baik, persiapkan diri menjadi orang tua yang baik, cari tahu terus ilmunya. Perluas terus kapasitas tangki kasih sayangmu, tangki sabarmu dan tangki syukurmu. Insya Allah, Gusti Allah akan segera menunjukkan jodoh terbaikmu sebagaimana harapanmu.

Jangan berlaku sombong, minta tolong orang tua, saudara atau sahabat terpercaya untuk membukakan kemungkinan hubungan yang mengarah ke pernikahan.

Terus berdoa mohon petunjuk Gusti Allah, tetap berikhtiar namun pasrahkan semua pada kehendaknya Gusti Allah, kapan dan di mananya.”

[Saat menginginkan suatu hal yang memang sangat kita butuhkan, sering terjadi adanya keterbatasan kita untuk mewujudkannya. Maka, RELA adalah kata kuncinya. Relakan keterbatasan kita dan relakan juga ketakterwujudan keinginan kita dan liihatlah yang terjadi. Keinginan itu akan wujud dengan mudahnya sebagai anugerahNya atas kerelaan kita.]

Lha doanya di mana Cak.”

“Doanya ya di sepanjang ikhtiarmu di awal, di tengah dan di akhir ritual dan ikhtiarmu. Doa tak pernah henti. Mohon dikaruniai suami/istri yang sholih/sholihah yang selalu dilimpahi tetapnya iman, terang hati, keselamatan dunia akhirat, ampunanNya serta keridhoanNya. Mohonkan sekalian agar kelak dikarunia pula anak keturunan sampai akhir jaman kelak yang sholih dan sholihah yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

[Allah maha penyebab dari segalanya, Allah maha tidak tergantung pada apapun. Bukan doa yang mengubah takdir, tetapi doa yang diiringi ikhtiar kita, biasanya merupakan pertanda bahwa Allah berkehendak menggerakkan posisi kita dari satu titik takdirNya ke titik takdirNya yang berikutnya.]

Pasti berhasil ya Cak ?

“Memangnya aku Tuhan kok kau tanya tentang kepastian segala. Sepanjang engkau bisa mensinkronkan antara hati dan pikirmu, bisa berserah diri dan benar-benar yakin sama Gusti Allah, itulah tanda-tanda kabulnya hajatmu. Lha kalau yakinmu setengah-setengah, mana bisa ???”

:: ya…. begitulah…. ::
Share this article :
Comments
4 Comments

4 komentar:

  1. salam sesama blogger jamaah PETA.
    tulisannya sakti cak menggugah, penuh kata2 mutiara nan bijak. Ngomong2, itu karya sendiri apa njiplak ya?

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum

    Mas, bantu doakan saya ... Agar Gusti Allah mengampuni kesalahan-kesalahan saya dan sudi menambahkan apa yang kurang dari kekurangan-kekurangan saya ... agar saya layak diberi jodoh yang baik dan ketika saya sudah mendapatkannya (seperti apa dan siapapun dia) nanti nya , tidak ada ke nggersuloan yang terlintas di dalam hati saya akan keadaan jodoh yang Gusti Allah berikan untuk saya .... Nuwun

    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikum salam....

      Insya Allah makbul. Aaamiin....

      Delete








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger