Home » » Dulu Satu Padepokan Silat

Dulu Satu Padepokan Silat

Written By BAGUS herwindro on Sep 23, 2008 | September 23, 2008

Selepas jamaah tarawih Cak ZhudhrunH asyik menikmati kopi hangatnya di beranda depan rumah, melepas lelah setelah seharian sibuk dalam kegiatan kerjanya. Tiba-tiba terlintas di ingatannya kenangan akan masa lalu, terlihat di roman mukanya sebuah senyum yang panjang, sebuah senyum geli, sebuah senyum getir karena teringat masa lalunya. Ya.... dia dulu seorang petualang spiritual yang selalu mencoba memuaskan dahaga jiwanya dengan melakoni berbagai metode oleh rasa yang berujung pada terungkapnya suatu kekuatan lebih pada dirinya sampai akhirnya dia terdampar di sebuah padepokan silat sekaligus majelis dzikir yang konon menurut pemangku padepokan silat itu seluruh ilmu dan dzikir yang diajarkan merupakan warisan dari para sufi terutama bersumber dari salah satu wali songo di Jawa Timur sehingga bersifat khas dan tidak ada yang menyamai dan memang menurut Cak ZhudhrunH, di padepokan silat itulah semua menu tersedia secara lengkap dengan nafas religius Islam. Tapi saat ini baginya semua tinggal kenangan sebagai bagian perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Saat ini semua telah ditinggalkannya sejak dia menempuh jalan tarekat melalui baiat dari seorang mursyid di sebuah kota di Jawa Timur.
“Assalamu’alaikum..... Cak”, sejenak kelebatan pikirannya ke masa lalu buyar mendengar ucapan salam itu. Dengan segera Cak ZhudhrunH menjawabnya, “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, eeh... awakmu tah Di, ayo-ayo masuk”. Segera keduanya pun berjabat tangan. “Yok opo kabare Di ?” “Alhamdulillah Cak, baik”. Segera saja setelah itu mereka berdua terlibat perbincangan seru tentang kabar mereka masing-masing, maklum sudah lama mereka jarang berjumpa, diselingi seruputan wedang kopi buatan istri Cak ZhudhrunH dan nyamil jajanan seadanya.
“Oh iya Cak, sekalian saya menyampaikan salam dari sedulur-sedulur padepokan. Mereka nanyain kapan Sampeyan mau latihan lagi sama dzikiran bareng-bareng ?”
“Oalah Di... Di..., awakmu kan sudah tahu to kalo aku ini sudah pensiun, Sudah enggak gitu-gituan lagi. Lha sekarang kan sudah jelas pakaianku, aku pake baju tarekat yang tentunya aku yakin seyakin-yakinnya thoriqohku lebih agung dari semua keilmuan padepokan walaupun atas nama dakwah dan syiar Islam. Lha awakmu sendiri gimana Di, kok masih terus ngelmu, apa karena sekarang kamu sudah lolos ujian kepewarisan ilmu padepokan sehingga berhak menurunkan ilmu padepokan ke khalayak ramai, bisa dakwah dan syiar Islam ? Atau kamu merasa eman atas tirakatmu selama ini yang sudah banyak kelihatan khasiatnya, apalagi sekarang muridmu sudah banyak.”
“Wah ya ndak gitu to Cak, kan guru kita dahulu pernah bilang bahwa tidak masalah kalo murid padepokan menjadi jamaah atau murid tarekat, bukankah tujuannya sama-sama baik mencapai kejayaan dunia akhirat, sepanjang tarekat tersebut jelas runtutan sejarahnya, masih meng'esa'kan Allah swt, menegakkan sholat dengan benar, dan menegakkan syariat Islam dengan benar, maka apapun alirannya dan siapapun mursyidnya Insya Allah baik.”
Mendadak dada Cak ZhudhrunH terasa sesak, tetapi alhamdulillah dia segera sadar dan beristighfar, ya... mungkin memang baru sebatas itu pemahaman si Aldi walau pun sebenarnya dia juga sudah mengambil baiat dari Yai Mursyid yang sama dengan Cak ZhudhrunH. Cak ZhudhrunH juga menyadari bahwa sebenarnya si Aldi itu bukannya tidak mengerti akan dawuh Yai Mursyid, melainkan satu hal yang pasti adalah rasa eman atau sayang meninggalkan segala lelaku yang telah dijalaninya selama ini dan hal tersebut didorong lagi oleh petuah sang guru seperti yang baru saja dikatakan olehnya. Cak ZhudhrunH tersenyum tetapi tidak menanggapi pernyataan Aldi lebih dahulu melainkan malah balik bertanya, “Di, kamu punya cita-cita endak ? Apa cita-citamu ?”
“Kalo dulu sih saya pengennya jadi tentara Cak, kelihatannya kok gagah, tapi kalo sekarang sih saya sendiri bingung, apa ya cita-cita saya. Yang penting pengennya hidup saya enak Cak, gampang cari rejekinya gusti Allah, sehat dan kecukupan.”
“Opo awakmu ndak punya cita-cita mati ?”
“Hush.... sampeyan itu Cak-Cak, cita-cita kok mati, mati itu kan kewajiban meski banyak orang merasa terpaksa mati karena endak bisa ngelawan kematian itu. Pengennya sih hidup terus gitu loch...”
“Di... ini rahasia lho.... he... he... he.... jangan bilang siapa-siapa, siapapun orangnya, apapun prestasi keduniaannya ibarat sudah mencapai puncak kesuksesan hidup sebagaimana yang sering diperbincangkan orang, seperti misalnya dari kalangan militer dia itu jendral, panglima lagi, umpama dari kalangan pengusaha, dia itu top bangetlah pokoknya, omsetnya per bulan triliunan rupiah, umpama dari kalangan trainer, dia itu trainer kelas atas yang alumni pelatihannya sudah mencapai puluhan ribu orang, umpama dari kalangan artis sinetron, dia itu tarif per episodenya mencapai puluhan juta rupiah, umpama pendekar gitu ilmunya paling tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi, atau juga dari kalangan lain yang dianggap sukses dan menjadi standar kemewahan hidup bagi banyak orang, ternyata akhirnya mati juga. Jatah ruang dan waktu baginya habis di dunia ini. Ternyata hidup itu menunggu mati, mati itu berarti kembali, kembali kepada yang memiliki, yang memiliki itu Allah. Masa depan kita dan masa depan hidup ini adalah Allah, cita-cita kita salah jika bukan Allah, semuanya sia-sia jika tidak dengan Allah, semuanya sia-sia jika tidak bersama Allah, semuanya sia-sia jika tidak untuk Allah, subhanallah - Allah saja yang ada yang lain tidak ada, alhamdulillah - Allah juga di balik semua yang ada.”
“Wah sampeyan kok jadi puitis, filosofis dan melankolis gitu Cak, bingung aku jadinya.”
“Sorry Di, lagi kumat soalnya. Lagi pula enggak usah bingung Di, gampang kok kalo bingung itu, jarene dosenku biyen cuman dua caranya, pertama gocekan mejo trus kalo masih bingung, klambimu waliken. Dijamin tambah bingung hi.... hi.... hi....”
“Pancet ae sampeyan itu Cak-cak.”
“Gini lho Di, yang kumaksud itu, setiap orang mesti mati to ? Lha kalo sudah mati tentunya mbalik lagi ke gusti Allah to ?”
“Ya jelas Cak, trus maksude yok opo ?
“Berarti untuk kembali lagi ke gusti Allah dengan selamat kita perlu ajaran, metode dan panduan kan ? Ajaran itu namanya Islam dengan tiga pilar dasarnya yaitu iman yang disiplin ilmunya nanti menjadi teologi/tauhid, islam yang disiplin ilmunya nanti menjadi fiqih dan ihsan yang merupakan intisari dengan displin ilmunya bernama tasawuf dengan metode tarekatnya dan mursyid sebagai pemandu jalannya. Mursyid itulah Di, yang maqomnya kamil mukammil itulah yang hakikinya sebagai pewaris para nabi dan rasul.”
“Terus Cak ?”
“Ya terusannya itu, ketika kita sudah mengambil baiat dari Yai Mursid, seharusnya yang kita turut ya Yai Mursid kita sebagai pemandu perjalanan kita menuju Allah. Lha Yai Mursid kita memerintahkan meninggalkan amalan-amalan dzikir di luar dzikir tarekat apalagi yang namanya ilmu-ilmu hikmah meski pun bernafaskan religius Islam sekalipun, apalagi kalo ilmu kejawen harus dilepas itu dan dikembalikan ke habitatnya.”
“Tapi sedulur-sedulur lain ada juga yang menjadi murid tarekat, tapi mursyidnya membolehkan tetap dengan amalan padepokan Cak, gimana itu ?”
“Nah... itulah bedanya. Awakmu tadi kan bilang kalo guru padepokan kita dahulu pernah bilang bahwa tidak masalah kalo murid padepokan menjadi jamaah atau murid tarekat, bukankah tujuannya sama-sama baik mencapai kejayaan dunia akhirat, sepanjang tarekat tersebut jelas runtutan sejarahnya, masih meng'esa'kan Allah swt, menegakkan sholat dengan benar, dan menegakkan syariat Islam dengan benar, maka apapun alirannya dan siapapun mursyidnya Insya Allah baik. Aku menangkap tiga kata kunci dari ucapanmu tadi Di. Pertama masalah tujuan, kedua aliran dan ketiga mursyid. Mulai dari yang kedua dulu ya Di, trus ketiga baru mbalik ke yang pertama ?”
“Iya Cak."
"Setahuku aliran tarekat itu bisa dipertanggungjawabkan jika termasuk tarekat yang mu’tabar dalam arti mempunyai mata rantai silsilah pengajaran yang tanpa terputus menyambung terus sampai pada Rasulillah Muhammad SAW, inilah keistimewaan tarekat yang sebenarnya merupakan ajaran Nabi yang paling orisinil dan yang pertama kali diajarkan yaitu dzikir. Sedangkan yang mengajarkan dzikir itu sendiri haruslah seseorang yang mempunyai otoritas pengajaran dari Rasulullah yaitu seorang mursyid dengan kualifikasi kamil mukammil dalam arti seorang mursyid yang sempurna dan dapat menyempurnakan perjalanan ruhani murid-muridnya sampai di hadapan Allah. Banyak mursyid yang mengajarkan tarekat, tapi belum tentu dia kamil mukammil sehingga malah akan membingungkan murid-muridnya dalam menempuh perjalanan spiritualnya. Jadi belum merupakan jaminan kemuliaan dari Allah walau pun pengikut tarekat itu sangat besar demikian juga mursyidnya sangat terkenal, apalagi kalo mursyid tersebut berkhadam jin, harus dihindari itu sebab sereligius apa pun seseorang jika berkhadam jin walaupun jin muslim pasti di hatinya masih ada kesombongan, nafsu dan egoisme yang malah menjadi hijab antara dirinya dengan Allah. Sedangkan tujuannya secara keseluruhan baik dalam dimensi lahir maupun batin, syariat maupun hakikatnya ya hanya untuk Allah, lillahi ta’ala. Lha kalo ada mursyid yang membolehkan muridnya mengamalkan diluar yang diijazahkan termasuk ilmu hikmah, ya itu terserah mursyid yang bersangkutan, tapi aku kok malah ragu akan maqom kemursyidannya jika hal itu yang terjadi. Sing tak omongno kan dawuhnya Yai Mursyid kita yang aku sangat yakin akan kemuliaan dan keutamaan Beliau di hadapan Allah sebagai sebenar-benarnya pewaris para Nabi, yang tentunya apa yang didawuhkan dan diperintahkan kepada murid-murid Beliau aku sangat yakin bukanlah keluar dari hawa nafsu Beliau melainkan pengejawantahan dari kehendak Allah.”
“Lho Cak, dzikir yang diajarkan di padepokan kan juga sama tidak lepas dari kalimat LAA ILAHA ILALLAH, amaliyah ilmu hikmah pun kan tidak lepas dari ayat-ayat Qur’an, asmaul husna, tidak lepas juga dari shalat taubat, shalat tasbih dan dzikir lathoif malahan. Bahkan di setiap pengaturan napas pun tidak lepas dari dzikir, apalagi jurusnya kan bersumber dari huruf hijaiyah yang tentunya khadamnya malaikat kan ? Apalagi di padepokan juga diajarkan komunikasi dengan para ruh aliya, dan diajarkan membedakan nuansa ruh para auliya, malaikat atau pun jin to Cak?”
“Nah itulah Di yang sering menjadi tipu daya. Pertama, hanya amalan dari seorang guru mursyid kamil mukammil yang tidak akan memberati ruhani murid-muridnya, karena beliau pasti tahu masa depan kapasitas atau volume ruhani murid-muridnya sehingga amalan yang diberikan pasti pas ibarat seorang dokter yang tahu resep untuk para pasiennya. Sedangkan amalan yang diterima dari selain itu apalagi kalo hanya dari membaca buku tidak ada jaminan barokah dan keselamatannya, coba saja Di, kamu perhatikan sedulur-sedulur padepokan bagaimana kehidupannya kemudian, pada saat ngelakoni tirakatnya pasti kuat tapi pasti ada efeknya di masa datang. Aku enggak usah ngomonglah, lihat saja sendiri atau mungkin kamu sendiri sudah mulai merasakan ? Kedua, dari segi tujuan bisakah niatmu benar-benar lillahi ta’ala, ambil contoh sederhana saja, waktu kamu dzikir rutin atau dzikir lathoif, bisa... ? lillahi ta’ala ?”
“Yo bisa Cak !”
“Ah engga percaya aku. Kalo memang bisa ya sudah kamu pake dzikir tarekat aja, yang itu enggak usah dipake kan katamu tujuannya sama saja ?”
“Ya engga begitu Cak ?”
“Takut energi bathinmu engga maksimal ya, kalo tidak menggunakan metode dzikir padepokan ? Trus waktu olah napas dalam gerakan jurus hijaiyah kan ada dzikir rahasianya itu, apa bisa hatimu fokus pada yang engkau dzikirkan atau malahan dirimu fokus pada energi yang kau serap hingga dzikirmu lalai – lewat begitu saja ? Bagaimana bisa Di untuk Allah kalo sejak semula diajarkan memperkuat batin itu ritual shalatnya itu begini dzikirnya begitu, untuk ajian ini tata cara ritualnya seperti ini cara menggunakannya seperti ini dan seterusnya.”
“Coba sekarang misalnya kamu punya pasien katakanlah sakit atau ada hajat hidup yang dikeluhkannya padamu, trus awakmu mbantu dia dan berhasil bagaimana perasaanmu ?”
“Yo seneng Cak, tibak’e aku isok.”
“Nah itu dia, egomu semakin menguat, engkau merasa bangga bahkan mungkin sombong, apalagi kalo jadinya dia bergantung padamu, iyo gak ? Sedikit-sedikit nelpon awakmu minta bantuan.”
“Yo iyo sih Cak”
“Mangkane, bagaimana bisa lebur pada Allah kalo ego kita semakin kuat, padahal bisamu itu nek jare aku hanyalah fatamorgana alias semu.”
“Kok bisa ? Buktine opo Cak ?”
“Coba kamu ingat-ingat apakah setiap permasalahan bisa kau selesaikan dengan ilmumu, dengan amaliyahmu, dengan kehendakmu ?”
“Ya ada yang ndak berhasil Cak, wong namanya manusia.”
“Lha nek berhasil, awakmu gak eling nek menungso ? Lupa kalo itu juga karena Allah. Itu lho buktinya bahwa kalo ada yang berhasil dan ada yang tidak, berarti ada mekanisme takdir Allah yang selalu bekerja dalam kehidupan kita. Kalo engkau berhasil sebenarnya kebetulan saja memang takdirnya seperti itu, sehingga mengusahakan keberhasilan tersebut dengan memperbesar ego tanpa hati yang bersandar penuh pada Allah adalah sebuah kesia-siaan. Nek berhasil bilangnya : aku kok !!! tapi kalo enggak berhasil bilangnya : lha namanya aja manusia.”
“Bener juga yo Cak.”
“Yo mugo-mugo gusti Allah mbenerno aku Di, soale kalo aku senang engkau membenarkan perkataanku, menurut guru ngajiku itu tandanya kalo nafsuku yang bicara.”
“Mbalik maneh terusanne mau Di, yang ketiga Di, hanya orang-orang yang ikhlas saja yang hati, ruh dan sirrnya sudah full Allah saja yang bisa membedakan khadam malaikat atau khadam jin. Tidak mungkinlah malaikat bisa kita suruh-suruh sesuai kehendak hawa nafsu kita. Bahkan walaupun diajarkan metode membedakan khadam jin, ruh atau malaikat, tapi tetap saja metode ilmu hikmah kan ? Lalu bisakah dijamin kebenarannya ? Apalagi kalo khadam jinnya memang level tinggi ya tentu tidak bisa ditembus hanya dengan ilmu terawangan biasa bahkan oleh ilmu terawang pemilik puncak keilmuan itu sendiri. Wong seorang guru mursyid yang sudah terkenal namanya di mana-mana dan muridnya yang ada di seluruh pelosok negeri saja, ada yang berkhadam jin dan tentunya jinnya pun level tinggi dan tidak mungkin ditembus oleh ilmu terawangan yang paling tinggi sekalipun jika tidak melalui bashiroh seorang wali Allah yang benar-benar tinggi maqomnya di hadapan Allah, apalagi kok yang jelas-jelas berlabel ilmu hikmah ?”
“Tapi bukankah semua dzikir dan amaliyah padepokan asalnya juga dari para ulama sufi Cak ?”
“Kalo itu memang tidak salah Di, asalnya memang dari para ulama sufi yang dikasyafkan oleh Allah, tapi tidak lepas dari koridor tarekat dalam bimbingan mursyid, nuansanya tidak lepas dari penyaksian terhadap sifat, asma’ dan af’al Allah, tetap terjaga dan tidak ada bersitan untuk menggunakannya sesuai kepentingan nafsu. Yang hadir adalah benar-benar nur Allah. Tapi saat ini hal itu bagai kata pepatah : jauh panggang dari api, artinya tarekatnya ditinggal hanya ilmu hikmahnya yang diamalkan. Sehingga ibadahnya bukan demi Allah, tetapi demi nafsu memperoleh kekuatan lebih dari balik ayat-ayat suci atau wirid khusus bagi para pengamalnya. Lha kalo nuansa nafsu sudah muncul, kata guru ngajiku, yang semula nur akan berubah menjadi nar – unsur api yang tanpa disadari peran serta energi jin pasti hadir dibalik kedigdayaan atau kesaktian yang diperoleh. Apa dzikir gaibmu itu bisa mengantarkan dirimu lebih mengenal Allah ? Apa dzikir gaibmu itu juga bisa menggelontor sifat-sifat tercela dalam dirimu sehingga sedikit demi sedikit berganti dengan akhlak yang mulia, perangai yang lembut dan hati yang penuh cinta kepada siapa pun dan apa pun. Apakah kau menganggap ilmu atau ajian anti bakarmu bisa melindungi tubuhmu dari panasnya adzab api neraka ?”
"Di satu sisi dengan argumen syiar, dengan argumen amar ma'ruf nahi munkar engkau mengajarkan keilmuanmu pada orang lain, tetapi di saat yang sama engkau malah menguatkan ego mereka, engkau malah memberi kemungkinan hawa nafsu mereka menguat dan yang paling berbahaya engkau malah mengajarkan kepada mereka suatu ritual peribadahan yang bukan untuk Allah tetapi demi kekuatan lebih atau daya linuwih atau kasekten atau kesaktian atau ajian di balik ritual peribadahan yang mereka lakukan. Padahal saat engkau mengajarkan hal itu, dirimu belum bisa mengatasi hawa nafsumu sendiri, juga belum bisa mengenal tuhanmu yang nama-Nya engkau syiarkan kepada mereka dan yang lebih kacau adalah engkau sama sekali tidak mengetahui masa depan hati mereka yang kau ajari itu. Apa kamu berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, Di ?"
Syaikh Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî mengingatkan dalam kitab Al Hikam-nya :tasyauwufuka ila maa bathana fiika minal ‘uyuubi khoirum min tasyauwufika ila maa hujiba ‘anka minal ghuyuub” – usahamu mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi dalam dirimu lebih baik dari pada usahamu menyingkap perkara ghoib yang tersembunyi darimu.
“Trus aku kudu yok opo Cak ?”
”Ya terserah kamu Di, selama ini aku lihat kamu masih mempeng ngelmu padahal Yai Mursyid memerintahkan untuk meninggalkan. Tapi terus terang aku kuatir sama kamu Di, aku takut kalo nanti ada efeknya ke kamu. Bukankah ketika kita baiat itu artinya kita sudah bersumpah menikah dengan akhirat, melalui perjalanan yang dipandu oleh Yai Mursyid hingga kita nanti sampai di hadapan-Nya ? Bukankah ketika baiat itu artinya kita harus taat pada Yai Mursid sebagaimana jenazah atau mayat di hadapan orang yang memandikannya, dibolak-balik atau diapakan juga harus nurut ? Makanya kalo memang kamu masih eman meninggalkan semua ilmumu yang sudah dengan susah payah kamu jalani tirakatnya, ya lebih baik kembalikan saja tarekatmu pada Yai Mursid, mumpung awakmu belum menikah, belum punya anak. Kalo pengen dua-duanya jalan, ya cari aja mursyid yang lain, tapi tata kramanya tetap kamu harus mengembalikan lebih dahulu tarekatmu pada Yai Mursyid. Tapi sebenarnya ya eman Di kalo kamu sampai harus seperti itu, yang sejatinya agung kau tukar dengan hanya sebuah fatamorgana.”
“Yo wis tak pikire maneh Cak.”
Akhirnya memang Cak ZhudhrunH hanya bisa mendo’akan saudaranya itu biar diberi Allah tetapnya iman, terangnya hati, keselamatan dunia akhirat, ampunan dan ridhoNya sebagaimana yang selalu diajarkan Yai Mursyid. Wallahu ‘alam.
Share this article :
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. wah mantaabb sekali obrolanya,sekaligus nasehat,pelajaran,bahan renungan buat diriku yg bodoh ini...salam den bagus.sungguh pencerahan luar biasa buat sya...

    ReplyDelete








IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

Path
https://path.com/id/bagusherwindro

bca
No. 389 0454 088
a/n. R Bagus Herwindro SE

mandiri
No. 142 000 4584 099
a/n. R Bagus Herwindro SE

Follow by Email

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger