ABADI

Written By BAGUS herwindro on Feb 13, 2016 | February 13, 2016

Saya itu gak suka selfie, sebenarnya bukan gak suka sih… tapi lebih karena HP saya aja yang kameranya gak bagus dan gak ada kamera depannya lagi, maklum HP saya meski android tapi termasuk HP jadul untuk saat sekarang ini. HP Andromax C punyanya smartfren yang dulu harganya cuman tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, sudah sekian tahun tapi masih awet, Cuma batrenya saja yang sudah harus ganti, tapi rasanya HPnya juga waktunya ganti biar gak terlalu lemot he… he… he…

Sama teman-teman kantor pun HP saya termasuk kasta terendah, namun demikian saya selalu mensyukurinya karena kemudian tergerak untuk mengopreknya dan mengganti custom ROMnya dengan Samsung S5. Jarang lho yang punya gadget tapi bisa mengotak-atik gadgetnya hingga lebih berdaya guna.

Bagi saya yang terpenting adalah fungsinya, gak usah yang macam-macam, yang penting bisa buat telepon, sms, adzan, WA, BBM, eMail, Facebook, Instagram, Google Maps, Browsing, beli tiket KA, pesan taksi Blue Bird, Go-Jek, buka Al Hikam, buka dokumen office terutama word sama excel, buka e-book format PDF dan bisa explore network kantor. Sudah itu saja cukup. Itu saja ?

Jadi matur nuwun lho kalau tiba-tiba saja Panjenengan tergerak untuk mengirimi saya HP baru yang fungsional. Tapi jangan dipikir lho ya… nanti jadi kepikiran ngirim betulan lho he… he… he… jangan dipikir !

--------------------

Manusia sebagaimana makhluknya Gusti Allah yang lain, pasti memiliki keterbatasan dalam arti terbatas dan dibatasi dalam hal apa pun, tak pernah tetap dalam suatu keadaan. Dinamis, namun hanya sesaat-sesaat saja, merasakan enaknya makanan pun ya hanya saat makanan itu masih ada di lidah, selanjutnya hanya perut yang merasakan kenyangnya.

Yang pasti terbatas dan dibatasi adalah jatah detak jantung, saat jatah tersebut habis maka selesai sudah kehidupan yang kita jalani di dunia ini dan akan mengawali kehidupan untuk fase berikutnya dan berikutnya lagi hingga di negeri akhirat yang pada akhirnya pun juga pasti akan berakhir.

Meski negeri akhirat itu kekal, namun kekalnya kan bukan kekal dengan sendirinya melainkan kekal dalam kekekalan Allah dalam arti kekalnya dikekalkan Allah, ia akan kekal selama masih dikekalkan Allah. Kekekalannya berakhir bila Gusti Allah menghendakinya.

Hanya Gusti Allah yang kekal. Manusia tidak kekal. Manusia tahu kalau dirinya tidak kekal, namun diam-diam banyak yang menginginkannya. Manusia diam-diam tidak terima kalau kehidupannya dibatasi oleh kematian.

Bahkan kehidupan itu sendiri pun sejatinya tidak ada, karena adanya diadakan olehNya. Hanya DIA, Gusti ALLAH saja yang sebenar-benarnya ada. Manusia ngéyél kalau dia ada sehingga menyatakan ke-ada-annya di mana-mana, selalu ingin eksis dan diakui eksistensinya.

Tak abadi namun ingin abadi, tak ada namun merasa ada. Itu saya. Panjenegan tidak. Maksud saya tidak beda he… he… he…

Beberapa hal yang coba saya rasakan, saya pahami dengan niténi [mengamati secara empiris] diri saya sendiri, kira-kira begini …

Manusia mempunyai kecenderungan takut untuk hidup sendiri, seorang diri tanpa siapa pun yang mendampingi. Maka manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup berpasangan, menikah, bukan hanya untuk menyalurkan hasrat seksualnya namun lebih jauh dari itu adalah untuk mendapatkan keturunan. Ada yang sudah lama menikah namun belum dikaruniai anak, maka mereka akan berusaha bagaimana caranya biar bisa punya anak, baik secara medis atau pun non medis. Bahkan ada yang tidak sabar, memvonis istrinya mandul meski pun tidak selalu demikian karena bisa jadi yang mandul adalah suaminya, sehingga suaminya menikah lagi untuk mendapatkan anak meskipun sebenarnya juga mencari “enak” sebelum anak.

Coba saja digali motivasinya punya anak apa ? Atau coba kita gali motivasi diri kita sendiri untuk punya anak itu apa ? Setiap pernyataan yang keluar tentang motivasi punya anak harus dikejar terus hingga memperoleh motivasi yang paling mendasar. Coba Panjenengan gali motivasi Panjenengan masing-masing kenapa kok inginnya punya anak hingga sampai pada motivasi yang paling mendasar.

Apa ? Sudah menanyai diri Panjenengan sendiri ?

Bahkan banyak orangtua menyematkan namanya menjadi bagian dari nama anaknya. Yang pebisnis berharap anaknya meneruskan bisnisnya. Yang memiliki profesi tertentu pun demikian, berharap salah satu anaknya ada yang meneruskan profesinya. Bahkan yang jadi dukun pun berharap ada anaknya yang meneruskan perdukunannya.

Orang tua menginginkan anaknya yang melanjutkan kisah hidupnya, melanjutkan kebaikan-kebaikannya. “Biar ada yang jadi penerusku !”, begitu mungkin kalau dilisankan.

Kira-kira, jareku, dalam ketaksadaran tersembunyinya, kebanyakan manusia tidak rela kalau harus mati dan terhenti dari kehidupannya, sehingga dia diam-diam ingin meneruskan eksistensinya kepada anaknya. Dia ingin ada sesuatu dalam masa kehidupannya yang tetap dikenang dalam kehidupan yang sekarang, berupa apa pun itu. Dia, manusia, diam-diam ingin mengabadi meski masa kehidupannya telah berlalu. Intinya adalah ingin tetap ada dan diakui.

Tidak hanya dalam hal punya anak untuk meneruskan eksistensinya. Kebanyakan manusia, termasuk saya sangat senang kalau disanjung “awet muda”, masalah raga, padahal usia tak bisa dihentikan berjalannya menuju titik akhirnya. Ini yang sering terlupa sehingga dalam melalaui waktu menuju titik akhirnya, keselamatan meniti jalan pulang malah terabaikan padahal ini yang sejati. Yang diseriusi malah urusan raga agar tetap terlihat muda bahkan meskipun mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Tak mau terlihat tua. Intinya juga sama, ingin tetap ada dan diakui meskipun hanya sekedar fatamorgana.

Nah… yang satu ini juga merupakan ketaksadaran tersembunyi manusia, termasuk saya terutama, yang ingin abadi dan tetap diakui keberadannya yaitu selfie. Saat ini, saya rasa semua orang sudah menjadi fotografer karena kebanyakan HP selalu ada kameranya. Kalau saya Tanya kenapa kok harus foto segala, mungkin jawabannya adalah untuk mengabadikan kenangan. Kenangan itu masa lalu yang sudah gak ada namun ada keinginan untuk mengabadikannya dan tetap membuatnya ada yaitu salah satunya melalui media foto.

Ini lho aku… aku ada di sini lho… keren kan aku… dan sebagainya, begitu mungkin yang ada di pikiran saat berselfie ria dan mengunggahnya ke media sosial apa pun itu.

Saya gak mau percaya kalau saya sebenarnya gak ada, saya gak mau tahu kalau yang sudah berlalu sudah gak ada dan saya gak mau kalau eksistensi saya gak ada yang mengakui. Tidak untuk mensyukuri, tidak pula untuk memberi teladan, namun hanya sekedar ingin dipuji atau setidaknya untuk pencitraan diri. Maka saya sering-sering mensyiarkan kehebatan saya, kepandaian saya, kemoderenan saya, peran saya, citra diri saya dan saya saya yang lain yang sebenarnya semu ke banyak orang dengan bersolo selfie atau pun selfie berjamaah melalui berbagai media sosial itu. Diam-diam saya menikmatinya… he… he… he… asoy.

Hasil foto selfie saya, asalkan telaten dan sabar mengamati ternyata ganteng juga ya… tak heran banyak yang jatuh hati pada saya…. Halah !

--------------------

Saya teruskan menelusuri diri saya sendiri dan jadi malu, masih penuh nafsu.

Saya punya anak, saya harapkan menjadi amal jariyah bagi saya saat saya ajarkan suatu kebaikan pada mereka. Kalau saya sudah meninggal, saat mereka melakukan hal baik yang saya ajarkan, saya mengharapkan mengalirnya pahala kebaikan dari hal itu.

Bagaimana tidak memalukan kalau :

Yang saya niatkan dan harapkan adalah terus mengalirnya pahala tanpa saya melakukan pengabdian pada Gusti Allah, bukan niat untuk terus mengabdi padaNya. Berarti saya melayani diri saya sendiri, bukan melayani Gusti Allah. Apa gak malu saya ?

Bagaimana tidak memalukan kalau :

Saya mengajarkan kebaikan pada anak saya dengan niat agar menjadi amal jariyah untuk saya dan bukan dengan niat agar anak-anak saya melakukan kebaikan itu dalam rangka mengabdi padaNya. Berarti saya melayani diri saya sendiri, bukan melayani Gusti Allah. Apa gak malu saya ?

Bagaimana tidak memalukan kalau :

Saya berangapan bahwa amal saya bisa menebus surga keridhoanNya, padahal saya sekali pun tidak pernah menciptakan amal. Padahal meskipun amal kebaikan saya masih melebihi keburukan atau dosa saya, surplus jumlah tersebut tidak akan cukup untuk menebus segala karuniaNya pada diri saya.

Benar-benar memalukan bukan ?

Duh Gusti nyuwun ngapuro.
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

IG
@bagusherwindro

Facebook
https://web.facebook.com/masden.bagus

Fanspage
https://web.facebook.com/BAGUSherwindro

Telegram
@BAGUSherwindro

TelegramChannel
@denBAGUSotre

 
Support : den BAGUS | BAGUS Otre | BAGUS Waelah
Copyright © 2013. den Bagus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger